Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Pertemuan gue dengan Bioderma itu serba kebetulan. Kebetulan pertama adalah ketika gue sedang berlibur ke Bali dan tidak membawa pembersih wajah. Gue pun menggunakan micellar water Bioderma Sensibio punya Daru dan akhirnya menggunakan produk ini seterusnya.

    Kebetulan berikutnya mempertemukan gue dengan rangkaian produk Bioderma Hydrabio. Jadi, di tahun 2017 lalu, akun Instagram Bioderma mengadakan kuis berhadiah produk Hydrabio ukuran travel dan gue menjadi salah satu pemenangnya.

    Gue pun akhirnya bisa mencoba produk-produk Bioderma Hydrabio, yaitu Hydrabio H20 Micellar Water, Hydrabio Gel-Creme, Hydrabio Serum, Hydrabio Essence Lotion, dan Photoderm MAX SPF 100. 

    Seri Bioderma Hydrabio dikhususkan untuk kulit kering, normal hingga kombinasi, dehidrasi, dan sensitif. Dari klaimnya sendiri, harusnya seri ini cocok dengan kulit gue yang cenderung kering di bagian pipi dan dahi, namun berminyak di daerah T-zone. Tapi, apakah klaim ini terbukti di kulit wajah gue?

    Nah, Berhubung gue sudah menggunakan produk ini sejak Juli 2017, maka ini dia review gue mengenai Bioderma Hydrabio Series.

    Hydrabio H20 Micellar Water


    Seperti yang sudah gue katakan, pada awalnya gue menggunakan seri Sensibio H20, tetapi kemudian berpaling ke Hydrabio H20 hingga saat ini. Kenapa? Karena menurut gue, Bioderma H20 Micellar Water mampu membuat kulit wajah gue jadi lembab dan lebih cerah setelah menggunakannya. Selain itu, kulit pun terasa dingin dan segar.

    Untuk mekap sehari-hari yang ringan, menurut gue produk ini bisa diandalkan untuk menghapus sisa mekap dan kotoran yang menempel. Jika sedang mekap berat, produk ini pun masih bisa membersihkan wajah dengan cukup baik. Namun, tentu saja produk yang digunakan harus lebih banyak. Brb mandi Bioderma seperti rich people.

    Sayangnya, menurut gue, produk ini enggak ampuh untuk membersihkan produk mekap yang waterproof, seperti eyeliner, maskara, atau lipstik Maybelline Super Stay Matte Ink. Jadi, gue harus menggunakan makeup remover dari brand lain untuk menghapusnya.

    Kalau Bioderma Sensibio H20 hadir dalam 3 ukuran, yaitu 100 ml, 250 ml, dan 500 ml, maka Bioderma Hydrabio H20 cuma hadir dalam ukuran 100 dan 250 ml saja. Harga Hydrabio H20 ukuran 100 ml adalah Rp140.000-an, sedangkan ukuran 250 ml memiliki harga Rp230.000-an.

    Dibanding micellar water dari brand lain, harga Bioderma memang lebih mahal. Tapi, jangan sedih, Sistah! Bioderma sering banget membuat promo bundling, misalnya paket Bioderma Hydrabio H20 100 ml + 250 ml. Promo bundling ini adalah kesempatan kita semua buat nyetok karena harganya jauh, JAUH, lebih murah dibanding beli satuan. Kalian bisa hemat hingga 100 ribuan, lho!

    Hydrabio Essence Lotion


    Biasanya, gue menggunakan produk ini setelah menggunakan toner. Hydrabio Essence Lotion adalah produk Bioderma kecintaan gue. Pertama, teksturnya watery dan tidak memiliki bau yang terlalu kuat sehingga nyaman saat digunakan.

    Kedua, produk ini benar-benar bisa membuat kulit wajah gue jadi lebih cerah. Walaupun produk Hydabio lainnya juga mengandung salicylic acid seperti produk ini, Tapi, nggak tahu mengapa efek mencerahkan Hydrabio Essence Lotion lebih terasa di kulit wajah gue.

    Ketiga, produk ini kok rasanya enggak habis-habis saat dipakai, ya? Harganya memang cukup mahal, yaitu sekitar Rp290.000-an, tapi produk ini bisa awet hingga lebih dari enam bulan. Padahal gue pakai produk ini setiap hari, pagi dan malam.

    Kekurangan produk ini? Mungkin dari kemasannya yang bulky dan rentan tumpah. Jadi, sulit dibawa ke mana-mana. Tapi hari gini, kan, kita bisa membeli botol berukuran kecil untuk traveling di Miniso dan sebagainya. Iya, enggak?

    Hydrabio Gel-Creme


    Sama seperti Hydrabio Essence Lotion, Hydrabio Gel-Creme juga menjadi produk Bioderma favorit gue. Produk ini benar-benar mampu membuat kulit wajah gue lembab tanpa rasa lengket. Teksturnya agak thick tapi mampu menyerap ke kulit wajah dengan cepat.

    Pokoknya, produk ini wajib ada di dalam tahapan skincare pagi dan malam gue. Setelah menggunakan produk ini, kulit wajah rasanya lebih kenyal. Gue pun pernah baca (lupa di mana) kalau produk ini juga bisa dijadikan base mekap.

    Nah, Hydrabio Gel-Creme ini bentuknya tube dengan pump di ujungnya. Ini tentu bisa jadi nilai plus untuk kamu yang concern banget sama masalah kebersihan produk skincare.

    Sayangnya, ya... produk ini mahal. Harganya sekitar Rp280.000-an untuk ukuran 40 ml saja. Harga segitu mungkin bikin maju-mundur buat kamu yang ingin mencobanya. Tapi, jangan sedih. Di Sociolla, ternyata ada promo paket Hydrabio Value Set. Jadi, kamu bisa membeli micellar water Hydrabio H20 100 ml + Hydrabio Gel-Creme 15 ml seharga Rp148.000 saja.

    Hydrabio Serum


    Di antara empat produk Hydrabio series yang gue coba, sepertinya produk ini yang enggak terlalu berkesan untuk gue. Padahal, harganya paling mahal dibanding tiga produk lain, yaitu Rp340.000-an untuk ukuran 40 ml.

    Gue tidak merasakan perbedaan yang signifikan saat sedang menggunakan atau tidak menggunakan produk ini. Tapi, di luar itu, produk ini nyaman digunakan di kulit wajah. Sama seperti Gel-Creme, teksturnya memang agak thick tapi sangat mudah meresap serta tidak meninggalkan rasa lengket.


    Di kulit wajah gue, sejumlah produk Bioderma Hydrabio memang mampu bekerja dengan sangat baik. Tapi, tentunya beda kulit wajah, beda juga hasilnya, ya.

    Nah, kalau kamu mau mencoba rangkaian produk Hydrabio ini, gue pernah melihat versi travel size-nya di sejumlah gerai kecantikan di mall. Jadi, dalam satu pouch dengan harga di bawah 200 ribuan rupiah, kamu akan mendapatkan micellar water, lotion essence, gel-creme, serum, dan sunscreen. 

    Lumayan, kan, buat coba-coba dulu? :D



    Continue Reading
    Selain podcast Thirty Days of Lunch, salah satu penyelamat hidup gue sejak akhir tahun 2018 lalu adalah Purivera Botanicals Evening Primrose Oil Serum. Yak, panjang banget namanya, Jenderal! Tapi, alhamdulillah serum oil ini tak membutuhkan waktu panjang untuk mengenyahkan jerawat yang tiba-tiba muncul dengan brutalnya di wajah gue.

    Oke, gue sedikit berlebihan.

    Sebenarnya nggak sebrutal itu. Tapi cukup bikin gue panik karena seumur hidup gue, gue hampir tidak pernah memiliki masalah dengan jerawat. Iya, gue memang terkadang suka jerawatan saat menstruasi. Tapi setelah itu, sudah. Urusan kelar.

    Beda sekali dengan apa yang terjadi pada gue sejak sekitar Agustus 2018 lalu. Tiba-tiba aja jerawat tumbuh di wajah gue terus-terusan, bahkan saat sedang tidak menstruasi. Mati satu, tumbuh lagi. Kadang bisa tiga jerawat sekaligus yang tumbuh. Kadang jerawat bermata, tapi lebih sering jerawat tanpa mata yang kalau nggak sengaja kesentuh sakit sekali rasanya.


    Gue mulai mencari-cari penyebab munculnya jerawat secara terus menerus ini. Apakah karena over exfoliate? Apakah karena tingkat stress gue sedang tinggi-tingginya? Apakah karena makanan? Apakah gue kualat karena sempat berkata bahwa kulit wajah gue kayak kulit badak? Atau ini disebabkan hormon karena usia gue sudah memasuki late 20s? 

    Asli, gue nggak tahu penyebab persisnya sama sekali. Hipotesis gue akhirnya berujung pada dua hal: stress dan over exfoliate karena saat itu gue lagi rajin nyoba produk eksfoliasi.

    Akhirnya, karena permasalahan jerawat ini nggak kunjung usai, langkah pertama yang gue ambil adalah berhenti menggunakan exfoliating toner. Apakah kemudian kulit wajah gue membaik? Oh, tidak semudah itu, Beb.

    Jerawat masih muncul. Gue makin stress.

    Nah, di tengah peperangan gue dengan ‘musuh baru’ ini, tiba-tiba Rara kasih info salah satu brand skincare lokal yang mengeluarkan berbagai produk oil. Namanya Purivera Botanicals. Berdasarkan rekomendasi Rara, akhirnya gue mulai mencari tahu mengenai produk ini.


    Menurut info yang diberikan Purivera Botacinals, Evening Primrose Oil ini mengandung Gamma Linoleic Acid (GLA). Asam gamma-linolenat ini ternyata berfungsi untuk mengatasi masalah peradangan pada kulit. Selain itu, GLA juga mampu mengembalikan keelastisitasan kulit.

    Karena memiliki kandungan ini, makanya Evening Primrose Oil dari Purivera bisa merangsang kolagen, menyeimbangkan kandungan minyak dan sebum di wajah, mengatasi masalah hiperpigmentasi pada kulit, serta mengurangi bengkak dan kemerahan akibat jerawat.

    Pas banget, kan, untuk permasalahan hidup kulit wajah gue?

    Akhirnya, gue pun memutuskan untuk membeli varian Purivera Evening Primrose Oil melalui Shopee. Harganya adalah Rp80.000,- untuk ukuran 30 mL. Termasuk terjangkau, bukan?

    Sejujurnya, gue cukup amazed dengan servis yang diberikan Purivera di Shopee. Begitu gue selesai melakukan pembelian, admin Purivera Botanicals langsung menghubungi gue melalui fitur chat di Shopee. Di sana, admin menjelaskan cara menggunakan oil ini, waktu kedaluwarsa, dan beberapa hal penting yang harus diketahui pengguna. Satu poin plus untuk Purivera Botanicals.

    Beberapa hari kemudian, produk ini tiba dan langsung gue pakai sebelum tidur. Sesuai petunjuk dari admin, gue meneteskan oil di telapak tangan lalu menggosoknya terlebih dahulu, baru meratakannya di wajah. Gue sendiri hanya menggunakan 2-3 tetes saja untuk satu wajah.

    Satu hal yang gue nggak suka dari oil ini adalah baunya nggak enak banget. Serius. Sebenarnya hal ini sudah diinfokan Purivera Botanicals, tapi tetap saja baunya bikin gue sempat malas menggunakannya.


    Untungnya, walaupun baunya kurang menyenangkan, Evening Primrose Serum Oil ini ternyata beneran ampuh untuk mengurangi bengkak akibat jerawat. Sejak pertengahan September 2018 lalu, gue cukup rutin menggunakan produk ini, makanya gue berani bilang kalau Evening Primrose Serum Oil benar-benar bisa menjadi penyelamat hidup gue.

    Biasanya, jerawat tanpa mata itu paling susah kempesnya, bahkan bisa sampe 10 hari bertengger di wajah. Tapi, begitu gue menggunakan Evening Primrose Oil ini, jerawat tanpa mata sudah mulai kempes di hari ketiga. Untuk jerawat tanpa mata yang ukurannya lebih kecil, bahkan bisa kempes total keesokan harinya. Sementara, untuk jerawat yang bermata, oil ini bisa membuatnya lebih cepat matang.

    Tapi, apakah oil ini bisa mencegah datangnya jerawat? Sayangnya, berdasarkan pengalaman gue, jawabannya adalah tidak. Jerawat masih suka datang tiba-tiba. Hanya saja, Evening Primrose Oil ini mampu mengusir jerawat lebih cepat dari wajah gue. Jadi, sekarang gue tidak terlalu stress memikirkan jerawat yang sering mampir di wajah berkat si Evening Primrose Oil ini.

    Setidaknya, kalau si jerawat tiba-tiba datang, gue sudah punya pawangnya.

    Tentunya, selain menjadikan produk ini sebagai tameng, gue juga tetap mencoba cara lain agar si jerawat nggak terlalu sering mampir di wajah gue. Misalnya dengan lebih berhati-hati saat menggunakan skincare atau belajar mengelola stress.

    Ciao!









    Continue Reading
    This is gonna be my very first review about makeup. Sejujurnya, dulu gue nggak pernah berpikir kalau gue akan tertarik dengan dunia permekapan. Secara gue males ribet, ya, anaknya. Ternyata, memang usia mengubah mindset. Haha.

    Tiga tahun terakhir ini, gue mulai tertarik buat melengkapi peralatan mekap. Seperti cewek-cewek saat ini, lipstick adalah alat mekap yang paling banyak gue beli. Gue sendiri sebenarnya lebih suka pakai lipstik dibanding lip cream. Menurut gue, lipstick lebih mudah diaplikasiin aja, gitu.

    Sayangnya, gue clumsy banget. Jadi, lipstik gue selalu, SELALU, bocel. Biasanya, sih, karena gue lupa puterin masuk lipstiknya saat nutup. Itulah kenapa lipstik gue nggak pernah mulus. Hvft.

    Oke, sekian intermezzo-nya. Mari kembali ke topik utama, yaitu review CHUNKY! Lip & Cheek Crayon dari brand makeup lokal Rollover Reaction. Baru-baru ini gue membeli lipstik tersebut di Sociolla. Alasannya? Iseng aja karena gue dapet voucher Rp50.000,- buat pembelian minimal Rp100.000. 

    Harga asli lipstik ini adalah Rp125.000,- dan saat ini di Sociolla sedang ada diskon 10%, sehingga harganya jadi Rp112.500,-. Berhubung gue pakai voucher Rp50.000, maka kemarin gue hanya membayar Rp62.500,- ditambah ongkir. Lumayan banget, kan? Akhirnya setelah menimbang-nimbang dan membaca ulasannya di berbagai sumber, gue pun membeli lip crayon ini.

    Sesuai namanya, yaitu chunky, bentuk lipstik ini memang tebal, nggak seperti lipstik lainnya yang bentuknya lebih kecil dan ramping. Ujung lipstiknya pun nggak mengecil, tapi bulat. Awalnya gue sempat mikir kalau lipstik ini akan susah dipakai, terutama di ujung bibir. Tapi, setelah dicoba ternyata mudah-mudah aja, tuh. Apalagi gue juga bukan tipe yang suka pakai lipstik terlalu rapih.


    Salah satu hal yang gue suka dari lip crayon ini adalah kemasannya yang simple dan mewah. Warna kemasannya hitam dengan finishing matte, tapi bagian ujungnya diberikan sentuhan glossy. Lalu, di bagian tengahnya terdapat logo Rollover Reaction. Kece bangetlah desain kemasannya.

    Lip crayon ini hadir dengan lima pilihan warna, yaitu Pablo, Kahlo, Rothko, Maccio, dan Carlo. Nama shade ini diambil dari nama tokoh terkenal dunia. Gue sendiri kemarin cuma beli satu warna, yaitu Kahlo. Shade ini memiliki warna merah kecokelatan, semacam merah bata gitu tapi tetap wearable banget untuk dipakai sehari-hari. Warnanya sendiri agak mengingatkan gue dengan lipstik Purbasari shade 86.


    Menurut info yang gue baca, hasil akhir lip crayon ini adalah satin. Ini adalah alasan utama gue membeli lip crayon ini. 

    Jadi, semua lipstik yang gue punya saat ini hasil akhirnya adalah matte. Berhubung bibir gue ini kering, gue selalu menggunakan lipbalm dulu sebelum menggunakan lipstik matte. Biasanya, sih, bibir gue jadi nggak terlalu kering dengan bantuan lipbalm. 

    Tapi, akhir-akhir ini, bibir gue kering parah sampai mengelupas saat menggunakan lipstik matte. Nggak enak banget, deh, dilihatnya. Itulah kenapa gue akhirnya memutuskan untuk membeli lip crayon dengan hasil akhir satin dari Rollover Reaction ini.

    Setelah gue coba pakai seharian, gue suka banget sama lip crayon ini. Lipstik ini bener-bener nggak bikin bibir gue kering meski gue reapply tiga hingga empat kali tanpa menghapus sisa lipstik terlebih dahulu. Padahal, kalau pakai lipstik matte, bibir gue pasti langsung gradakan dan keliatan banget garis-garis bibirnya. Tapi, lipstik ini bikin bibir lo keliatan sehat. Me love!

    Memang, pigmentasi lipstik ini bisa dibilang agak sheer. Jadi, dalam satu kali ulas, lipstik ini nggak akan mampu menutupi warna asli bibir, apalagi kalau bibir kalian sedikit gelap seperti gue. Tapi, pigmentasinya bisa dibangun secara bertahap.

    Selain itu, lip crayon ini juga transfer banget dan mudah hilang meski tetap meninggalkan stain di bibir. Kalau kalian tipe yang malas reapply, mungkin akan mikir dua kali buat beli lipstik ini. Nah, karena saat di-reapply lipstik ini nggak bikin bibir keliatan retak, gue pun nggak menjadikan hal ini masalah besar. 


    Karena namanya lip & cheek crayon, maka sudah pasti lipstik ini multifungsi. Bahkan, lipstik ini nggak cuma bisa diaplikasikan di bibir dan pipi, tapi juga bisa digunakan di mata sebagai eyeshadow. 

    Gue sempat mencoba lipstik ini sebagai blush on. Berhubung warnanya sheer, maka saat dijadikan blush on, lip crayon ini nggak langsung cetar mentereng di pipi. Tapi, warnanya masih samar-samar dan bisa ditebalkan sesuai keinginan. Secara gue nggak suka pakai blush on tebel-tebel, ini jadi poin positif lagi buat gue.

    Selain itu, lip crayon ini juga mudah dibaurkan di pipi. Tinggal dot lipstik di pipi, lalu baurkan. Atau, kamu juga bisa oleskan lipstik di jari terlebih dahulu, baru kemudian dibaurkan di pipi. Cara mana pun kayaknya sama aja. 


    Saking sukanya sama lip crayon ini, makanya gue memutuskan untuk menulis ulasannya. Biar semua orang tahu, haha. Habis ini, sepertinya gue ingin mengoleksi warna lainnya, terutama shade Maccio dan Carlo.

    Cheers,



    Continue Reading
    Kulit wajah gue itu bisa dibilang kayak kulit badak. Bisa dihitung jari, deh, berapa kali kulit gue bereaksi sama skin care. Saat gue pakai skin care itu, biasanya hanya ada dua kemungkinan: muka jadi kinclong atau muka nggak mengalami efek apapun.

    Meski begitu, wajah gue juga nggak mulus-mulus amat. Sekali dua kali gue pun mengalami jerawat hormonal saat sedang menstruasi. Jadi, tentu aja noda hitam dan lobang akibat jerawat nggak bisa gue hindari sepenuhnya.

    Walau nggak cakep-cakep amat, tetep aja gue bersyukur muka gue nggak rewel. Cukup urusan rambut saja yang bikin gue pusing, ya. Hehehe.

    Sampai tiba-tiba, gue mencoba pelembab berinisial N yang dipuja-puja banyak orang. Setelah penggunaan beberapa kali ternyata di jidat gue muncul jerawat kecil-kecil. Jerawat yang nggak ada matanya itu, lho. Dan makin lama makin banyak!

    Aslinya lebih banyak dari ini jerawatnya. Tolong jangan salfok sama cincin yaaa...

    Kenapa gue bisa menyimpulkan bahwa pelembab itulah biang keroknya? Karena gue nggak mengganti skin care lain kecuali pelembab. Ya, sebenarnya saat itu skin care gue cuma pelembab, pembersih muka, dan sabun muka, sih.

    Teman gue pun sampai heran melihat kondisi muka gue saat itu. Karena memang kulit gue segitu badaknya.

    Nah, berhubung gue buta banget sama skin care dan gue juga cuek banget sama jerawat di jidat, ya gue tetep aja pakai pelembab itu. Kemudian, jawaban atas permasalahanku datang di saat yang tidak terduga.

    Jawaban itu datang bersama paket berisi BB cushion gue. Si pemilik online shop ternyata memberikan gue sample lotion Hada Labo Shirojyun. Gue pun mencoba menggunakan lotion ini sebagai toner. Ternyata gue merasa kulit wajah gue enak sekali setelah memakai toner ini.


    Akhirnya, gue membeli travel set Hada Labo Shirojyun. Satu set terdiri dari toner, sabun muka, dan pelembab. Gue juga mengganti pembersih muka gue dengan Bioderma Sensibio, yang kemudian berganti menjadi Bioderma Hydrabio. Setelah sekian lama cuek dengan kondisi muka, gue coba untuk mulai rajin menggunakan skin care. 


    Sambil pakai Hada Labo Shirojyun ini, gue coba baca-baca seputar dunia skin care. Gue cari tahu tipe kulit gue dan bagaimana penangannya. Gue jadi rajin buka aplikasi female daily buat cari tahu review produk Hada Labo Shirojyun, micellar water Bioderma, dan produk lain yang gue incar.

    Ternyata memang banyak juga yang cocok sama Hada Labo Shirojyun ini. Tapi, sekalinya ada yang nggak cocok, wajah mereka bisa sampai break out parah. Syukur alhamdulillah gue termasuk yang cocok dengan Hada Labo. 

    Hasilnya? Jerawat di jidat gue menghilang dengan cepat, dong! Jidatku kini mulus, walau tak semulus pantat bayi. Tapi jerawat kecil-kecil itu beneran ilang gitu aja setelah gue rutin double cleansing dan pakai toner.

    Dari sinilah gue sadar bahwa jadi orang jangan sombong! Hahaha. Sebadak-badaknya kulit kita, tetep aja perlu dirawat dan disayang. Biar nggak ngambek. Dan yang paling penting, harus peka sama kondisi kulit. Jangan maksain pakai suatu produk kalau memang tidak cocok.

    Yang cocok di orang lain, kan, belum tentu cocok di kita. Urusan cocok-cocokan ini biar jadi urusan kamu sama aku aja, ya. #mulaigila

    Ciao!




    Continue Reading
    Gue itu anaknya suka bersantai, alias malas ngapa-ngapain, alias mageran. Kayaknya bersantai adalah tujuan hidup gue, deh, hahaha. Makanya, setiap pagi sebelum ngantor, gue lebih senang 'menginvestasikan' waktu gue untuk leyeh-leyeh sambil sarapan/ membaca/ menonton dibanding bersiap-siap atau makeup-an.


    Berhubung waktu gue untuk makeup-an sedikit, gue pun berusaha membuat step makeup gue sesimpel mungkin. Ya memang, boleh-boleh aja sih kalau nggak pakai makeup ke kantor. Tapi, kok, berangkat ke kantor tanpa usaha sedikit untuk terlihat 'cantik' rasanya seperti kurang menghargai diri sendiri, ya? Menurut gue, tampil baik itu adalah cara untuk terlihat profesional di lingkungan kerja, biarpun lingkungan kerja gue santai banget.

    Walaupun gue suka males dandan, sebisa mungkin gue nggak melewatkan tahap skin care. Biasanya, sebelum pakai makeup gue mempersiapkan kulit gue dengan menggunakan toner, essence, serum, eye cream, lip balm, dan moisturizer. Banyak? Ah, belum sebanyak 10 skin care steps ala Korea, kok. :D

    Setelah menggunakan skin care, baru deh rutinitas perlenongan gue dimulai.

    Bagi yang sudah mengenal gue, pasti sudah tahu kalau permasalahan kulit terbesar gue adalah lingkaran hitam di mata. Dulu, gue suka mencoba berbagai corrector atau concealer. Ada masanya juga di mana gue menggunakan concealer berlapis-lapis sampai kulit di bawah mata terlihat cakey dan creasing. Semua demi menutupi dark circles yang kelewatan 'dark' ini. Tapi sekarang gue lebih memilih bodo amat dan mencoba menerima lingkaran hitam ini sebagai bagian dari diri gue (terima kasih buat campaign "woman empowerment" yang merajalela akhir-akhir ini).

    Sekarang, gue cuma pakai korektor warna orange tipis-tipis, lalu menggunakan BB cream tipis-tipis. Kalau lagi rajin, gue akan kembali menggunakan concealer tipis-tipis juga. Pokoknya, gue nggak ingin makeup menjadi topeng. Gue mau makeup menonjolkan siapa gue tanpa menyembunyikan diri gue (ntaps!). Lingkaran hitam gue memang tidak tersamarkan dengan sempurna, tapi gue mencoba percaya diri tampil dengan 'trade mark' gue yang satu ini.



    Untuk corrector dan concealer, gue menggunakan produk sejuta umat, yaitu L.A. Girl HD Pro Concealer. Sementara, untuk BB cream-nya, gue menggunakan Laneige BB Cushion Whitening shade 23 atau Maybelline Super BB Cover shade Natural. Kulit gue memang medium to dark, tapi ternyata Laneige BB Cushion shade 23 masih cocok di kulit wajah gue dan nggak bikin gue kayak pakai powder abu vulkanik (baca: abu-abu).

    Setelah selesai di bagian complexion (udah kayak beauty blogger belum?), gue pun mengeset concealer dengan bedak tabur POND's yang lagi digandrungi ciwik-ciwik masa kini. Gue sendiri sudah membuktikan kemejikan bedak tabur ini di kulit kering kombinasi (?) gue. Jadi, biasanya menjelang siang hidung gue akan mulai berkilau layaknya loyang yang diolesi margarin sebelum dimasukkan ke oven. Tapi, begitu pakai bedak ini, area hidung dan dahi gue justru terlihat dewy-dewy sehat macam idola Korea, bahkan saat gue pakai di teriknya cuaca Bali pas liburan kemarin.



    Selanjutnya, gue ngurusin bagian mata.  Lagi-lagi, kalau sedang rajin atau kalau lingkaran hitam gue lebih gelap dari biasanya, gue akan menggunakan eyeshadow. Karena gue nggak segitu seringnya pakai eyeshadow, maka gue cuma punya dua palet eyeshadow dari City Color dan Mizzu. Favorit gue tentu aja dari Mizzu. Untuk palet berisi tiga warna eyeshadow, gue cukup merogoh kocek sekitar 40 atau 50 ribuan saja. Harga tersebut tergolong murah mengingat pigmentasinya yang oke punya, bahkan di kelopak mata gue yang gelap ini. Untuk menjaga penampilan tetap natural (dan waktu dandan nggak kelamaan) gue hanya menggunakan satu warna eyeshadow saja.

    Kalau gue lagi nggak menggunakan eyeshadow, biasanya gue akan langsung mengisi alis. Untuk alis gue menggunakan brow pomade dari Milani yang shade Brunette. Konon katanya, produk ini adalah versi dupe dari brow pomade Anastasia Beverly Hills. Berhubung gue nggak pernah pakai brow pomade dari ABH, sesungguhnya tidaklah tepat jika gue mengaminkan pendapat tersebut.



    Tapiii... brow pomade dari Milani emang top, sih. Pertama, tahan lama saat digunakan. Kedua, warnanya bisa di-build. Ketiga, mudah dibaurkan jadi nggak usah takut pakai alis ketebelan. Keempat, dilengkapi kuas + spoolie haratesan. Sayangnya, brow pomade ini agak cepat kering walaupun tidak secepat gel eyeliner-nya Maybelline.

    Tahap selanjutnya yang juga merupakan tahap akhir adalah lipstick. Gue paling sering menggunakan Amore Matte Lip Cream dari Milani yang shade Precious. Tapi, terkadang gue juga suka menggunakan Purbasari nomor 81 atau Wardah Lip Cream yang shade Honey Bee. Untuk urusan lipstick, warna yang gue pilih biasanya warna-warna nude atau natural yang cocok untuk sehari-hari.


    Selesai deh makeup routine cewek pemalas ala gue. Sehari-hari gue paling hanya butuh waktu 10-15 menit untuk makeup-an, sementara 1 jam lainnya gue pergunakan untuk leyeh-leyeh menyusun mood di pagi hari.

    Ciao!



    Continue Reading
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top