Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Ketika gue memberi tahu beberapa teman dekat gue mengenai rencana pernikahan gue tahun ini, reaksi yang gue dapat terbagi dua. Pertama, tentu aja senang. Kedua, heran.

    Salah seorang teman gue secara blak-blakan menanyakan alasan gue menikah. Padahal, di antara kami berlima, gue terlihat paling enggan berkomitmen. Sudah lama menjomlo pula. Apalagi, sebelumnya setiap kali gue mulai dekat sama cowok, ujung-ujungnya bubar jalan tanpa sempat jadian.

    Di masa awal pendekatan gue dan Bayu pun, teman gue sempat geregetan karena lagi-lagi... gue terlihat enggan. Ketika ditanya bagaimana kelanjutan hubungan gue dengan Bayu, jawaban gue cuma, "Gak tahu, deh!". Jawaban yang menimbulkan asumsi kalau gue dan Bayu gak akan ke mana-mana.

    Balik lagi ke pertanyaan teman gue: Kenapa gue akhirnya memutuskan menikah? Bagaimana awalnya? Kok bisa?

    valineyarangga.blogspot.com


    Kalau ditanya bagaimana awalnya, terus terang gue enggak tahu. Perbincangan tentang pernikahan terjadi begitu saja, saat gue dan Bayu sedang ngobrol santai. 

    Entah obrolan apa yang mengantarkan kami ke topik pernikahan. Yang gue ingat, malam itu tiba-tiba saja gue dan Bayu membicarakan budget pernikahan dan selanjutnya mengalir begitu saja. Tapi bukan berarti gue merencanakan pernikahan tanpa sadar.

    Obrolan dan rencana pernikahan tidak akan mengalir selancar itu jika gue merasa ragu, baik dengan diri gue atau Bayu.

    Kalau dulu gue terlihat enggan berkomitmen, ya mungkin memang karena belum menemukan yang cocok aja. Sebenernya alasannya sesederhana itu. Gue pun tidak ingin terburu-buru punya pasangan atau menikah karena... kenapa harus memburu-burui hal yang ada campur tangan Tuhan di dalamnya?

    Maksud gue, udah jelas kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Sejauh apa pun gue mencari, kalau belum saatnya nemu, ya gak akan nemu.

    Lagi pula, sejak lulus kuliah, tujuan gue berpacaran adalah untuk menikah. Gue merasa hati gue tidak cukup kuat untuk patah hati berkali-kali karena tidak berjodoh dengan seseorang.

    Ditambah lagi, bagi gue konsep pernikahan itu sangat rumit. Memutuskan untuk hidup sampai mati dengan seseorang? Terikat secara agama dan hukum pula. Wow, membayangkannya saja aku merasa overwhelmed. 

    Apalagi jika membicarakan urusan rasa. Gue penuh dengan keraguan. 

    Apa mungkin bisa jatuh cinta dengan orang yang sama puluhan tahun? Apa durasi mencintai bisa sepanjang itu? 

    Gue yang mudah jengkel dengan orang lain meragukan hal itu. Meragukan diri gue lebih tepatnya. Bagaimana jika gue pada akhirnya tidak bisa menerima pasangan gue apa adanya dan menjadi penyebab retaknya rumah tangga gue? Duh, serem.

    Tapi, suatu ketika gue mendengarkan satu konten podcast-nya Shegario dan istrinya, Nucha. Mereka membicarakan bahwa pasangan, suami atau istri, haruslah bisa menjadi teman. Mereka dengan realistis mengungkapkan bahwa seiring waktu, kurva cinta itu akan semakin landai, tidak meletup-letup seperti di awal hubungan.

    Memang, sesekali akan ada saatnya kita kembali berbunga-bunga karena pasangan. Hanya saja, kurvanya tidak akan setinggi di awal hubungan. Makanya, pilihlah pasangan yang bisa menjadi teman. 

    Gue pada akhirnya menemukan konsep pernikahan yang cocok untuk gue.

    Pilihlah pasangan yang bisa menjadi teman. Karena ketika rasa cinta itu melandai, gue punya teman yang bisa diajak ngobrol atau gila-gilaan sampai tua nanti. 

    source

    Di Bayu, gue tidak hanya menemukan material suami yang cocok dengan karakter gue, tetapi juga partner bertukar pikiran dan teman.

    Gue butuh seseorang yang bisa gue ajak berkomunikasi apa saja, tanpa takut dan khawatir dihakimi. Bagi gue, komunikasi adalah salah satu pilar utama rumah tangga, setidaknya itulah yang gue petik dari beberapa permasalahan rumah tangga di sekitar gue.

    Senangnya, gue bisa dengan nyaman bicara dan berdiskusi apa saja dengan Bayu. Bahkan, sejak pacaran kami sudah terbuka masalah finansial. Kami saling bercerita cara kami mengelola keuangan, tantangan finanasial kami, dan ekspektasi kami terhadap pasangan terkait finansial.

    Gue juga bisa bertanya apa pun sama Bayu, dari hal yang serius hingga paling konyol dan paling bodoh sekali pun. Gue bisa sesekali memaki. Semua akan didengarkan tanpa tatapan "kok lo gitu sih?". 

    Bonusnya, Bayu bisa menjadi air untuk gue yang sering meletup-letup seperti api, alias emosian mulu.

    Itu sebabnya, setelah mencoba saling mengenal sekian ratus hari dengan penuh kedamaian, akhirnya gue tanpa keraguan, tanpa paksaan, juga tanpa tekanan memutuskan menjadi teman seumur hidup Bayu.

    Ternyata, begitu bertemu dengan orang yang tepat, alias jodohnya, jalannya akan semulus dan selapang itu. Segala keruwetan di otak gue tentang jodoh, suami, dan kehidupan rumah tangga, tau-tau terurai tanpa gue sadar.

    Tiba-tiba aja gue tidak takut menjalani kehidupan sebagai seorang istri, juga seorang teman. :)



    Continue Reading

    Pagi ini, gue dibangunkan oleh suara pintu kamar yang dibuka nyokap. "Jadi, gak?" tanya nyokap yang gue jawab dengan anggukan kecil. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, gue meraba-raba lantai di sekitar tempat tidur gue, mencari handphone yang memang selalu gue letakkan di sekitar sana.

    Jam di hp menunjukkan pukul 06:27 pagi. Gue melihat ada notifikasi WhatsApp dan membukanya. Ternyata dari Bayu. Isinya kira-kira begini, "Jangan kelewat sesi jalan-jalan di taman ya. Kalau sekarang udah bangun sih subuhan dulu."

    Semalam gue memang sudah janjian dengan nyokap untuk jalan-jalan pagi di sekitar rumah. Sudah sekitar empat bulan gue melewatkan rutinitas olahraga. Badan pun rasanya kurang begitu segar. Jadi, gue putuskan untuk mulai berolahraga kembali. Semoga, sih, bisa rutin seperti beberapa bulan lalu.

    Jam enam pagi, gue dan nyokap mulai berjalan kaki. Cuaca pagi ini cerah, namun juga sejuk. Rasanya sudah lamaaa sekali nggak merasakan udara sesegar ini. 

    Saat berjalan kaki, gue dan nyokap berbincang kecil. Tentang betapa rendahnya gaji guru di salah satu sekolah di dekat rumah. Tentang kebiasaan tetangga-tetangga gue yang gemar berjalan kaki hingga ke Terminal Jati Jajar di akhir pekan, padahal lokasinya lumayan jauh. Atau tentang sejumlah pohon mangga di sepanjang Perumahan Jati Jajar yang sedang berbuah lebat dan membuat kami seru sendiri saat melihatnya.


    Setelah berjalan sekitar satu jam atau sejauh 3,9 km, kami memutuskan kembali ke rumah. Gue pun mencuci tangan dan mulai membuat sarapan. Pagi ini gue menikmati secangkir teh hitam dengan campuran jahe, jeruk, dan kayu manis yang diberikan Eby, juga chicken sandwich dan dua potong gyoza.

    Satu jam berlalu dan gue memutuskan untuk mandi. Jam masih menunjukkan pukul 09:30 dan gue sudah lama sekali tidak merasa memiliki waktu sebanyak ini. Kepala gue terasa enteng, badan gue terasa segar. Hati gue sedang dalam kondisi terbaiknya pagi ini. Gue selalu percaya, sih, bahwa olahraga itu memang bisa membuat seseorang (atau mungkin gue, lebih tepatnya) melihat hidup lebih positif dan optimis.

    Jadi, di sinilah gue sekarang, kembali menulis di blog karena ada beberapa hal yang ingin gue update dan syukuri.

    ***

    Banyaknya waktu yang gue miliki pagi ini, membuat waktu merenung gue juga menjadi lebih panjang. Hingga tiba-tiba, gue tersadar bahwa:

    Tahun 2020 akan berakhir dalam dua bulan.

    Seriusan, nih, waktu berlalu secepat ini, bahkan di saat kita semua tahu bahwa 2020 bukanlah tahun yang ramah?

    Gue pun memikirkan dan mempertanyakan lagi, apa saja yang terjadi di tahun ini. Apa yang gue lewati dan apa yang gue rasakan. Jawabannya, banyak hal nggak menyenangkan yang gue alami sampai-sampai gue merasa perlu melakukan meditasi. Banyak cara yang gue lakukan demi tetap waras.

    Tapi, pagi ini gue merasa takjub begitu menyadari gue (dan tentunya kamu yang lagi membaca ini) berhasil bertahan hingga sejauh ini. Bagi gue, bertahan adalah sebuah pencapaian besar. Mampu bertahan adalah sesuatu yang layak disyukuri.

    Semua tahu, 2020 adalah tahun yang begitu menguji kesabaran dan kewarasan. Dimulai dari bencana banjir di awal tahun, lalu hadirnya sebuah virus yang nggak hanya mengancam kesehatan, tapi juga mempengaruhi kebebasan dan keuangan banyak orang.

    Buat gue, ujian terbesar tahun ini adalah ketika 'kapal' yang gue tumpangi terkena terjangan ombak bertubi-tubi, lalu terombang ambing di tengah lautan tanpa arah. Beberapa sisi kapal bocor, air mulai memasuki kapal, dan rasanya kapal yang gue tumpangi perlahan tenggelam.

    Awalnya gue melihat harapan. Karena itu, berbagai cara gue dan para penghuni kapal coba lakukan untuk menambal kebocoran. Sejumlah ide pun kami paparkan demi menggerakkan kapal. Nyatanya, harapan yang tadinya terlihat jelas, berubah samar. Gue merasa semangat gue mulai padam, kepala mulai sakit, dan perut mual sejadi-jadinya. Sepertinya gue dan para penghuni kapal terkena mabuk laut. 


    Beruntung, di bulan kelima gue menemukan kapal baru. Rasanya lega sekali. Gue sangat bersyukur karena di saat kapal-kapal lain berusaha mengurangi muatan, justru kapal ini menerima kehadiran gue.

    Gue pun akhirnya berganti kapal, meninggalkan teman-teman yang tetap tinggal di kapal sebelumnya. Tentu saja, gue berharap mereka menemukan kapal baru yang lebih kokoh. Atau, jika mungkin, gue berharap kapal lama yang gue tumpangi bisa menambal kebocoran dan kembali berlayar seperti sedia kala. Jika mungkin.

    Memang track yang ditawarkan 2020 ini benar-benar bikin takjub. Jalannya berliku, penuh dengan tanjakan dan turunan. Gue sempat mengira bahwa tahun ini akan segitu pahitnya. Tapi, ternyata tidak.

    Tahun ini mengingatkan gue bahwa hidup itu seimbang. Kadar pahit dan manisnya dibuat setara. Selain mengalami berbagai hal menyebalkan (yang kadang bikin dispepsia kambuh saking stressnya), gue juga mendapatkan berbagai hal menyenangkan yang harus banget disyukuri.

    Bukan cuma mengenai datangnya kapal baru tepat di saat gue mulai putus asa, tapi juga beberapa hal manis lainnya.

    Misalnya saja, dari rasa bosan karena harus lebih banyak di rumah selama tujuh bulan terakhir ini, akhirnya gue mencoba melakukan sesuatu yang nggak pernah kepikiran sebelumnya, yaitu memasak. Yang lebih mengejutkan, ternyata gue cukup menikmati baking, meski sejauh ini gue baru membuat cookies dan croissant.

    Atau, ketika pandemi menjauhkan gue dari kebiasaan nongkrong bersama teman-teman sepulang kerja, tapi ternyata justru mendekatkan gue dengan seorang Bayu dan segala absurditasnya. Absurd yang menyenangkan tapi. :)


    Tahun 2020 memang tinggal dua bulan lagi. Apakah gue merasa lega? Jujur aja, nggak tahu. Gue memang berharap hari esok berjalan lebih mulus, penuh dengan hal-hal manis seperti yang sedang gue rasakan saat ini.

    Tapi, lagi-lagi, gue harus realistis. Jalan di depan nggak mungkin mulus terus, pasti akan ketemu sejumlah rintangan. Begitu terus, bergantian.

    Jadi, doa gue adalah semoga kita bisa melalui dengan baik apa pun ujian yang diberikan di hari-hari atau tahun-tahun berikutnya. Semoga kita bisa selalu mensyukuri dan menghargai hal-hal manis, meskipun kecil, yang didapat.

    Mengutip kata-kata yang selalu Bayu ucapin saat gue lagi pesimis, "Yuk, bisa, yuk!"





    Continue Reading
    Beberapa waktu lalu, gue nonton film dokumenter berjudul "Minimalism: A Documentary About the Important Things" yang direkomendasikan teman kuliah gue, Zelda. Dari judulnya, pasti kita sudah bisa menebak apa yang dibahas dalam film ini. 

    Iya, betul. Tentang hidup minimalis, alias hanya memiliki sedikit barang yang benar-benar kita butuhkan.

    Ngomongin konsep minimalis, sebenarnya gue sudah lama tertarik untuk mengaplikasikannya ke dalam hidup gue. Hanya saja, prosesnya ternyata enggak semudah itu. Apalagi untuk jiwa-jiwa yang masih banyak mau dan kadang iri melihat rumput tetangga yang kelihatannya lebih hijau, kayak gue.

    Selain itu, dulu gue memiliki kecenderungan hoarding, atau menimbun barang-barang yang sebenarnya belum tentu masih terpakai. Kecenderungan ini juga dimiliki oleh orang tua gue. Jadi, mungkin memang kebiasaan ini menular dan menurun ke gue.

    Bahkan, hingga sekitar empat tahun lalu, gue masih memiliki tumpukan soal ujian dari zaman SMP hingga kuliah, berlembar-lembar kertas file bergambar lucu hasil tukeran dengan teman semasa SD, juga buku-buku pelajaran dari SD hingga kuliah. Semuanya gue letakkan di atas lemari pakaian di kamar gue.

    Buat apa gue mengumpulkan barang-barang tersebut? Buat nostalgia aja.

    Dulu, gue menciptakan semacam keterikatan dengan barang-barang yang gue miliki. Bagi gue, setiap barang menyimpan cerita. Itu sebabnya gue mengumpulkan semua barang yang memiliki jejak masa lalu gue. Sayangnya, meski barang yang gue miliki terus bertambah, ukuran kamar gue ya segitu-gitu aja, begitu pun ukuran lemari pakaian dan rak di kamar gue.

    Source

    Perlahan, kamar gue terasa penuh. Ditambah lagi, sejak bekerja, waktu gue buat merapikan kamar semakin sedikit. Saat akhir pekan, gue lebih memilih untuk me time dibanding membersihkan tumpukan jejak masa lalu di atas lemari pakaian. Alhasil, debu menumpuk dan alergi gue pun sering kambuh. Kamar gue tidak lagi menjadi tempat beristirahat yang nyaman.

    Dari situlah, gue memutuskan untuk membuang barang-barang di kamar gue. Apakah gue langsung membuang semuanya? Enggak. Proses melepaskan tidak semudah itu, Sayang.

    Di awal proses decluttering, sekitar empat tahun lalu, gue hanya menyumbangkan kertas ujian zaman SMP hingga SMA ke tukang sayur dekat rumah dan buku-buku pelajaran SD hingga SMA ke tukang loak. Dari situ, kamar gue perlahan mulai terasa sedikit lebih lapang. Setidaknya, tumpukan file plastik di atas lemari mulai berkurang.

    Apakah prosesnya berhenti di situ? Tentu tidak. Proses decluttering memang sempat berjalan lambat sekali. Tetapi, sejak sedikit membaca mengenai konsep minimalisme dan mengenal Marie Kondo dua tahun lalu, gue jadi rutin melakukan decluttering. Mengutip kata-kata Marie Kondo, I only keep things that spark joy.

    Gue akhirnya menyumbangkan sisa kertas ujian dan buku kuliah. Sekarang, bagian atas lemari pakaian gue tidak ada lagi tumpukan file plastik, yang ada hanyalah matras yoga.

    Setelah selesai melepaskan tumpukan soal ujian dan buku pelajaran, gue beralih ke lemari pakaian. Setelah gue amati, ternyata ada banyak sekali baju yang sudah lama tidak terpakai dan tidak ingin gue pakai lagi. Kenyataannya, semakin bertambah usia, gue lebih mementingkan kenyamanan, sehingga baju yang gue pakai ya itu lagi, itu lagi.

    Akhirnya, gue mengosongkan hampir setengah isi lemari dan menyumbangkan baju yang masih bagus dan layak pakai. Kegiatan decluttering isi lemari ini rutin gue lakukan setiap tiga atau empat bulan, terutama jika ingin membeli baju baru. Prinsipnya, kalau ada baju yang masuk, maka harus ada baju yang keluar.

    Proses decluttering ini sebenarnya secara enggak langsung juga meningkatkan kualitas hidup gue. Bisa dibilang, tingkat impulsivitas gue saat belanja menurun cukup jauh sejak mencoba hidup lebih minimalis. Tiap ingin membeli barang, pasti gue berpikir berulang kali. Mau ditaruh di mana barangnya? Atau, apakah gue memang benar-benar butuh dengan barang tersebut? 

    Makanya, sekarang proses belanja gue bisa membutuhkan waktu berhari-hari karena kebanyakan mikir. Gue bisa berpikir lima hari lamanya hanya untuk membeli lipstik. Enggak usah dibayangkan berapa waktu yang gue habiskan untuk berpikir saat ingin membeli barang yang lebih mahal. Meski begitu, gue tetap impulsif saat membeli jajanan, hehehe. Jadi, ya, mungkin itu jadi pekerjaan rumah gue selanjutnya.

    Intinya, proses decluttering ini beneran mengubah hidup gue ke arah yang lebih baik. Memulainya memang sangat sulit karena lagi-lagi... proses melepaskan tidaklah mudah. Apalagi melepaskan sesuatu yang telah lo berikan "nilai" di dalamnya. Tapi, begitu mencoba pertama kali, proses selanjutnya akan jauh lebih mudah.

    Gue pun tidak akan berhenti di sini, sih. Menurut gue hidup minimalis mampu mengurangi stress dalam hidup gue. Jadi, pelan-pelan gue akan mencoba menerapkan konsep ini lebih jauh lagi, sembari mengeliminasi apa yang terasa berlebihan di hidup gue.

    Gimana dengan kalian? Tertarik mencoba gaya hidup minimalis juga?


    Ciao!



    Continue Reading
    Permisi~ Assalamualaikum! *nongol dari balik pintu*

    Sudah lama banget nggak ngunjungin blog ini, ya. Rasanya hidup ada yang kurang, tapi lagi-lagi gue cuma bisa kasih alasan klasik atas menghilangnya gue selama ini: sibuk sama kerjaan.

    Kerjaan apa? Nulis. Gue pastikan gue enggak akan jauh-jauh dari kerjaan ini seumur hidup gue. :)



    Iya, secinta itu gue sama menulis. Sampai-sampai, gue enggak tahu mau ngapain kalau enggak menulis. Bahkan, meski gue juga suka musik, gue tidak pernah berpikir untuk menjadikan hobi yang satu itu sebagai sumber penghasilan utama.

    Gue tidak bisa terlalu lama berada di bawah spotlight. Mental gue pun tidak cukup tangguh untuk berlama-lama berinteraksi dengan banyak orang. Mungkin, inilah bukti karakter introver gue yang entah kenapa diragukan beberapa orang akhir-akhir ini. Haha.

    Jadi, gue akan selalu kembali menulis. Meski kalau lagi mentok alias terserang writer's block, gue sering mempertanyakan kenapa gue menekuni bidang ini. But again, I love writing. Secinta itu.

    Nah, saat lagi nulis, bagi gue penting banget buat membangun mood. Gue harus merasa rileks dan nyaman, sehingga isi kepala bisa tercurahkan dengan maksimal. Selama ini, cara gue membangun mood adalah dengan mendengarkan musik. Makanya, kalau kelupaan bawa headset ke kantor, bisa dipastikan gue tidak akan terlalu lancar menulis di hari tersebut.

    Meski ujung-ujungnya target tulisan gue tercapai, namun gue biasanya tidak bisa menghasilkan tulisan yang memuaskan (setidaknya menurut gue). Terlebih, saat elo lepas headset di kantor, itu berarti elo mengirim kode ke orang-orang bahwa elo bebas diajak ngobrol.

    Enggak pakai headset = panggil saja aku kapan pun kamu mau meski aku terlihat sedang sibuk.

    Intinya, bawa headset ke kantor itu wajib hukumnya.

    Nah, balik lagi. Di tahun 2017, gue buat playlist di Spotify yang berisi kumpulan lagu asik versi gue buat nemenin nulis. Sejak pertama kali dibuat, gue jarang sekali memperbarui list lagu di playlist tersebut. Kayaknya gue hanya menambahkan kurang dari lima lagu ke dalam playlist tersebut.

    Jadi, bisa dibilang, selama tiga tahun terakhir, gue hampir mendengarkan lagu yang itu-itu aja saat menulis.

    Di dalam playlist yang selalu gue putar berulang kali saat menulis tersebut, ada lima lagu favorit gue yang dibawakan oleh musisi lokal. Mau tau, gak? Nih, gue share. Siapa tahu kita satu frekuensi, kan?

    Soon Finland by Heidi (The Girl with The Hair)

    Sejujurnya, gue lupa dari mana gue tau lagu ini. Yang jelas, pertama kali gue mendengarkan lagu ini, gue langsung suka.

    Mungkin karena melodi lagunya enak. Bisa juga karena suara penyanyinya bagus. Bisa juga karena liriknya begitu sederhana, namun manis sekali. Atau, karena gue ingin sekali mencoba tinggal di Finlandia. Bukan dalam waktu lama, setidaknya gue hidup selama enam bulan di sana. Bantu aminin dong? :D


    Memulai Kembali by Monita Tahalea

    Suaranya Monita Tahalea tuh adem banget! Setuju? Itulah kenapa, lagu-lagu dia selalu cocok menjadi teman menulis. Lagunya enggak berisik dan bikin tenang.

    Salah satu lagu Monita Tahalea yang jadi favorit gue adalah Memulai Kembali. Bahkan, di Spotify 2019 Wrapped, Memulai Kembali jadi lagu yang paling sering gue putar, lho. Menurut gue, lagu ini bukan cuma musiknya aja yang menenangkan, liriknya juga cantik.


    Forget Jakarta by Adhitia Sofyan

    Kalau elo coba dengerin dari lagu pertama yang gue berikan, pasti sadar deh tipikal lagu favorit gue buat nemenin nulis itu yang akustikan. Termasuk lagu Forget Jakarta dari Adhitia Sofyan ini, nih. Enggak musiknya, enggak liriknya, enggak suara masnya... semua bikin tenang.

    Sebenarnya, lagu ini enggak cuma gue dengarkan saat menulis aja, tapi juga saat di dalam kereta. Apalagi saat naik kereta pagi yang super penuh dan habis ketemu mbak-mbak galak, rasanya ingin langsung nyanyi, "I forget Jakarta. Leaving all the lunacy behind."





    I Love You but I'm Letting Go by Pamungkas

    Masih inget kan kalau gue cuma menambahkan kurang dari lima lagu di playlist gue? Nah, lagu Pamungkas ini salah satunya. Sama kayak lagunya Heidi, gue pun langsung suka saat pertama kali ngedengerin lagu ini.

    Ambyar banget, sih, lagu ini. Apalagi kalau didengerin pas lagi enggak ngapa-ngapain. Tiba-tiba gloomy aja gitu suasana hati gue. Apalagi, gue kan anaknya agak kelebihan emosi, ya. Semakin jadi, deh.

    Anehnya, lagu ini juga asik didengerin saat lagi nulis. Saat ngedengerin lagu ini pas lagi nulis, gue enggak merasa ambyar atau sedih, tapi jadi lebih rileks aja. Mungkin karena emang lagunya enak kali, ya. Didengerin pas lagi ngerjain apa pun jadinya tetep enak.


    Fine Today by Ardhito Pramono

    Awalnya, gue tau Ardhito Pramono karena dia kolaborasi sama Mocca. Saat itu, dia dan Mocca membawakan salah satu lagunya yang berjudul The Bitterlove. Begitu gue dengerin, kok enak, ya?

    Nggak lama, film NKCTHI keluar. Walau gue enggak terlalu suka sama filmnya, tapi salah satu soundtracknya yang berjudul Fine Today ternyata nyangkut di telinga gue. Begitu gue cari tahu, ternyata yang nyanyi Ardhito. Sejak itu, resmilah sudah lagu ini jadi teman nulis gue.

    Eh, enggak cuma The Bitterlove dan Fine Today, lagu-lagu Ardhito yang lain juga asik-asik banget. Kemarin, gue akhirnya menyempatkan diri buat melihat video klip lagu-lagunya Ardhito. Sebagian besar dikemas sederhana, tapi jadi menarik karena Ardhito jago berekspresi alias akting. Dasar Kale!




    ***

    Itu dia lima lagu favorit gue buat nemenin nulis. Kenapa gue enggak masukin Mocca padahal gue segitu sukanya sama mereka? Sederhana aja. Kalau dengerin musik mereka gue langsung ikutan nyanyi saking menikmatinya. Ujung-ujungnya enggak jadi nulis. Haha.

    Punya rekomendasi lagu yang asik buat nemenin nulis? Gue happy banget kalau kalian mau share di kolom komentar. :D


    Continue Reading
    Dulu, setiap kali mendengar kata toxic, gue langsung inget sama lagunya Britney Spears. Iya, yang di video klipnya dia jadi pramugari itu, lho. Sekarang, setiap kali gue mendengar kata ini, otak gue secara otomatis langsung bertanya-tanya, "Ada apa lagi ini?".

    Beberapa tahun terakhir ini, kata toxic memang sedang naik daun. Istilah ini populer banget dipake di mana-mana, dilabeli dengan mudahnya ke siapa saja. Banyak banget tuh postingan di socmed yang isinya ciri-ciri orang toxic, mulai dari mereka yang 'palsu', pesimis, hingga manipulator. 

    Postingan macam gini kemudian berujung pada pembenaran semacam, "Ih, bener. Dia tuh tipe toxic people yang ini banget". Ngejudge orang lain 'beracun' pun menjadi hal yang umum sekali dilakukan akhir-akhir ini.

    Semakin hari, gue merasa semakin risih dan lelah kalau mendengar kata "toxic". Menurut gue, penggunaannya sudah overused. Sudah terlalu berlebihan dipakai buat melabeli orang lain. Salah sedikit, dicap toxic. Nggak sejalan sedikit, dianggap toxic. Beda cara bergaul, dibilang toxic.

    Di dalam dunia psikologi sendiri, setahu gue istilah toxic people ini tidak pernah ada (cmiiw). Artinya, belum ada indikator valid yang bisa digunakan untuk mengukur dan menentukan apakah seseorang layak dilabeli toxic atau tidak.

    Jadi, bagaimana cara kita semua menentukan ke-toxic-an orang lain selama ini? Ya, atas dasar subjektifitas, alias suka-suka kita semua aja. Sama kayak kita ngelabelin orang nyebelin. Kita mencap seperti itu berdasarkan perasaan sendiri. Bedanya, label toxic itu dampaknya lebih besar.


    Tahu, kan, kalau toxic itu artinya racun? Di otak kita, racun itu sudah dikenali sebagai sesuatu yang sangat berbahaya dan perlu kita hindari. Itu sebabnya, orang yang dilabeli toxic itu seolah nggak ada bagus-bagusnya. Seolah semua yang ada pada diri dia segitu jeleknya. Gak usah ditemenin, gak usah dideketin... dia itu toxic!

    Dijauhi itu adalah efek pemberian label toxic yang segitu berbahaya dan menyedihkan, sih.

    Ya memang, memilih teman adalah hak kita semua. Kita tidak bisa cocok dengan semua orang dan kita berhak merasa bahagia dengan dekat bersama orang-orang yang membuat kita nyaman. Kita tidak perlu berteman dengan semua orang. Tapi, memberikan label toxic ke orang lain buat gue kini terasa berlebihan.

    Gue inget banget waktu itu pernah bertanya ke Kak Echa, kenapa dia masih mau sesekali main bareng temennya yang super pelit dan susah diajak patungan padahal lagi makan tengah. Jawaban Kak Echa sesederhana, "Ya, biar gitu-gitu, kan dia ada sisi baik yang gue suka juga."

    Klise? Iya. Tapi bener. Bener banget.

    Ibarat air dan api, yin dan yang, juga putih dan hitam... pada dasarnya kita semua memiliki dua sisi: baik dan buruk. Setiap dari kita punya sisi angelic dan toxic. Lagian, emang kita segitu yakinnya merasa tidak pernah mengeluarkan sisi gelap ini saat berhubungan dengan orang lain?

    Inilah yang membuat gue pada akhirnya pelan-pelan mulai mengubah kebiasaan men-judge dan memberikan label beracun ke orang lain. Rasanya terlalu arogan dan sok paling benar kalau asal tunjuk, asal menghakimi, asal memberikan label ini ke orang lain. 

    Bukan berarti semua yang tidak terasa klik buat kita itu toxic, kan? Ada banyak faktor yang menentukan perilaku seseorang, latar belakang keluarga salah satunya. Sepertinya kita harus belajar melihat lebih luas, dari sisi yang berbeda. Belajar memaklumi dan berkompromi untuk beberapa hal. 

    Mengingat manusia nggak ada yang sempurna, rasanya akan lebih damai kalau kita tidak saling menghakimi, tunjuk menunjuk, atau saling ngatain toxic.

    Ada kalanya hubungan kita dengan orang lain tidak berjalan baik, dan begitulah hidup. 

    Gue jadi ingat salah satu dialog di film NKCTHI yang kira-kira begini bunyinya: "Kebahagiaan kamu itu bukan tanggung jawab aku."

    Dengan kata lain, bukan tanggung jawab orang lain untuk membuat kita senang. Kita nggak bisa mengharapkan orang lain buat terus menerus menjaga perasaan kita. Sama kayak kita, mereka juga punya hati yang mesti dijaga. Tapi ini bukanlah pembenaran untuk menyakiti hati orang demi kebahagiaan sendiri, ya. 

    Kadang orang berbuat jahat, tapi nggak serta merta kamu menyebut mereka penjahat, kan? Begitu juga dengan pemberian label toxic. 

    Lagi-lagi, toxic is such a harsh word. Dampaknya juga cukup berat. Semoga ke depannya kita nggak segitu mudahnya melabeli orang lain dengan kata toxic ini. Semoga selanjutnya kita bisa memilih untuk memaafkan dan tidak saling melempar racun. 

    Continue Reading
    Perjalanan ini dimulai tahun sebelumnya, ketika kereta yang saya naiki berhenti di satu stasiun dan saya memilih turun. Bukan untuk menikmati pemandangan di sekitar stasiun, melainkan untuk berganti kereta.


    Saat itu, saya sadar betul bahwa hidup selalu penuh dengan ketidakpastian. Yang tidak saya ketahui adalah, kereta berikutnya yang saya naiki ternyata membawa saya pada suatu perjalanan yang benar-benar tidak saya duga. Kereta tersebut melaju lambat sekali tanpa ada pemandangan indah yang bisa saya nikmati selama perjalanan.

    Perjalanan saya begitu sunyi dan suram, hingga membuat saya takut karena api semangat di dalam diri saya perlahan padam. 

    Saya ingin berganti kereta. Namun hal tersebut sulit sekali saya lakukan meski saya ingin. Meski saya sudah berdoa sekuat tenaga. Meski hal tersebutlah yang selalu saya rapalkan nyaris setiap saat. Tapi, sejauh mata memandang, tak ada stasiun di mana kereta yang saya naiki bisa berhenti.

    Saya terus menaiki kereta yang sama, kereta yang berjalan pelan sekali, hingga tahun berikutnya. Perlahan... kata menyerah terasa begitu jelas terlihat. Haruskah saya diam saja di sini? Jelas hati saya tidak menginginkannya. Jelas sekali. 

    Hingga akhirnya saya pengap dengan semua senyap yang mengungkung saya di sini. Perlahan saya menyiapkan hati. Saya takut, tapi berada di dalam kereta ini perlahan membuat saya sesak. Akhirnya, saya buka jendela kereta lebar-lebar dan saya melompat ke luar. 

    Tibalah saya di sebuah tempat asing. Sejujurnya, tempat ini pernah saya bayangkan sebelumnya sehingga berada di sini tidaklah terlalu mengagetkan. 

    Seusai melompat, pelan-pelan saya bangkit. Sedikit babak belur, tapi saya tak lagi merasa pengap. Saya memutuskan berkemah di sini sementara waktu. Hanya sementara, pikir saya. Saya akan menikmati berada di sini, hingga saya menemukan jalan menuju stasiun berikutnya.

    Saya pun membangun tenda di tempat itu, kembali menghabiskan waktu dengan menulis. Sesuatu yang saya sukai sejak kecil dulu. Sesekali, saya menyanyikan lagu favorit saya, lagu dengan kata Finlandia di dalamnya, namun ternyata hanya sedikit menyinggung tentang Finlandia. Tapi tetap saja, saya suka. Lalu sesekali, saya menggambar dengan pensil yang selalu saya bawa di dalam tas.

    Untuk sementara waktu, api saya mulai menyala walau kecil. Tidak apa-apa, setidaknya tempat itu tidak segelap kereta sebelumnya. Meski tak seterang yang saya harapkan, namun saya rasa saya bisa bertahan.

    Sembari menghabiskan waktu di tempat itu, saya mencari jalan menuju stasiun. Satu kali, dua kali, tiga kali, berkali-kali... saya gagal menemukannya. Sejauh apa pun saya mencari, saya kembali ke tempat yang sama.

    Terkadang saya melihat secercah harapan. Terlihat seperti peron, namun begitu saya dekati ternyata itu hanyalah gundukan bebatuan. Fatamorgana, mereka bilang.

    Saya berada pada titik di mana saya benar-benar merindukan perjalanan yang membuat dada saya bergemuruh, saking bersemangatnya. Saya merindukan perjalanan yang membuat saya tidak sabar menunggu datangnya pagi. Saya merindukan api yang menyala terang benderang.

    Saya mencari dan terus kembali. Begitu seterusnya. Saya semakin sering mempertanyakan kelayakan diri saya seiring dengan kegagalan yang terus-menerus saya hadapi. Saya semakin ingin menyerah, namun juga tidak rela jika menyerah. Tahukah kamu rasa seperti ini?

    Mungkin memang benar, sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah bisa kamu raih sekencang apa pun kamu berlari ke arahnya, sekuat apa pun kamu berusaha. Memang benar, ada hal-hal yang ditakdirkan untukmu, dan ada yang tidak. Ada saatnya kamu cuma bisa menerima saat sesuatu yang ingin kamu raih ternyata bukan untukmu, seperti saya saat itu.

    Tentu saja, hati saya tak cukup lapang untuk menerima kegagalan dengan tenang. Saya marah, sedikit putus asa. Sepertinya dulu tak sulit menemukan stasiun saat saya tak ingin berhenti. Mengapa sekarang sulit sekali? Bisakah kamu menjelaskan fenomena apa yang sedang saya hadapi? 

    Akhirnya saya berhenti sejenak. Bukan untuk menerima atau menikmati semua ini, seperti yang mereka katakan saat saya tiba-tiba mempertanyakan semua hal ini. Saya hanya... letih. Mungkin itu kata yang paling tepat saat itu.

    Saya meluruskan kaki saya. Rasa pegal sisa berjalan ke sana kemari sebelumnya sepertinya tak kunjung hilang. Yang lebih parah, saya merasa sekujur tubuh saya sakit, meski saat itu saya memutuskan tidak berbuat apa-apa. Yang lebih parah lagi, dada saya kembali terasa sesak sekali. Ya Tuhan, saya lelah sekali.

    Lagi-lagi, mungkin memang benar, Tuhan akan menjawab doamu di saat yang tepat. Di sisa-sisa semangat yang saya miliki, saya tiba-tiba melihat sebuah stasiun di sudut yang tidak saya duga sebelumnya. Bahkan tidak jauh dari tempat saya berada.

    Saya berjalan pelan ke sana. 

    Dan begitu memijakkan kaki saya di peron stasiun, saya kembali terdiam melihat kereta yang ada di depan saya. Betapa hidup penuh dengan ketidakpastian dan kejutan. Kadang ironis, kadang dramatis. Kadang magis.

    Kereta di depan saya adalah kereta pertama yang saya tinggalkan tahun lalu. Pintu kereta itu terbuka lebar dan tetap seperti itu seolah menunggu saya yang masih bimbang untuk melangkah masuk.

    Beberapa saat kemudian, saya mendapati diri saya ada di dalam kereta. Saya masih ragu-ragu, namun yang saya tahu... tempat ini masih cukup terang dan riang. Tempat ini sepertinya masih mampu meletupkan api di dalam dada saya. Itulah yang pada akhirnya membuat saya tidak mengucapkan kata lain, selain syukur.

    Saya tidak pernah tahu bahwa semesta bisa bekerja segila ini. 

    Tak lama, pintu kereta tertutup. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kereta pertama. Meski tak mulus, tapi setidaknya saya yakin bahwa api itu tak akan padam untuk waktu yang lama. Itu saja sudah lebih dari cukup. Saya merasa cukup.

    Sejenak saya menilik kembali ke hal-hal yang telah saya lalui. Sesungguhnya, saya tidak menyesal telah berganti kereta. Setidaknya dari situ saya belajar, walau dengan cara yang cukup keras.

    Saya belajar tentang bagaimana menerima hasil meski sudah berusaha sekuat tenaga. Tentang bagaimana segala sesuatunya akan diberikan sesuatu waktunya. Tentang bagaimana bersabar. Tentang bagaimana mengikhlaskan.

    Kereta ini sudah membawa saya hingga penghujung tahun. Perjalanan ke depan tentu penuh kejutan, tapi saya menantikannya. Saya akan melihat bagaimana diri saya tumbuh sekali lagi.



    Continue Reading
    Yo, I'm back!

    Setelah 'nyuekin' blog ini selama empat bulan—yang sebenernya gak ada yang sadar juga—akhirnya gue kembali lagi. Dipikir-pikir, lama juga ya gak nulis di sini empat bulan lamanya. Padahal, gue punya resolusi buat ngeblog setidaknya sebulan sekali.

    Tapi, resolusi tinggal resolusi. Kala kerjaan menguras tenaga, ujung-ujungnya sampai rumah gue pun langsung tidur juga. Saking penatnya, gue sampai tak punya tenaga dan keinginan buat pakai skincare. *maapin daku curhaaat*

    Untungnya, setelah menghabiskan weekend tanpa menyentuh kerjaan sama sekali, rasa penat gue jadi berkurang banyak. Gue pun mengumpulkan niat, rasa kangen ngeblog yang meletup-letup *ajegile*, dan sisa-sisa ingatan tentang workshop bulan lalu,

    Dan akhirnya... inilah dia cerita gue saat mengikuti workshop How To Make Botanical Aromatic Candle yang diadakan oleh Klei & Clay bulan Agustus kemarin.


    ***

    Sebenarnya, ide ikutan workshop ini digagas oleh Fele—temen kantor gue—saat dia lagi liat-liat daftar workshop di situs Mau Belaja Apa. Berhubung gue juga lagi suka ikutan workshop, gue pun mengiyakan dengan cepat.

    Tanpa mikir terlalu lama, gue dan Fele segera 'mengamankan' kursi untuk ikutan kelas ini. Maklum aja, slot buat workshop biasanya terbatas. Jadi, semakin cepat daftar, semakin baik.

    Biaya untuk mengikuti workshop ini sendiri adalah Rp325.000. Dengan biaya tersebut, gue nggak hanya diajarkan cara membuat lilin aromatik, tapi juga bisa membawa pulang lilin kreasi gue dan mendapat satu gelas kopi selama kelas berlangsung. Kebetulan, kelasnya sendiri memang diadakan di Nusa Kopi yang terletak di wilayah Kebayoran.

    Singkat cerita, Sabtu itu gue dan Fele sudah duduk manis di dalam Nusa Kopi sejak pukul 10.00 kurang. Sebelumnya, kami sudah diminta memesan minuman terlebih dahulu. Setelah memesan minum, barulah kami duduk di area workshop. 

    Meski kelas belum dimulai, tapi di atas meja peserta sudah tersedia satu paper bag kecil berisi panduan membuat lilin aromatik dan sample produk face mist mereka, satu gelas kaca untuk wadah lilin beserta sumbu lilinnya, satu mangkuk, bahan lilin, satu pinset, satu kerta pola, dan satu kertas sebagai alas.


    Sembari menunggu peserta yang lain tiba, gue mengamati tim Klei & Clay sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lilin aromatik. Mereka menyiapkan berbagai hiasan bertema flora. Tema workshop kali ini feminin banget, begitu juga dengan para peserta workshop. 

    Sungguh berbeda dengan gue yang cuma pakai kaos, celana jins, sepatu kets, dan rambut awut-awutan. Hahaharusnyakudandandikit. 😂

    Balik lagi ke workshop. Selain bahan dekorasi lilin, tim Klei & Clay juga menyiapkan fragrance oil yang akan dicampur dengan lilin. Saat workshop kemarin, mereka menyediakan tiga varian wangi-wangian, yaitu lavender, vanila, dan green tea.

    Tak lama, kelas pun dimulai. Ternyata founder Klei & Clay langsung yang mengajarkan kami cara membuat lilin aromatik. Sebelum gue dan para peserta memulai proses pembuat lilin, Diva—pendiri Klei & Clay—memberikan kami sejumlah informasi yang harus kami ketahui.

    Misalnya saja, bahan baku lilin. Di kelas ini, kami membuat lilin menggunakan soy wax, bukan paraffin. Selain lebih murah, soy wax juga ternyata lebih ramah lingkungan. 

    Selain itu, dalam proses pembuatan lilin ini, kami juga tidak menggunakan essential oil, melainkan fragrance oil. Berbeda dengan essential oil yang memberikan efek healing, fragrance oil hanya menghasilkan wangi saja. Itulah sebabnya, lilin yang akan kami buat disebut lilin aromatik, bukan lilin aromaterapi.

    Diva juga memberikan tip jika para peserta ingin mencampur dua atau tiga varian fragrance oil. Misalnya, varian vanila memiliki aroma yang lebih kuat dibanding lavender dan green tea. Sehingga, jika ingin menggunakan campuran vanila dengan lavender atau green tea, pastikan untuk menggunakannya dalam jumlah lebih sedikit dibanding varian lainnya.

    ***

    Setelah memberikan sejumlah info dan tip, praktik membuat lilin pun dimulai. 

    Pertama, para peserta mengambil hiasan yang diinginkan, lalu membuat rancangan dekorasi lilin di atas kertas pola yang sudah disediakan. Jika sudah selesai, peserta bisa mulai memilih varian fragrance oil yang diinginkan.



    Selanjutnya, tim Klei & Clay akan membantu melelehkan soy wax. Berhubung peralatan untuk melelahkan soy wax tidak cukup banyak, maka bagian ini dikerjakan langsung oleh tim Klei & Clay. Lilin yang sudah dilelehkan harus ditunggu sampai suhunya turun menjadi 60℃ sebelum dicampur dengan fragrance oil.

    Nah, sembari menunggu suhu lilin turun, gue pun menghias sisi dalam gelas. Sayangnya, glue gun yang disediakan tim Klei & Clay cuma satu. Gue dan peserta lain pun harus menggunakannya ganti-gantian dan membuat proses dekor menjadi lebih lama. 

    Alhasil, begitu gue kembali ke meja, suhu lilin gue pun sudah turun hingga 52℃. Oh no. Gue pun bingung. Untunglah teman semeja gue baik hati. Dia langsung memandu gue dengan sigap. Mulai dari membantu gue mencampur fragrance oil ke lilin, sampai menuangkan lilin yang masih cair ke dalam gelas. 

    Oh iya, sebelumnya, gue sudah menempelkan lempengan candle wick alias sumbu lilin ke bagian dasar gelas menggunakan glue gun. Nah, biar sumbu lilinnya tidak bergerak, gue menahannya menggunakan kertas yang telah dilubangi di bagian tengah.

    Begitu lilin selesai dituang, gue pun kembali menunggu hingga lilin sedikit mengeras agar bisa dihias. Saat warna lilin sudah mulai memutih, itulah tanda lilin sudah mulai mengeras dan bisa mulai didekorasi.


    Jujur aja, dibanding proses sebelumnya, bagian hias-menghias inilah yang paling menyenangkan dan menantang. Karena hiasan yang gue gunakan berukuran kecil, maka gue harus meletakkannya dengan sangat berhati-hati agar tidak merusak keseluruhan dekorasi. Untungnya, tim Klei & Clay sudah menyediakan pinset.

    Apakah proses pembuatan lilin aromatik berhenti di situ? Tentu tidak. Lilin aromatik yang sudah dihias kemungkinan belum mengeras secara merata. Oleh karena itu, selanjutnya tim Klei & Clay memberikan wadah berisi air es untuk merendam gelas.


    Setelah beberapa saat, lilin pun mengeras dan bisa dibawa pulang. Meskipun sudah keras, namun lilin tersebut masih perlu didiamkan hingga tiga hari sebelum dibakar.

    ***

    Kalau diinget-inget, ternyata buat lilin aromatik ini lumayan gampang, lho. Terutama buat gue yang suka nggak sabaran dan maunya serba cepat. 

    Setelah mengikuti workshop ini, gue pun sempat mencoba mencari bahan bakunya di Shopee dan Tokopedia. Ternyata cukup banyak yang jual di sana, lho. Jadi, kalau sewaktu-waktu gue mau membuat lilin aromatik kembali, gue bisa mendapatkan bahan bakunya dengan mudah.

    Jujur aja, sampai sekarang lilinnya masih gue pajang dan belum gue bakar. Habis sayang. Rasanya ingin gue letakkan di dalam kotak kaca sekalian. Haha. 


    Jadi... begitulah cerita gue pas ikut workshop membuat lilin kemarin. Habis ini enaknya ikut kelas membuat apa, ya? Ada ide?




    Continue Reading
    Selamat tahun baru!

    source
    Gue merasa tahun 2018 berlalu dengan cepat sekali. Cepat dan ganas. Tahun 2018 adalah tahun babak belur gue secara mental. Selama setahun belakangan, gue sempat pesimis karena merasa salah langkah dan berakhir pada jalan buntu. Gue juga merasa bahwa sudah terlambat untuk mewujudkan mimpi-mimpi gue di usia segini. Kadang gue pengen nyerah aja.

    Di tengah kebimbangan tersebut, gue pun memilih untuk lebih banyak berbincang dan bertukar pikiran dengan teman-teman gue. Gue memperbanyak obrolan yang berfaedah. Misalnya, dari Daru gue tau tentang podcast Thirty Days of Lunch yang banyak membahas topik-topik menarik dan membangun. Gue juga mulai membatasi diri gue dari segala macam obrolan yang berbau keluhan, omelan, dan semacamnya.

    Pada akhirnya, perbincangan-perbincangan dengan teman-teman tersebut membawa gue ke titik yang baru. Gue kembali bersemangat dan berpikir positif. Dari sinilah gue sadar bahwa penting sekali memiliki lingkungan yang positif.

    Setelah mendengar podcast Thirty Days of Lunch dan podcast lainnya di Inspigo, menjejali diri dengan pengetahuan baru dari beberapa akun Instagram yang gue ikuti, juga saling menyuntikkan hal-hal positif dengan Daru, perlahan gue menemukan semangat yang sempat padam.

    Gue seperti mendapat aufklärung, alias pencerahan.

    Gue pun mulai membeli dan membaca buku kembali. Gue mulai menyusun mimpi-mimpi dan rencana untuk mewujudkannya. Gue kembali bersemangat sebelum "toxic" resmi menjadi nama tengah gue.

    Setelah melalui tahun 2018 yang cukup berliku, gue akhirnya memutuskan untuk membuat resolusi di tahun 2019 ini. Gue sudah lama sekali tidak membuat resolusi, sepertinya terakhir tahun 2015. Kenapa akhirnya gue memutuskan membuat resolusi? Karena gue mau mencoba memperbaiki kesalahan gue. Gue sadar bahwa gue telat menyia-nyiakan waktu gue di tahun 2018 karena terlalu fokus dengan rasa tidak nyaman gue.

    Akhirnya, gue pun mulai membuat resolusi sespesifik mungkin. Iya, bukan sekadar #2019JadiOrangKaya atau #2019LebihBahagia. Tapi, gue menyusun resolusi yang tolak ukurnya jelas, sehingga gue bisa menimbang langkah apa yang harus gue ambil untuk mewujudkannya.

    Lalu apakah resolusi gue tahun ini? Gue tidak akan menuliskannya sekarang. Mungkin nanti akan gue tulis di sini saat resolusi gue sudah terwujud. Yang jelas, gue tahu bahwa mewujudkan resolusi itu tidak akan mudah,tapi gue akan berusaha sekuat tenaga.

    2018 mungkin adalah tahun yang gelap buat gue. Tapi, bintang yang indah aja baru terlihat di langit yang gelap, bukan? Dengan kata lain, di balik suramnya kehidupan gue kemarin, ternyata terselip pengalaman dan hal menarik yang bisa gue nikmati dan syukuri. Salah satunya adalah menyadari tujuan hidup gue.

    Jadi, selamat bermimpi, teman-teman. Seperti kata Walt Disney, "All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them".






    Continue Reading
    Selama ini, sepertinya gue sering mengulang kata "kenapa". Kenapa gue begini? Kenapa mereka begitu ke gue? Kenapa gue nggak bisa begitu? Kenapa semuanya jadi begini? Intinya, kata "kenapa" ini menjurus pada satu hal: mengeluh.

    Gue adalah orang yang suka mengeluh dan cenderung mudah teriritasi, bahkan dengan hal kecil sekali pun. Tapi alhamdulillah semakin bertambah umur, gue semakin legowo dan berusaha menanggapi apa yang terjadi dengan lebih sabar dan bijak.

    Kalau dulu sebel sedikit gue post di media social, sekarang masih bisa tahan untuk nggak meledak-ledak. Bahkan, kalau sedang mengalami hal nggak enak, gue sudah mulai bisa mengubahnya jadi bahan becandaan. Atau, kalau sedang waras, gue bisa melihat sisi positif dari hal nggak menyenangkan tersebut.

    Gue rasa, hal ini terjadi karena beberapa tahun terakhir gue berada dalam lingkungan yang sangat positif. Suatu hari, gue pernah mengeluh di kantor karena cuma bawa bekal nugget. Keluhan tersebut kemudian ditanggapi seorang teman gue dengan berkata, "Alhamdulillah masih bisa makan."

    Rasanya kayak ketampar, nggak?

    Ucapan-ucapan penuh syukur itu sering banget gue denger di kantor lama gue. Misalnya saat kita lagi sebel banget sama kerjaan, pasti ada aja yang nyeletuk, "Kerjaan gue banyak banget. Tapi bersyukur, ya, masih bisa kerja. Nyari kerja susah, Cuy!"

    Begitu pun kalau kenaikan gaji ternyata nggak sesuai harapan, pasti ada aja yang ngingetin buat nggak lupa bersyukur. Ditempa dengan lingkungan yang positif selama beberapa tahun begini, maka wajar nggak, sih, kalau perlahan kepribadian gue berubah sedikit demi sedikit?

    Kalau diturutin, hidup itu memang nggak ada puasnya. Hari ini kita bisa memetik dua apel, besok pasti kita berharap bisa memetik tiga apel. Tidak apa-apa. Menurut gue itu wajar. Hidup memang butuh target, kok. Harapan itu adalah salah satu esensi hidup.

    Tapi, jangan sampai mengejar target membuat kita lupa untuk menikmati hidup. Jangan sampai kejadian nggak enak membuat kita terus menerus merasa sebagai korban. Toh, hidup itu isinya bukan sekadar hal-hal yang menyenangkan aja.

    Yang penting, jangan lupa untuk menyukuri hal-hal manis yang terjadi dalam hidup. Seperti kata pribahasa "karena nila setitik, rusak susu sebelanga." Kadang, karena satu kejadian yang nggak enak menimpa kita, tanpa disadari kita ngerasa kalau hidup ini kejam banget.

    Iya, nggak, sih? Apa gue doang yang ngerasa gitu? Haha.

    Inti dari tulisan ngalor ngidul gue di atas adalah... gue sedang berusaha untuk rajin bersyukur. Sok bijak banget, nggak? Tapi memang bersyukur bikin hidup gue lebih tenang, sih. Gue jadi nggak terlalu memusatkan pikiran gue dengan apa yang orang lain punya, tapi apa yang gue miliki hingga saat ini.

    source: pinterest

    Semoga aja kita semua selalu inget untuk bersyukur sekeras apapun hidup menempa kita. Yuk, bilang "amiiin". :D


    Continue Reading
    Kalau ada hal yang sangat berkesan di tengah datarnya kehidupan gue tahun ini, maka itu adalah menonton konser Paramore tadi malam. Bisa dibilang, menikmati pertunjukan Paramore secara langsung merupakan momen terbaik gue di tahun 2018 sejauh ini. 

    Rasa senangnya sulit sekali digambarkan. Akhirnya, penantian panjang gue selama tujuh tahun ada ujungnya. Bahkan, mengingat serunya konser tadi malam aja bikin gue emosional. Ingin nangis saking terharunya.

    Pertama kali Paramore datang ke Indonesia adalah tahun 2011. Saat itu gue ingin sekali menonton Paramore, tapi keadaan nggak memungkinkan. Alias, gue lagi nggak punya uang buat beli tiket karena uang jajan gue habis untuk ngurusin skripsi. Tahu, kan, biaya cetak dan fotokopi untuk skripsi itu nggak murah. Apalagi, saat itu gue mengambil metode survei yang mengharuskan gue keliling Depok untuk menyebar kuesioner.

    Mau minta uang ke orang tua pun rasanya nggak enak. Soalnya bokap saat itu sedang sakit dan butuh biaya untuk pengobatan. Ya sudahlah, mungkin bukan rezeki gue. Tapi nggak bohong, patah hati banget rasanya waktu itu.

    Tujuh tahun kemudian, mereka mengumumkan bakal konser di Jakarta bulan Februari. Dan gue tahunya telat! Tanggal konser mereka bertepatan dengan tanggal gue jalan ke Yogya. Gue tahu mereka akan konser saat rencana jalan-jalan ke Yogya sudah matang. Tiket pesawat sudah dibeli, kamar hotel pun sudah dipesan dan dibayar. Matik. Gue patah hati berat untuk yang kedua kalinya. Apa gue se-enggak jodoh itu sama Paramore, ya?

    Akhirnya dengan hati yang masih ketinggalan di Paramore, gue jalan ke Yogya. Gue ingat betul sore itu gue berada di Hutan Pinus Pengger, menanti matahari terbenam di ujung bukit bersama Daru. Saat itu gue berandai-andai bagaimana rasanya kalau gue ada di ICE BSD, menanti Paramore tampil di panggung.

    Tiba-tiba, banyak notifikasi bermunculan di ponsel gue. Gue pun mengecek WhatsApp dan Direct Message di Instagram. Entah kenapa banyak teman gue yang menghubungi gue saat itu, bahkan teman yang tidak begitu dekat sekali pun. Ternyata mereka memberitahu gue bahwa Paramore batal konser karena kondisi kesehatan Hayley sedang tidak memungkinkan. 

    Asli. Apa ini yang namanya jodoh, ya?

    Hayley Williams itu adalah girl crush gue. Gue begitu mengidolakan dia. Jadi, gue pun turut sedih kalau dia sakit. Tapi, tapi, tapi... gue nggak bisa bohong bahwa kejadian ini membawa harapan buat gue. Hehehe.

    Sekitar satu bulan gue menanti pengumuman jadwal baru untuk konser Paramore di Jakarta. Akhirnya mereka mengumumkan kalau Paramore akan konser tanggal 25 Agustus 2018. Setelah menemukan teman nonton konser, gue pun langsung beli tiket.



    Dan akhirnya... kemarin siang gue tiba di ICE BSD hall 10, bersama Meytri, Angga, dan Lanny. Enam jam kemudian kami sudah memasuki venue.

    Tepat jam delapan malam, Paramore pun berdiri di panggung, di depan gue. Rasanya nggak nyata banget. Di depan gue ada Hayley, Zac, dan Taylor yang selama ini cuma gue lihat dari Youtube.



    Sebagai pembuka, mereka menyanyikan lagu Grudges, salah satu lagu di album kelima mereka, After Laughter. Sehabis lagu Grudges, mereka lanjut menyanyikan Still Into You. Oh my God! Still Into You adalah lagu favorit gue banget banget dari album self titled mereka. Dulu, ya, zamannya lagu ini baru keluar, gue selalu puter setiap saat. Kadang, kalau dengerinnya di kamar, gue sambil joget-joget heboh sendiri karena lagu ini segitu serunya. Haha.


    Di konser kemarin mereka membawakan semua lagu di album After Laughter. Ada juga beberapa lagu unggulan di album lama, seperti That's What You Get, crushcrushcrush, Misguided Ghost, Ain't It Fun, Misery Business, dan Playing God. Mereka juga meng-cover lagu Drake di sesi akustik konser kemarin.

    Bagi gue, selain Still Into You, ada beberapa lagu yang berkesan banget kemarin pas dinyanyiin, yaitu:

    Rose-Colored Boy

    Pecah! Karena opening dan beberapa part lagu ini sendiri diisi sama yelling "low key, no pressure, just hang with me and my weather!" Nah, kebayang, kan, serunya konser kemarin begitu lagu ini dibawain?


    Fake Happy

    Kenapa berkesan? Karena seringkali gue merasa relate dengan lirik lagu ini. Jadi begitu lagu ini dimainkan, gue langsung ikutan nyanyi sepenuh hati.

    "Oh please, don't ask how me how I've been.
    Don't make me play pretend.
    Oh, no. Oh, oh, what's the use?
    Oh please, I bet everybody here is fake happy, too."


    Udah dengerin lagunya? Ya, sekarang mari kita nyanyi bareng "Parapara pap pap! Parapara pap pap!"

    26

    Siapapun gue rasa setuju bahwa lagu ini begitu emosional. Lirik lagu ini aja bagi gue sudah dalam, ya. Kemudian ditambah dengan irama yang syahdu dan dibawakan secara akustik. Duh, 26 kayaknya menjadi lagu galau sekaligus lagu penguat yang sempurna.

    Apalagi, sebelum membawakan lagu ini Hayley pun sempat berbincang santai tentang bagaimana kita harus berjuang menghadapi masalah dan sebagainya. Ini seperti obrolan dari hati. Memang, album After Laughter ini kayak menjadi wadah curhatnya Hayley. Dan lagu 26 mungkin bisa dibilang sebagai lagu curhat yang paling mengena.


    Saat konser kemarin, suasana terasa lebih emosional lagi karena penonton kompak menyalakan flash light dari ponsel mereka. Suasana venue kemarin menjadi sangat cantik begitu lagu ini dibawakan.

    Misery Business

    Lagu ini kayaknya menjadi lagu yang paling bikin pecah kemarin. Seru banget! Apalagi di pertengahan lagu ini Hayley juga mengajak dua penonton ke atas panggung. Satu dari Surabaya, satu dari Malaysia. Gila beruntung banget dua orang itu. Nggak sia-sia terbang ke Tangerang. :)

    Sehabis nonton konser. Muka senang, tetapi tampilan menyedihkan. Haha.
    Sampai siang ini, gue masih merasakan euforia sehabis menonton konser Paramore tadi malam. Penantian tujuh tahun gue berujung manis sekali. And it's not fake happy. I'm truly happy. Ternyata begini, ya, rasanya berjodoh dengan sesuatu yang lo sukai. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi dada gue benar-benar pengap karena rasa senangnya seperti meletup-letup. Haha.

    Semoga gue nggak harus menunggu tujuh tahun lagi untuk menonton konser Paramore selanjutnya. Mungkin dua atau tiga tahun cukup, ya?

    Dan terakhir... ini dua lagu terfavorit (udahlah favorit pakai "ter" juga) yang sayangnya nggak dibawain kemarin: Last Hope dan The Only Exception. Ngomong-ngomong, gue suka sekali dengan versi live lagu Last Hope yang satu ini karena stage act Hayley keren banget di sini!



    Love,



    Continue Reading
    Seberapa sering kamu mengucapkan terima kasih ke orang-orang di sekitarmu?

    source


    Sewaktu di SMA, gue dan teman-teman ikutan mentoring agama Islam setiap Hari Jumat, sepulang sekolah. Isi mentoringnya tentu aja tentang penanaman nilai-nilai Islam dari berbagai sisi. Tapi jangan pikir sesi mentoring ini terlalu serius dan kaku ya, karena Kak Yuni -mentor gue- orangnya fun dan anak muda banget. Selain mentoring, ujung-ujungnya kita curhat-curhatan galau abege juga. :p

    Dari sekian banyak bahasan, ada satu yang membekas dan gue ingat hingga sekarang, yaitu pentingnya mengucapkan terima kasih.

    Gue inget banget saat itu, Kak Yuni nanya ke kita, "kalian pernah nggak sih bilang terima kasih ke supir angkot?". Pertanyaan ini pun bikin kita bingung. Kenapa harus terima kasih? Kan kita udah bayar.

    Tapi kemudian Kak Yuni bilang lagi, "Walau kalian bayar, bayangin deh kalo nggak ada supir angkot yang cape-cape anterin kalian sampai sekolah..."

    Bukannya mau pamer, tapi dari situ emang gue mulai berusaha untuk menghargai bantuan orang-orang di sekitar gue. Termasuk saat gue sudah membayar jasa mereka. Sadar nggak, sih? Selama ini beberapa dari kita mungkin sangat pelit bilang makasih ke orang-orang yang sebenernya sangat membantu kita setiap hari.

    Bayangin kalau nggak ada ojek payung saat hujan. Pasti kamu udah masuk angin saat kehujanan.

    Bayangin kalau nggak ada mbak-mbak waitress di restoran. Pasti kamu akan repot ambil menu, makan, dan minta bill ke kasir sendiri.

    Bayangin kalau nggak ada orang yang mau jadi karyawan di kantor yang kamu bangun. Siapa yang mau membantu membesarkannya?

    Bayangin kalau nggak ada office boy. Pasti kamu risih banget ngeliat sekitar kamu kotor dan berantakan.

    Tapi lagi-lagi... "Ngapain sih bilang makasih? Kan gue udah beli jasa mereka. Gue nggak harus bilang makasih, dong?"

    Emang nggak.

    Tapi, yuk, kita ngayal menjadi mereka.

    Menjadi seorang ojek payung yang kamu beli jasanya biar kamu nggak basah dan sakit keesokan harinya. Eh, siapa tau justru dia yang lagi sakit saat basah-basahan demi kamu?

    Menjadi waiter di restoran yang kamu beli jasanya untuk menghidangkan makanan favoritmu sambil tersenyum ramah. Mungkin aja di balik senyum ramahnya sebenernya dia saat itu lagi punya masalah di rumah.

    Menjadi karyawan yang kamu gaji dan kamu berikan target setinggi langit, demi membesarkan perusahaanmu. 

    Atau menjadi office boy yang nggak pernah mengeluh sekalipun lantai yang baru dia bersihkan kamu injak-injak lagi. 

    Iya, kamu sudah dibayar. Tapi, ada kalanya ucapan terima kasih dari orang sekitar akan memberikan tenaga ekstra buat kamu, kan? Ucapan terima kasih yang seringkali dianggap sepele itu ternyata bisa lho bikin rasa cape seseorang berkurang, bahkan bisa bikin orang lain happy juga.

    You think your money can buy anything? No, it can't. Maybe you can buy their services, but you can't buy their respect. Your attitude can.

    Jadi, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca postingan ini, ya, Temans. :D


    Continue Reading
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top