Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Naik kereta api tut... tut... tut... Siapa hendak turut?

    Kalau mengingat lagu itu, sepertinya naik kereta itu menyenangkan sekali, ya? Tapi, bagaimana jika kamu diajakin naik kereta saat ini? Hmm... mikir seribu kali, deh.

    Tentunya kereta yang gue maksud di sini adalah commuter line yang menjadi penghubung antara Jakarta dan daerah penyangga, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang. Naik kereta alias commuter line adalah bukti nyata bahwa kadang kenyataan dan harapan itu nggak sinkron.

    Nggak usah bohong, deh. Anak kereta pasti tiap berangkat dari rumah berharap kereta akan lancar jaya dan kosong (setidaknya nggak kayak pepes) di jam sibuk. Kenyataannya? Kita seringkali dapet kejutan dari commuter line. Entah gangguan sinyal, rel patah, diselak kereta jarak jauh, dan segala macam masalah yang kalau gue perhatiin sudah ada dari dulu namun tak kunjung selesai. Pait. Ku nggak suka dikasih surprise macam gini.

    Sumber: tribunnews.com
    Tapi hal yang nyebelin di kereta nggak harus kamu bawa kesel seharian. Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan?

    Gue pun nggak akan bilang “nikmatin aja”. Udah dibilang nggak enak, kok malah disuruh nikmatin. Itu semacam kamu dikentutin orang yang belum pup seminggu dan disuruh nikmatin aja. Terus gue harus happy dan nikmatin bau busuk ini, gitu? Ah… bau kentut ini sangatlah menyenangkan hatique. Terima kasih, Tukang Ngentut.

    Karena itu, menurut gue, kita bukan harus berusaha menikmati. Dalam kasus commuter line, kita harusnya berusaha bertahan, jika memang opsi transportasi lain tidak memungkinkan.

    Dan cara gue untuk bertahan dalam kecarutmarutan commuter line adalah….

    • Sarapan Sebelum Naik Kereta
    Yes, tentu saja. Gimana bisa punya tenaga ngelawan mbak-mbak super setrong di gerbong khusus wanita kalau kamu nggak isi bahan bakar? Gimana bisa berdiri umpel-umpelan saat kereta gangguan kalau perutmu kosong? Ada beberapa kasus penumpang pingsan di kereta karena belum sarapan. Makanya gue nggak pernah melewatkan sarapan. Wong, sudah sarapan pun gue bisa lapar lagi sehabis turun kereta. Hahaha.

    • Cek Keadaan Commuter Line Lewat Twitter
    Ternyata, pengguna commuter line cukup aktif di dunia per-twitter-an. Mulai dari mengeluhkan kereta gangguan, sampai ngomelin admin twitter commuter line yang suka bilang kereta normal padahal kenyataannya nggak gitu. Please, min, cobain naik produk sendiri! Jadi, sebelum naik kereta, luangkanlah waktumu sebentar buat cek twitter. Kalau kereta tak ada masalah ya alhamdulillah, kalau ternyata ada gangguan setidaknya kamu bisa bersiap-siap. 

    • Pakai Sepatu yang Nyaman
    Pakai sendal buat naik kereta di jam sibuk? Kasihanilah jempolmu wahai anak muda! Gue nggak ngerti kenapa, tapi pengguna kereta selalu kehilangan sensor buat memijak di tempat yang tepat, alias lantai kereta. Jadi, nggak usah heran kalau begitu turun kereta sepatu akan dipenuhi bekas sepatu orang. Pedih hatiku! Makanya, pakai sendal itu bukan keputusan bijak bagi gue. 

    Bahkan, gue pernah pakai sepatu boot dengan sol setebal Docmart saking keselnya jadi korban keinjek melulu. Suatu hari, saat gue sedang memakai sepatu itu, guelah yang kehilangan sensor memijak. Kaki gue pun mendarat manis di atas jempol seorang mbak yang sedang pakai sendal. Dia pun teriak kesakitan dan akhirnya sepatu itu jarang gue pakai lagi. Ngerti, kan, sekarang kenapa pakai sepatu itu penting di commuter line?

    • Dengerin Musik
    Mendengarkan musik memang nggak akan membuat kamu jadi tiba-tiba menikmati kereta. Yang namanya gangguan atau umpel-umpelan udah pasti bikin kesel dan nggak nyaman. Tapi, mendengarkan musik setidaknya bisa membuat syaraf-syaraf tegang di muka jadi kendor dikit. Yang tadinya kesel banget, jadi kesel aja. Setidaknya musik bisa membuat gue nggak terlalu stress di kereta.

    • Jangan Galak
    Kesenggol dikit, ngelirik judes. Kedorong dikit, nyinyir. Duh, situ hidup nggak boleh kecolek banget. Naik kereta itu jurusnya sabar dan pengertian. Ya, mau gimana? Kereta penuh dan gangguan adalah resiko yang harus kita hadapi. Jangan nambah-nambahin stress dengan menjadi orang yang tidak pengertian dan pemaaf. Percayalah, tidak ada yang lebih menghangatkan hati dibanding penumpang yang saling melempar senyum saat kondisi di dalam kereta layaknya replika neraka.

    • Tahu Batas
    Commuter line memang selalu penuh setiap pagi dan sore di hari kerja. Itu fakta yang sulit sekali diubah. Setiap pagi dan sore, stasiun pasti dipenuhi dengan pemandangan orang-orang yang rebutan naik kereta. Di sinilah waktunya kita adu kekuatan dan di saat yang bersamaan juga tahu batasan. Maksudnya, kalau memang kereta sudah terlalu penuh, ya, tunggu kereta berikutnya. Nggak usah memaksakan diri masuk ke gerbong yang sudah penuh sesak. Gue selalu berusaha untuk mengingat bahwa keselamatan itu lebih penting (dibanding masuk kantor tepat waktu haha). Kalau ujung-ujungnya badan akan sakit dan nggak bisa nafas, lebih baik nggak usah maksa. Jangan sampai juga jadi barbar dan ngedorong orang seenaknya. Kamu dikejar apa, sih?

    Cara yang terakhir tentu saja berdoa. Biar perjalananmu lancar dan kamu diberikan kekuatan untuk melalui kerasnya commuter line.

    Bilang apa? Aamiin....







    Continue Reading
    Nulis dan ngumpulin note book lucu-lucu adalah kesukaan gue sejak kecil, selain nyanyi tentunya. Note book yang gue punya tentu aja nggak cuma jadi pajangan. Mubazir, ah! Makanya semua note book yang gue punya pasti gue isi. Berhubung gue anaknya susah curhat sama orang, jadilah kebanyakan note book tersebut gue jadikan diary. Beberapa gue gunakan untuk menulis puisi, lirik lagu, cerpen, hingga novel.

    source: Pinterest
    Semakin gede, gue semakin jarang nulis diary, apalagi nulis puisi. Sorry, Rangga... pengaruhmu tak sekuat dulu. 

    Memasuki masa kuliah justru gue lebih banyak menulis di blog atau social media. Tapi ngetik dan nulis tangan itu rasanya beda. Menulis tangan membuat gue merasa lebih hidup. Makanya gue masih tetap mengumpulkan note book (juga pulpen lucu-lucu!). Kalau dulu isinya kebanyakan curhat, kali ini gue lebih banyak menulis tujuan hidup gue. Mulai dari tujuan satu tahun ke depan, hingga  10 tahun kemudian.

    Gue selalu percaya bahwa setiap kali kita menuliskan mimpi-mimpi kita, maka semesta akan membuat kita lebih dekat dengan mimpi tersebut. Alam bawah sadar kita akan mengingat mimpi tersebut dan menuntun kita untuk melangkah mendekatinya. Makanya, semua mimpi gue, pasti gue tuliskan dalam jurnal yang selalu gue bawa setiap hari.

    Kadang, setelah beberapa tahun kemudian, gue lupa dengan mimpi-mimpi yang gue punya. Tapi begitu gue sedang membereskan kamar dan membaca jurnal lama, gue pun terkejut karena mimpi-mimpi yang pernah gue tulis itu terwujud satu persatu.

    Tamparan-tamparan yang kita dapatkan dalam hidup terkadang memang membuat kita lupa sesaat dengan tujuan kita. Itulah sebabnya gue menulis semua mimpi gue. Biar sekeras apapun hidup mendorong gue, gue tidak akan terlalu jauh keluar jalur.

    Catatan-catatan itu menjadi 'mercusuar' gue di saat sedang (berasa) nyasar dan membutuhkan navigasi, seperti sekarang. Setidaknya, saat gue membaca catatan tersebut gue tahu tujuan gue ada di mana dan jalan apa yang harus gue tempuh.

    Setelah satu tujuan tercapai, biasanya akan muncul tujuan lain. Setelah satu kejadian terjadi, pun akan muncul keinginan lain. Mungkin itu sebabnya jurnal mimpi gue masih terus terisi hingga saat ini. Mulai dari keinginan untuk terus menjadi penulis hingga tua nanti, atau sesederhana #ValineTaken2018. Hahaha.

    Mau bantu aminkan? :p






    Continue Reading
    "Mas, ada Wi-Fi?"

    Pertanyaan seorang pria membuat gue yang baru beranjak pergi dari kasir menoleh kembali. Sekalian nguping password Wi-Finya jika ada, begitu pikir gue.

    "Nggak ada," jawab Si Barista. "Biar pada ngobrol," lanjutnya kemudian.

    Gue tersenyum geli sambil kembali berjalan menuju meja, serta berusaha menyeimbangkan badan agar segelas Red Velvet Latte hangat yang gue bawa tidak tumpah. 

    Coffee shop dan Wi-Fi saat ini memang sudah semacam panci dan tutupnya, atau kayak kaos kaki kanan dan kaos kaki kiri (sungguh perumpamaan yang sangat elegan, kan? :D). They are made for each other. Hakikat warung kopi modern kini tak lagi sekadar menjadi tempat menikmati kopi, namun juga menjadi tempat nongkrong, tempat ngerjain tugas kampus atau kerjaan freelance, serta tempat numpang download film. Maka itu, kehadiran Wi-Fi di warung kopi adalah suatu keharusan.

    Namun, saat berkunjung ke Filosofi Kopi di Yogya, justru mereka dengan sengaja tidak menyediakan Wi-Fi. Tujuannya? Agar manusia menjadi manusia. Jadi, silakan ngobrol ngalor ngidul dengan teman ngopimu secara langsung. Ngapain ngajak temen ngopi kalau ujung-ujungnya kamu main henpon, kan?

    Sebenarnya di Jakarta pun juga banyak toko kopi yang nggak menyediakan Wi-Fi. Namun yang blak-blakan nyuruh customer-nya ngobrol, gue baru menemukannya di Filosofi Kopi.

    Terus, apalagi yang menarik di Filosofi Kopi Yogya?

    Pertama, lokasinya. Menurut gue yang menginap di daerah Brontokusuman, lokasi Filosofi Kopi agak jauh dan sedikit 'nyempil'. Jadi, lokasinya tidak berada di pinggir jalan raya. Namun, kamu akan diarahkan masuk ke pemukiman, juga melewati beberapa petak sawah, saat menuju tempat ini. Mungkin karena lokasinya dekat dengan sawah, saat siang pun udara di sini tidaklah panas membara.

    Lokasi parkir mobilnya agak horor, ya...


    Yang lebih menarik, Filosofi Kopi juga sepertinya dekat dengan pemakaman. Sewaktu gue dan Daru lagi ngopi, di depan toko kopi ini tiba-tiba ramai dengan iring-iringan penduduk sekitar dan beberapa polisi. Begitu gue perhatikan, ternyata mereka membawa keranda. Anehnya, walaupun dekat dengan pemakaman, ditambah melihat langsung iringan masyarakat yang ingin memakamkan jenazah, suasananya tidak serta merta menjadi spooky. Pengunjung di sekitar gue pun terlihat biasa-biasa saja.

    Kedua, desain interiornya. Setengah bangunan di Filosofi Kopi Yogya masih menggunakan rangka rumah adat Yogya. Sementara, meja dan kursinya terdiri dari berbagai desain. Ada kursi dengan bantalan dari jeans bekas, ada kursi plastik warna-warni, ada juga kursi yang biasa kita jumpai di ruang tunggu terminal yang dialihfungsikan jadi tempat duduk lucu. Saat berkunjung ke sini, kamu akan menangkap kesan tradisional, jadul, tapi juga fun.




    Filosofi Kopi Yogya juga memasang berbagai lukisan bermedia kanvas, lengkap dengan quote menarik. Dan pastinya, nggak ketinggalan poster pemeran film Filosofi Kopi.



    Ketiga, harganya murah. Asli, nggak bohong. Harga di Filosofi Kopi menurut gue termasuk murah, lho. Saat ke sana, gue memesan Red Velvet Latte, French Fries, dan Ice Javanese Tea. Sedangkan Daru memesan Churros dan kopi yang gue lupa namanya haha. Untuk semua pesanan tersebut, kami hanya menghabiskan Rp110.000,- saja. Rasa makanan dan minumannya juga enak, walau tidak bisa dibilang spesial.




    Keempat, suasananya. Filosofi Kopi di sini sangatlah nyaman, menenangkan, dan bikin betah nongkrong lama-lama. Ditambah lagi, tidak ada fasilitas Wi-Fi sehingga ngobrol pun bisa jadi lebih berkualitas. Soalnya kalau nggak ada Wi-Fi jadi sayang kan mau streaming Youtube atau download episode drama Korea terbaru (ketauan deh perhitungannya haha).





    Menurut gue, kalau kamu lagi ke Yogya dan mau ngopi-ngopi cantik, sih, bisa mempertimbangkan untuk ke sini. Apalagi kalau kamu mencari tempat ngopi yang santai dan tenang, tapi juga 'Yogya' sekali. Cus, langsung aja meluncur ke daerah Ngaglik.













    Disclaimer: All photographs on this blog are the property of Valine Yarangga. No parts of the content of this blog may be distributed in public without the prior written permission of the owner.
    Continue Reading
    Perjalanan menuju Yogya pertengahan Februari lalu tidaklah bisa dikatakan lancar. Hujan mengguyur Depok dan Jakarta dari pagi. Gue pun terpaksa berangkat ke pool bus bandara dalam keadaan hujan deras. Tentu saja hujan deras memiliki korelasi yang kuat dengan kondisi jalanan. Hujan = macet. 

    Setelah terjebak di perjalanan menuju bandara selama hampir 3 jam (dan hampir telat counter check in), gue harus menghadapi kenyataan bahwa pesawat yang akan gue naiki delay selama 20 menit. Oh, tentu saja itu bukanlah akhir dari cerita perjalanan ini.

    Mendekati bandara Adi Sutjipto, pilot memberi tahu bahwa pesawat kami harus menunggu antrian untuk landing. 30 menit berlalu dan pilot kembali memberi tahu bahwa pesawat kami belum bisa mendarat karena cuaca di bawah pesawat kami sedang buruk. Pesawat kembali berputar-putar di udara, sementara telinga gue sudah berdengung.

    Setelah kembali menunggu di udara 30 menit lamanya, akhirnya pilot memberi tahu bahwa pesawat kami akan transit di bandar udara Juanda karena cuaca di Yogya belum juga membaik. Begitu landing di Surabaya, pilot kembali menginfokan kalau cuaca di Yogya sudah membaik. Kami pun bisa cus balik ke Yogya setelah mengisi bahan bakar.

    Setelah menempuh perjalanan balik selama 40 menit, akhirnya pesawat yang gue naiki tiba di Yogyakarta. Jika ditotal, perjalanan Jakarta - Yogya malam itu kira-kira mencapai 3 jam lebih. Semua penumpang kompak tepuk tangan begitu pesawat landing. Ini beneran, lho. Hahaha.

    Nggak lama, gue bertemu Daru yang sudah kering kerontang nungguin gue hingga 3 jam. Kami pun order Go-Car di luar bandara sembari hujan-hujanan. Telinga gue masih berdengung dan flu gue semakin berat. Setelah perjalanan panjang (dan intro yang juga panjang) ini, gue cuma berharap hotel yang kami pesan cukup nyaman untuk beristirahat.

    Lalu akhirnya, tibalah kami di Adhistana Hotel.




    Begitu turun dari mobil, satpam hotel dengan cekatan langsung memberikan kami payung dan menurunkan koper kami dari mobil. Kami pun memasuki hotel dan menuju meja resepsionis. Kesan etnik dan bersahaja langsung terasa begitu memasuki hotel ini.

    Di depan meja resepsionis terdapat sebuah kursi panjang, lengkap dengan bantal bersarung batik warna biru. Untuk menambah kesan tempo dulu, di sisi kursi diletakkan sebuah telepon antik. Sementara, di sebelah kiri resepsionis, terdapat welcome drink berupa asem jawa dan snack. Di sisi yang sama juga terdapat gelas besi yang jadul banget itu.





    Setelah mengurus administrasi, pegawai hotel pun mengantar kami ke kamar. Kamarnya terbilang kecil, tapi nyaman. Apalagi nuansanya etnik dan tradisional sekali. Dari bantal, tirai, hingga sendal hotel... semua hadir dengan motif batik berwarna biru. Kami tentu saja langsung heboh foto-foto seisi kamar, seperti lupa habis melalui perjalanan yang panjang. Haha.




    Setelah puas foto-foto, gue memasuki kamar mandi dan menemukan dua kendi berisi sampo dan sabun mandi yang lucu sekali. Gue dan Daru suka banget dengan wangi sabunnya. Wangi aromaterapinya bener-bener bikin rileks. Rasa capek kayak langsung hilang begitu saja.

    Berhubung setelah landing kami memutuskan untuk langsung ke hotel, maka gue belum sempat makan malam, bahkan gue juga skip makan siang. Jadilah begitu sampai, gue langsung memesan mie goreng jawa di hotel. Ternyata, ya, untuk ukuran hotel harga makanannya cukup bersahabat. Untuk sepiring mie goreng jawa dan segelas wedang jahe, gue hanya menghabiskan sekitar 50 ribuan.



    Keesokan harinya gue bangun dengan tubuh yang lebih segar karena tidur nyenyak. Gue langsung membuka tirai dan mengintip situasi di luar hotel. Terlihat beberapa orang dewasa dan anak-anak yang sedang seru berenang. Kebetulan, kami memesan kamar hotel yang terletak persis di depan kolam renang. Jadi, kami bisa dengan mudah bolak-balik berenang, atau sekadar leyeh-leyeh di kursi kolam renang.





    Suasana pagi di Adhistana Hotel menurut gue cukup tenang. Tidak ramai, namun juga tidak sesepi itu. Setelah mandi, kami pun sarapan. Lokasi untuk sarapan terletak di lantai 2 Lawas Cafe. Interiornya juga tak kalah menarik dari hotelnya, lho.

    Pilihan makanan yang disediakan pun cukup beragam. Ada nasi putih, nasi goreng, lauk pauk yang berubah setiap harinya, croissant, sereal, roti, omelet, wafel/ pancake, puding, hingga buah-buahan. Tak ketinggalan berbagai variasi minuman seperti teh, susu, jus, hingga kopi. Rasanya juga enak. Hanya saja, gue sempat menemukan beberapa alat makan yang kurang bersih dicucinya.



    Gue dan Daru menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di Adhistana. Di mana, untuk semalam, kami cukup membayar sekitar Rp525.000 saja, termasuk sarapan. 

    Kami berdua benar-benar menikmati pengalaman menginap di Adhistana. Apalagi Adhistana memiliki banyak spot untuk duduk-duduk santai sambil menikmati hidup, juga untuk foto-foto. Itu sebabnya kami memilih leyeh-leyeh di hotel saja di hari ketiga kami di Yogya.







    Jika gue berlibur kembali ke Yogya, gue sudah pasti akan menginap kembali di Adhistana, sih. Satu, karena suasananya santai dan bersahaja. Dua, karena harganya bersahabat. Tiga, karena wangi sabunnya enak!

    Ciao!
















    Disclaimer: All photographs on this blog are the property of Valine Yarangga. No parts of the content of this blog may be distributed in public without the prior written permission of the owner.
    Continue Reading
    Berawal dari celetukan singkat "eh, gue pengen jalan-jalan, nih" di akhir Desember 2017 lalu, maka di pertengahan Februari 2017 kemarin berangkatlah gue dan Daru ke Kota Pelajar, Yogyakarta.

    Perjalanan ke Yogyakarta selama lima hari ini adalah salah satu bentuk relaksasi untuk gue yang akan pindah ke kantor baru, juga untuk Daru yang sedang jenuh di kantornya saat ini. Bisa dibilang, tema perjalanan kali ini adalah berpetualang sambil bersantai. Ada jalan-jalannya, ada juga leyeh-leyeh di hotel seharian.

    Lalu, apa yang gue lakukan di Yogya dalam waktu 5 hari? Jadi gini ceritanya.

    Mengunjungi Situs Warungboto
    Pernah mendengar atau mengunjungi Taman Sari? Nah! Bentuk bangunan di Situs Warungboto ini mirip dengan desain arsitektur Taman Sari. Dulunya, Situs Warungboto digunakan oleh Sultan Hamengkubuwono II sebagai tempat peristirahatan. Sisa-sisa bangunan Situs Warungboto sempat rusak parah akibat gempa tektonik pada tahun 2006. Tapi kemudian, Balai Pelestarian Cagar Budaya melakukan renovasi dan kini Situs Warungboto menjadi salah satu tempat wisata yang mulai ramai dikunjungi wisatawan.



    Situs Warungboto sendiri memiliki struktur bangunan yang instagenic, alias sangat ketje dijadikan spot untuk foto-foto kemudian di-post di Instagram. Haha! Makanya, nggak heran kalau saat berkunjung ke sini, kalian banyak menemukan muda-mudi yang sibuk foto-foto dengan alat perang (re: kamera) mereka. Tentu saja gue dan Daru nggak mau melewatkan momen untuk foto di tempat cantik ini.




    Untuk berkunjung ke Situs Warungboto, pengunjung nggak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Hanya butuh Rp3.000 saja untuk biaya parkir. Menuju tempat ini pun tidak sulit karena letaknya tidak jauh dari pusat kota.

    Menghirup Udara Pegunungan di Hutan Pinus
    Dari pantai, hingga hutan... Yogyakarta punya banyak tempat seru untuk dijelajahi. Jadi, kalau kamu nggak mau belok ke pantai, kamu bisa terus lari ke hutan (sounds familiar?). Ada beberapa hutan pinus di Yogyakarta yang bisa dikunjungi, yaitu Hutan Pinus Asri, Hutan Pinus Mangunan, dan Hutan Pinus Pengger. Dalam kunjungan kali ini, gue dan Daru memutuskan untuk pergi ke Hutan Pinus Pengger.



    Perjalanan menuju Hutan Pinus Pengger hanya memakan waktu 40 menit dari penginapan gue di daerah Brontokusuman. Walaupun tidak terbilang jauh, namun rute perjalanannya cukup 'gahar' untuk kami, Ciwik-ciwik Nekad. Jalanan naik turun dengan belokan curam, serta sawah, kebun dan jurang mewarnai perjalanan kami menuju Hutan Pinus Pengger. Pastikan kamu selalu berhati-hati saat berkendara menuju tempat ini, ya. Apalagi saat malam hari, di mana tidak ada lampu jalan di sekitar hutan. 

    Begitu sampai di area hutan, pengunjung diwajibkan membayar biaya parkir dan biaya masuk. Untuk dua orang dan satu motor, gue hanya dikenakan biaya Rp7.000 saja. Biaya ini terbilang sangat murah untuk tempat wisata dengan toilet dan mukena yang bersih.

    Saat gue ke sana, Hutan Pinus Pengger sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Wajar aja, sih, karena gue berkunjung saat long weekend. Biarpun ramai, tapi suasananya nggak nyebelin. Semua orang tertib antre untuk foto di sejumlah spot cantik, mulai dari rumah-rumah kurcaci yang dibentuk dari ranting pohon, hammock warna-warni yang dipasang bertingkat, hingga gardu pandang berbentuk tangan raksasa. Intinya, kalau kamu ke sini, jangan lupa untuk mengeksplor setiap sudut Hutan Pinus Pengger ini.




    Nggak cuma untuk membersihkan paru-paru dan menambah koleksi foto aja, kamu juga bisa menikmati pemandangan matahari terbenam di Hutan Pinus Pengger. Dalam suasana ramai saja, gue dan Daru masih bisa menikmati sunset yang cantik sembari ditemani angin sepoi-sepoi.







    Makan Sate Klatak
    Di pertengahan jalan menuju Hutan Pinus Pengger, kami sempat mampir ke Sate Klatak Pak Pong untuk makan siang. Mumpung lagi ke Yogya, Daru pun mengajak gue nyicipin makanan khas Bantul ini.

    Kenapa dinamakan sate klatak? Konon katanya nama tersebut diambil dari bunyi "klatak klatak" yang muncul saat sate ini dipanggang. Kenapa bisa muncul suara tersebut? Karena sate yang terbuat dari daging kambing muda dengan bumbu garam dan merica ini tidak ditusuk dengan bambu seperti sate kebanyakan, melainkan jeruji sepeda.



    Penyajian sate ini juga beda dari sate pada umumnya. Jika sate biasanya disajikan dengan bumbu kacang atau sambal kecap, maka sate klatak disajikan dengan sedikit kuah gulai. Seinget gue, harga satu porsi yang terdiri dari dua tusuk sate itu hanya sekitar 20 ribuan.

    Jalan-jalan Malam di Malioboro
    Ada yang bilang, belum sah ke Yogya kalau nggak mampir ke Malioboro. Meskipun selalu ramai (dan meskipun hingga saat ini gue belum pernah foto di plang Malioboro), tapi nggak tahu kenapa rasanya pengen aja gitu jalan-jalan di sekitaran Malioboro. Iya, nggak, sih? Apa cuma gue doang? Haha.



    Emang ada apa di Malioboro? Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dinikmati. Mulai dari hiruk pikuk delman dan becak, pedagang kaki lama, warung lesehan, hingga seniman jalanan. Biarpun ramai, tapi suasananya tetap santai. Yogya sekali. Makanya gue suka kembali ke sini. Padahal hanya sekadar jajan wedang ronde, tapi nggak afdol aja gitu kalau ke Yogya tapi belum ke Malioboro.






    Nongkrong di Warung Kopi
    Budaya nongkrong di warung kopi sebenernya emang udah ada sejak jaman dulu. Makanya warkop-warkop merajalela di tiap sudut kota. Hanya saja, sekarang warkop alias warung kopi sudah bertransformasi menjadi lebih modern, dari konsep pelayanannya hinga desain interiornya. 

    Warung kopi modern ini nggak cuma menjamur di Jakarta, tapi juga di Yogya. Coffee shop yang gue dan Daru kunjungi saat ke Yogya kemarin adalah Filosofi Kopi. Yup, betul. Filosofi Kopi nggak cuma ada di Jakarta, tapi juga buka cabang di Yogya.




    Berbeda dari Jakarta, suasana FilKop di Yogya sangatlah sejuk dan tenang. Bawaannya pengen leyeh-leyeh seharian, nggak mau mikirin masalah hidup (seberat apa sih masalah ngana, cuy!). Nulis di sini pasti menyenangkan banget!

    Jajan Es Krim di Tempo Gelato
    Jika masih memiliki waktu senggang di Yogya, tidak ada salahnya untuk menyempatkan diri mencoba gelato di Tempo Gelato. Kios gelato ini memang terkenal di kalangan wisatawan, jadi sudah pasti tempat ini akan ramai oleh pengunjung yang penasaran dengan rasa gelato mereka *tunjuk diri sendiri*.

    Selain dari interiornya yang bertema rustic, menurut gue harga gelato yang murah juga menjadi nilai jual mereka. Untuk satu cup kecil, gue cukup membayar Rp20.000 saja dan sudah bisa memilih 2 rasa. Masalah rasa? Hmm... cukup oke. Tapi gue pribadi, sih, lebih suka Gaya Gelato dan Gusto Gelato di Bali, ya.





    Bersantai di Hotel
    Jika tujuan traveling kalian adalah relaksasi, maka bersantai di hotel bisa jadi pilihan. Saat ke Yogya kemarin, gue menginap di dua hotel berbeda, yaitu Adhistana Hotel dan YATS Colony. Mengapa memilih dua hotel tersebut? Karena dua hotel tersebut nggak cuma bagus untuk foto-foto, tapi juga nyaman sekali buat bersantai.

    Dua hotel tersebut tentunya meninggalkan kesan tersendiri buat gue dan Daru. Adhistana dengan suasana tenang dan santai khas Yogya, sementara YATS hadir dengan suasana yang lebih modern namun tetap asri dan rindang. Gue akan menuliskan review lengkap udah kedua hotel ini di post selanjutnya, ya.



    Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi saat pergi ke Yogyakarta. Misalnya, Gumuk Pasir, Goa Pindul, Merapi, hingga jajaran pantainya. Tapi, semua kembali lagi ke tujuan traveling kalian. Tujuan traveling lo apa?

    Love you!





    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top