Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Lima tahun lalu, saat gue liburan ke Singapore pertama kalinya, gue nggak pernah berpikir akan kembali ke negara ini (dengan uang gue sendiri). Mengingat, saat itu gue merasa bahwa Singapura adalah negara yang serba mahal. Maklum aja, sebagai seorang fresh graduate dengan gaji UMR, uang gue ngepas banget saat itu.

    Nah, di bulan Juli lalu, Kak Echa mengajak gue liburan ke Singapore. Selain gue, dia juga mengajak sepupunya, Icha. Berhubung di tahun 2019 (sampai bulan Juli) gue belum traveling, juga belum ada rencana traveling, maka akhirnya gue ayoin ajakannya. Kalau lima tahun lalu Singapura terasa mahal, saat ini pun gue masih merasa sama mahalnya. Tapi, alhamdulillah, kini perjalanan terasa lebih lancar dan tidak se-ngepas dulu.

    Liburan gue kali ini mungkin bisa dibilang ala flashpacker, bukan backpacker seperti lima tahun lalu. Perjalanan gue terasa nyaman, tapi juga nggak bikin nangis karena tabungan terkikis habis. Intinya, yang sedang-sedang aja. It was not too fancy but still made me happy.

    Jadi, berapa biaya liburan gue ke Singapore dan seperti apa triknya biar hemat budget? Here, I'm gonna tell the tricks for ya!

    ***

    Tiket Pesawat PP Singapura

    Ini dia berita baik buat kita semua: tiket pesawat ke Singapura seringkali lebih murah dari pada tiket pesawat ke destinasi dalam negeri. Bahkan, kadang lebih murah beberapa ratus ribu rupiah dibanding tiket PP ke Bali.

    Saat ke Singapore kemarin, gue membeli tiket pulang dan pergi secara terpisah. Soalnya, gue belum memutuskan lama kunjungan ke Singapore. Kak Echa dan Icha sendiri sudah memutuskan dari awal akan stay selama enam hari, sementara gue masih galau menimbang-nimbang.

    Akhirnya, setelah proses menimbang selesai, gue putuskan untuk liburan selama empat hari saja di Negeri Singa ini. Untuk keberangkatan, gue menggunakan maskapai JetStar dengan harga tiket sekitar Rp500.000-an. Sementara, saat kembali ke Jakarta, gue menggunakan maskapai Air Asia dengan harga tiket sekitar Rp600.000-an.

    Tiket pesawat ini gue beli secara online di Tiket.com dan pegipegi. Sebelum beli tiket, jangan lupa cek dulu promo yang sedang berlangsung di online travel agent (OTA). Lumayan, lho! Saat pesan tiket pesawat di pegipegi kemarin, gue mendapat potongan harga sekitar Rp150.000-an dengan menggunakan kode promo.

    Untuk penerbangan internasional ini, gue hanya mendapat bagasi kabin dengan kapasitas 7kg. Berhubung gue merasa akan banyak jajan di Singapore, maka gue memesan tambahan bagasi sebesar 20kg saat pulang. Harga bagasi Air Asia dengan kapasitas 20kg adalah sekitar Rp230.000-an. 

    Lebih baik bayar bagasi di awal, deh, daripada saat check in, ternyata koper kelebihan muatan dan kena denda Rp150.000-Rp190.000 per kilonya. Apalagi, kemarin total bagasi gue adalah 11kg. Jadi mahal banget, kan, kalau kena denda?

    Jewel Changi Rain Vortex
    Area Rain Vortex di Jewel Changi

    Transportasi di Singapore

    Nah, sekarang lanjut ke transportasi begitu tiba di Singapura. Pada dasarnya, transportasi di Singapore sangatlah nyaman dan sistemnya sudah sangat baik. Selama liburan di Singapore, gue dan teman-teman hanya menggunakan MRT, berhubung tujuan wisata gue dilalui MRT semua.

    Untuk menaiki MRT, kita bisa membeli tiket satuan atau menggunakan kartu EZ Link. Harga tiket satuan biasa lebih mahal 70-90 cent dibanding kartu EZ Link.

    Bahkan, mulai tahun ini, kita bisa menggunakan kartu bank yang sudah dilengkapi teknologi VISA Paywave untuk naik MRT! Dan nggak cuma itu... berhubung kartu Jenius sudah memiliki teknologi ini, maka saat di Singapore kemarin gue bisa pergi ke mana-mana menggunakan kartu Jenius. Harga tiketnya pun mengikuti harga kartu EZ Link.

    Sebagai self-proclaimed Duta Jenius, gue tentu sangat senang dengan kabar ini.

    Cara Menggunakan Kartu Jenius untuk Naik MRT Singapura

    Apakah kartu Jenius bisa langsung digunakan untuk naik MRT di Singapura? Jawabannya tidak (cmiiw). Untuk naik MRT Singapore dengan Jenius, kita harus mengaktifkan dan membeli saldo mata uang asing terlebih dahulu. 

    Di Jenius sendiri, saat ini baru tersedia empat mata uang asing dan mata uang Singapore adalah salah satunya. Saldo mata uang asing ini hanya bisa diaktifkan di hari kerja pada pukul 08:00-16:00, ya.

    Setelah membeli dolar Singapura, pilih menu "Card Center", lalu ubah saldo aktif di m-Card menjadi saldo SGD. Selesai, deh! Nah, biaya MRT ini akan diakumulasikan per hari dan dipotong keesokan harinya.

    Karena gue sudah membeli saldo SGD, maka kemarin gue nggak tukar uang sama sekali di money changer. Gue cukup menarik uang tunai di ATM saat sudah sampai di bandara Changi. Memang, sih, untuk mengambil uang ini akan terkena biaya admin sebesar 2,5 SGD. Tapi, nggak apa-apalah, toh tarik tunainya hanya sekali.

    Hotel di Singapore

    Kayaknya bukan rahasia lagi kalau harga sewa kamar di Singapura tuh mahal. Huh, ampun, deh. Jiwaku terkoyak begitu lihat harga kamar hotel di sana. 

    Setelah mencari cukup lama, Kak Echa kemudian menyarankan untuk menginap di The Great Madras. The Great Madras merupakan hotel bintang-bintang (baca: bintang dua 😜) dengan konsep boutique hotel, yaitu hotel dengan ukuran cenderung kecil, tapi memiliki arsitektur dan desain interiro yang bagus dan unik, alias instagrammable. 

    Harga kamar hotel ini dibanderol mulai dari 800 ribuan semalam. Untuk harga 800 ribuan ini, gue hanya bisa mendapat tipe kamar hostel dengan kamar mandi bareng-bareng. Untuk areanya, gue pilih area khusus wanita berhubung gue akan di kamar sendirian. Biar lebih aman aja gitu. Sementara, Kak Echa dan Icha menginap bersama di area campuran.

    Nah, berhubung harga 800 ribuan semalam itu menurut gue cukup mahal, ya. Jadilah gue membandingkan harga dan promo di beberapa OTA. Akhirnya, gue memutuskan booking kamar lewat aplikasi pegipegi karena mendapatkan potongan harga hampir 200 ribuan per malam. Iyes, gue cukup bayar 600 ribuan aja jadinya.

    Lagi-lagi, keberuntungan menghampiri gue (alhamdulillah). Begitu check in, staf hotel mengatakan kalau kamar gue di-upgrade gratis karena area khusus wanita sedang direnovasi. Gue pun diberikan kamar tipe deluxe dengan kamar mandi di dalam. Yuhuu!

    Selama empat hari tiga malam, pengalaman menginap gue di The Great Madras bisa dibilang nyaman. Meskipun, di malam terakhir, orang-orang di kamar sebelah ngobrol keras banget dan kedengeran sampai kamar gue. Tapi, berhubung gue lelah, gue bisa tidur cepat meski suara di kamar sebelah berisik.

    Oh iya, lokasi hotel ini pun cukup strategis. Letaknya di daerah Little India dan dekat sekali dengan MRT Rochor dan Little India. Demi kenyamanan selama berjalan kaki dari dan menuju hotel, gue sarankan untuk naik dan turun di MRT Rochor, ya.


    Tempat Wisata di Singapura

    Meskipun negaranya hanyalah seluas Jakarta, tapi Singapura memiliki banyak tempat wisata yang menarik untung dikunjungi. Misalnya saja, Universal Studio Singapore (USS), Garden by The Bay, Fort Canning, atau Haji Lane. Beberapa memang berbayar dengan harga yang wow, tapi nggak sedikit juga yang bisa dinikmati gratisan.

    Jika ingin ke destinasi wisata berbayar, kita semua nggak perlu sedih. Ada cara yang bisa dilakukan untuk menghemat biaya, yaitu dengan memanfaatkan kode voucher di OTA seperti Traveloka dan Tiket.com.

    Kemarin, dengan berbekal kode promo, gue berhasil mendapatkan tiket USS seharga 600 ribuan di Tiket.com dan tiket Garden by The Bay untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest seharga 166 ribuan di Traveloka. Murah, kan?

    Welcome to Universal Studio Singapore!
    Not Penny Lane, but Haji Lane
    Air terjun di Cloud Forest, Garden by The Bay

    Makanan di Singapore

    Untuk urusan makan, gue sebenarnya tidak terlalu mengawasi berapa biaya yang dikeluarkan. Maklum, gue penganut perut kenyang, hati senang. Jadi, kapan saja gue lapar, ya gue akan makan dan nggak terlalu memperhatikan harga.

    Meski begitu, terkadang saat perut belum memberontak, gue, Kak Echa, dan Icha juga beberapa kali memutar otak biar biaya makan kami nggak terlalu mahal. Misalnya saja, ada kalanya kami makan di hawker, sebutan kaki lima di Singapura.

    Saat liburan ke Singapura kemarin, kami sempat berkunjung ke Newton Food Center. Iya, kalau elo nonton Crazy Rich Asians, ada adegan di mana Nick, Rachel, Colin, dan Araminta makan di sini. Gue dan teman-teman memesan dua nasi goreng seafood, fried baby octopus, dan oyster omellete. Total yang harus kami habiskan adalah 33 SGD. Kalau dihitung-hitung, mahal juga ya buat berdua.

    Tapi... ternyata porsi nasi gorengnya banyak banget! Dan ternyata, mayoritas makanan di Singapura itu porsinya besar, cukup untuk berdua. Nah, ini bisa jadi cara untuk menghemat budget makan, nih: sharing makanan.

    Waktu di USS pun—yang harga makanannya sekitar 15 SGD—kami makan ramean dan ternyata porsinya sangat pas setelah dibagi.

    Cafe Latte %Arabica di Arab Street, dekat Haji Lane
    1 porsi chicken wings dan 1 porsi Tater Tots di Goldilocks USS. Pas untuk bertiga!

    Pengeluaran Lainnya

    Selain beberapa biaya penting di atas, kemungkinan akan ada tambahan biaya lainnya, seperti internet dan oleh-oleh.

    Untuk internet, gue membeli SIM card melalui Klook seharga 100 ribuan. Dengan harga ini, gue mendapat kuota internet sebanyak 100 GB. Selain SIM card, elo juga bisa menyewa MiFi melalui Klook.

    Lalu, untuk oleh-oleh, sebenarnya ada beberapa tempat yang bisa didatangi. Contohnya, di sekitaran Bugis Street, Lucky Plaza, dan Mustafa. Gue menyarankan membeli di Mustafa karena harganya bisa lebih murah 40-50 cent dibanding Lucky Plaza. Selain itu, pilihan di sini pun lebih banyak.

    ***

    Kalau ditotal, biaya yang harus gue keluarkan untuk liburan akhir tahun ke Singapore selama 4 hari 3 malam adalah sekitar 5,6 juta, di luar oleh-oleh. Tentunya biaya tersebut bisa ditekan hingga 1 jutaan lagi kalau elo nginep satu kamar berdua (nggak sendirian kayak gue), sharing bagasi, atau menghemat biaya makan.

    Jadi... selamat menyusun rencana liburan, ya!



    Continue Reading
    Rasa-rasanya, 2019 itu jadi tahun coba-coba gue, ya. Kalau sebelumnya coba-coba resign terus balikan sama kantor lama, sekarang coba-coba rafting alias arung jeram untuk pertama kalinya.

    Padahal ya, gue seperti kucing: takut air. Walau sebenarnya dari dulu pengen banget rafting, tapi tetep aja ujung-ujungnya mundur pelan-pelan. Ya gimana, pengalaman tenggelam pas banjir saat SD dulu masih menghantui sampai saat ini, Sist!

    Walau udah berani snorkeling sejak empat tahun lalu, tapi gue tetap mikir kalau air di laut itu beda sama air di kolam renang dan sungai. Logika halu gue ini selalu mikir kalau gue tenggelam di laut maka kemungkinan ngambangnya lebih tinggi daripada di kolam renang dan sungai. Makanya, gue lebih berani main air di laut. I know, I know... halu, kan? Tapi, gimana dong? 😜

    Nah, berhubung gue pengeeeen banget cobain main arung jeram dari dulu, dan tiba-tiba tingkat keinginan gue jadi sedikit lebih tinggi dibanding tingkat ketakutan gue, akhirnya gue pun bergabung dengan anak-anak kantor gue untuk rafting di Ciberang, Banten. Deg-degan sih, tapi hajar ajalah!

    Lagi-lagi kepanjangan ya intronya? Haha. Baiklah, gue lanjutkan ke hari H, hari penentuan kapok tidaknya gue rafting.

    ***

    Sebelum berangkat rafting, Ihsan, kepala sukunya tim IT sudah membagi 14 anak kantor menjadi tiga tim berdasarkan lokasi keberangkatan. Titik kumpul gue adalah di Stasiun Bogor karena gue berencana nebeng mobil Sindyta yang tinggal di Bogor. Selain gue, ada tiga orang lainnya yang nebeng Sindyta.

    Bisa dibilang, perjalanan menuju Ciberang seperti latihan persiapan buat rafting hari itu. Pertama, mobil yang dikendarai Syndita adalah mobil Taft yang dimiliki keluarganya sejak tahun 1986. Yang mana... sepanjang perjalanan guncangannya begitu terasa, tapi seru! Semacam pengen lagi roadtrip pakai mobil begini.



    Kedua, kami nyasar dua kali. Tim lain sepertinya melewati jalan normal yang bersahabat, sementara kami melewati hutan, jurang, gunung... dan empang. Alhasil, perjalanan yang harusnya hanya memakan waktu 2,5 jam pun molor menjadi 4 jam.

    Begitu tiba di titik kumpul, sekaligus titik awal rafting, makan siang sudah tersedia di saung. Anak-anak yang lain sudah makan lebih dulu karena memang sudah masuk jam makan siang. Berhubung sudah lapar, kami pun langsung ikutan menikmati nasi dengan sayur asam, ayam dan tempe goreng, serta karedok. Nggak ketinggalan, kerupuk dan sambalnya.

    Selain saung untuk tempat makan dan beristirahat, di lokasi kumpul tersebut juga ada enam kamar mandi untuk tempat bilas dan mushola. Bahkan, di depan saung ada Indomaret juga, lho. Jadi, untuk orang-orang yang butuh gula, kayak gue kemarin, bisa dengan mudah membeli teh botol dingin.

    Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami pun bersiap rafting sekitar jam 2 siang. Sebelum rafting, kami harus menggunakan peralatan keselamatan dulu, yaitu life vest dan helm. Masing-masing dari kami juga diberikan satu dayung.


    Setelah semua menggunakan peralatan keselamatan, kami dibagi menjadi empat tim. Yang membagi adalah pemandunya langsung. Mereka membagi tim berdasarkan berat badan untuk menjaga keseimbangan di kapal nanti.

    Begitu tim sudah dibagi, kami pun diperkenalkan dengan pemandu untuk tiap tim dan diajak turun ke sungai. Saat rafting kemarin, pemandu gue adalah Rohim, yang ternyata pernah menjadi perwakilan kotanya untuk kejuaraan rafting nasional, jika gue tidak salah ingat.


    Sampai di sungai, pemandu akan mengatur posisi duduk kami. Kemudian, kami pun diberikan briefing singkat, mulai dari cara memegang dayung hingga sejumlah aba-aba yang akan diberikan pemandu dan harus kami lakukan saat rafting. Misalnya saja, jika pemandu berteriak "Stop!", maka dayung harus diangkat dari sungai dan diletakkan di atas paha masing-masing.

    Akhirnya, setelah diawali dengan berdoa bersama... rafting pun dimulai. Rasa deg-degan berubah menjadi super excited. Iya, gue nggak lagi cemas karena sudah pake life vest dan udah ingetin (dengan nada menggertak) pemandunya biar kapal gue nggak ditebalikin. Haha.

    Sebelum di-brief pemandu
    Saat rafting kemarin, kami memilih perjalanan 10 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Selain jarak 10 km, ada juga jarak 900 m untuk anak-anak dan 25km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam.

    Gue pikir, gue akan mendapat serangan panik saat rafting. Tapi, ternyata justru gue sangat menikmati perjalanan menyusuri Sungai Ciberang ini. Seru banget rasanya saat perahu yang gue naiki berjalan tidak seimbang ketika melewati celah bebatuan, atau saat tersangkut di batu sampai perahu miring.

    Sembari rafting, gue dan teman-teman juga menikmati pemandangan cantik di sekitar sungai. Bahkan, gue sempat melihat biawak di sisi sungai, sementara teman gue melihat monyet di atas pohon. Perjalanan menjadi semakin menyenangkan saat hujan turun. Kapan lagi kan happy saat kehujanan? Cuma pas rafting aja kayaknya.



    Sesekali, pemandu kami juga bercerita tentang area yang kami lalui. Misalnya saja, ada jeram yang dinamakan Jeram Brimob karena anggota Bribob pernah terjatuh di situ. Sekilas, gue berpikir, haruskah gue menceburkan diri di salah satu jeram biar dinamakan Jeram Valine? Hahaha.

    Saat hampir melewati setengah perjalanan, kami diajak beristirahat sebentar di sisi sungai. Beberapa dari kami memilih berenang atau bermain air, sementara beberapa orang lainnya mencoba melompat dari bebatuan tinggi di sisi sungai.

    Sekitar 15 menit kemudian (ini ngarang sih karena gue gak pakai jam hahaha), perjalanan kami pun dilanjutkan. Kali ini, medan yang harus dilalui lebih berat dibanding sebelumnya. Bahkan, kami harus melewati air terjun dengan ketinggian 1,5 meter.

    Momen saat perahu menuruni air terjun itu cukup bikin deg-degan, tapi ini menjadi tantangan favorit gue saat rafting kemarin. Saat menuruni air terjun, gue hampir kecebur. Untungnya, pemandu perahu yang gue naiki dengan sigap menarik life vest gue.

    Look how happy I was haha
    Setelah mengarungi sungai, kami dihadapkan kembali dengan bendungan air terjun setinggi 3 meter. Kali ini, kami harus turun dari perahu atas alasan keamanan. Kami pun turun ke bagian seberang air terjun lewat pinggir sungai yang memang sudah dibeton dan dilengkapi dengan tangga.

    Bendungan tiga meter
    Begitu perahu sudah turun, perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, bukanlah pepohonan yang berada di kanan dan kiri kami, melainkan rumah warga. Kami juga sempat melihat berbagai aktivitas mereka, mulai dari sikat gigi hingga mencuci baju. Ada juga tiga anak kecil yang sedang mandi dan mencipratkan air sungai ke kami. Sayangnya, di area ini air sungainya mulai kotor. Banyak sampah di kanan kiri sungai, bahkan beberapa terbawa arus.

    Tak lama, kami pun tiba di titik terakhir. Di perhentian akhir ini, kami disajikan air kelapa dan tempe goreng. Pas banget, di pertengahan rafting rasanya perut sudah keruyukan, padahal baru makan tak sampai 4 jam yang lalu. Setelah selesai mengganjal perut, kami pun diantarkan kembali ke titik awal dengan menggunakan mobil bak terbuka. Wah, rasa-rasanya terakhir naik mobil beginian pas SD dulu, deh! Haha.

    Naik pick up sambil kedinginan karena basah kuyup
    Overall, perjalanan rafting ini cukup seru untuk gue yang baru pertama kali mencoba, bahkan gue merasa tantangannya belum cukup ekstrim sebenarnya. Menurut pemandu gue, ini disebabkan karena ketinggian air hanya 35 cm, padahal standarnya adalah 70 cm. Kegiatan arung jeram akan lebih seru lagi jika ketinggian air mencapai 90 cm.

    Jadi, kapok atau nggak? Ya, nggak dong! Malah nagih, pengen coba yang lebih menantang. 😁


    Disclaimer: All photos in this post aren't mine. Semua diminta dari koleksi foto teman-teman kantor gue (Sindyta & Tino) dan dari pihak travel.


    Ciao!

    Continue Reading
    Terkadang, hal yang sebenarnya nggak direncanakan, justru terjadi dengan mudahnya. Contohnya seperti jalan-jalan ke Thailand awal November lalu. Traveling ke Thailand memang pernah masuk daftar rencana jalan-jalan gue di tahun 2017. Namun, rencana tersebut gagal dan gue tidak memasukkannya kembali ke dalam daftar rencana traveling di tahun 2018.

    Tapi, sekitar bulan Juli lalu, tiba-tiba saja Ka Echa mengajak gue traveling ke Thailand untuk menghabiskan jatah cutinya. Berhubung masih ada budget untuk traveling, gue langsung mengiyakan dengan cepat. Kemudian, gue pun mengajak Keke, adek gue, untuk ikut liburan ke Thailand dan ternyata dia mau.


    Setelah mencari tanggal baik yang mengacu pada mahal atau murahnya harga tiket (#TravelingAlaSobatMisqueen), kami pun memutuskan untuk mengunjungi Bangkok, Thailand selama enam hari lima malam, mulai tanggal 1 hingga 6 November 2018.

    Terlalu lamakah waktu enam hari untuk mengunjungi Thailand? Tergantung gaya traveling masing-masing orang, sih. Kalau gue, sejujurnya lebih suka berjalan-jalan santai dan tidak terburu-buru waktu. Begitu pun dengan Keke yang sering banget berhenti beberapa saat di tempat-tempat random, seperti jembatan penyebrangan, untuk mengambil foto.

    Kak Echa pun ternyata sama random-nya dengan kami dan suka melihat-lihat tempat yang tidak sengaja dilewati terlebih dahulu. Jadi, pergi jalan-jalan selama enam hari adalah waktu yang cukup ideal buat kami. 

    Lalu, ngapain aja kita di Thailand selama enam hari? Ini dia itinerary kami selama di Bangkok, Thailand.

    HARI PERTAMA

    Kami mengambil penerbangan sore, yaitu sekitar pukul empat sore, dengan menggunakan Air Asia. Kenapa tidak mengambil penerbangan pagi hari? Karena penerbangan pukul empat sore harganya lebih murah. Haha.

    Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta ke bandara Don Mueang, Bangkok sendiri memakan waktu kurang lebih tiga jam tiga puluh menit. Jadi, kami tiba di Bangkok sekitar pukul delapan malam.

    Dari bandara Don Mueang menuju penginapan, kami menggunakan bus A1 sampai halte BTS Mo Chit. Harga yang harus kami bayar adalah 30 Baht. Selanjutnya, kami menaiki BTS menuju stasiun Ratchathewi. Dari BTS Rathcathewi, kami hanya perlu berjalan kaki selama tiga menit menuju MovyLodge Hostel.

    Sesampainya di hotel, kami meletakkan koper di kamar kemudian keluar lagi untuk mencari makan. Kebetulan, di dekat BTS Ratchathewi banyak cafe-cafe kecil. Berhubung sampai Thailand di malam hari, setelah makan kami pun langsung kembali ke hotel untuk beristirahat.

    HARI KEDUA

    Di hari kedua, rencana kami adalah menuju LINE Village Bangkok yang terletak di Siam Square One. Lalu sorenya, kami berencana untuk bersantai di Chocolate Ville.

    Dari hostel, kami cukup berjalan kaki selama 15 menit untuk menuju LINE Village. Inilah enaknya menginap di daerah Ratchathewi. Banyak tempat yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki.



    Setelah tiga jam mengeksplor LINE Village yang super lucu, kami pun mencari makan siang di area Siam Square One. Di area mall ini ternyata juga terdapat bazaar pakaian, lho. Hanya saja harganya bisa lebih mahal 50 Baht bila dibandingkan dengan Platinum Fashion Mall atau Chatuchak Market.

    Selama di Siam Square One, gue juga mengunjungi EVEANDBOY, salah satu store makeup terbesar di Thailand. Memang tujuan gue ke sini nggak hanya untuk jalan-jalan dan belanja baju, tapi juga untuk belanja makeup dan skincare. Untuk makeup dan skincare yang gue beli di Thailand akan gue bahas di post terpisah, ya.

    Sekitar pukul tiga sore, kami pun berangkat menuju Chocolate Ville menggunakan Grab Car. Perjalanan ke Chocolate Ville sendiri memakan waktu 40 menit hingga dua jam, tergantung dari kemacetan kota Bangkok.


    Malamnya, kami mampir sebentar ke Neon Night Market di daerah Pratunam. Pasar ini terletak tak jauh dari Platinum Fashion Mall. Kabarnya, pasar malam ini terbilang baru di Bangkok. Di pasar ini, kalian bisa menemukan berbagai barang, mulai dari baju, pernak pernik, hingga makanan.


    HARI KETIGA

    Hari ini adalah jadwalnya kami pindah penginapan. Jadi, setelah sarapan di MovyLodge Hostel, kami mengurus check out dan menitipkan koper kami di resepsionis. Kami tak langsung pergi ke Parkview, melainkan ke Chatuchak Market terlebih dahulu untuk berbelanja.

    Karena niatnya belanja, maka kami menggunakan baju yang super nyaman. Apalagi, udara Bangkok itu panas luar biasa, ya.

    Untuk menuju Chatuchak Market, kami menaiki BTS dan turun di stasiun Mo Chit. Selanjutnya, kami asal mengikuti arus orang-orang dan tiba-tiba sampailah kami di Chatuchak. Pasar Chatuchak itu luas sekali. Sesuai informasi yang gue baca, kalau sudah menemukan barang yang disuka, langsung saja beli. Soalnya, belum tentu kita menemukan toko tersebut lagi.

    Di Chatuchak, kami belanja banyak barang, mulai dari baju, kaos kaki, souvenir, sampai makanan. Iya, di sini banyak sekali camilan khas Thailand yang sayang kalau nggak dicoba. Saat di Chatuchak, kami mencoba jus jeruk super segar, es krim kelapa, fried squid egg dengan saus asam pedas, mango sticky rice, hingga es goyang khas Thailand.


    Berhubung udara panas sekali, kami rasanya sudah tak sanggup lagi untuk berkeliling Chatuchak. Padahal, sepertinya kami bahkan belum menjelajahi 1/4 area pasar. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk langsung ke Platinum Fashion Mall menggunakan Grab Car.

    Sesampainya di Platinum Fashion Mall, kami langsung mencari food court di lantai enam karena merasa kekurangan energi, alias kelaparan. Di foodcourt Platinum Fashion Mall, kalian bisa menemukan kios makanan dengan logo halal. Harga makanannya pun relatif murah, yaitu sekitar 50 hingga 70 Baht.

    Sehabis makan, barulah kami berkeliling Platinum Mall untuk membeli pakaian. Asli, mall ini luas banget. Rasanya nggak cukup satu hari ke sini. Setelah letih muter-muter mall, kami pun berjalan kaki ke MovyLodge Hostel untuk mengambil koper.

    Selanjutnya, kami menaiki Grab Car menuju penginapan baru. Karena di penginapan ini kami tidak mendapat sarapan, kami pun pergi ke 7-Eleven dan membeli camilan untuk sarapan esok hari. Nah, jika kalian ke Thailand, 7-Eleven adalah tempat yang harus banget dikunjungi. Soalnya, camilan dan barang-barang yang dijual di 7-Eleven Thailand itu lucu dan unik sekali.

    HARI KEEMPAT

    Hari ini adalah hari Minggu dan hari terpadat kami selama di Thailand. Di hari keempat ini, kami berencana mengunjungi pasar apung Damnoen Saduak, Wat Pho, Wat Arun, dan Asiatique.

    Karena jadwal yang padat, maka kami berangkat lebih pagi dari biasanya, yaitu pukul delapan. Biasanya, orang-orang berangkat pukul enam pagi jika ingin mengunjungi pasar apung Damnoen Saduak. Tapi apa daya, kami hanyalah tiga cewe pemalas yang sulit bangun pagi. Haha.


    Karena baru jalan pukul delapan, maka kami sampai di pasar apung Damnoen Saduak pukul 12 kurang sedikit. Untungnya pasar masih ramai. Setelah melihat-lihat, jam dua siang kami memutuskan untuk kembali ke Bangkok.

    Destinasi wisata yang kami kunjungi selanjutnya adalah Wat Pho. Setelahnya, kami menyeberang menggunakan kapal untuk menuju Wat Arun. Candi ini adalah tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam. Tidak hanya pemandangan sunset-nya saja yang cantik, detail ukiran candi ini juga cantik sekali, lho.


    Selesai menikmati pemandangan matahari terbenam di Wat Arun, kami lanjut ke Asiatique menaiki kapal. Di Asiatique sendiri, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Mulai dari menikmati pemandangan sungai Chao Phraya, belanja, hingga menikmati beraneka ragam kuliner yang tersedia.

    Asiatique merupakan destinasi wisata terakhir kami hari ini. Sekitar pukul 11 malam, kami kembali ke penginapan dengan menggunakan Grab Car.



    HARI KELIMA

    Berhubung di hari sebelumnya kami sudah berjalan-jalan seharian sejak pagi, maka kami memutuskan untuk beristirahat lebih panjang hari ini. Kami memilih untuk tidak terlalu memaksakan diri karena setelah kembali dari Thailand kami harus langsung bekerja. Daripada drop, lebih baik sadar diri saja, deh, kalau sudah capek.

    Akhirnya, hari itu kami baru berangkat sekitar pukul setengah sepuluh menuju Santorini Park. Sebelum berangkat, kami membeli sarapan dulu di 7-Eleven. Gue membeli chicken burger dan onigiri, sementara Kak Echa dan Keke membeli nasi dengan lauk ayam.

    Setelahnya, kami pun menaiki minivan ke Santorini Park. Destinasi wisata ini terletak di daerah Cha Am. Jadi, kami harus menempuh perjalanan lebih dari tiga jam untuk menuju ke sana. Kami berkeliling di Santorini sekitar tiga jam, lalu kembali lagi ke Bangkok sekitar pukul lima sore.


    Nah, karena esok hari kami sudah pulang, maka malamnya kami menyempatkan diri dulu membeli oleh-oleh makanan. Untuk membeli makanan khas Thailand, ada satu tempat yang selalu direkomendasikan para pelancong, yaitu Big C.

    Saat melihat di Google Maps, ternyata cabang Big C itu ada banyak. Kami pun memutuskan untuk pergi ke Big C di depan mall Central World. Alasannya? Karena Big C di sini buka sampai jam dua pagi.

    HARI KEENAM

    Apa yang kami lakukan hari ini? Nggak ada. Penerbangan kami saat itu adalah pukul enam sore. Sebenarnya, masih ada waktu untuk berjalan-jalan sebentar ke destinasi wisata lain, misalnya Lumphini Park. Tapi, kami mengurungkan niat tersebut.

    Kami memutuskan nggak pergi ke mana-mana dan memilih untuk membereskan koper. Kami bertiga hanya membawa koper ukuran kabin. Sementara, kami membeli banyak sekali barang. Alhasil, kami harus putar otak biar barang-barang ini muat di koper kami. Dan yang lebih penting, agar barang bawaan kami tidak melebihi kapasitas bagasi.


    Nah, itulah dia itinerary gue dan teman-teman selama enam hari lima malam di Bangkok. Seperti yang sudah gue tulis sebelumnya, kami tidak mengunjungi banyak tempat sekaligus setiap harinya. Bisa dibilang, kami merupakan tipe wisatawan yang lebih senang berjalan-jalan santai.

    Namun, jika kalian lebih suka merapatkan jadwal perjalanan, kalian bisa menyelipkan daerah wisata lain. Sebenarnya ada banyak sekali daerah wisata dan kegiatan yang bisa kalian nikmati di Thailand. Misalnya, mengunjungi Pattaya, menonton Niam Siaramit Show, dan sebagainya.

    Selanjutnya, gue akan mengulas budget yang gue keluarkan selama di Bangkok, serta rincian perjalanan gue ke tiap destinasi wisata. Jadi, tunggu post gue selanjutnya, ya!


    Disclaimer: All photos on this post were taken by my sister, Keke.



    Continue Reading

    Pagi itu adalah hari Sabtu, namun gue sudah terbangun sejak pukul tujuh. Kalau bukan karena sedang liburan, tentu saja gue pasti masih tidur pulas. Gue memang bukan seseorang yang mudah bangun pagi. Tapi, selalu ada pengecualian dalam hidup ini, bukan? Buat gue, liburan adalah momen di mana gue bisa bangun pagi dengan mudah, tanpa paksaan. Apalagi, suasana Bali pagi itu lagi cerah-cerahnya sehingga membuat gue makin semangat.

    Rencana gue dan Daru hari itu adalah mengikuti kelas membuat perhiasan perak di Ubud. Sebelumnya, kami sudah mencari informasi lokakarya terlebih dahulu melalui AirBnB. Gue sendiri baru tahu kalau kita nggak hanya bisa memesan penginapan di AirBnB. Situs ini ternyata juga menyediakan banyak pilihan kegiatan yang bisa kita ikuti di setiap destinasi wisata.

    Kelas membuat perhiasan perak ini sebenarnya dimulai pukul 14.30, tapi kami sudah berangkat ke Ubud sejak pukul 09.30. Sebelum mengikuti lokakarya, kami mampir dulu ke Kebun Bistro. Kalau kalian lagi mampir ke Ubud, gue sarankan mampir ke sini sebentar untuk menikmati secangkir kopi dan croissant mereka. Nggak cuma makanannya yang enak, suasana cafe ini pun nyaman dan instagenic.


    Selesai menikmati brunch, gue dan Daru pun beranjak menuju W.S. Art Studio, tempat lokakarya pembuatan perhiasan perak diadakan. Memasuki area studio, gue dan Daru disambut dengan hamparan sawah dan sebuah penginapan dengan desain ala Bali.

    Lalu, setelah menginfokan kelas yang akan kami ikuti, kami pun diantarkan oleh staff studio ke ruangan semi terbuka di bagian belakang. Ruangan ini langsung menghadap ke hamparan sawah dan penginapan. Suasananya asri dan sejuk banget. Bikin betah.



    Di ruang tersebut ada empat hingga lima meja besar dengan sejumlah kursi. Tak ketinggalan, ada juga berbagai peralatan untuk membuat perhiasan perak, serta peralatan untuk kelas memahat dan membatik. Yes, studio ini nggak hanya membuka kelas membuat perhiasan perak saja. Kita juga bisa mengikuti kelas memahat, melukis, membuat layang-layang, dan masih banyak lagi.



    Meskipun kami datang sebelum pukul 14.30, namun gue dan Daru sudah diperbolehkan untuk memulai kelas. Nah, yang membimbing dan mengajari kami membuat perhiasan perak adalah Bu Ayu. Sebelum memulai kelas, Bu Ayu menginfokan biaya lokakarya yang gue dan Daru ikuti, yaitu Rp380.000. Info biaya ini sebenarnya sudah tertera di AirBnB.

    Bu Ayu juga menjelaskan bahwa dengan biaya tersebut, gue dan Daru bisa mengikuti kelas selama empat jam dan mendapatkan lima gram perak untuk membuat perhiasan. Jika ternyata jumlah perak yang kami gunakan lebih dari lima gram, maka kami harus membayar Rp15.000,- untuk tiap gram kelebihannya.

    Oh iya, perak yang digunakan di lokakarya ini memiliki kadar 92,5%, sementara 7,5% lainnya merupakan campuran tembaga. Kadar ini memang umum digunakan untuk membuat perhiasan perak. Nama populer perak dengan kadar 92,5% adalah sterling silver.

    Setelah memberikan penjelasan singkat, kelas pun dimulai. Seperti apa, sih, proses pembuatan perhiasan perak?

    Pertama, menentukan desain perhiasan. Jadi, awalnya kami diminta untuk membuat sketsa desain perhiasan yang akan dibuat. Bu Ayu pun memberikan kami selembar kertas dan sebuah pensil. Karena sebelumnya gue sudah mencari tahu desain perhisan yang ingin gue buat, maka gue tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan sketsa, begitu juga dengan Daru.


    Kedua, menggambar ulang desain di lempengan perak. Selesai menggambar sketsa perhiasan di kertas, Bu Ayu pun memberikan gue sebuah lempengan perak kecil untuk menggambar kembali sketsa perhiasan. Saat itu, gue ingin membuat cincin gajah. Jadi, gue menggambar kepala dan badan gajah secara terpisah di lempengan perak, sesuai arahan Bu Ayu.


    Ketiga, menggunting lempengan perak sesuai desain. Setelah selesai menggambar, maka langkah selanjutnya adalah menggunting gambar tersebut. Untuk menggunting lempengan perak, kita membutuhkan sebuah gunting khusus.

    Meskipun menggunakan alat khusus, namun jangan pikir mengguntingnya mudah. Ternyata menggunting lempengan perak itu sulit karena lempengan tersebut lumayan keras. Jadi, kita harus memberikan tenaga lebih untuk mengguntingnya. Proses menggunting tersebut juga makin sulit karena ukuran gajah yang gue buat cukup kecil.


    Keempat, menghaluskan sisi lempengan perak. Jika sudah selesai menggunting, otomatis bagian pinggir lempengan akan bergerigi dan cenderung tajam. Nah, itulah sebabnya sisi lempengan harus dihaluskan dengan alat kikir agar lebih mulus.


    Kelima, menggabungkan beberapa lempengan jadi satu. Karena desain gajah untuk cincin gue terdiri dari dua bagian, yaitu kepala dan badan, maka dua lempengan tersebut harus direkatkan terlebih dahulu. Caranya adalah dengan menggunakan bahan perekat bernama bora, lalu dibakar. Untuk proses perekatan ini, Bu Ayu langsung yang mengerjakannya.


    Keenam, membuat band cincin. Sebelum membuat ring band, gue memberi tahu Bu Ayu kalau gue ingin model ring band berulir. Jadi, Bu Ayu pun memberikan gue dua kawat perak untuk dililit. Proses melilit dua kawat ini harus dilakukan dengan hati-hati agar bentuk ulirannya tetap rapih. Agar proses melilit ini lebih mudah, Bu Ayu menyarankan untuk menggunakan alat bantu berupa tang khusus perhiasan.

    Setelah dua kawat tersebut dililit, Bu Ayu pun menyesuaikan panjangnya dengan ukuran jari gue, lalu mengguntingnya. Selanjutnya, bagian ujung kawat harus kembali dikikir agar tidak tajam dan melukai jari tangan.


    Ketujuh, menggabungkan ring band dengan lempengan gajah. Sama seperti proses penggabungan atau perekatan sebelumnya, proses ini pun menggunakan bahan perekat dan api. Namun, sebelum direkatkan, cincin yang belum berbentuk bulat sempurna, dibulatkan terlebih dahulu dengan menggunakan mandrel.

    Kedelapan, merendam cincin di air aki. Cincin yang sudah berbentuk kemudian direndam di air aki selama kurang lebih dua puluh menit. Tujuannya adalah untuk membersihkan noda-noda bekas lem dan pembakaran. 

    Sambil menunggu cincin selesai direndam, gue dan Daru pun foto-foto di area belakang studio yang asri. Sesekali, kami juga mencicipi cemilan yang diberikan gratis oleh W.S. Art Studio, yaitu nanas dan pisang goreng. Nggak cuma cemilan, mereka juga menyediakan air mineral, teh, atau kopi untuk peserta lokakarya.


    Kesembilan, mencuci cincin dengan air sabun. Meskipun sudah direndam menggunakan air aki, namun masih ada kotoran yang menempel pada perhiasan. Itulah sebabnya, perhiasan harus kembali dicuci menggunakan air sabun sembari disikat secara perlahan.

    Kesepuluh, memoles perhiasan. Perhiasan yang sudah bersih harus dipoles terlebih dahulu agar terlihat berkilau. Proses pemolesan ini tidak dilakukan oleh peserta lokakarya, namun dilakukan oleh Bu Ayu. Sebelum memoles perhiasan di mesin khusus, Bu Ayu mengoleskan cairan khusus ke perhiasan. Proses pemolesan ini diulang sebanyak dua kali.


    Selesai dipoles, perhiasan perak pun terlihat berkilau dan cantik sekali. Gue dan Daru puas sekali dengan cincin yang kami buat, tentu saja dengan bantuan Bu Ayu (Bahkan selama di Bali, cincin itu selalu gue pakai, lho).

    Durasi kelas selama empat jam terasa begitu singkat karena kami benar-benar menikmati setiap proses pembuatan perhiasan perak ini. Sehabis mengikuti kelas, gue dan Daru tidak hanya membawa pulang cincin perak kami saja. W.S. Art Studio ternyata juga memberikan kami sertifikat. Yay!


    Kalau kalian ingin mencoba sesuatu yang berbeda di Bali, kalian bisa, lho, mencoba berbagai kelas kerajinan dan kebudayaan Bali seperti yang gue dan Daru ikuti. Itung-itung menambah pengalaman sekaligus mengasah kreativitas.








    Continue Reading
    Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, bulan Februari lalu gue liburan ke Yogya bareng Daru. Ceritanya sendiri bisa dibaca di sini, sini, dan sini. Nah, selama di Yogya kemarin, gue dan Daru sempat menginap satu malam di YATS Colony.




    Kenapa kita memutuskan menginap di sini? Karena tempat ini ramai sekali diulas para influencers di social media. Gue pun jadi penasaran. Padahal awalnya kita nggak berniat menginap di sini. Tapi, berhubung kami extend satu hari dan belum memesan kamar, maka kami coba, deh, buat santai-santai semalam di YATS Colony.

    Jadi, ada hal menarik apa sajakah di YATS Colony? Ini dia.

    Area Lobi yang Unik

    Saat memasuki YATS, gue dan Daru melihat ada sebuah bangunan kecil di sebelah kiri. Karena kita belum tahu di mana tempat untuk check in, akhirnya kita pun memasuki ruangan ini. Oh, ternyata ruangan ini adalah lobi hotel sekaligus area check in.

    Yang bikin unik adalah lobi hotel ini dibagi menjadi dua area. Area sebelah kanan lobi merupakan cafe, sementara bagian kiri merupakan area untuk check in. Nggak hanya itu, di bagian kiri lobi pun terdapat display pernak-pernik, baju, serta aksesoris lainnya yang bisa dibeli. Jadi, sambil check in, bisa sambil cuci mata atau belanja juga.

    Bangunan ini juga terdiri dari dua lantai. Kalau lantai bawah merupakan lobi, cafe, dan area belanja, maka di lantai atas adalah tempat untuk sarapan.

    Maapin kelakuan gue, ya!

    Interior Kamar yang Lucu

    Selesai check in, gue dan Daru diberikan kunci kamar. Lalu, seorang petugas mengantarkan kami menuju kamar tipe "KA" dengan twin bed yang kami pesan. Ngomong-ngomong, saat itu kami membayar sekitar Rp500ribuan untuk kamar tipe ini.

    Begitu pintu kamar dibuka, kami pun langsung senyum-senyum excited karena interior kamarnya sungguh nggak mengecewakan dan sesuai ekspektasi kami. Interiornya sangat modern dan nyaman.

    Di samping pintu kamar, kami menemukan sebuah keranjang berisi peralatan mandi dan sandal. Di dalam keranjang tersebut juga terdapat welcome card dari pihak YATS. Nggak ketinggalan, ada juga sign untuk pintu yang desainnya dibuat mirip plat kendaraan.

    Selain tempat tidur (pastinya!), kamar ini juga dilengkapi televisi, wi-fi, meja rias, daybed, dan pajangan dinding yang artsy sekali. Kabarnya memang YATS Colony berkolaborasi dengan seniman muda Indonesia untuk menghiasi kamar serta area hotel.





    Bagi gue, kamar tipe KA ini udah cukup nyaman. Tapi, kalau kamu mau pengalaman menginap yang lebih menyenangkan, gue sarankan menyewa kamar tipe "NA". Di tipe kamar ini, pihak YATS menyediakan daybed di teras kamar dengan pemandangan kolam renang. Jadi, kamu bisa leyeh-leyeh dengan pemandangan cantik di pagi atau sore hari. Selain tipe kamar NA, kamu juga bisa menyewa kamar terbesar mereka yang dilengkapi dengan fasilitas onsen.

    Banyak Spot Foto

    Salah satu daya tarik YATS Colony memang terletak dari desain hotelnya yang anak muda banget. Jadi, nggak heran kalau YATS memiliki banyak sekali spot untuk berfoto. Salah satu spot foto favorit pengunjung YATS tentu saja bangku melingkar dengan cushion orange di sisi kolam renang. Saking eye-catchingnya pengunjung YATS Colony pasti selalu menyempatkan untuk berfoto di sini.




    Selain kolam renang, ada juga area yang sering dijadikan spot foto. Misalnya, area halaman depan tempat parkir dua becak mini. Atau, area menyerupai terowongan dengan grafiti dua kelinci laki-laki dan perempuan yang cute banget.




    Sebenarnya, karena interior di YATS Colony itu cantik-cantik, jadi banyak sekali tempat yang bisa dijadikan spot foto. Kalau kamu suka hunting tempat cantik untuk swafoto, hotel ini, sih, wajib kamu kunjungi saat ke Yogya.

    Menu Sarapan Sangat Variatif

    Sebagai orang yang belum ngerasa 'hidup' kalo nggak sarapan, sudah pasti bangun tidur ku terus mandi sarapan dulu, dong. Menurut gue, sarapan di YAST Colony itu menyenangkan dan menenangkan. Tempat sarapannya tenang dan nggak berisik, dan lagi-lagi, interiornya pun cukup bikin seger mata.

    Yang paling menarik tentu saja menu sarapan yang tersedia. Pilihannya sangat beragam. Jika kamu terbiasa makan berat saat sarapan, kamu bisa menemukan nasi dan segala macam lauk pauknya di sini. Tapi, jika kamu suka sarapan ringan, mereka menyediakan berbagai pastry seperti croissant dan danish bread, serta sandwich. Gue sendiri kemarin bolak balik ngambilin danish bread-nya terus menerus saking doyannya.

    Untuk minuman, selain menu standar seperti teh, kopi, susu, dan jus, mereka juga menyediakan jamu. Iya, jamu! Ada beras kencur sama kunyit asam. Berhubung gue sedang flu saat ke Yogya kemarin, gue pun minum jamu dulu biar lebih bugar.





    Selesai sarapan sambil leyeh-leyeh, gue dan Daru pun balik ke kamar untuk ganti baju renang. Eh, sebelum turun, nggak lupa ambil danish bread lagi. Haha.

    Suasananya Santai

    Biarpun pengunjungnya banyak, tapi suasana di YATS Colony itu cenderung tenang. Nggak riweuh. Buat manusia yang suka bermalas-malasan seperti gue, suasana ini sempurna sekali. Mungkin lebih seru kalau gue pesen kamar tipe "NA" biar bisa bermalas-malasan sambil baca buku atau mendengarkan musik di depan kolam renang.

    Atau, kalau mau bersantai sambil ngemil juga bisa mengunjungi cafe yang terletak di lobi hotel. Desain interior cafe ini juga lucu dan nyaman sekali, lho.



    Banyak Payung

    Sekilas terkesan nggak penting, ya? Tapi gue cukup amazed, sih, melihat tempat payung di beberapa titik hotel. Jumlah payungnya cukup banyak, lho. Kayaknya kalau tiba-tiba hujan, sih, dijamin nggak bakal rebutan payung. Hehe.


    Di lain waktu, kalau ke Yogya lagi, sepertinya gue ingin balik ke sini. Tapi nanti mau pesen kamar "NA" biar puas bersantai seharian sambil menikmati hidup. Haha.


    Info:
    YATS Colony
    www.yats.co
    Jl. Patangpuluhan no. 23, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55251
    (0274) 375948


    Continue Reading
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top