Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    "Mas, ada Wi-Fi?"

    Pertanyaan seorang pria membuat gue yang baru beranjak pergi dari kasir menoleh kembali. Sekalian nguping password Wi-Finya jika ada, begitu pikir gue.

    "Nggak ada," jawab Si Barista. "Biar pada ngobrol," lanjutnya kemudian.

    Gue tersenyum geli sambil kembali berjalan menuju meja, serta berusaha menyeimbangkan badan agar segelas Red Velvet Latte hangat yang gue bawa tidak tumpah. 

    Coffee shop dan Wi-Fi saat ini memang sudah semacam panci dan tutupnya, atau kayak kaos kaki kanan dan kaos kaki kiri (sungguh perumpamaan yang sangat elegan, kan? :D). They are made for each other. Hakikat warung kopi modern kini tak lagi sekadar menjadi tempat menikmati kopi, namun juga menjadi tempat nongkrong, tempat ngerjain tugas kampus atau kerjaan freelance, serta tempat numpang download film. Maka itu, kehadiran Wi-Fi di warung kopi adalah suatu keharusan.

    Namun, saat berkunjung ke Filosofi Kopi di Yogya, justru mereka dengan sengaja tidak menyediakan Wi-Fi. Tujuannya? Agar manusia menjadi manusia. Jadi, silakan ngobrol ngalor ngidul dengan teman ngopimu secara langsung. Ngapain ngajak temen ngopi kalau ujung-ujungnya kamu main henpon, kan?

    Sebenarnya di Jakarta pun juga banyak toko kopi yang nggak menyediakan Wi-Fi. Namun yang blak-blakan nyuruh customer-nya ngobrol, gue baru menemukannya di Filosofi Kopi.

    Terus, apalagi yang menarik di Filosofi Kopi Yogya?

    Pertama, lokasinya. Menurut gue yang menginap di daerah Brontokusuman, lokasi Filosofi Kopi agak jauh dan sedikit 'nyempil'. Jadi, lokasinya tidak berada di pinggir jalan raya. Namun, kamu akan diarahkan masuk ke pemukiman, juga melewati beberapa petak sawah, saat menuju tempat ini. Mungkin karena lokasinya dekat dengan sawah, saat siang pun udara di sini tidaklah panas membara.

    Lokasi parkir mobilnya agak horor, ya...


    Yang lebih menarik, Filosofi Kopi juga sepertinya dekat dengan pemakaman. Sewaktu gue dan Daru lagi ngopi, di depan toko kopi ini tiba-tiba ramai dengan iring-iringan penduduk sekitar dan beberapa polisi. Begitu gue perhatikan, ternyata mereka membawa keranda. Anehnya, walaupun dekat dengan pemakaman, ditambah melihat langsung iringan masyarakat yang ingin memakamkan jenazah, suasananya tidak serta merta menjadi spooky. Pengunjung di sekitar gue pun terlihat biasa-biasa saja.

    Kedua, desain interiornya. Setengah bangunan di Filosofi Kopi Yogya masih menggunakan rangka rumah adat Yogya. Sementara, meja dan kursinya terdiri dari berbagai desain. Ada kursi dengan bantalan dari jeans bekas, ada kursi plastik warna-warni, ada juga kursi yang biasa kita jumpai di ruang tunggu terminal yang dialihfungsikan jadi tempat duduk lucu. Saat berkunjung ke sini, kamu akan menangkap kesan tradisional, jadul, tapi juga fun.




    Filosofi Kopi Yogya juga memasang berbagai lukisan bermedia kanvas, lengkap dengan quote menarik. Dan pastinya, nggak ketinggalan poster pemeran film Filosofi Kopi.



    Ketiga, harganya murah. Asli, nggak bohong. Harga di Filosofi Kopi menurut gue termasuk murah, lho. Saat ke sana, gue memesan Red Velvet Latte, French Fries, dan Ice Javanese Tea. Sedangkan Daru memesan Churros dan kopi yang gue lupa namanya haha. Untuk semua pesanan tersebut, kami hanya menghabiskan Rp110.000,- saja. Rasa makanan dan minumannya juga enak, walau tidak bisa dibilang spesial.




    Keempat, suasananya. Filosofi Kopi di sini sangatlah nyaman, menenangkan, dan bikin betah nongkrong lama-lama. Ditambah lagi, tidak ada fasilitas Wi-Fi sehingga ngobrol pun bisa jadi lebih berkualitas. Soalnya kalau nggak ada Wi-Fi jadi sayang kan mau streaming Youtube atau download episode drama Korea terbaru (ketauan deh perhitungannya haha).





    Menurut gue, kalau kamu lagi ke Yogya dan mau ngopi-ngopi cantik, sih, bisa mempertimbangkan untuk ke sini. Apalagi kalau kamu mencari tempat ngopi yang santai dan tenang, tapi juga 'Yogya' sekali. Cus, langsung aja meluncur ke daerah Ngaglik.













    Disclaimer: All photographs on this blog are the property of Valine Yarangga. No parts of the content of this blog may be distributed in public without the prior written permission of the owner.
    Continue Reading
    Depok setahun belakangan ini sangatlah menyenangkan. Kafe dan tempat makan baru banyak bermunculan. Ya, walaupun kemunculan tempat nongkrong baru ini bikin macet di Depok tambah parah. Tapi, setidaknya gue nggak perlu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk makan enak atau ngopi tenang.

    Karena itulah, akhir-akhir ini, saat diajak main ke luar Depok saat weekend, gue sering pikir-pikir dulu sebelum langsung mengiyakan. Depok aja sudah seasik ini, ngapain gue pergi jauh-jauh? Tuh kan, udah aku bilang, aku anaknya suka overly attached gitu. 

    Pada dasarnya gue memang suka banget pergi ke kafe atau coffee shop. Kadang sendiri, kadang bareng temen. Kadang sambil nulis, kadang cuma numpang makan, kadang cuma bengong buat cari inspirasi. Nah, di antara berbagai macam tempat nongkrong asik di Depok, ini dia tempat ngopi atau kafe yang paling gue suka:


    #1 Jacob Koffie Huis

    Kalau nggak salah, sih, Jacob Koffie Huis adalah tempat ngopi terbaru di Depok. Lokasinya ada di Jalan Kemuning, Pancoran Mas dan agak masuk ke dalam gang.

    Toko kopi ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian dalam dengan desain yang didominasi warna netral, dan bagian taman yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk sambil ngopi juga.

    Good morning folks! Our door closed as usual for today. Come again tomorrow! Pict by @poncoiskandar30 👌🏻
    A post shared by Jacob Koffie Huis (@jacob.koffie) on Oct 8, 2017 at 7:26pm PDT


    Hows your monday? 😏 dont worry, we got your back, we'll open at 2pm tomorrow!
    A post shared by Jacob Koffie Huis (@jacob.koffie) on Aug 7, 2017 at 4:48am PDT



    Suasana coffee shop ini nyaman banget! Saking nyamannya, bisa sampai bikin lupa waktu, lho. Mungkin karena interiornya yang bergaya modern minimalist (plus instagenic!) dan suasananya yang cenderung tenang karena nggak terletak di pinggir jalan raya.

    Gue emang suka banget kafe yang tenang. Makanya Jacob Koffie Huis bisa dibilang jadi salah satu coffee shop favorit gue. Percaya deh, toko kopi ini asik banget dijadiin tempat ngobrol santai bareng temen atau untuk mengerjakan tugas kuliah atau kantor. Mau sendiri atau ramai-ramai, tempat ini asik banget buat dijadiin tempat nongkrong. 

    Pilihan minuman yang dijual pun cukup bervariasi dengan harga standar toko kopi. Rasanya? Nggak perlu diragukan. Enak, kok!



    Rate: 9/10


    #2 Kami Ruang & Kafe

    Walaupun letaknya di pinggir jalan, tapi kamu mungkin nggak 'ngeh' dengan keberadaan kafe ini karena ukurannya kecil dan letaknya nyempil. Kalau kamu mau ke sini, patokannya adalah jembatan penyebrangan Margonda Residence arah ke Pasar Minggu.

    Suasana Kami Ruang & Kafe juga tenang dan sangat kondusif untuk mengerjakan tugas kuliah atau tugas kantor. Sama seperti Jacob Koffie Huis, desainnya juga mengusung tema modern minimalist yang didominasi dengan warna-warna netral seperti putih dan cokelat.


    May your deadline be good, and your Friday be great. . Don't forget to join #AkuKamuKami photo #challange so you can be the part of the #exhibition . Let's meet up! #jurnalkami
    A post shared by Kami | ruang & kafe (@kami485) on Apr 28, 2016 at 11:57pm PDT


    Untuk minuman dan makanan, harganya pun standar toko kopi. Rasa minumannya oke, tapi untuk rasa makanannya sepertinya perlu ditingkatkan lagi.

    Rate: 8/10


    #3 Starbucks D-Mall

    D-Mall yang dulunya bernama Depok Mall ini sepertinya lagi rebranding, ya. Setelah sempat ’nggak dilirik’ oleh orang Depok, sekarang mereka mulai membenahi diri. Hasilnya? Mall ini mulai diisi oleh berbagai tenant yang lagi ‘laris’, sebut aja toko roti Tous Le Jours, CGV, sampai Starbucks!

    Gerai Starbucks di sini bisa dibilang lebih pewe dibanding gerai Starbucks lainnya di Depok. Selain lebih luas, bagian outdoor gerai Starbucks di D-Mall juga lebih nyaman dan adem. Ditambah lagi, pengunjung D-Mall tidak terlalu ramai seperti Margo City, sehingga suasana Starbucks di sini cenderung tenang dan menyenangkan.


    Rate: 8/10


    #4 Saturday Coffee

    Sama seperti Kami Ruang & Kafe, letak toko kopi yang satu ini juga nyempil. Tapi, Saturday Coffee mudah ditemukan, kok. Letaknya persis di seberang Lawson samping Universitas Gunadarma, Depok.

    Buat gue, toko kopi dengan interior bergaya rustic industrial (cmiiw) ini lebih asik dikunjungi bareng temen-temen buat ngobrol santai sambil ngopi. Karena tempatnya kecil, jadi letak meja yang satu dengan meja yang lain berdekatan. Buat kamu yang butuh banyak space untuk nulis atau mengerjakan tugas, gue sarankan sih pilih coffee shop lain. Tapi, kalau mau cari tempat ngopi yang suasananya humble dan menyenangkan, ajak deh temen-temen kamu ke sini.

    Midweek hustle would be better with a cup of coffee ☕ . . #saturdaycoffee #coffeshop #manualbrewing #kedaikopi #kedaikopilokal #kedaikopidepok #kopidepok #kopiindonesia #anakkopi #hobikopi #jajanandepok #goodvibes
    A post shared by Saturday Coffee (@saturdaycoffee) on Oct 26, 2017 at 5:15am PDT


    Ini baru selasa di bawa santai aja kawan, yuk ngopi ♨ . . #saturdaycoffee #coffeeshop #manualbrew #kedaikopilokal #kedaikopi #Ngopidepok #kedaikopidepok #ngopi #jajanandepok #corner #anakkopi
    A post shared by Saturday Coffee (@saturdaycoffee) on Sep 12, 2017 at 3:55am PDT


    Bicara tentang menu yang disajikan, mereka menyediakan berbagai macam minuman dengan harga yang bisa dibilang murah. Mungkin karena terletak di dekat kampus, jadi harganya pun menyesuaikan kantong mahasiswa. Ini asumsi sotoy gue aja, sih. Untuk makanan, mereka menyediakan berbagai macam cemilan dan indomie. Namun, variasi makanannya sendiri tidaklah banyak.


    Rate: 7,5/10

    Empat tempat ngopi di atas adalah coffee shop kesukaan gue sejauh ini. Kamu punya rekomendasi tempat ngopi di Depok lainnya, nggak? Share, dong! :D

    Continue Reading
    Jam 4 sampai 5 sore itu adalah jam rawan laper buat pekerja kantoran. Setuju?

    Makanya nggak heran kalau di jam segitu pekerja kantoran disibukkan oleh kegiatan mencari cemilan, entah kabur sebentar ke minimarket terdekat, atau ke babang somay, babang nasi goreng, babang gorengan, dan babang-babang penyelamat hati kelaparan lainnya. Solusi yang paling gampang tentu aja pesen online. Bersyukur deh sekarang apa-apa bisa di-online-in, mulai dari belanja baju, sampai beli makanan.

    Kabur ke tangga darurat buat nyemil pizza. Tangga darurat kantorku kece ya? <3

    Nah, di kantor gue, biasanya ada beberapa makanan yang sering kita pesan online atau beli langsung buat mengganjal perut di jam-jam rawan. Apa aja? Ini dia lima cemilan favorit di kantor versi gue (dan temen-temen satu tim). Tapi fast food nggak akan gue masukin di list ini, ya. Soalnya kalau gue masukin, isinya akan burger McD, bento KFC, Domino Pizza, dan sebagainya. Hahaha...


    #1 Makaroni Ngehe
    Di balik namanya yang nyeleneh, ternyata banyak yang suka sama makaroni ini, lho. Soalnya, makaroni mereka nggak cuma enak, tapi juga murmer! Selain makaroni, mereka juga punya varian lain, yaitu mie, bihun, dan otak-otak. Level kepedesannya juga bisa dipilih dan nama levelnya lucu-lucu. Misalnya, level 2 alias pedes sedikit itu dikasih nama "Dicuekin Pak Zainal", terus level 5 alias pedes banget itu dikasih nama "Pitnah Bu Lilis".

    Kalau gue cuma bisa dicuekin Pak Zainal aja deh, nggak sanggup rasanya kalau harus kena pitnah Bu Lilis.

    #2 French Fries 2000
    Tau snack ini, nggak? Itu, lho, kentang goreng kemasan dari Siantar Top yang dilengkapi saus di dalam kemasannya. Snack ini jadi salah satu cemilan favorit gue di kantor. Uniknya, yang bikin enak cemilan ini sebenernya bukan kentangnya, tapi justru sausnya.

    #3 Ovaltine Macchiato dari KOI
    Ovaltine Macchiato-nya KOI emang bukan makanan, tapi minuman yang mengenyangkan dan menyenangkan (tsaaah...). Makanya minuman ini cocok dijadiin 'cemilan' sore hari.

    Awalnya kenal KOI itu karena direkomendasiin salah seorang temen kantor dan ternyata beneran enak. Sayang aja di Depok belum ada KOI. Kalau ada, mungkin bisa tiap minggu gue apelin.

    #4 Pisang Goreng Madu Bu Nanik
    Buat penyuka pisang, cemilan ini udah pasti jadi favorit gue. Nggak cuma enak, tapi harganya juga murah meriah, bok. Lima ribu aja. Selain pisang goreng madu, gue juga pernah nyobain ubi goreng madunya yang sama enaknya.

    Kalau elo bosen dengan gorengan bermadu (apaan sih, Lin), mereka juga punya beberapa menu lain, salah satunya risoles spaghetti. Gue belum pernah nyobain, sih. Tapi menurut pengakuan temen gue, rasa risoles spaghetti-nya endeussss.

    #5 Kebab Monster
    Nah, ini dia salah satu cemilan yang sering bikin galau. Kenapa? Karena setiap kali diajakin beli kebab ini, hatiku mau sekali tapi perutku tak sanggup menampung porsinya yang besar. Serius, guys. Ukuran Kebab Monster tuh cukup besar buat gue dan temen-temen. Hi, Kebab Monster... kalian nggak mau bikin Kebab Anak Monster yang porsinya lebih sedikit, ya? Huhuhu.

    Kalau kalian penyuka kebab, kayaknya Kebab Monster harus banget dicobain. Pilihan topping-nya banyak, diantaranya crispy chicken, beef, telur, keju, dan makaroni. Terus yang lebih penting... mereka nggak pelit ngasih topping. Mantep, nggak?

    Selain lima cemilan di atas, sebenernya ada beberapa calon makanan/ minuman yang kayaknya akan sering gue & teman-teman kantor pesan, seperti es kopi susu tetangga dari Tuku dan chicken wings dari Wingstop (eh ini termasuk fast food, ya? Haha).

    Kalau kalian sukanya ngemil apa di kantor? Share ke gue dong biar punya alternatif cemilan lain kala bosan melanda. :D
    Continue Reading
    Menurut gue, bagian terenak dari ayam adalah sayap ayam. Nah, bicara tentang sayap ayam, sekarang Wingstop -resto fast food khusus chicken wings asal Amerika- buka cabang di Margo City Depok, lho. Jadi, untuk warga Depok (seperti gue) nggak perlu jauh-jauh ke Kota Kasablanka untuk mencicipi sayap ayam dari Wingstop yang terkenal lezat ini.

    Gerai Wingstop di Margo City

    Wingstop menghadirkan tiga pilihan ayam, yaitu Classic Wings, Boneless Wings, dan Boneless Strip. Pilihan bumbunya pun ada 10 varian, mulai dari Atomic dengan level kepedasan tertinggi, hingga Teriyaki dengan rasa yang manis. Nggak cuma itu, Wingstop juga menyediakan dua jenis Dipping, yaitu Honey Mustard dan Creamy Ranch.

    Untuk urusan harga, Wingstop mematok harga Rp 35.000 untuk lima potong ayam, Rp 66.000 untuk 10 potong ayam, dan Rp 120.000 untuk 18 potong ayam. Selain itu, kita juga bisa menambah dua potong ayam dengan membayar sekitar Rp 11.000. 

    Nggak kenyang kalo cuma makan sayap ayam doang? Tenang. Wingstop juga menghadirkan nasi dan kentang goreng, kok. Bahkan, kita juga bisa memilih paket nasi-minum atau kentang goreng-minum dengan harga sekitar Rp 15.000.

    Karena ini pertama kalinya gue mencoba Wingstop, tentu aja gue bingung dan lebih banyak mikir sewaktu di kasir. Untungnya, pegawai Wing Stop Margo City sangat ramah dan sabar dalam menghadapi pelanggan yang kebanyakan bingungnya kayak gue. Hehehe....

    Akhirnya pilihan gue jatuh kepada 5 potong Atomic Classic Wings, 5 potong Garlic Parmesan Classic Wings, medium French Fries, dan medium Green Tea. Untuk dippingnya sendiri gue (dengan sotoy-nya) memilih Honey Mustard. Total yang gue habiskan untuk makanan tersebut adalah Rp 93.000.

    Yang pertama kali gue cicipi adalah kentang gorengnya (salah fokus emang). Biarpun kata adik gue kentang gorengnya keasinan, tapi gue suka banget sama kentang gorengnya. Gurih banget. Apalagi kalau sudah dicelup ke dipping-nya. Gurih, campur manis. Enak deh. Agak mubazir rasanya ngambil saus sambal karena ternyata nggak kesentuh sama sekali.

    Honey Mustard dan Saus Sambal Yang Terabaikan

    Setelah nyobain kentang goreng gurih-enak-nagih itu, gue pun beralih ke Garlic Parmesan Classic Wings. Lagi-lagi rasa gurih dari Garlic Parmesan Classic Wings ini pas banget dipadukan dengan manisnya Honey Mustard.

    Garlic Parmesan Classic Wings

    Puas dengan rasa gurih dari kentang goreng dan Garlic Parmesan Classic Wings, gue pun akhirnya mencoba 'menu utama': Atomic Classic Wings. Komen gue habis makan Atomic Classic Wings cuma ini: PEDES DAN ASEM BANGET! Gue mencoba mengurangi rasa pedas dan asam dengan nyelupin chicken wing ke Honey Mustard, tapi ternyata nggak ngaruh sama sekali. 

    Gue pun cuma bisa makan satu potong. Begitu pun adik gue yang bahkan cuma makan setengah potong. Sepertinya gue nggak akan pernah lagi membeli Atomic Classic Wings karena rasa asem dan pedesnya yang dahsyat itu. Bahkan, gue yang (ngakunya) suka pedas pun harus bertekuk lutut sama Si Neng Atomic Classic Wings ini.

    The Super Duper Mega Spicy Atomic Classic Wings



    Overall, gue suka sama tekstur chicken wings yang crunchy, kentang goreng yang gurih-enak-nagih, pilihan rasanya yang variatif, dan dipping-nya yang enak. Ditambah lagi, suasana Wingstop di Margo City Depok cenderung sepi dan tenang (mungkin karena jumlah meja yang sedikit). Kalau gue sih pasti balik lagi ke Wingstop. Kalau kamu?

    Continue Reading
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top