Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Meski gak pernah terucap, tapi sebenarnya gue sadar sekali bahwasanya gue adalah makhluk yang overthinking, penuh keraguan akan potensi diri sendiri, dan takut salah. Sungguh rangkaian pemikiran yang saling melengkapi hingga menciptakan kecarutmarutan mental seorang perempuan bernama Valine. Yak!

    Gue sadar tiga pemikiran itu ada dan gue paham bahwa gue nggak bisa mengubah pemikiran yang sudah ada bertahun-tahun lamanya dalam waktu singkat. Jadi, gue mulai perlahan mengubah pemikiran tersebut. Dimulai dari: takut salah.

    Pemikiran takut salah pada akhirnya membuat gue sulit maju. Gue lebih banyak bermain di zona aman dan tidak berani menantang diri gue sendiri untuk tumbuh. Beberapa kali, pemikiran takut salah ini justru malah memicu kesalahan-kesalahan lain. Nah lho, nah lho.

    Pada akhirnya, hal pertama yang gue lakukan adalah berusaha menerima kesalahan. Memang manusia itu tempatnya salah, kok. Gak mungkin ada hidup yang 100% tanpa kesalahan. Itu mustahil, ya, Valine. Inilah yang semalam gue ungkapkan pada Bayu, yang juga disepakati oleh dia.

    Gue sadar bahwa melakukan kesalahan sebenarnya adalah proses belajar. 

    Sumber

    Misalnya aja, dari pengamatan gue ketika manggung, gue paling banyak melakukan kesalahan di antara anggota band yang lain. Kadang fals, kadang suara gak keluar. Ada ajalah masalah daku di panggung. 

    Tapi, kabar baiknya untuk diri gue adalah akhir-akhir ini gue menerima kesalahan-kesalahan tersebut dengan ketenangan dan kesadaran penuh. Gue tidak lagi merasa malu atau menyalahkan diri sendiri hingga sebegitunya.

    Sebaliknya, gue pelajari kesalahan-kesalahan tersebut agar nantinya gue bisa meminimalisirnya.

    Menuliskan pemikiran biar gak takut salah di blog pun menjadi cara gue untuk menanamkan pemikiran ini lebih dalam di dalam diri gue. Biar gue tidak lagi menjadi pribadi yang takut salah (juga takut dicibir karena melakukan kesalahan), karena lagi-lagi ... gue manusia. 

    Dan sungguh manusiawi melakukan kesalahan.



    Continue Reading

    Ketika gue memberi tahu beberapa teman dekat gue mengenai rencana pernikahan gue tahun ini, reaksi yang gue dapat terbagi dua. Pertama, tentu aja senang. Kedua, heran.

    Salah seorang teman gue secara blak-blakan menanyakan alasan gue menikah. Padahal, di antara kami berlima, gue terlihat paling enggan berkomitmen. Sudah lama menjomlo pula. Apalagi, sebelumnya setiap kali gue mulai dekat sama cowok, ujung-ujungnya bubar jalan tanpa sempat jadian.

    Di masa awal pendekatan gue dan Bayu pun, teman gue sempat geregetan karena lagi-lagi... gue terlihat enggan. Ketika ditanya bagaimana kelanjutan hubungan gue dengan Bayu, jawaban gue cuma, "Gak tahu, deh!". Jawaban yang menimbulkan asumsi kalau gue dan Bayu gak akan ke mana-mana.

    Balik lagi ke pertanyaan teman gue: Kenapa gue akhirnya memutuskan menikah? Bagaimana awalnya? Kok bisa?

    valineyarangga.blogspot.com


    Kalau ditanya bagaimana awalnya, terus terang gue enggak tahu. Perbincangan tentang pernikahan terjadi begitu saja, saat gue dan Bayu sedang ngobrol santai. 

    Entah obrolan apa yang mengantarkan kami ke topik pernikahan. Yang gue ingat, malam itu tiba-tiba saja gue dan Bayu membicarakan budget pernikahan dan selanjutnya mengalir begitu saja. Tapi bukan berarti gue merencanakan pernikahan tanpa sadar.

    Obrolan dan rencana pernikahan tidak akan mengalir selancar itu jika gue merasa ragu, baik dengan diri gue atau Bayu.

    Kalau dulu gue terlihat enggan berkomitmen, ya mungkin memang karena belum menemukan yang cocok aja. Sebenernya alasannya sesederhana itu. Gue pun tidak ingin terburu-buru punya pasangan atau menikah karena... kenapa harus memburu-burui hal yang ada campur tangan Tuhan di dalamnya?

    Maksud gue, udah jelas kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Sejauh apa pun gue mencari, kalau belum saatnya nemu, ya gak akan nemu.

    Lagi pula, sejak lulus kuliah, tujuan gue berpacaran adalah untuk menikah. Gue merasa hati gue tidak cukup kuat untuk patah hati berkali-kali karena tidak berjodoh dengan seseorang.

    Ditambah lagi, bagi gue konsep pernikahan itu sangat rumit. Memutuskan untuk hidup sampai mati dengan seseorang? Terikat secara agama dan hukum pula. Wow, membayangkannya saja aku merasa overwhelmed. 

    Apalagi jika membicarakan urusan rasa. Gue penuh dengan keraguan. 

    Apa mungkin bisa jatuh cinta dengan orang yang sama puluhan tahun? Apa durasi mencintai bisa sepanjang itu? 

    Gue yang mudah jengkel dengan orang lain meragukan hal itu. Meragukan diri gue lebih tepatnya. Bagaimana jika gue pada akhirnya tidak bisa menerima pasangan gue apa adanya dan menjadi penyebab retaknya rumah tangga gue? Duh, serem.

    Tapi, suatu ketika gue mendengarkan satu konten podcast-nya Shegario dan istrinya, Nucha. Mereka membicarakan bahwa pasangan, suami atau istri, haruslah bisa menjadi teman. Mereka dengan realistis mengungkapkan bahwa seiring waktu, kurva cinta itu akan semakin landai, tidak meletup-letup seperti di awal hubungan.

    Memang, sesekali akan ada saatnya kita kembali berbunga-bunga karena pasangan. Hanya saja, kurvanya tidak akan setinggi di awal hubungan. Makanya, pilihlah pasangan yang bisa menjadi teman. 

    Gue pada akhirnya menemukan konsep pernikahan yang cocok untuk gue.

    Pilihlah pasangan yang bisa menjadi teman. Karena ketika rasa cinta itu melandai, gue punya teman yang bisa diajak ngobrol atau gila-gilaan sampai tua nanti. 

    source

    Di Bayu, gue tidak hanya menemukan material suami yang cocok dengan karakter gue, tetapi juga partner bertukar pikiran dan teman.

    Gue butuh seseorang yang bisa gue ajak berkomunikasi apa saja, tanpa takut dan khawatir dihakimi. Bagi gue, komunikasi adalah salah satu pilar utama rumah tangga, setidaknya itulah yang gue petik dari beberapa permasalahan rumah tangga di sekitar gue.

    Senangnya, gue bisa dengan nyaman bicara dan berdiskusi apa saja dengan Bayu. Bahkan, sejak pacaran kami sudah terbuka masalah finansial. Kami saling bercerita cara kami mengelola keuangan, tantangan finanasial kami, dan ekspektasi kami terhadap pasangan terkait finansial.

    Gue juga bisa bertanya apa pun sama Bayu, dari hal yang serius hingga paling konyol dan paling bodoh sekali pun. Gue bisa sesekali memaki. Semua akan didengarkan tanpa tatapan "kok lo gitu sih?". 

    Bonusnya, Bayu bisa menjadi air untuk gue yang sering meletup-letup seperti api, alias emosian mulu.

    Itu sebabnya, setelah mencoba saling mengenal sekian ratus hari dengan penuh kedamaian, akhirnya gue tanpa keraguan, tanpa paksaan, juga tanpa tekanan memutuskan menjadi teman seumur hidup Bayu.

    Ternyata, begitu bertemu dengan orang yang tepat, alias jodohnya, jalannya akan semulus dan selapang itu. Segala keruwetan di otak gue tentang jodoh, suami, dan kehidupan rumah tangga, tau-tau terurai tanpa gue sadar.

    Tiba-tiba aja gue tidak takut menjalani kehidupan sebagai seorang istri, juga seorang teman. :)



    Continue Reading

    Pagi ini, gue dibangunkan oleh suara pintu kamar yang dibuka nyokap. "Jadi, gak?" tanya nyokap yang gue jawab dengan anggukan kecil. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, gue meraba-raba lantai di sekitar tempat tidur gue, mencari handphone yang memang selalu gue letakkan di sekitar sana.

    Jam di hp menunjukkan pukul 06:27 pagi. Gue melihat ada notifikasi WhatsApp dan membukanya. Ternyata dari Bayu. Isinya kira-kira begini, "Jangan kelewat sesi jalan-jalan di taman ya. Kalau sekarang udah bangun sih subuhan dulu."

    Semalam gue memang sudah janjian dengan nyokap untuk jalan-jalan pagi di sekitar rumah. Sudah sekitar empat bulan gue melewatkan rutinitas olahraga. Badan pun rasanya kurang begitu segar. Jadi, gue putuskan untuk mulai berolahraga kembali. Semoga, sih, bisa rutin seperti beberapa bulan lalu.

    Jam enam pagi, gue dan nyokap mulai berjalan kaki. Cuaca pagi ini cerah, namun juga sejuk. Rasanya sudah lamaaa sekali nggak merasakan udara sesegar ini. 

    Saat berjalan kaki, gue dan nyokap berbincang kecil. Tentang betapa rendahnya gaji guru di salah satu sekolah di dekat rumah. Tentang kebiasaan tetangga-tetangga gue yang gemar berjalan kaki hingga ke Terminal Jati Jajar di akhir pekan, padahal lokasinya lumayan jauh. Atau tentang sejumlah pohon mangga di sepanjang Perumahan Jati Jajar yang sedang berbuah lebat dan membuat kami seru sendiri saat melihatnya.


    Setelah berjalan sekitar satu jam atau sejauh 3,9 km, kami memutuskan kembali ke rumah. Gue pun mencuci tangan dan mulai membuat sarapan. Pagi ini gue menikmati secangkir teh hitam dengan campuran jahe, jeruk, dan kayu manis yang diberikan Eby, juga chicken sandwich dan dua potong gyoza.

    Satu jam berlalu dan gue memutuskan untuk mandi. Jam masih menunjukkan pukul 09:30 dan gue sudah lama sekali tidak merasa memiliki waktu sebanyak ini. Kepala gue terasa enteng, badan gue terasa segar. Hati gue sedang dalam kondisi terbaiknya pagi ini. Gue selalu percaya, sih, bahwa olahraga itu memang bisa membuat seseorang (atau mungkin gue, lebih tepatnya) melihat hidup lebih positif dan optimis.

    Jadi, di sinilah gue sekarang, kembali menulis di blog karena ada beberapa hal yang ingin gue update dan syukuri.

    ***

    Banyaknya waktu yang gue miliki pagi ini, membuat waktu merenung gue juga menjadi lebih panjang. Hingga tiba-tiba, gue tersadar bahwa:

    Tahun 2020 akan berakhir dalam dua bulan.

    Seriusan, nih, waktu berlalu secepat ini, bahkan di saat kita semua tahu bahwa 2020 bukanlah tahun yang ramah?

    Gue pun memikirkan dan mempertanyakan lagi, apa saja yang terjadi di tahun ini. Apa yang gue lewati dan apa yang gue rasakan. Jawabannya, banyak hal nggak menyenangkan yang gue alami sampai-sampai gue merasa perlu melakukan meditasi. Banyak cara yang gue lakukan demi tetap waras.

    Tapi, pagi ini gue merasa takjub begitu menyadari gue (dan tentunya kamu yang lagi membaca ini) berhasil bertahan hingga sejauh ini. Bagi gue, bertahan adalah sebuah pencapaian besar. Mampu bertahan adalah sesuatu yang layak disyukuri.

    Semua tahu, 2020 adalah tahun yang begitu menguji kesabaran dan kewarasan. Dimulai dari bencana banjir di awal tahun, lalu hadirnya sebuah virus yang nggak hanya mengancam kesehatan, tapi juga mempengaruhi kebebasan dan keuangan banyak orang.

    Buat gue, ujian terbesar tahun ini adalah ketika 'kapal' yang gue tumpangi terkena terjangan ombak bertubi-tubi, lalu terombang ambing di tengah lautan tanpa arah. Beberapa sisi kapal bocor, air mulai memasuki kapal, dan rasanya kapal yang gue tumpangi perlahan tenggelam.

    Awalnya gue melihat harapan. Karena itu, berbagai cara gue dan para penghuni kapal coba lakukan untuk menambal kebocoran. Sejumlah ide pun kami paparkan demi menggerakkan kapal. Nyatanya, harapan yang tadinya terlihat jelas, berubah samar. Gue merasa semangat gue mulai padam, kepala mulai sakit, dan perut mual sejadi-jadinya. Sepertinya gue dan para penghuni kapal terkena mabuk laut. 


    Beruntung, di bulan kelima gue menemukan kapal baru. Rasanya lega sekali. Gue sangat bersyukur karena di saat kapal-kapal lain berusaha mengurangi muatan, justru kapal ini menerima kehadiran gue.

    Gue pun akhirnya berganti kapal, meninggalkan teman-teman yang tetap tinggal di kapal sebelumnya. Tentu saja, gue berharap mereka menemukan kapal baru yang lebih kokoh. Atau, jika mungkin, gue berharap kapal lama yang gue tumpangi bisa menambal kebocoran dan kembali berlayar seperti sedia kala. Jika mungkin.

    Memang track yang ditawarkan 2020 ini benar-benar bikin takjub. Jalannya berliku, penuh dengan tanjakan dan turunan. Gue sempat mengira bahwa tahun ini akan segitu pahitnya. Tapi, ternyata tidak.

    Tahun ini mengingatkan gue bahwa hidup itu seimbang. Kadar pahit dan manisnya dibuat setara. Selain mengalami berbagai hal menyebalkan (yang kadang bikin dispepsia kambuh saking stressnya), gue juga mendapatkan berbagai hal menyenangkan yang harus banget disyukuri.

    Bukan cuma mengenai datangnya kapal baru tepat di saat gue mulai putus asa, tapi juga beberapa hal manis lainnya.

    Misalnya saja, dari rasa bosan karena harus lebih banyak di rumah selama tujuh bulan terakhir ini, akhirnya gue mencoba melakukan sesuatu yang nggak pernah kepikiran sebelumnya, yaitu memasak. Yang lebih mengejutkan, ternyata gue cukup menikmati baking, meski sejauh ini gue baru membuat cookies dan croissant.

    Atau, ketika pandemi menjauhkan gue dari kebiasaan nongkrong bersama teman-teman sepulang kerja, tapi ternyata justru mendekatkan gue dengan seorang Bayu dan segala absurditasnya. Absurd yang menyenangkan tapi. :)


    Tahun 2020 memang tinggal dua bulan lagi. Apakah gue merasa lega? Jujur aja, nggak tahu. Gue memang berharap hari esok berjalan lebih mulus, penuh dengan hal-hal manis seperti yang sedang gue rasakan saat ini.

    Tapi, lagi-lagi, gue harus realistis. Jalan di depan nggak mungkin mulus terus, pasti akan ketemu sejumlah rintangan. Begitu terus, bergantian.

    Jadi, doa gue adalah semoga kita bisa melalui dengan baik apa pun ujian yang diberikan di hari-hari atau tahun-tahun berikutnya. Semoga kita bisa selalu mensyukuri dan menghargai hal-hal manis, meskipun kecil, yang didapat.

    Mengutip kata-kata yang selalu Bayu ucapin saat gue lagi pesimis, "Yuk, bisa, yuk!"





    Continue Reading
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top