Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    “Bu, saya izin tidak masuk kerja ya hari ini. Ada hal penting yang harus saya urus.”

    Kira-kira itu isi ‘surat cinta’ gue untuk Ibu HRD dua minggu yang lalu. Surat cinta itu gue kirim saat baru banget berangkat ke kantor. Kalau elo mau tau, hal penting yang gue urus tersebut berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa. Berat banget nggak, sih, kesannya?

    Tapi, tenang. Kalau kata anak millennial, sebenarnya gue hanya butuh ‘piknik’. Sebagai seorang karyawati, ada kalanya gue muak banget sama pekerjaan dan rutinitas gue sehari-hari. Pernah nggak, sih, elo mau berangkat kerja, terus ada halangan se-simple susah dapet Gojek aja sampai bikin elo drama abis? Padahal gue bisa aja, kan, cari alternatif lain, misalnya naik Uber, Grab, atau ngangkot sekalian. 

    Tapi berhubung stress-nya sudah numpuk, kegigit semut aja rasanya kayak ketiban gajah.

    Akhirnya, minggu kemarin gue memutuskan untuk piknik dadakan ke Dufan. Seorang diri. Kenapa Dufan? Meminjam kalimat teman gue, karena di Dufan elo bisa teriak sekencang apa pun tanpa dianggap orang gila.



    Berbekal dengan kebimbangan hati (halah!), sekitar jam 12 siang gue pun sampai di Dunia Fantasi alias Dufan. Awalnya agak minder juga karena setelah tengok kanan-kiri, semuanya pergi beramai-ramai. Kayaknya cuma gue yang segitu galaunya sampai nekad ke taman bermain sendiri. Tapi lama-lama gue pun cuek sendiri, karena nggak ada yang kenal juga, kan, sama gue. 

    Alhasil, hari itu gue melakukan hal-hal yang gue inginkan seorang diri, sambil seru sendiri. Naik Kora-Kora tiga kali sambil berdiri dan angkat tangan ke atas, nungguin Kicir-Kicir beroperasi sambil ngobrol santai dengan sepasang mbak dan mas dari Bekasi, teriak-teriakan naik wahana ekstrim sambil ketawa-ketawa happy, sampai sibuk selfie pakai timer.



    Jalan-jalan ke Dufan nggak cuma melepas stress aja ternyata, tapi juga membuat gue nostalgia ke masa SMA. Maklum aja, sewaktu SMA gue dan teman-teman bisa ke Dufan tiap liburan semester! 

    Dufan saat itu tentunya berbeda dengan Dufan saat ini. Dalam 'kunjungan dadakan' gue kemarin, gue ternyata menemukan beberapa hal ini:

    #1 Jumlah Outlet Makanan Bertambah
    Bertambahnya jumlah outlet makanan di Dufan adalah hal pertama yang gue sadari. Sekarang elo bisa menemukan Yoshinoya, Auntie Anne's, sampai Shilin di Dufan. Bahkan, kemarin gue juga melihat seorang pengunjung yang bawa Dum Dum! Beda banget, deh, sama zaman dulu. Mau makan? Ya ujung-ujungnya McD.

    #2 Beberapa Wahana Baru
    Terakhir kali gue ke Dufan, yaitu sekitar tahun 2013 pas outing kantor, wahana di sana masih mirip-mirip kayak pas gue SMA. Tapi, begitu gue ke sana lagi, ternyata Dufan sudah melakukan pembaruan di sana dan di sini. Misalnya, munculnya wahana baru seperti Ice Age dan Treasure Land. Dari beberapa wahana baru yang ada di sana, gue hanya mencoba Ice Age.

    Jadi, gue nggak ada bayangan sama sekali wahana ini seperti apa. Gue cuma membaca banner di depan antrian masuk bahwa wahana ini mengandung unsur petualangan dan kejutan. Makanya, ekspektasi gue cukup besar. Ternyata, begitu mencoba wahana ini, ternyata wahana ini semacam Istana Boneka ditambahin turunan terjal. 

    #3 Dufan Mulai Menua
    Apakah ini bisa dibilang hal baru? Iya, dong! Biar kalau elo mau ke sana, elo tau Dufan tak semuda dulu. Beberapa wahana, seperti Kicir-Kicir, terlihat kurang terurus. Sayang banget nggak, sih? Padahal, menurut gue, Dufan memiliki wahana yang lebih seru dibanding taman bermain di Indonesia yang pernah gue kunjungi.




    Lagi-lagi tidak seperti dulu, kali ini gue pulang dari Dufan lebih cepat. Padahal, saat masih ABG, gue pantang pulang sebelum 'ditendang', alias diingetin bahwa jam operasional Dufan mau berakhir, melalui pengeras suara. 

    Jika dulu gue pulang dari Dufan membawa segudang foto dan cerita seru bersama teman-teman, kali ini gue pulang membawa nostalgia masa remaja. Nostalgia yang pada akhirnya membawa gue pada janji-janji terhadap diri sendiri. 

    Harusnya saat ini ku tak loyo begini.


    Continue Reading
    Gue selalu percaya bahwa di balik setiap kejadian nggak enak, Allah pasti menyisipkan hal-hal yang membuat gue merasa bersalah karena selalu lupa bersyukur.

    Misalnya, saat seorang teman membuat gue kecewa karena mengecilkan pekerjaan gue. Atau, saat pagi tadi gue dimaki-maki seorang pria berusia 40 atau 50 tahunan karena menegurnya saat mendorong gue dengan sikutnya di antrian eskalator Stasiun Tanah Abang.

    Stasiun Tanah Abang di pagi hari memang seperti medan perang. Setiap orang memiliki kepentingan masing-masing. Jadi, nggak heran ya kalau orang-orang suka berebut naik eskalator setiap pagi. Begitu pun pagi ini, antrian naik eskalator begitu padat dan gue harus menegur seorang pria karena hal yang gue sebutkan di atas itu.

    Kesal gue tegur, pria itu pun ngomelin gue nggak berhenti. Asli! Gue cuma ngomong satu kalimat, dia balas dengan omelan puanjaaang. Gue memutuskan buat diam, males membalasnya. Tapi sepertinya Ia nggak terima gue cuekin, puncaknya Ia pun berkata dengan suara keras, "Jelek aja belagu."

    Gue diam sesaat karena syok. Ini bukan pertama kali sih gue dikatain jelek. Tapi sebagai cewek, kepercayaan diriku tercabik-cabik, Kak! Gue pun menoleh ke pria itu dan berkata dengan suara tenang, "Bapak kalau ngomong bisa yang sopan?" Lalu Ia diam dan gue berjalan cepat menuju pintu keluar stasiun.

    Sepanjang perjalanan menuju kantor, gue menahan kesal. Untuk beberapa saat gue berpikir akan langsung memberikan surat resign begitu sampai di kantor. Gue sempet mikir, "Kerja kok begini amat? Kenapa gue ketemu orang jahat mulu, sih!"

    Pagi gue hari ini benar-benar rusak! This is not my day. Begitu pikir gue tadi.

    Tapi di perjalanan pulang gue sadar bahwa hari gue lancar-lancar aja kok walau ketemu pria tak menyenangkan itu. Ketenangan pagi hari gue yang hilang, seperti diganti dengan hadiah-hadiah kecil dari Allah. Dan setelah gue urutkan, ternyata ada banyak hal yang harus gue syukuri hari ini.



    Contohnya ya, saat gue baru sampai kantor dengan penuh emosi dan butuh asupan cokelat, ternyata gue menemukan cemilan rasa cokelat di laci gue. Gue bahkan sempet lupa kalau gue punya cemilan.

    Begitu juga ketika gue mau menghangatkan pizza goreng di microwave untuk cemilan. Sebelumnya, gue cari cara agar pizza gue nggak keras setelah dipanaskan. Setelah dapet caranya dari Mbah Google, gue pun praktekin asal-asalan. Eh ternyata pizza gue masih empuk dan enak dong!

    Daftar bersyukur gue masih bertambah karena hari ini pekerjaan gue di kantor relatif santai. Padahal kantor gue sedang ada beberapa project dan akhir-akhir ini load pekerjaan gue lagi gila banget. Makanya, bersyukur banget nggak sih hari ini gue bisa rileks sedikit di kantor?

    Nggak cuma itu, hari ini gue pun dapet duduk di kereta dan perjalanan kereta malam ini lancar. Nggak ada tuh yang namanya ngetem sebelum masuk Stasiun Manggarai. Alhamdulillah.

    Tapi, di luar itu semua, gue bersyukur banget punya temen kantor yang menyenangkan dan selalu bisa diajak gila. Hal senyebelin apapun kayaknya selalu bisa dibawa santai dan jadi bahan ketawaan. Haha.

    Emang bener ya, life is like riding a roller coaster. Your journey will be full of ups and downs. You will experience sad and depressing moments, but you will find some ways to feel happy.

    Because in the end you will realize, there is always something to be thankful for.
    Continue Reading
    Belumlah sah berkunjung ke Belitung kalau belum menjelajahi pantainya. Jajaran batu granit, air laut yang jernih dengan gradasi warna biru yang cantik, serta langit biru yang cerah. Semuanya seperti pemandangan yang sering terlihat pada lukisan atau kartu pos. Belitung memang paket lengkap, cantiknya merata di lautan dan daratan.

    ***

    Pagi itu adalah pagi ketiga gue di Belitung. Tempat menginap yang jauh lebih layak dibanding malam sebelumnya membuat tidur gue lebih berkualitas. Pagi itu pun gue bangun dengan tubuh yang segar walau hari sebelumnya gue dan peserta tur lain sudah berkeliling kota Belitung dari pagi hingga malam hari. 

    Setelah sarapan dengan teh manis hangat dan setangkup roti cokelat, gue menyiapkan ‘peralatan perang’ yang akan dibawa mantai, seperti kacamata renang, sunblock, dan handphone. Tak lama, Pak Untung -tour guide kami- tiba dan perjalanan kami hari itu pun resmi dimulai.

    Setibanya di Pantai Tanjung Kalayang, Pak Untung membagikan life vest, alat snorkeling, dan fin sebelum kami menaiki perahu. Banyaknya jumlah peserta tur, membuat Pak Untung membagi kami ke dalam dua perahu. Lagi-lagi ku harus berpisah dengan yang ‘lucu’ di ujung sana. Ehem.

    Apakah kami langsung menuju spot snorkeling? Tentu tidak. Sebelumnya, Pak Untung mengajak kami melihat Batu Burung Garuda yang merupakan ikon kota Belitung, serta singgah sebentar di Pantai Batu Berlayar dan Pantai Pasir yang hanya muncul saat air laut surut. Setelahnya, barulah kami diajak menikmati pemandangan bawah laut Belitung yang cantik.

    Perahu akan berhenti sekitar 10 menit agar kita bisa foto ikon kota Belitung ini

    Di pantai ini, ada beberapa bintang laut yang bisa dijadikan properti foto :D


    Sayangnya, gue tidak bisa berlama-lama snorkeling karena beberapa hal. Sementara, salah seorang teman gue yang cowok (kita sebut saja B) baru ‘nyemplung’ sebentar udah naik ke perahu lagi. Takut hiu, katanya. 

    Selesai snorkeling, kami diajak mampir ke Pulau Lengkuas untuk makan siang. Di Pulau Lengkuas ada sebuah mercusuar setinggi 70 m. Banyak yang bilang, pemandangan Belitung dari atas mercusuar ini sangatlah cantik. Jadi, jika punya kesempatan ke Pulau Lengkuas, naiklah ke mercusuar ini. Lagi-lagi sayangnya, saat gue ke sana, mercusuar ini sedang tidak dibuka untuk umum.

    Ini dia mercuasuar yang sudah ada sejak tahun 1882


    Akhirnya, dua orang teman gue (si L & M) memilih main air sambil berfoto, sementara gue memilih duduk di bawah pohon kelapa sambil menikmati apa yang ada di sekitar gue.

    Kalau yang lain suka berfoto-foto, gue yang pada dasarnya berjiwa melankolis ini sebenarnya lebih suka leyeh-leyeh. Duduk santai di bawah pohon kelapa atau bebatuan karang, menikmati melodi yang muncul saat desiran ombak bertabrakan dengan bebatuan karang, merasakan terpaan angit laut atau sinar matahari ke wajah dan rambut, sambil berpikir ini dan itu.

    Gue hanya ingin menikmati suasana ini dan nggak mau peduli dengan yang lain.

    Terkadang, gue bahkan nggak kepikiran untuk ambil foto karena nggak ingin merusak suasana yang sedang gue bangun. Iya, gue memang anaknya suka melankolis gitu. :p

    Belum lama menikmati suasana pantai, hujan mulai turun. Semakin lama, hujan semakin deras disertai angin kencang. Kami cuma bisa berteduh di bawah warung sembari menikmati teh manis hangat. Beruntung, badai tak berlangsung lama sehingga kami bisa menikmati spot berikutnya: Pantai Tanjung Kalayang.



    Langi semakin gelap, badai akan segera datang


    Apakah kami akan kembali snorkeling? Tentu tidak. Kami justru diajak masuk ke hutan untuk menikmati spot yang keren. I can say it’s a hidden gem in Belitung. Kenapa? Karena untuk masuk ke sana, kami harus melewati hutan dan naik turun bebatuan licin. 

    Tetapi begitu kamu berhasil melewati bebatuan licin tersebut, kamu akan menemukan tempat (baca: surga) tersembunyi yang keren banget.





    Hari semakin sore, Pak Untung mulai mengumpulkan kami yang berpencar ke sana dan ke sini untuk menuju tempat berikutnya, yaitu Pantai Tanjung Tinggi. Jadi, pantai ini adalah tempat syuting film Laskar Pelangi. Sebagai pecinta novel, film, hingga musikal Laskar Pelangi, sudah pasti gue penasaran banget dengan pantai yang satu ini.

    Sayangnya, begitu kami sampai di sana, matahari sudah turun. Padahal gue yakin, Pantai Tanjung Tinggi pasti sangatlah cantik di siang hari. Akhirnya, kami semua cuma bisa foto-foto maksa berbekal cahaya flash. 

    Mengingat malam itu adalah malam terakhir kami di Belitung, Pak Untung pun mengajak kami ke pusat oleh-oleh khas Belitung. Tentu saja yang pertama gue cari adalah kerupuk bangka titipan nyokap dan sirup jeruk kunci khas Belitung.

    Peserta tur yang sudah selesai berbelanja memilih kembali ke bus untuk beristirahat. Maklum saja, kegiatan hari ini sangatlah padat dan melelahkan. Sebagian peserta pun lebih memilih beristirahat di bus sembari memejamkan mata. Suasana bus bisa dibilang hening dan tenang, sampai tiba-tiba…

    DUARRR.

    Meletuslah pertengkaran antara seorang pria dan wanita, yang nggak lain dan nggak bukan adalah teman gue sendiri, si L dan si B. HAHA.

    Peserta tur hening.

    Dua teman gue masih seru beradu mulut.

    Peserta tur tambah hening.

    Dua teman gue masih terus beradu mulut.

    Gue berusaha menengahi, teman gue pun.

    Teman gue yang cewek -si L- akhirnya diam, berusaha mengalah. Yang cowok -si B- justru kembali pasang petasan.

    Ah, ya sudahlah. Sudah gue bilang, kan, di postingan sebelumnya kalau traveling itu bukan hanya masalah tempat, tapi juga masalah teman.

    ***

    Keeseokan harinya, kami bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena jadwal penerbangan kami pagi hari. Justru karena jadwal penerbangan kami sore hari, kami bertiga memutuskan untuk menjelajahi Belitung pagi ini. Sementara, si B lebih memilih beristirahat di hotel. 

    Karena paket tur sudah berakhir, maka malam sebelumnya kami sudah menyewa motor. Harga sewa motornya sendiri kalau tidak salah ingat sekitar Rp40.000,- karena kami hanya menyewa setengah hari.

    Tujuan pertama kami adalah Danau Kaolin. Menurut salah seorang peserta tur, Danau Kaolin sangatlah cantik saat matahari terbit. Ketika kami sampai di sana, kami pun disuguhkan hamparan bebatuan putih, sekilas mirip salju. Tapi, berjalan di antara bebatuan itu susah banget! Entah kenapa bebatuan tersebut sangatlah lembek, sehingga kaki kami pun seringkali jeblos di tengah-tengah bebatuan.







    Puas foto-foto di Danau Kaolin, kami kembali menuju Pantai Tanjung Tinggi. Dan sesuai prediksi gue kemarin, pantai ini bagus dan asik banget buat duduk-duduk. Ditambah lagi, di sini sinyalnya kenceng. Jadi, gue bisa cari bacaan di Internet sembari nungguin dua teman gue foto-foto.





    Berhubung penerbangan kami sekitar pukul 12 siang, maka kami kembali ke hotel sekitar pukul 10. Di tengah perjalanan pulang, kami menemukan sebuah ayunan di pinggir pantai. Kami pun menepi sebentar untuk main ayunan sambil mengabadikan momen alias selfie.



    Sesampainya di hotel, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kami hanya punya waktu untuk mandi dan tidak sempat sarapan. Daripada ketinggalan pesawat, kami pun menahan lapar hingga tiba di Jakarta.

    ***

    Perjalanan dari Belitung menyisakan kulit yang -tumben-tumbenan- terbakar dan seorang teman baru. Perselisihan kedua teman baru gue tentu saja menjadi hal yang nggak menyenangkan selama perjalanan gue ke Belitung. Tapi hal tersebut juga menjadi pengingat bahwa traveling itu tidak hanya mengenai pergi ke tempat yang cantik, tapi juga tentang saling mengerti dan menjaga emosi. Traveling bukan hanya tentang diri kamu sendiri.

    Di balik itu, gue sangat menikmati perjalanan ke Belitung, kok. Jadi, kalau saat ini kamu lagi merasa 'kurang piknik' alias mumet dan jengah dengan segala rutinitas, siapkan backpack-mu dan pergilah ke Belitung.



    Baca juga: Belitung Part 1 & Part 2
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top