Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Selama ini, sepertinya gue sering mengulang kata "kenapa". Kenapa gue begini? Kenapa mereka begitu ke gue? Kenapa gue nggak bisa begitu? Kenapa semuanya jadi begini? Intinya, kata "kenapa" ini menjurus pada satu hal: mengeluh.

    Gue adalah orang yang suka mengeluh dan cenderung mudah teriritasi, bahkan dengan hal kecil sekali pun. Tapi alhamdulillah semakin bertambah umur, gue semakin legowo dan berusaha menanggapi apa yang terjadi dengan lebih sabar dan bijak.

    Kalau dulu sebel sedikit gue post di media social, sekarang masih bisa tahan untuk nggak meledak-ledak. Bahkan, kalau sedang mengalami hal nggak enak, gue sudah mulai bisa mengubahnya jadi bahan becandaan. Atau, kalau sedang waras, gue bisa melihat sisi positif dari hal nggak menyenangkan tersebut.

    Gue rasa, hal ini terjadi karena beberapa tahun terakhir gue berada dalam lingkungan yang sangat positif. Suatu hari, gue pernah mengeluh di kantor karena cuma bawa bekal nugget. Keluhan tersebut kemudian ditanggapi seorang teman gue dengan berkata, "Alhamdulillah masih bisa makan."

    Rasanya kayak ketampar, nggak?

    Ucapan-ucapan penuh syukur itu sering banget gue denger di kantor lama gue. Misalnya saat kita lagi sebel banget sama kerjaan, pasti ada aja yang nyeletuk, "Kerjaan gue banyak banget. Tapi bersyukur, ya, masih bisa kerja. Nyari kerja susah, Cuy!"

    Begitu pun kalau kenaikan gaji ternyata nggak sesuai harapan, pasti ada aja yang ngingetin buat nggak lupa bersyukur. Ditempa dengan lingkungan yang positif selama beberapa tahun begini, maka wajar nggak, sih, kalau perlahan kepribadian gue berubah sedikit demi sedikit?

    Kalau diturutin, hidup itu memang nggak ada puasnya. Hari ini kita bisa memetik dua apel, besok pasti kita berharap bisa memetik tiga apel. Tidak apa-apa. Menurut gue itu wajar. Hidup memang butuh target, kok. Harapan itu adalah salah satu esensi hidup.

    Tapi, jangan sampai mengejar target membuat kita lupa untuk menikmati hidup. Jangan sampai kejadian nggak enak membuat kita terus menerus merasa sebagai korban. Toh, hidup itu isinya bukan sekadar hal-hal yang menyenangkan aja.

    Yang penting, jangan lupa untuk menyukuri hal-hal manis yang terjadi dalam hidup. Seperti kata pribahasa "karena nila setitik, rusak susu sebelanga." Kadang, karena satu kejadian yang nggak enak menimpa kita, tanpa disadari kita ngerasa kalau hidup ini kejam banget.

    Iya, nggak, sih? Apa gue doang yang ngerasa gitu? Haha.

    Inti dari tulisan ngalor ngidul gue di atas adalah... gue sedang berusaha untuk rajin bersyukur. Sok bijak banget, nggak? Tapi memang bersyukur bikin hidup gue lebih tenang, sih. Gue jadi nggak terlalu memusatkan pikiran gue dengan apa yang orang lain punya, tapi apa yang gue miliki hingga saat ini.

    source: pinterest

    Semoga aja kita semua selalu inget untuk bersyukur sekeras apapun hidup menempa kita. Yuk, bilang "amiiin". :D


    Continue Reading

    Pagi itu adalah hari Sabtu, namun gue sudah terbangun sejak pukul tujuh. Kalau bukan karena sedang liburan, tentu saja gue pasti masih tidur pulas. Gue memang bukan seseorang yang mudah bangun pagi. Tapi, selalu ada pengecualian dalam hidup ini, bukan? Buat gue, liburan adalah momen di mana gue bisa bangun pagi dengan mudah, tanpa paksaan. Apalagi, suasana Bali pagi itu lagi cerah-cerahnya sehingga membuat gue makin semangat.

    Rencana gue dan Daru hari itu adalah mengikuti kelas membuat perhiasan perak di Ubud. Sebelumnya, kami sudah mencari informasi lokakarya terlebih dahulu melalui AirBnB. Gue sendiri baru tahu kalau kita nggak hanya bisa memesan penginapan di AirBnB. Situs ini ternyata juga menyediakan banyak pilihan kegiatan yang bisa kita ikuti di setiap destinasi wisata.

    Kelas membuat perhiasan perak ini sebenarnya dimulai pukul 14.30, tapi kami sudah berangkat ke Ubud sejak pukul 09.30. Sebelum mengikuti lokakarya, kami mampir dulu ke Kebun Bistro. Kalau kalian lagi mampir ke Ubud, gue sarankan mampir ke sini sebentar untuk menikmati secangkir kopi dan croissant mereka. Nggak cuma makanannya yang enak, suasana cafe ini pun nyaman dan instagenic.


    Selesai menikmati brunch, gue dan Daru pun beranjak menuju W.S. Art Studio, tempat lokakarya pembuatan perhiasan perak diadakan. Memasuki area studio, gue dan Daru disambut dengan hamparan sawah dan sebuah penginapan dengan desain ala Bali.

    Lalu, setelah menginfokan kelas yang akan kami ikuti, kami pun diantarkan oleh staff studio ke ruangan semi terbuka di bagian belakang. Ruangan ini langsung menghadap ke hamparan sawah dan penginapan. Suasananya asri dan sejuk banget. Bikin betah.



    Di ruang tersebut ada empat hingga lima meja besar dengan sejumlah kursi. Tak ketinggalan, ada juga berbagai peralatan untuk membuat perhiasan perak, serta peralatan untuk kelas memahat dan membatik. Yes, studio ini nggak hanya membuka kelas membuat perhiasan perak saja. Kita juga bisa mengikuti kelas memahat, melukis, membuat layang-layang, dan masih banyak lagi.



    Meskipun kami datang sebelum pukul 14.30, namun gue dan Daru sudah diperbolehkan untuk memulai kelas. Nah, yang membimbing dan mengajari kami membuat perhiasan perak adalah Bu Ayu. Sebelum memulai kelas, Bu Ayu menginfokan biaya lokakarya yang gue dan Daru ikuti, yaitu Rp380.000. Info biaya ini sebenarnya sudah tertera di AirBnB.

    Bu Ayu juga menjelaskan bahwa dengan biaya tersebut, gue dan Daru bisa mengikuti kelas selama empat jam dan mendapatkan lima gram perak untuk membuat perhiasan. Jika ternyata jumlah perak yang kami gunakan lebih dari lima gram, maka kami harus membayar Rp15.000,- untuk tiap gram kelebihannya.

    Oh iya, perak yang digunakan di lokakarya ini memiliki kadar 92,5%, sementara 7,5% lainnya merupakan campuran tembaga. Kadar ini memang umum digunakan untuk membuat perhiasan perak. Nama populer perak dengan kadar 92,5% adalah sterling silver.

    Setelah memberikan penjelasan singkat, kelas pun dimulai. Seperti apa, sih, proses pembuatan perhiasan perak?

    Pertama, menentukan desain perhiasan. Jadi, awalnya kami diminta untuk membuat sketsa desain perhiasan yang akan dibuat. Bu Ayu pun memberikan kami selembar kertas dan sebuah pensil. Karena sebelumnya gue sudah mencari tahu desain perhisan yang ingin gue buat, maka gue tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan sketsa, begitu juga dengan Daru.


    Kedua, menggambar ulang desain di lempengan perak. Selesai menggambar sketsa perhiasan di kertas, Bu Ayu pun memberikan gue sebuah lempengan perak kecil untuk menggambar kembali sketsa perhiasan. Saat itu, gue ingin membuat cincin gajah. Jadi, gue menggambar kepala dan badan gajah secara terpisah di lempengan perak, sesuai arahan Bu Ayu.


    Ketiga, menggunting lempengan perak sesuai desain. Setelah selesai menggambar, maka langkah selanjutnya adalah menggunting gambar tersebut. Untuk menggunting lempengan perak, kita membutuhkan sebuah gunting khusus.

    Meskipun menggunakan alat khusus, namun jangan pikir mengguntingnya mudah. Ternyata menggunting lempengan perak itu sulit karena lempengan tersebut lumayan keras. Jadi, kita harus memberikan tenaga lebih untuk mengguntingnya. Proses menggunting tersebut juga makin sulit karena ukuran gajah yang gue buat cukup kecil.


    Keempat, menghaluskan sisi lempengan perak. Jika sudah selesai menggunting, otomatis bagian pinggir lempengan akan bergerigi dan cenderung tajam. Nah, itulah sebabnya sisi lempengan harus dihaluskan dengan alat kikir agar lebih mulus.


    Kelima, menggabungkan beberapa lempengan jadi satu. Karena desain gajah untuk cincin gue terdiri dari dua bagian, yaitu kepala dan badan, maka dua lempengan tersebut harus direkatkan terlebih dahulu. Caranya adalah dengan menggunakan bahan perekat bernama bora, lalu dibakar. Untuk proses perekatan ini, Bu Ayu langsung yang mengerjakannya.


    Keenam, membuat band cincin. Sebelum membuat ring band, gue memberi tahu Bu Ayu kalau gue ingin model ring band berulir. Jadi, Bu Ayu pun memberikan gue dua kawat perak untuk dililit. Proses melilit dua kawat ini harus dilakukan dengan hati-hati agar bentuk ulirannya tetap rapih. Agar proses melilit ini lebih mudah, Bu Ayu menyarankan untuk menggunakan alat bantu berupa tang khusus perhiasan.

    Setelah dua kawat tersebut dililit, Bu Ayu pun menyesuaikan panjangnya dengan ukuran jari gue, lalu mengguntingnya. Selanjutnya, bagian ujung kawat harus kembali dikikir agar tidak tajam dan melukai jari tangan.


    Ketujuh, menggabungkan ring band dengan lempengan gajah. Sama seperti proses penggabungan atau perekatan sebelumnya, proses ini pun menggunakan bahan perekat dan api. Namun, sebelum direkatkan, cincin yang belum berbentuk bulat sempurna, dibulatkan terlebih dahulu dengan menggunakan mandrel.

    Kedelapan, merendam cincin di air aki. Cincin yang sudah berbentuk kemudian direndam di air aki selama kurang lebih dua puluh menit. Tujuannya adalah untuk membersihkan noda-noda bekas lem dan pembakaran. 

    Sambil menunggu cincin selesai direndam, gue dan Daru pun foto-foto di area belakang studio yang asri. Sesekali, kami juga mencicipi cemilan yang diberikan gratis oleh W.S. Art Studio, yaitu nanas dan pisang goreng. Nggak cuma cemilan, mereka juga menyediakan air mineral, teh, atau kopi untuk peserta lokakarya.


    Kesembilan, mencuci cincin dengan air sabun. Meskipun sudah direndam menggunakan air aki, namun masih ada kotoran yang menempel pada perhiasan. Itulah sebabnya, perhiasan harus kembali dicuci menggunakan air sabun sembari disikat secara perlahan.

    Kesepuluh, memoles perhiasan. Perhiasan yang sudah bersih harus dipoles terlebih dahulu agar terlihat berkilau. Proses pemolesan ini tidak dilakukan oleh peserta lokakarya, namun dilakukan oleh Bu Ayu. Sebelum memoles perhiasan di mesin khusus, Bu Ayu mengoleskan cairan khusus ke perhiasan. Proses pemolesan ini diulang sebanyak dua kali.


    Selesai dipoles, perhiasan perak pun terlihat berkilau dan cantik sekali. Gue dan Daru puas sekali dengan cincin yang kami buat, tentu saja dengan bantuan Bu Ayu (Bahkan selama di Bali, cincin itu selalu gue pakai, lho).

    Durasi kelas selama empat jam terasa begitu singkat karena kami benar-benar menikmati setiap proses pembuatan perhiasan perak ini. Sehabis mengikuti kelas, gue dan Daru tidak hanya membawa pulang cincin perak kami saja. W.S. Art Studio ternyata juga memberikan kami sertifikat. Yay!


    Kalau kalian ingin mencoba sesuatu yang berbeda di Bali, kalian bisa, lho, mencoba berbagai kelas kerajinan dan kebudayaan Bali seperti yang gue dan Daru ikuti. Itung-itung menambah pengalaman sekaligus mengasah kreativitas.








    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top