Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Pertemuan gue dengan Bioderma itu serba kebetulan. Kebetulan pertama adalah ketika gue sedang berlibur ke Bali dan tidak membawa pembersih wajah. Gue pun menggunakan micellar water Bioderma Sensibio punya Daru dan akhirnya menggunakan produk ini seterusnya.

    Kebetulan berikutnya mempertemukan gue dengan rangkaian produk Bioderma Hydrabio. Jadi, di tahun 2017 lalu, akun Instagram Bioderma mengadakan kuis berhadiah produk Hydrabio ukuran travel dan gue menjadi salah satu pemenangnya.

    Gue pun akhirnya bisa mencoba produk-produk Bioderma Hydrabio, yaitu Hydrabio H20 Micellar Water, Hydrabio Gel-Creme, Hydrabio Serum, Hydrabio Essence Lotion, dan Photoderm MAX SPF 100. 

    Seri Bioderma Hydrabio dikhususkan untuk kulit kering, normal hingga kombinasi, dehidrasi, dan sensitif. Dari klaimnya sendiri, harusnya seri ini cocok dengan kulit gue yang cenderung kering di bagian pipi dan dahi, namun berminyak di daerah T-zone. Tapi, apakah klaim ini terbukti di kulit wajah gue?

    Nah, Berhubung gue sudah menggunakan produk ini sejak Juli 2017, maka ini dia review gue mengenai Bioderma Hydrabio Series.

    Hydrabio H20 Micellar Water


    Seperti yang sudah gue katakan, pada awalnya gue menggunakan seri Sensibio H20, tetapi kemudian berpaling ke Hydrabio H20 hingga saat ini. Kenapa? Karena menurut gue, Bioderma H20 Micellar Water mampu membuat kulit wajah gue jadi lembab dan lebih cerah setelah menggunakannya. Selain itu, kulit pun terasa dingin dan segar.

    Untuk mekap sehari-hari yang ringan, menurut gue produk ini bisa diandalkan untuk menghapus sisa mekap dan kotoran yang menempel. Jika sedang mekap berat, produk ini pun masih bisa membersihkan wajah dengan cukup baik. Namun, tentu saja produk yang digunakan harus lebih banyak. Brb mandi Bioderma seperti rich people.

    Sayangnya, menurut gue, produk ini enggak ampuh untuk membersihkan produk mekap yang waterproof, seperti eyeliner, maskara, atau lipstik Maybelline Super Stay Matte Ink. Jadi, gue harus menggunakan makeup remover dari brand lain untuk menghapusnya.

    Kalau Bioderma Sensibio H20 hadir dalam 3 ukuran, yaitu 100 ml, 250 ml, dan 500 ml, maka Bioderma Hydrabio H20 cuma hadir dalam ukuran 100 dan 250 ml saja. Harga Hydrabio H20 ukuran 100 ml adalah Rp140.000-an, sedangkan ukuran 250 ml memiliki harga Rp230.000-an.

    Dibanding micellar water dari brand lain, harga Bioderma memang lebih mahal. Tapi, jangan sedih, Sistah! Bioderma sering banget membuat promo bundling, misalnya paket Bioderma Hydrabio H20 100 ml + 250 ml. Promo bundling ini adalah kesempatan kita semua buat nyetok karena harganya jauh, JAUH, lebih murah dibanding beli satuan. Kalian bisa hemat hingga 100 ribuan, lho!

    Hydrabio Essence Lotion


    Biasanya, gue menggunakan produk ini setelah menggunakan toner. Hydrabio Essence Lotion adalah produk Bioderma kecintaan gue. Pertama, teksturnya watery dan tidak memiliki bau yang terlalu kuat sehingga nyaman saat digunakan.

    Kedua, produk ini benar-benar bisa membuat kulit wajah gue jadi lebih cerah. Walaupun produk Hydabio lainnya juga mengandung salicylic acid seperti produk ini, Tapi, nggak tahu mengapa efek mencerahkan Hydrabio Essence Lotion lebih terasa di kulit wajah gue.

    Ketiga, produk ini kok rasanya enggak habis-habis saat dipakai, ya? Harganya memang cukup mahal, yaitu sekitar Rp290.000-an, tapi produk ini bisa awet hingga lebih dari enam bulan. Padahal gue pakai produk ini setiap hari, pagi dan malam.

    Kekurangan produk ini? Mungkin dari kemasannya yang bulky dan rentan tumpah. Jadi, sulit dibawa ke mana-mana. Tapi hari gini, kan, kita bisa membeli botol berukuran kecil untuk traveling di Miniso dan sebagainya. Iya, enggak?

    Hydrabio Gel-Creme


    Sama seperti Hydrabio Essence Lotion, Hydrabio Gel-Creme juga menjadi produk Bioderma favorit gue. Produk ini benar-benar mampu membuat kulit wajah gue lembab tanpa rasa lengket. Teksturnya agak thick tapi mampu menyerap ke kulit wajah dengan cepat.

    Pokoknya, produk ini wajib ada di dalam tahapan skincare pagi dan malam gue. Setelah menggunakan produk ini, kulit wajah rasanya lebih kenyal. Gue pun pernah baca (lupa di mana) kalau produk ini juga bisa dijadikan base mekap.

    Nah, Hydrabio Gel-Creme ini bentuknya tube dengan pump di ujungnya. Ini tentu bisa jadi nilai plus untuk kamu yang concern banget sama masalah kebersihan produk skincare.

    Sayangnya, ya... produk ini mahal. Harganya sekitar Rp280.000-an untuk ukuran 40 ml saja. Harga segitu mungkin bikin maju-mundur buat kamu yang ingin mencobanya. Tapi, jangan sedih. Di Sociolla, ternyata ada promo paket Hydrabio Value Set. Jadi, kamu bisa membeli micellar water Hydrabio H20 100 ml + Hydrabio Gel-Creme 15 ml seharga Rp148.000 saja.

    Hydrabio Serum


    Di antara empat produk Hydrabio series yang gue coba, sepertinya produk ini yang enggak terlalu berkesan untuk gue. Padahal, harganya paling mahal dibanding tiga produk lain, yaitu Rp340.000-an untuk ukuran 40 ml.

    Gue tidak merasakan perbedaan yang signifikan saat sedang menggunakan atau tidak menggunakan produk ini. Tapi, di luar itu, produk ini nyaman digunakan di kulit wajah. Sama seperti Gel-Creme, teksturnya memang agak thick tapi sangat mudah meresap serta tidak meninggalkan rasa lengket.


    Di kulit wajah gue, sejumlah produk Bioderma Hydrabio memang mampu bekerja dengan sangat baik. Tapi, tentunya beda kulit wajah, beda juga hasilnya, ya.

    Nah, kalau kamu mau mencoba rangkaian produk Hydrabio ini, gue pernah melihat versi travel size-nya di sejumlah gerai kecantikan di mall. Jadi, dalam satu pouch dengan harga di bawah 200 ribuan rupiah, kamu akan mendapatkan micellar water, lotion essence, gel-creme, serum, dan sunscreen. 

    Lumayan, kan, buat coba-coba dulu? :D



    Continue Reading
    Gadis penunggu hujan.
    Dengan payung ungu muda di tangan. Dibiarkan terbuka dan melidungi kepalanya. Gadis itu berdiri di halte yang sama, di titik yang sama, di waktu yang sama. Pukul tiga sore. Lalu meninggalkan halte tersebut dua jam setelahnya.
    Senin hingga Minggu. Gadis itu berdiri di situ. Menunggu hujan datang. Maka payung ungu mudanya selalu dibiarkannya terbuka dan melindungi kepalanya. Pukul tiga hingga lima sore. Gadis penunggu hujan itu selalu berdiri di halte yang sama dan di titik yang sama, dengan senyum yang sama. Cerah.
    Sudah tiga bulan hujan tak kunjung datang. Tapi payung ungu muda Si Gadis Penunggu Hujan tetap terbuka. Dari Senin hingga Minggu. Gadis Penunggu Hujan tetap tersenyum walau hatinya mulai gelisah. Bila hujan tak juga datang, maka ia tak bisa bertemu dengannya. Tak bisa meminjamkan payungnya. Tak bisa bercerita dengannya.
    Gerimis. Akhirnya hujan mulai datang. Senyum Si Gadis Penunggu Hujan terlihat lebih cerah. Matanya menjelajah setiap sisi jalan. Tak sabar meminjamkan payung ungu mudanya kepada seseorang yang disayanginya. Ia ingat-ingat lagi janjinya dengan seseorang. “Pinjami aku payungmu saat hujan, maka aku akan tetap hidup dan membagi cerita bersamamu”, ujar seseorang itu sembari memakan pisang goreng hangat buatan ibu Si Gadis Penunggu Hujan.
    Si Gadis Penunggu Hujan pun membuat janji dengan seseorang yang disayanginya. Untuk meminjamkan payung ungu mudanya kala hujan, untuk membagi cerita, dua jam setelah payungnya dipinjam. Tapi di hujan pertama setelah tiga bulan hujan tak datang, seseorang tak juga datang.
    Si Gadis Penunggu Hujan melirik jam tangannya. Pukul lima sore. Teman-teman dari seseorang yang disayanginya itu mondar-mandir di depannya. Tapi ia tak menemukan seseorang yang disayanginya itu. Ia tak menemukan sahabatnya. Ia tak menemukan pendongeng kecilnya. Ia tak menemukan Dul.
    Ia beranikan diri bertanya kepada salah seorang anak yang berlarian membawa payung di depannya. Maka di sinilah ia sekarang. Di sebuah makam dengan nisan sederhana bertuliskan nama Dul. Ternyata hujan tak datang karena Dul tak ada. Sejak tiga bulan lalu. Dul telah pergi setelah uang mengojek payungnya dirampas preman kampung dekat rumahnya.
    Si Gadis Penunggu Hujan pun mengeluarkan kertas, menulis sesuatu, lalu meletakkannya di atas makam Dul.
    Dul…
    Payungku kutinggalkan di sini, untuk kau pakai saat hujan. Agar kau tetap hidup dan menceritakan lagi dongeng-dongeng yang selalu diceritakan ibumu sebelum tidur kepadaku.
    Aku datang lagi saat hujan.
    Shila.

    Note: Dipublikasikan di catatan Facebook pribadi tahun 2010 
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top