Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Matahari Belitung pagi itu sangatlah cerah. Sayang, kamar kami yang terletak di pojokan  tak mendapat 'jatah' sinar matahari. Bau kamar yang aneh dan pengap pun membuat gue tak betah berlama-lama di kamar dan memilih berjemur di taman hotel. 

    Suntikan sinar matahari pagi, secangkir teh hangat, setangkup roti panggang cokelat, dan pemandangan seekor kadal sepanjang 1 meter yang sedang bersantai di atap hotel sepertinya cukup membuat energi dan semangat gue terisi penuh. 

    Sekitar jam 08.30 WIB, dua mobil elf memasuki halaman hotel yang kami tempati.  Pak Untung, tour guide kami, pun keluar mobil dan menegur kami dengan ramah. Kami merupakan rombongan terakhir yang dijemput Pak Untung.

    Setelah peserta tur lengkap, mobil yang kami tumpangi pun bergerak ke destinasi pertama, yaitu restoran Mie Atep. 

    Rasa Mie Atep yang disajikan di restoran ini menurut gue dan teman-teman lebih enak dibanding Mie Atep yang kami makan sebelumnya. Mie Atep di sini rasanya lebih ringan, sehingga cocok dinikmati saat sarapan.



    Kali ini, gue lebih bisa menikmati Mie Atep dan jeruk kunci hangat yang disajikan. Selain karena rasanya lebih enak, gue juga memiliki waktu lebih lama untuk mencerna makanan gue. Maklum aja, di hari sebelumnya, gue -atau kita- nggak pernah duduk lama setiap singgah di tempat makan. Kayak lagi dikejar-kejar debt collector!

    Setelah mengisi penuh tangki tenaga (baca: perut), kami pun mulai berkliling-kliling kota, hendak melihat-lihat keramaian yang ada.


    ***

    10 menit kemudian, kami tiba di rumah adat Belitung. Tak terlalu banyak hal yang kami lakukan di sana, jadi gue akan lanjut bercerita mengenai destinasi selanjutnya: The Ironically Beautiful Danau Kaolin.

    Kenapa ironis? Karena danau ini justru terbentuk akibat eksploitasi kaolin habis-habisan di Belitung. Saat berkunjung ke sana, kalian akan disuguhkan pemandangan yang benar-benar cantik. Lubang bekas galian terisi oleh air kebiruan. Air yang memenuhi bekas galian tersebut dibingkai oleh hamparan tanah putih mirip salju. Pemandangan tersebut juga dipercantik oleh langit biru yang cerah.


    Sayangnya, kami (lagi-lagi) hanya diberikan waktu sebentar untuk menikmati dan mengambil foto pemandangan Danau Kaolin yang cantik ini.


    "Semua sudah lengkap? Nggak ada yang perlu ganti baju karena salah kostum, kan? Mobil sebelah ada yang mau ambil baju di hotel karena salah kostum, nih!" seru Pak Untung yang disambut oleh senyum seadanya dari para peserta tur.

    Sementara gue udah gatel pengen komen. Temen nyinyir mana temen nyinyiiiir?


    ***

    Dari Danau Kaolin, kami melanjutkan perjalanan ke satu lokasi yang paling gue nanti.

    Yep. Replika Sekolah Laskar Pelangi.

    Sedikit intermezzo, gue adalah pecinta kisah Laskar Pelangi. Gue mengikuti kisah ini mulai dari novel yang ditulis Andrea Hirata, lalu dilanjutkan dengan menonton setiap film dan teater musikalnya. Gue bahkan memiliki CD yang berisi soundtrack Musikal Laskar Pelangi. Intinya, I love everything about Laskar Pelangi.

    Walaupun sudah segitu sukanya, tapi entah kenapa gue membutuhkan waktu lama untuk berkunjung ke Belitung. Ini persis kayak Ikal yang cuma bisa liatin Aling dari kejauhan.

    Tapi setelah bertahun-tahun memendam rasa, akhirnya saya sampai sini juga, Boy!

    Udara Belitung yang menyengat siang itu nggak menghentikan gue untuk eksplor sana-sini. Masuk ke ruang kelas, foto di setiap sudut, hingga mendengarkan anak asli Belitung menyanyikan lagu Laskar Pelangi yang diciptakan oleh Nidji.



    Berada di sini seperti mengantarkan gue kembali pada masa sekolah dan kuliah. Saat di mana mimpi sedang dipasang setinggi-tingginya. Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Kutipan dari novel Sang Pemimpi tersebut adalah petuah hidup gue saat itu.

    Itu dulu. Sebelum gue jadi seonggok karyawan yang sudah tergerus kenyataan pahit Ibu Kota. Mimpi gue jadi sesederhana dapet duduk di commuterline tiap pergi dan pulang kerja. Haha.


    ***

    Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di SD Laskar Pelangi. Akhirnya kami 'loncat' ke tujuan selanjutnya. Kenapa loncat? Karena jaraknya deket banget dari SD Laskar Pelangi.

    Jadi, kalau nanti kamu berkunjung ke SD Laskar Pelangi, jangan lupa sempatkan waktu untuk mampir ke Gelembung Rotan yang terletak di tepi Sungai Lenggang. Tempat ini cocok banget buat selfie, terus dipamerin deh di Instagram. Sukur-sukur dapet banyak like! #TujuanHidupAnakMillennial


    Di belakang gelembung rotan juga terdapat dermaga yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat selfie. Atau, kalau mau usaha sedikit, kamu juga bisa turun untuk foto di tengah rumput liar seperti ini.



    ***

    Hari itu sepertinya kita hampir membabat habis lokasi wisata yang terletak di Belitung Timur.

    Singkatnya, setelah dari Gelembung Rotan, kami berkunjung ke Museum Kata Andrea Hirata dengan desain arsitektur warna-warni yang memanjakan mata dan naluri untuk (lagi-lagi) selfie. Untuk masuk ke museum ini, kita harus membayar Rp50.000. Merasa kemahalan? Tenang. Dengan membayar Rp50.000 kita juga akan mendapat satu buku Andrea Hirata.

    Selanjutnya, kami diajak ngopi di Kota 1001 Warung Kopi, Manggar. Menurut teman gue, rasa kopinya lebih enak di Warung Kong Djie yang ada di Tanjung Pandan. Selesai ngopi cantik, kami kembali diajak ke tempat lainnya, mulai dari kediaman Pak Basuki atau Ahok, Vihara Dewi Kwan Im, dan pantai yang gue lupa namanya, tapi yang pasti ada di Belitung Timur.



    Berbeda dengan peserta lain yang hanya bermain-main di sekitar penjual kelapa muda, kami memilih berjalan sedikit jauh menuju dermaga untuk mendapat foto ciamik. Namanya juga anak hobi pamer, kan. Hahaha.



    ***

    Tenggelamnya matahari menutup perjalanan kami hari itu. Tubuh sudah lengket akibat keringat yang nggak berhenti mengucur sepanjang hari. Kaki sudah pegal karena berjalan ke sana dan ke sini. Perut pun sudah lapar minta kembali diisi.

    Sepanjang perjalanan pulang, ada yang memilih tidur, bengong, hingga ngomel karena kelaperan. Kalau kamu tipe yang lapar dikit jadi cranky, mending siapin stok cemilan deh daripada bikin temen kamu keki, kan.

    Perjalanan gue di Belitung tentu tidak terhenti hari ini. Esokan harinya, gue dan peserta tur lainnya akan menjelajahi pantai Belitung yang dipenuhi oleh bebatuan granit.

    Sama seperti gue yang harus naik turun bebatuan granit untuk menikmati keindahan alam Belitung, perjalanan gue keesokan harinya juga 'dihiasi' dengan naik turunnya emosi.

    Tapi gue akan menceritakannya nanti, di post selanjutnya. Masih mau nungguin, kan? :D














    Continue Reading
    "Halo. Apa kabar, Mba?"

    Awal perjalanan gue di mulai dengan sapaan hangat seorang driver Gojek yang sebelumnya pernah beberapa kali mengantar gue. Gue pun menjawab pertanyaannya yang disambut beliau dengan ,"Alhamdulillah". Sepanjang perjalanan dari rumah ke pool bus bandara yang singkat itu, Bapak Driver Gojek sempat bercerita tentang kesukaannya traveling ala backpacker. 

    Sesampainya di pool bus, nggak lama bus bandara tiba dan ternyata jalan tol pun lagi baik-baiknya sehingga gue sampai di bandara lebih cepat hampir 4 jam dari waktu take off. Tapi kalau kata Ode, lebih baik kecepetan daripada ketinggalan pesawat.

    "What a nice start", pikir gue.

    Setelah 1,5 jam keliling bandara sendirian, Tomo dan 2 temannya -Dolly dan Koh Robby- tiba. Ini pertama kalinya gue ketemu Dolly dan Koh Robby. Jujur aja gue harap-harap cemas traveling bareng kenalan baru karena gaya traveling orang, kan, beda-beda. Tapi bertemu orang baru selalu menambah pengalaman baru, kan? Pengalaman yang gue dapet kali ini persis seperti quote berikut:


    As with any journey, who you travel with can be more important than your destination - Unknown


    ***

    Pengalaman baru gue dimulai dengan diomelin mas-mas boarding room karena kita boarding super mepet. Loh, bukannya gue udah sampai lebih awal? Yes.

    Sebenarnya kita udah di ruang tunggu 10 menit sebelum boarding sampai tiba-tiba...

    Sesi curhat dimulai!

    Bukan gue, tapi satu dari laki-laki itu tiba-tiba curhat menggebu-gebu sehingga dua orang lainnya pun harus menanggapi. Gue seperti biasa mencari cara untuk melarikan diri dari awkward momen seperti itu. Begitu waktu boarding tiba, gue melirik ke tiga teman gue. Tak ada tanda-tanda pegerakan.

    25 menit sebelum take off. Petugas Sriwijaya Air memanggil kembali para penumpang yang belum berangkat menuju pesawat. Gue kembali melirik mereka. Posisi masih sama. Gue pun sibuk berspekulasi sendiri. Oh mungkin mereka sengaja karena sambil nunggu penumpang naikin barang di kabin. Atau, oh mungkin emang mereka nggak mau kelamaan nunggu di pesawat.

    20 menit sebelum take off. Petugas semakin gencar mengingatkan penumpang. Gue mulai lirik-lirik cemas dan tak ada tanda-tanda pergerakan.

    15 menit sebelum take off. Gue pun memanggil Tomo dan memberitahu kalau petugas Sriwijaya sudah memanggil untuk menuju pesawat. Mereka pun baru beranjak dan Tomo bilang mau ke toilet sebentar. Gue tepok jidat sambil ngeluarin satu bungkus stok sabar. 

    Usut punya usut, ternyata mereka bertiga nggak ada yang denger informasi dari petugas Sriwijaya saking serunya dengerin temen curhat. 

    Lesson number 1, jangan sibuk berspekulasi sendiri. 
    Lesson number 2, tolong cari momen yang tepat ya ibu-ibu kalau mau curhat.

    Ruang tunggu alias tempat curhat dadakan


    ***

    Perjalanan Jakarta-Belitung ternyata sangat singkat, hanya satu jam saja. Sore itu sekitar pukul 15.50 kami sampai di Bandara H. A. S. Hanandjoeddin dan disambut manis oleh Pak Agus, salah satu driver dari jasa antar-jemput bandara milik Pak Kusdian. 

    Sebenarnya kami mengikuti rombongan open trip dari Rani Journey. Tapi berhubung harga tiket tanggal 13 Mei membengkak, kami memutuskan untuk membeli tiket sehari sebelumnya dan berjalan-jalan sendiri.

    Kami pun memilih penginapan di dekat pantai Tanjung Pendam. Lumayan, kan, nanti sore bisa main di pantai. Pantai Tanjung Pendam sore itu tak terlalu ramai pengunjung. Mungkin karena pesonanya masih kalah cantik dibanding pantai di Belitung lainnya.


    Sunset-an dulu di Pantai Tanjung Pendam


    Dari pantai, kami berjalan kaki menuju pusat kota Tanjung Pandan. Di tengah perjalanan, kami mampir ke toko kopi Kong Djie. Sayangnya, asam lambung gue beberapa hari terakhir sedang tinggi sehingga gue tidak bisa ikut ngopi ala warga Belitung. Tapi, di sini gue mencoba jeruk kunci hangat yang ternyata enak dan segar rasanya.

    Sekitar 15 menit 'ngopi' di Kong Djie, kami pun beranjak ke tempat lain. Berhubung nggak sewa kendaraan, kami kembali berjalan kaki untuk mencari makan berat. Di sekitar Jalan Sriwijaya, kami pun menemukan Mie Atep. Di dalamnya, terpasang deretan foto pemilik Mie Atep dengan artis hingga politisi dalam negeri. 

    Gimana, sih, rasanya Mie Atep? Unik. Rasanya nggak biasa tapi enak. Isinya adalah mie kuning, udang, tahu, pempek, dan emping, lalu disiram oleh kuah kental berwarna kecokelatan. Selesai makan Mie Atep, kami kembali berkeliling untuk mencari makanan lainnya. Ternyata dua temen baru gue ini suka banget nyobain makanan baru. Sementara gue hanya jadi penonton karena perut gue tak sanggup lagi menampung makanan dan kebetulan mereka mencari makanan nggak halal. So... big no.

    Hari itu ditutup dengan kaki yang kecapean berjalan, bau kamar hotel yang agak aneh, dan adaptasi dengan teman-teman baru. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai esok hari saat tour guide kami menjemput di penginapan sekitar pukul 08.30 WIB. Gue akan menceritakan serunya jalan-jalan di kota Laskar Pelangi di post berikutnya. Tungguin, ya! 



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top