Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Dua hari yang lalu gue baru membeli buku terbarunya Adhitya Mulya yang berjudul "Sabtu Bersama Bapak". Bukunya sangat inspiratif dan membuat gue merasa 'jleb' di beberapa bagian.

    Salah satu bagian yang gue suka adalah cerita dimana Bapak Gunawan menjelaskan tentang pentingnya nilai akademis kepada anak-anaknya, Satya dan Cakra.

    Tadinya gue berpikir bahwa nilai akademis hanyalah angka-angka yang tercetak pada selembar kertas. Tapi walaupun berpikir seperti itu, nilai akademis gue tidak pernah di bawah rata-rata. Hampir selalu berada di atas rata-rata. Alasannya? Pertama, mungkin karena gue kompetitif dan tidak senang menjadi 'sorotan' karena berada di posisi terbawah. Gengsi ini yang membuat gue bertahan di posisi yang bagus. Kedua, mungkin karena gue merasa bertanggung jawab kepada orang tua gue. Ketika mereka kerja keras, banting tulang untuk biaya sekolah gue, maka gue harap nilai yang baik bisa membuat rasa lelah mereka sedikit berkurang.

    Bagi sebagian orang, seperti gue sebelumnya, nilai akademis memang hanya sebuah angka, namun nilai akademis itu ibarat penampilan luar seseorang. Sama halnya ketika elo melihat lawan jenis, hal pertama yang elo perhatikan adalah fisik bukan? Setelah tertarik dengan fisik baru deh elo mau mengenal ia lebih jauh. Seperti itulah peran nilai akademis.

    Setelah membaca buku tersebut gue sedikit menengok ke masa-masa gue sekolah. Walaupun nilai gue selalu di atas rata-rata, gue sadar gue tidak pernah belajar sepenuhnya. Gue tidak pernah bersungguh-sungguh. Syukur alhamdulillah (serius ini nggak ada maksud nyombong) 'otak' papa gue menurun ke gue sehingga saat nggak serius pun nilai gue tetep lumayan bagus. Sama seperti waktu kuliah, kerjaan gue cabut kuliah tapi IP gue ga bisa dibilang jelek. 3,43. Cukup dekat dengan kata cumlaude kan?

    Tapi buat apa sih pinter kalo elo malas? Elo nggak akan dapet apa-apa kecuali rasa menyesal. IP gue memang cukup baik, tapi gue tetep nyesel. Kenapa? Karena gue tau gue bisa mencapai lebih dari itu. Gue bisa mencapai langit yang lebih tinggi lagi jika gue serius.

    Lantas apa semuanya sudah terlalu terlambat buat gue? Gue bukan tipe orang yang pesimis, karena itu gue dengan lantang bilang nggak. Tapi tentu jalan yang sudah gue tempuh akan lebih jauh jika gue memulai lebih dulu.

    Karena itulah teman, tanpa bermaksud menggurui, jika elo saat ini sedang sekolah atau kuliah, jalanilah dengan sungguh-sungguh. Pilihlah 'kunci' terbaik untuk membuka gerbang pekerjaan elo nanti.

    Jadilah diri elo yang terbaik. Jangan puas dengan kata cukup. Jangan menjadi pengkhayal, jadilah pemimpi. Seorang pengkhayal hanya bisa menyusun cerita tanpa bisa menyulapnya menjadi tulisan yang indah. Tapi seorang pemimpi akan terus berlari, menjelajahi tempat-tempat yang paling mustahil sekalipun untuk mewujudkan mimpinya.

    Dan yang paling penting, ingatlah bahwa hidupmu bukan untuk dirimu sendiri. Ingat konsep take and give. Apa yang elo terima harus elo kembalikan. Jika elo sedang malas dan lupa dengan mimpi-mimpi, ingatlah orang tua lo. Lalu ingatlah anak-anak lo kelak. Cerita apa yang ingin lo ceritakan kepada anak cucumu nanti? Lo susun dari sekarang.

    Continue Reading

    Saya selalu tertarik dengan wanita yang bold. Bukan berarti saya berubah 'haluan', saya tetap suka pria, kok.

    Hanya saja wanita dengan kepribadian yang bold begitu menarik, sulit untuk diacuhkan begitu saja.

    Mereka begitu penuh dengan pesona. Aura mereka begitu terang. Dunia seolah berada pada genggaman tangan mereka.

    Mereka mengikuti passion mereka. Mereka berjalan dengan penuh kepercayaan diri. Mereka berbicara dengan hati-hati, dengan tatapan yang hangat. Mereka mendengarkan dengan penuh kesabaran. Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan semangat... dan gairah. Seolah pekerjaan mereka adalah pasangan hidup mereka.

    Mereka tahu kapan harus bersikap profesional dan kapan harus melepas 'sisi liar' mereka. Mereka tahu cara bersenang-senang.

    They live life to the fullest.

    Suatu hari nanti, saya juga ingin menjadi bagian dari mereka. Hidup bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Untuk membantu, untuk memberi inspirasi. Bukankah terlalu egois dan 'kosong' jika hidup kita hanya dihabiskan untuk kita sendiri?

    Terinspirasi dari seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan yang terlihat lebih bersinar dibanding wanita lainnya... di stasiun Pondok Cina.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top