Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Siapa yang sekarang suka belanja produk lokal? Hayoo... tunjuk tangan! Kalau kamu hobi ngintipin akun Instagram dan beli produk dari brand lokal, berarti kita sama, dong! Hehehe. 

    Semenjak bekerja di salah satu media lifestyle cetak terbesar di Indonesia enam tahun lalu, gue memang mulai tertarik ngikutin berbagai brand lokal Indonesia. Mulai dari baju, sepatu, hingga tas. Menurut gue, produk brand lokal saat ini nggak kalah kece sama brand internesyenel. Baik dari segi desain, maupun kualitas produknya.

    Nah, ngomongin tas, gue juga punya beberapa rekomendasi brand tas lokal. Tentunya gue sudah mencoba membeli dan menggunakan tas tersebut. Tiga brand lokal ini nggak cuma modelnya aja yang oke punya, gue pun berani mengacungkan jempol untuk kualitasnya. 

    Jadi, dari pada kelamaan basa-basi, ini dia tiga brand lokal khusus tas favorit gue hingga saat ini:

    POVILO

    Gue pertama kali tahu brand lokal ini sejak akhir 2016. Saat itu, gue naksir berat dengan model tas POVILO yang minimalis, versatile, dan punya banyak kantong atau kompartemen di dalamnya. Ini penting banget buat orang kayak gue yang isi tasnya mirip tempat sampah saking berantakannya. Haha.

    POVILO biasanya hadir dengan warna-warna netral sehingga mudah dipadupadankan dengan outfit kita, misalnya hitam, cokelat, caramel, dan merah maroon. Berhubung koleksi tas gue itu tidak banyak, maka gue selalu memilih tas dengan warna netral. Jadi, gue nggak perlu pusing mix and match sama koleksi baju gue yang juga sedikit.

    Brand lokal ini sepertinya sangat mengutamakan kualitas tas mereka. Terbukti dari penggunaan bahan berkualitas tinggi, seperti Premium Polyurethane, Ripstop Nylon, dan Ultra-fine Fiber.

    Tas POVILO pertama gue adalah Sada Bag warna hitam. Tas ini memiliki ukuran yang cukup besar. Pas banget buat menampung segala macam peralatan yang gue bawa ke kantor, seperti makeup pouch, kotak bekal, botol minum, dompet, handphone, jurnal, dan tumpukan struk yang suka lupa dibuang. Uniknya, tas ini punya kantong khusus botol minum di bagian dalam. Kayaknya ini buat menjaga agar botol minum tetap tegak, sehingga isinya tidak bocor atau merembes keluar.



    Selain tali pendek yang dijahit langsung dengan tasnya, Sada Bag juga dilengkapi dengan tali panjang tambahan. Jadi, tas ini bisa digunakan dalam dua versi.

    Setelah memiliki Sada Bag yang sudah teruji ketahanannya saat digunakan naik kereta, beberapa bulan kemudian gue membeli Povi Sling warna cokelat dari POVILO. Povi Sling menjadi tas favorit gue buat jalan-jalan hingga saat ini. Biarpun keliatannya kecil, tapi sling bag ini punya banyak kompartemen, yang sekali lagi berguna banget buat orang kayak gue.

    Saking sukanya sama tas dari brand ini, gue selalu merekomendasikan POVILO ke teman-teman terdekat. Jadilah orang-orang di sekitar gue dari berbagai circle pertemanan kini pakainya tas POVILO.

    Masalah harga, tas ini termasuk terjangkau, kok. Harga tas POVILO ini sekitar 350 - 495ribu aja. Sementara, harga card wallet-nya adalah Rp121.000. Menurut gue, harga tersebut worth it dengan model dan kualitasnya.

    Satu hal lagi yang gue suka dari POVILO adalah packaging mereka premium sekali. Tas mereka dibalut dalam sarung tas dan kemudian disimpan di dalam hard box putih polos dengan logo di bagian tutup kotak. Jadi, begitu paket tiba, gue udah langsung happy karena packaging-nya cantik sekali.

    MILORS

    Gue tahu brand lokal yang satu ini saat sedang mampir ke Gramedia, Depok. Gue kan memang suka sekali dengan tas kanvas, ya. Makanya, begitu lihat jejeran tas kanvas di Gramedia, gue pun nggak bisa menolak untuk melihatnya.

    Setelah gue amati, kok tas dari MILORS ini lucu-lucu banget, ya. Salah satu seri tas yang bikin gue naksir berat adalah Arreta Backpack warna abu-abu.

    Kalau nggak ditahan-tahan, rasanya pengen beli saat itu juga. Apalagi, harga tas kanvasnya cukup terjangkau, yaitu sekitar 200 hingga 500ribuan. Tapi, berhubung gue tahu membeli sesuatu secara impulsif akan bermuara ke rasa menyesal, maka gue tahan dulu keinginan gue untuk membeli tas ini.

    Dan benar aja, dong. Ternyata, sepupu gue memberikan tas ini sebagai hadiah ulang tahun gue November lalu. Sejak punya Arreta Backpack, gue selalu menggunakan tas ini ke kantor. Gue nggak pernah gonta-ganti tas lagi semenjak itu. Soalnya, gue sendiri lebih suka menggunakan backpack karena lebih praktis dan nyaman.



    Apalagi, tas ini luar biasa durable. Diajak desek-desekan dan ketarik sana-sini pas naik kereta selama 8 bulan aja masih awet, lho. Gue bahkan nggak melihat tanda-tanda talinya mau putus. Luar biasa, nggak? Gue jadi ingin membeli model tas MILORS lainnya mengingat tas ini gokil banget ketahanannya.

    Oh, ya... walaupun tas ini dari kanvas, tapi di bagian dalam tas diberikan lapisan lagi. Jadi, kalau tiba-tiba hujan turun saat kamu nggak bawa payung, tas ini masih mampu menahan air hujan sehingga nggak langsung merembes ke dalam tas. Tapi kalau diguyur air terus-terusan, tentu aja ujung-ujungnya rembes ke bagian dalam tas juga, lho, ya.

    Setahu gue, tas ini juga memiliki produk lain yang terbuat dari bahan kulit asli. Tapi sepertinya tas kulit mereka nggak dijual di semua store. Berhubung terbuat dari kulit asli, asumsi gue harganya akan jauh lebih mahal dibanding tas kanvasnya. Tapi, kalau kualitasnya oke punya, maka worth the price, kan?

    GORA

    Gue itu suka banget sama hal-hal klasik dan vintage. Makanya, gue seringkali terpikat dengan tas (juga sepatu) dari kulit asli. Sebenarnya, sekarang ada banyak brand lokal yang menghadirkan tas kulit asli. Sayangnya tidak semuanya cocok dengan keinginan gue, baik dari segi model maupun kualitas.

    Tapi, ada satu brand lokal asal Bali yang memroduksi tas kulit asli dengan desain dan kualitas yang top, serta mampu memenuhi ekspektasi gue. Namanya GORA. Brand tas lokal ini memang belum seterkenal brand tas lokal lainnya. Tapi, percaya, deh... untuk urusan kualitas, mereka nggak main-main.

    Tas kulit sapi dari GORA ini juga unik banget. Bagian dalam tas diberikan lapisan kain Endek. Bagi yang belum tahu, Endek merupakan kain tradisional Bali. Jadi, saat melihat tas GORA, kesan pertama gue adalah tas ini Indonesia sekali. Apalagi, nama setiap model tas GORA diambil dari bahasa Sansekerta. Sehingga, aura klasiknya makin terasa.


    Berhubung GORA menggunakan kulit sapi asli berkualitas tinggi, maka harga tas mereka pun terbilang cukup tinggi, yaitu sekitar 700ribu hingga dua jutaan rupiah. Tapi, untuk tas kulit asli berkualitas tinggi yang bisa awet hingga belasan tahun (bahkan puluhan tahun!), maka harga tersebut terbilang sangat wajar, kan?

    Nah, selain tiga brand lokal di atas, gue sebelumnya sempat mengadakan quick survey seputar brand tas lokal favorit di akun Instagram gue. Dari hasil survei tersebut, ini dia beberapa brand lokal lain yang direkomendasikan teman-teman gue:

    - Kalani
    Brand lokal yang satu ini menjual berbagai model tas wanita dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu sekitar 100ribuan saja. Gue sempat ngintip akun Instagramnya. Model tas yang dihadirkan Kalani lucu-lucu sekali, cocok digunakan buat jalan-jalan atau pergi ngumpul bareng teman.

    - Chic and Darling
    Kalau brand lokal ini tak hanya menghadirkan tas saja, tetapi juga laptop case dan pouch. Kebanyakan model tas dari brand ini menggunakan material kanvas. Walaupun bentuk asli tasnya sederhana, tapi brand ini membuat tampilan tas menjadi lebih unik dan modern dengan menambahkan motif kekinian atau tulisan tertentu pada koleksi tasnya.

    Untuk masalah harga, Chic and Darling menjual produknya mulai dari Rp95.000 hingga Rp315.000.

    - Visval
    Brand tas lokal yang satu ini memroduksi koleksi tas berdesain kasual yang cocok digunakan untuk traveling atau sekadar kongkow bareng teman-teman. Model tas yang mereka hadirkan pun cukup banyak, mulai dari tote bag, backpack, waist bag, sling bag, dan masih banyak lagi. Harga tasnya sendiri berkisar dari Rp89.000 hingga Rp349.000. Cukup terjangkau, kan?

    Kalau dipikir-pikir, pertumbuhan brand lokal Indonesia sekarang berkembang pesat aja, ya. Dengan banyaknya brand lokal dan kesadaran masyarakat Indonesia untuk membeli produk lokal, gue berharap perekonomian di Indonesia akan meningkat ke arah yang lebih baik.

    Balik lagi ngomongin tas, kamu sendiri punya nggak brand tas lokal favorit? Kalau ada, rekomendasikan brand lokal favoritmu di kolom komentar, yuk!


    xx,


    Continue Reading
    This is gonna be my very first review about makeup. Sejujurnya, dulu gue nggak pernah berpikir kalau gue akan tertarik dengan dunia permekapan. Secara gue males ribet, ya, anaknya. Ternyata, memang usia mengubah mindset. Haha.

    Tiga tahun terakhir ini, gue mulai tertarik buat melengkapi peralatan mekap. Seperti cewek-cewek saat ini, lipstick adalah alat mekap yang paling banyak gue beli. Gue sendiri sebenarnya lebih suka pakai lipstik dibanding lip cream. Menurut gue, lipstick lebih mudah diaplikasiin aja, gitu.

    Sayangnya, gue clumsy banget. Jadi, lipstik gue selalu, SELALU, bocel. Biasanya, sih, karena gue lupa puterin masuk lipstiknya saat nutup. Itulah kenapa lipstik gue nggak pernah mulus. Hvft.

    Oke, sekian intermezzo-nya. Mari kembali ke topik utama, yaitu review CHUNKY! Lip & Cheek Crayon dari brand makeup lokal Rollover Reaction. Baru-baru ini gue membeli lipstik tersebut di Sociolla. Alasannya? Iseng aja karena gue dapet voucher Rp50.000,- buat pembelian minimal Rp100.000. 

    Harga asli lipstik ini adalah Rp125.000,- dan saat ini di Sociolla sedang ada diskon 10%, sehingga harganya jadi Rp112.500,-. Berhubung gue pakai voucher Rp50.000, maka kemarin gue hanya membayar Rp62.500,- ditambah ongkir. Lumayan banget, kan? Akhirnya setelah menimbang-nimbang dan membaca ulasannya di berbagai sumber, gue pun membeli lip crayon ini.

    Sesuai namanya, yaitu chunky, bentuk lipstik ini memang tebal, nggak seperti lipstik lainnya yang bentuknya lebih kecil dan ramping. Ujung lipstiknya pun nggak mengecil, tapi bulat. Awalnya gue sempat mikir kalau lipstik ini akan susah dipakai, terutama di ujung bibir. Tapi, setelah dicoba ternyata mudah-mudah aja, tuh. Apalagi gue juga bukan tipe yang suka pakai lipstik terlalu rapih.


    Salah satu hal yang gue suka dari lip crayon ini adalah kemasannya yang simple dan mewah. Warna kemasannya hitam dengan finishing matte, tapi bagian ujungnya diberikan sentuhan glossy. Lalu, di bagian tengahnya terdapat logo Rollover Reaction. Kece bangetlah desain kemasannya.

    Lip crayon ini hadir dengan lima pilihan warna, yaitu Pablo, Kahlo, Rothko, Maccio, dan Carlo. Nama shade ini diambil dari nama tokoh terkenal dunia. Gue sendiri kemarin cuma beli satu warna, yaitu Kahlo. Shade ini memiliki warna merah kecokelatan, semacam merah bata gitu tapi tetap wearable banget untuk dipakai sehari-hari. Warnanya sendiri agak mengingatkan gue dengan lipstik Purbasari shade 86.


    Menurut info yang gue baca, hasil akhir lip crayon ini adalah satin. Ini adalah alasan utama gue membeli lip crayon ini. 

    Jadi, semua lipstik yang gue punya saat ini hasil akhirnya adalah matte. Berhubung bibir gue ini kering, gue selalu menggunakan lipbalm dulu sebelum menggunakan lipstik matte. Biasanya, sih, bibir gue jadi nggak terlalu kering dengan bantuan lipbalm. 

    Tapi, akhir-akhir ini, bibir gue kering parah sampai mengelupas saat menggunakan lipstik matte. Nggak enak banget, deh, dilihatnya. Itulah kenapa gue akhirnya memutuskan untuk membeli lip crayon dengan hasil akhir satin dari Rollover Reaction ini.

    Setelah gue coba pakai seharian, gue suka banget sama lip crayon ini. Lipstik ini bener-bener nggak bikin bibir gue kering meski gue reapply tiga hingga empat kali tanpa menghapus sisa lipstik terlebih dahulu. Padahal, kalau pakai lipstik matte, bibir gue pasti langsung gradakan dan keliatan banget garis-garis bibirnya. Tapi, lipstik ini bikin bibir lo keliatan sehat. Me love!

    Memang, pigmentasi lipstik ini bisa dibilang agak sheer. Jadi, dalam satu kali ulas, lipstik ini nggak akan mampu menutupi warna asli bibir, apalagi kalau bibir kalian sedikit gelap seperti gue. Tapi, pigmentasinya bisa dibangun secara bertahap.

    Selain itu, lip crayon ini juga transfer banget dan mudah hilang meski tetap meninggalkan stain di bibir. Kalau kalian tipe yang malas reapply, mungkin akan mikir dua kali buat beli lipstik ini. Nah, karena saat di-reapply lipstik ini nggak bikin bibir keliatan retak, gue pun nggak menjadikan hal ini masalah besar. 


    Karena namanya lip & cheek crayon, maka sudah pasti lipstik ini multifungsi. Bahkan, lipstik ini nggak cuma bisa diaplikasikan di bibir dan pipi, tapi juga bisa digunakan di mata sebagai eyeshadow. 

    Gue sempat mencoba lipstik ini sebagai blush on. Berhubung warnanya sheer, maka saat dijadikan blush on, lip crayon ini nggak langsung cetar mentereng di pipi. Tapi, warnanya masih samar-samar dan bisa ditebalkan sesuai keinginan. Secara gue nggak suka pakai blush on tebel-tebel, ini jadi poin positif lagi buat gue.

    Selain itu, lip crayon ini juga mudah dibaurkan di pipi. Tinggal dot lipstik di pipi, lalu baurkan. Atau, kamu juga bisa oleskan lipstik di jari terlebih dahulu, baru kemudian dibaurkan di pipi. Cara mana pun kayaknya sama aja. 


    Saking sukanya sama lip crayon ini, makanya gue memutuskan untuk menulis ulasannya. Biar semua orang tahu, haha. Habis ini, sepertinya gue ingin mengoleksi warna lainnya, terutama shade Maccio dan Carlo.

    Cheers,



    Continue Reading
    Seberapa sering kamu mengucapkan terima kasih ke orang-orang di sekitarmu?

    source


    Sewaktu di SMA, gue dan teman-teman ikutan mentoring agama Islam setiap Hari Jumat, sepulang sekolah. Isi mentoringnya tentu aja tentang penanaman nilai-nilai Islam dari berbagai sisi. Tapi jangan pikir sesi mentoring ini terlalu serius dan kaku ya, karena Kak Yuni -mentor gue- orangnya fun dan anak muda banget. Selain mentoring, ujung-ujungnya kita curhat-curhatan galau abege juga. :p

    Dari sekian banyak bahasan, ada satu yang membekas dan gue ingat hingga sekarang, yaitu pentingnya mengucapkan terima kasih.

    Gue inget banget saat itu, Kak Yuni nanya ke kita, "kalian pernah nggak sih bilang terima kasih ke supir angkot?". Pertanyaan ini pun bikin kita bingung. Kenapa harus terima kasih? Kan kita udah bayar.

    Tapi kemudian Kak Yuni bilang lagi, "Walau kalian bayar, bayangin deh kalo nggak ada supir angkot yang cape-cape anterin kalian sampai sekolah..."

    Bukannya mau pamer, tapi dari situ emang gue mulai berusaha untuk menghargai bantuan orang-orang di sekitar gue. Termasuk saat gue sudah membayar jasa mereka. Sadar nggak, sih? Selama ini beberapa dari kita mungkin sangat pelit bilang makasih ke orang-orang yang sebenernya sangat membantu kita setiap hari.

    Bayangin kalau nggak ada ojek payung saat hujan. Pasti kamu udah masuk angin saat kehujanan.

    Bayangin kalau nggak ada mbak-mbak waitress di restoran. Pasti kamu akan repot ambil menu, makan, dan minta bill ke kasir sendiri.

    Bayangin kalau nggak ada orang yang mau jadi karyawan di kantor yang kamu bangun. Siapa yang mau membantu membesarkannya?

    Bayangin kalau nggak ada office boy. Pasti kamu risih banget ngeliat sekitar kamu kotor dan berantakan.

    Tapi lagi-lagi... "Ngapain sih bilang makasih? Kan gue udah beli jasa mereka. Gue nggak harus bilang makasih, dong?"

    Emang nggak.

    Tapi, yuk, kita ngayal menjadi mereka.

    Menjadi seorang ojek payung yang kamu beli jasanya biar kamu nggak basah dan sakit keesokan harinya. Eh, siapa tau justru dia yang lagi sakit saat basah-basahan demi kamu?

    Menjadi waiter di restoran yang kamu beli jasanya untuk menghidangkan makanan favoritmu sambil tersenyum ramah. Mungkin aja di balik senyum ramahnya sebenernya dia saat itu lagi punya masalah di rumah.

    Menjadi karyawan yang kamu gaji dan kamu berikan target setinggi langit, demi membesarkan perusahaanmu. 

    Atau menjadi office boy yang nggak pernah mengeluh sekalipun lantai yang baru dia bersihkan kamu injak-injak lagi. 

    Iya, kamu sudah dibayar. Tapi, ada kalanya ucapan terima kasih dari orang sekitar akan memberikan tenaga ekstra buat kamu, kan? Ucapan terima kasih yang seringkali dianggap sepele itu ternyata bisa lho bikin rasa cape seseorang berkurang, bahkan bisa bikin orang lain happy juga.

    You think your money can buy anything? No, it can't. Maybe you can buy their services, but you can't buy their respect. Your attitude can.

    Jadi, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca postingan ini, ya, Temans. :D


    Continue Reading
    Dulu, gue sering mendengar beberapa teman gue berkata, “Aturan itu dibuat untuk dilanggar”. Pada zaman SMA dan kuliah, sih, gue menyetujui perkataan itu. Jadi anak rebel alias pembangkang = tingkat kekerenan meningkat 100%.

    Di awal-awal bekerja, gue pernah seenaknya mengendarai motor di jalur Transjakarta. Saat itu, gue berpikir nyerobot jalur busway ya sah-sah saja. Salah sendiri Jakarta macet! Bahkan, gue dengan tak berdosanya menyarankan seorang rekan kerja yang sedang mengeluhkan kemacetan jalur Mampang – Kuningan untuk melewati jalur busway.

    Tapi, teman kerja gue itu sukses membungkam mulut gue dan menampar nurani gue secara tidak langsung dengan menjawab, “Gue kok berasa koruptor, ya, kalau lewat jalur busway?”

    Jleb!

    Selama ini kita maki-maki para wakil rakyat yang korupsi. Tapi, sadarkah bahwa sebenarnya kita pun adalah seorang koruptor? Meski skalanya kecil, tapi kita tetap aja merugikan negara.

    Nyerobot jalur busway itu adalah salah satu peraturan kecil yang seringkali kita bodo amatin. Yang penting gue nyaman, kepentingan orang lain itu bisalah gue abaikan. Oh, please. Ku sudah lelah dengan mindset seperti ini. Nggak hanya perkara kendaraan pribadi melewati jalur busway, gue seringkali memerhatikan beberapa aturan kecil lainnya yang kerap dilanggar, misalnya:

    • Nyelak Antrean

    source
    Beberapa tahun terakhir ini memang budaya antre sudah mulai diterapkan di Indonesia. Tentu saja ini kemajuan. Meskipun masih banyak orang yang nggak peduli dengan aturan ini dan seenaknya aja nyelak antrean.

    Kalau elo menganggap bahwa hanya mereka yang nggak sekolah tinggi yang melanggar peraturan, maka elo salah besar. Nyelak antrean ini nyatanya nggak hanya dilakukan oleh mereka yang dianggap "kurang terpelajar", alias tidak mengenyam pendidikan tinggi, kok.

    Di suatu pagi, di Stasiun Sudirman, gue pernah menepuk bahu dan menegur seorang wanita yang nyelak antrean. Padahal, dia bekerja di daerah Sudirman yang merupakan pusat perkantoran di Jakarta. Pendidikan wanita tadi? Bisa dianggap tinggi, setidaknya S1. Pakaian? Rapi, lengkap dengan makeup yang cantik. Kelakuan? Hmm.... 

    Gue nggak akan ragu untuk menegur orang yang menyelak antrean (tentu saja kalau sudah lanjut usia atau ibu hamil akan diprioritaskan, ya). Bahkan, gue pernah beberapa kali dipelototin karena menegur oknum-oknum ini. Tentu saja, gue nggak mau kalah pasang muka judes, dong. Hahaha.

    • Mengendarai Motor di Trotoar

    source
    Sesungguhnya, trotoar itu adalah tempat untuk pejalan kaki, bukan untuk pengendara motor apalagi untuk jualan. Kalau kalian ngendarain motor di trotoar, bagaimana nasib kami pejalan kaki? Kami harus terbang naik awan kinton, gitu?

    Parahnya lagi, para pengendara motor nakal yang berkendara di trotoar ini justru seringkali ngelaksonin pejalan kaki yang berjalan di depan motor mereka. *tepok jidat *jidatnyamerekatapi

    Sebagai seorang warga negara yang sedang mencoba baik, tentu saja gue akan memperlambat jalan gue sampai mereka kesal. Tidak lupa, gue pun akan berjalan di tengah trotoar biar mereka nggak bisa jalan. Kalau mood gue sedang jelek, biasanya gue akan marahin mereka.

    Beberapa teman cewek gue juga pernah melakukan hal ini. Reaksi yang mereka dapat pun sama. Kalau nggak dicuekin, diledekin, ya digodain. Bagian terakhir paling nggak banget, sih. Melanggar lalu lintas sembari catcalling? Duh, nggak banget.

    • Buang Sampah Sembarangan

    source
    Menurut gue, terlepas ada atau tidak adanya tempat sampah di dekat kita, buang sampah sembarangan itu, ya, nggak boleh dong. Ingat, kebersihan adalah sebagian dari iman. Ingat juga bahwa Jakarta ini sudah langganan banjir. Pasti masih pada ingat, dong, saat sebagian daerah Jakarta lumpuh akibat banjir tahunan beberapa tahun lalu? Iya, yang wilayah HI jadi 'kolam renang' raksasa itu.

    Herannya, masih banyak, lho, orang yang buang sampah seenaknya aja. Seriusan masih banyak!

    Contohnya, lagi-lagi di sekitar stasiun gue pernah menyaksikan seorang ibu (yang membawa anak berumur 10 atau 11 tahunan) membuang sampah botol minum di trotoar. Lebih tepatnya, di depan gue.

    Nggak pakai ba-bi-bu, gue pun langsung nyolek punggung Si Ibu. Kira-kira begini kejadiannya:

    Gue: "Bu, botolnya jatuh."
    Si Ibu: "Iya, biarin. Emang sengaja dibuang."
    Gue: *nggak mau kalah* "Oh, di situ ada tempat sampah, kok, Bu." *nunjuk tempat sampah yang jaraknya cuma satu meter dari Si Ibu*
    Si Ibu: "Biarin aja. Entar juga ada yang mungut."

    Lalu botolnya ditendang anak Si Ibu ke selokan. WHAT THE...?

    Miris nggak, sih? Masalahnya, Si Ibu nggak hanya membuang sampah sembarangan, tetapi juga mengajarkan anaknya yang masih kecil untuk buang sampah sembarangan.

    • Duduk di Kursi Prioritas

    source
    Sesuai namanya, deretan kursi yang biasanya terletak di ujung ini diprioritaskan untuk penumpang dengan kondisi tertentu: hamil, lanjut usia, penyandang cacat, dan membawa anak kecil.

    Jadi, penumpang di luar kategori ini tentu harus mencari kursi kosong lain, jika ada. Kalau nggak ada, ya, gunakan tenaga kalian untuk berdiri sembari menikmati perjalanan yang seringkali sulit untuk dinikmati. Haha.

    Sebenarnya, menurut gue nggak ada yang salah duduk di kursi prioritas, baik di kereta atau transjakarta, KALAU kondisi angkutan sedang kosong. Ingat, ya, kalau kondisi angkutan lagi kosong. Kalau penuh, ya, kamu tahu diri, dong!

    Pada kenyataannya, masih ada oknum yang pura-pura tidur dan duduk di kursi prioritas saat kondisi kereta penuh. Ya, kalau nggak ada penumpang prioritas, sih, nggak apa-apa. Parahnya, ada juga oknum yang pura-pura tidur dan nggak mau ngalah saat diminta berdiri karena ada penumpang prioritas.

    Dalam pengamatan gue, penumpang prioritas yang paling "nggak dianggap" adalah bapak-bapak tua. Jadi, sepertinya banyak juga yang menganggap asalkan laki-laki, walau tua pasti masih kuat berdiri. Gue pun sedih liatnya karena inget bapak sendiri.

    Kalau yang duduk di kursi prioritas masih muda, sehat, dan tidak hamil atau membawa anak kecil, maka gue akan nyolek dan minta dia gantian dengan penumpang lanjut usia tersebut. Tapi, kalau yang duduk ibu-ibu berusia 40 tahunan (di luar kategori prioritas), jujur aja gue nggak berani negur. Takut diamuk gue!

    • Naik Angkutan Umum Tanpa Mendahulukan yang Turun

    source
    Penumpang kereta dan busway mana suaranyaaa? Kita pasti sudah sama-sama tahu kalau pemandangan penumpang yang langsung nyerbu masuk ke busway/ kereta sebelum penumpang lain turun itu udah pemandangan biasa banget. Makanya, setiap halte atau stasiun seringkali dibumbui dengan omelan dan teriakan, apalagi saat jam-jam sibuk.

    Kalau busway, sih, sepertinya sekarang sudah lebih teratur, ya? Tapi, kalau kereta atau commuter line, sepertinya hal ini masih jadi PR besar buat kita semua. 

    Umumnya, pintu keluar busway hanya satu (bisa lebih kalau busway gandeng) dan pasti dijagain sama petugas. Apalagi, waktu berhenti bus juga bisa disesuaikan sampai semua penumpang sudah turun atau naik. Jadi, proses naik-turun penumpangnya pun lebih teratur. Walau kadang masih ada oknum-oknum nggak sabaran. Tapi, biasanya langsung kena tegur petugas.

    Berbeda dengan kereta yang menjadikan semua pintunya sebagai akses naik-turun penumpang. Ditambah lagi, tidak semua pintu dijaga oleh petugas. 

    Waktu singgah kereta juga tidak bisa terlalu lama karena berkejaran dengan jadwal yang sudah ada. Jadilah semua penumpang buru-buru mau naik dan turun. Di sejumlah stasiun besar, seperti Manggarai, jumlah penumpang yang ingin naik kereta tujuan Tanah Abang atau Bekasi biasanya sangat banyak. Bahkan, lebih banyak dari jumlah penumpang yang ingin turun. 

    Di sinilah kericuhan terjadi.

    Karena waktu singgah sebentar, penumpang yang mau naik ini akan langsung menyerbu masuk ke dalam kereta. Kadang, penumpang yang mau turun terbawa masuk ke dalam kereta dan tidak sempat turun di stasiun tujuan.

    Petugas hanya bisa teriak "yang turun dulu, yang turun dulu" dan teriak tersebut jujurnya nggak memberikan efek apapun. Kondisi ini kayak udah carut marut banget dan sulit dibenahi. Mungkin bisa kalau ada banyak petugas yang berjaga di peron stasiun untuk menertibkan para penumpang nggak sabaran ini. Mungkin bisa kalau penumpang mulai sadar diri.


    Lima aturan di atas sepele banget, kan? Kita nggak butuh banyak usaha untuk menaatinya, tapi sering kali dibodoamatin orang-orang. Padahal, kalau kita lebih tertib, pasti hidup jadi lebih nyaman, deh. Ini kata-kata klise banget tapi memang benar begitu adanya. 

    Selain lima aturan di atas, kira-kira apalagi, sih, aturan yang sebenarnya sepele tapi sering banget dilanggar? Komen, dong, kalau kalian tahu! :D












    Continue Reading
    Dua bulan terakhir ini, gue berada pada fase "buka Blogspot, ngetik sebentar, lalu tutup lagi". Dengan kata lain, gue sedang stuck. Nggak cuma dalam menulis aja, gue merasa hidup gue pun sedang stuck, alias jalan di tempat, alias di situ-situ aja.


    Wajar aja, sih, hidup gue jalan di tempat, semangat gue aja lagi nyemplung ke sumur. Gue benar-benar tidak bergairah buat melakukan apapun! Gue nggak semangat ke kantor, nggak semangat ngerjain side job, nggak semangat bermusik, nggak semangat ngumpul sama temen-temen, bahkan gue sampai skip rutinitas pakai skin care setiap malam. Iya, separah itu level loyo gue.

    Sebenarnya, gue tahu apa biang kerok dari semua ini. Hanya, masalahnya tidak semudah itu diselesaikan. Sepertinya memang gue harus bersabar, walau setiap hari kadar pesimis gue semakin meningkat. Kadang ku ingin lari ke hutan, belok ke pantai aja kayak Rangga.

    Intinya, keputusan terbesar yang gue ambil tahun ini ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang gue harapkan. Sejujurnya, walaupun gue terperangkap dalam situasi yang tidak mengenakkan, gue tidak menyesali keputusan gue sekali pun. Gue hanya menyayangkan bahwa prediksi gue salah. Lagi-lagi, manusia boleh berencana, tapi hasilnya tetap di tangan Allah. Betul, nggak?

    Jadi, yang gue bisa lakukan sekarang hanya berusaha memecut diri sendiri, dan bangkit. Walaupun, gue merasa kosong sekali. Gue benar-benar merasa kosong sampai dalam tahap gue ngerasa kesepian. Yang mana, itu bukan gue banget! Biasanya, segalau apapun, gue selalu merasa utuh. Selalu merasa lengkap. Tapi, kali ini gue merasa tercabik-cabik (halah!). Ada bagian dari diri gue yang sedang hilang dan sedang gue cari saat ini.

    Beneran, deh. Gue merindukan rasa berdebar-debar saat melakukan sesuatu. Gue ingin kembali merasa excited dan bersemangat. Gue ingin nggak bisa tidur karena banyak ide-ide gila di kepala yang menanti buat dikeluarkan.

    Dari awal gue memang merasa tidak nyaman. Teman-teman gue (termasuk gue) merasa mungkin ini adalah tahap adaptasi. You know, sesuatu yang baru memang seringkali terasa tidak nyaman pada awalnya. Masa transisi memang kadang tidak menyenangkan. Gue berusaha sekali untuk mengurangi mengeluh. Gue sendiri bete ada orang yang ngeluh ke gue, makanya gue berusaha untuk nggak jadi orang nyebelin karena ngeluh melulu. Haha.

    Gue berusaha menanamkan pemikiran "love what you do" ke dalam diri gue. Gue berusaha menikmati setiap detik di awal. Berusaha menggali hal-hal positif yang gue dapat dari semua ini.

    Eh, tapi hati memang nggak bisa bohong. Semakin gue berusaha menyukai hal tersebut, semakin gue merasa kosong. Semakin gue berusaha bertahan, semakin gue merasa ingin kabur dan nyerah. Kadang, gue sampai ngitung berapa biaya tiket buat kabur ke Afrika. Haha bercanda, deng. Asli, gue berlebihan banget nggak, sih? Gue sampai mikir, apa iya gue seidealis itu? Apa benar gue se-tidak-fleksibel itu?

    Beneran, deh, postingan ini bukan gue tulis sebagai sarana mengeluh atau meratapi hidup gue yang lagi begini banget. Serius. Menurut gue, menulis itu bisa menjadi obat terbaik. Terkadang, habis menulis gue bisa merasa jauh, jauuuuh, lebih baik. Makanya gue menulis. Sembari mengingat-ingat lagu Sementara dari Float yang liriknya sungguh aduhai dan seringkali menguatkan.

    Sementara... teduhlah hatiku.
    Tidak lagi jauh, belum saatnya kau jatuh.
    Sementara... ingat lagi mimpi.
    Juga janj-janji. Jangan kau ingkari lagi.

    Percayalah hati, lebih dari ini pernah kita lalui.
    Jangan henti di sini.

    Sementara... lupakanlah rindu.
    Sadarlah hatiku, hanya ada kau dan aku.
    Dan sementara... akan kukarang cerita.
    Tentang mimpi jadi nyata. Untuk asa kita berdua.

    Percayalah hati, lebih dari ini pernah kita lalui.
    Tak kan lagi kita mesti jauh melangkah.
    Nikmatilah lara...

    ...untuk sementara saja.

    Jadi, ya... gue yakin ini hanya sementara karena memang hidup itu seperti roller coaster. Mungkin saat ini gue sedang ada di dalam fase "flat" yang bikin gue tidak bersemangat sama sekali. Tapi, gue yakin di depan sana akan ada bagian menyenangkan yang menanti gue.

    Tentu aja sembari menanti hal yang menyenangkan itu tiba, gue harus menjalani hidup sebaik mungkin, kan, biar nggak menyesal? :)




    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top