Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Perjalanan ini dimulai tahun sebelumnya, ketika kereta yang saya naiki berhenti di satu stasiun dan saya memilih turun. Bukan untuk menikmati pemandangan di sekitar stasiun, melainkan untuk berganti kereta.


    Saat itu, saya sadar betul bahwa hidup selalu penuh dengan ketidakpastian. Yang tidak saya ketahui adalah, kereta berikutnya yang saya naiki ternyata membawa saya pada suatu perjalanan yang benar-benar tidak saya duga. Kereta tersebut melaju lambat sekali tanpa ada pemandangan indah yang bisa saya nikmati selama perjalanan.

    Perjalanan saya begitu sunyi dan suram, hingga membuat saya takut karena api semangat di dalam diri saya perlahan padam. 

    Saya ingin berganti kereta. Namun hal tersebut sulit sekali saya lakukan meski saya ingin. Meski saya sudah berdoa sekuat tenaga. Meski hal tersebutlah yang selalu saya rapalkan nyaris setiap saat. Tapi, sejauh mata memandang, tak ada stasiun di mana kereta yang saya naiki bisa berhenti.

    Saya terus menaiki kereta yang sama, kereta yang berjalan pelan sekali, hingga tahun berikutnya. Perlahan... kata menyerah terasa begitu jelas terlihat. Haruskah saya diam saja di sini? Jelas hati saya tidak menginginkannya. Jelas sekali. 

    Hingga akhirnya saya pengap dengan semua senyap yang mengungkung saya di sini. Perlahan saya menyiapkan hati. Saya takut, tapi berada di dalam kereta ini perlahan membuat saya sesak. Akhirnya, saya buka jendela kereta lebar-lebar dan saya melompat ke luar. 

    Tibalah saya di sebuah tempat asing. Sejujurnya, tempat ini pernah saya bayangkan sebelumnya sehingga berada di sini tidaklah terlalu mengagetkan. 

    Seusai melompat, pelan-pelan saya bangkit. Sedikit babak belur, tapi saya tak lagi merasa pengap. Saya memutuskan berkemah di sini sementara waktu. Hanya sementara, pikir saya. Saya akan menikmati berada di sini, hingga saya menemukan jalan menuju stasiun berikutnya.

    Saya pun membangun tenda di tempat itu, kembali menghabiskan waktu dengan menulis. Sesuatu yang saya sukai sejak kecil dulu. Sesekali, saya menyanyikan lagu favorit saya, lagu dengan kata Finlandia di dalamnya, namun ternyata hanya sedikit menyinggung tentang Finlandia. Tapi tetap saja, saya suka. Lalu sesekali, saya menggambar dengan pensil yang selalu saya bawa di dalam tas.

    Untuk sementara waktu, api saya mulai menyala walau kecil. Tidak apa-apa, setidaknya tempat itu tidak segelap kereta sebelumnya. Meski tak seterang yang saya harapkan, namun saya rasa saya bisa bertahan.

    Sembari menghabiskan waktu di tempat itu, saya mencari jalan menuju stasiun. Satu kali, dua kali, tiga kali, berkali-kali... saya gagal menemukannya. Sejauh apa pun saya mencari, saya kembali ke tempat yang sama.

    Terkadang saya melihat secercah harapan. Terlihat seperti peron, namun begitu saya dekati ternyata itu hanyalah gundukan bebatuan. Fatamorgana, mereka bilang.

    Saya berada pada titik di mana saya benar-benar merindukan perjalanan yang membuat dada saya bergemuruh, saking bersemangatnya. Saya merindukan perjalanan yang membuat saya tidak sabar menunggu datangnya pagi. Saya merindukan api yang menyala terang benderang.

    Saya mencari dan terus kembali. Begitu seterusnya. Saya semakin sering mempertanyakan kelayakan diri saya seiring dengan kegagalan yang terus-menerus saya hadapi. Saya semakin ingin menyerah, namun juga tidak rela jika menyerah. Tahukah kamu rasa seperti ini?

    Mungkin memang benar, sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah bisa kamu raih sekencang apa pun kamu berlari ke arahnya, sekuat apa pun kamu berusaha. Memang benar, ada hal-hal yang ditakdirkan untukmu, dan ada yang tidak. Ada saatnya kamu cuma bisa menerima saat sesuatu yang ingin kamu raih ternyata bukan untukmu, seperti saya saat itu.

    Tentu saja, hati saya tak cukup lapang untuk menerima kegagalan dengan tenang. Saya marah, sedikit putus asa. Sepertinya dulu tak sulit menemukan stasiun saat saya tak ingin berhenti. Mengapa sekarang sulit sekali? Bisakah kamu menjelaskan fenomena apa yang sedang saya hadapi? 

    Akhirnya saya berhenti sejenak. Bukan untuk menerima atau menikmati semua ini, seperti yang mereka katakan saat saya tiba-tiba mempertanyakan semua hal ini. Saya hanya... letih. Mungkin itu kata yang paling tepat saat itu.

    Saya meluruskan kaki saya. Rasa pegal sisa berjalan ke sana kemari sebelumnya sepertinya tak kunjung hilang. Yang lebih parah, saya merasa sekujur tubuh saya sakit, meski saat itu saya memutuskan tidak berbuat apa-apa. Yang lebih parah lagi, dada saya kembali terasa sesak sekali. Ya Tuhan, saya lelah sekali.

    Lagi-lagi, mungkin memang benar, Tuhan akan menjawab doamu di saat yang tepat. Di sisa-sisa semangat yang saya miliki, saya tiba-tiba melihat sebuah stasiun di sudut yang tidak saya duga sebelumnya. Bahkan tidak jauh dari tempat saya berada.

    Saya berjalan pelan ke sana. 

    Dan begitu memijakkan kaki saya di peron stasiun, saya kembali terdiam melihat kereta yang ada di depan saya. Betapa hidup penuh dengan ketidakpastian dan kejutan. Kadang ironis, kadang dramatis. Kadang magis.

    Kereta di depan saya adalah kereta pertama yang saya tinggalkan tahun lalu. Pintu kereta itu terbuka lebar dan tetap seperti itu seolah menunggu saya yang masih bimbang untuk melangkah masuk.

    Beberapa saat kemudian, saya mendapati diri saya ada di dalam kereta. Saya masih ragu-ragu, namun yang saya tahu... tempat ini masih cukup terang dan riang. Tempat ini sepertinya masih mampu meletupkan api di dalam dada saya. Itulah yang pada akhirnya membuat saya tidak mengucapkan kata lain, selain syukur.

    Saya tidak pernah tahu bahwa semesta bisa bekerja segila ini. 

    Tak lama, pintu kereta tertutup. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kereta pertama. Meski tak mulus, tapi setidaknya saya yakin bahwa api itu tak akan padam untuk waktu yang lama. Itu saja sudah lebih dari cukup. Saya merasa cukup.

    Sejenak saya menilik kembali ke hal-hal yang telah saya lalui. Sesungguhnya, saya tidak menyesal telah berganti kereta. Setidaknya dari situ saya belajar, walau dengan cara yang cukup keras.

    Saya belajar tentang bagaimana menerima hasil meski sudah berusaha sekuat tenaga. Tentang bagaimana segala sesuatunya akan diberikan sesuatu waktunya. Tentang bagaimana bersabar. Tentang bagaimana mengikhlaskan.

    Kereta ini sudah membawa saya hingga penghujung tahun. Perjalanan ke depan tentu penuh kejutan, tapi saya menantikannya. Saya akan melihat bagaimana diri saya tumbuh sekali lagi.



    Continue Reading
    Lima tahun lalu, saat gue liburan ke Singapore pertama kalinya, gue nggak pernah berpikir akan kembali ke negara ini (dengan uang gue sendiri). Mengingat, saat itu gue merasa bahwa Singapura adalah negara yang serba mahal. Maklum aja, sebagai seorang fresh graduate dengan gaji UMR, uang gue ngepas banget saat itu.

    Nah, di bulan Juli lalu, Kak Echa mengajak gue liburan ke Singapore. Selain gue, dia juga mengajak sepupunya, Icha. Berhubung di tahun 2019 (sampai bulan Juli) gue belum traveling, juga belum ada rencana traveling, maka akhirnya gue ayoin ajakannya. Kalau lima tahun lalu Singapura terasa mahal, saat ini pun gue masih merasa sama mahalnya. Tapi, alhamdulillah, kini perjalanan terasa lebih lancar dan tidak se-ngepas dulu.

    Liburan gue kali ini mungkin bisa dibilang ala flashpacker, bukan backpacker seperti lima tahun lalu. Perjalanan gue terasa nyaman, tapi juga nggak bikin nangis karena tabungan terkikis habis. Intinya, yang sedang-sedang aja. It was not too fancy but still made me happy.

    Jadi, berapa biaya liburan gue ke Singapore dan seperti apa triknya biar hemat budget? Here, I'm gonna tell the tricks for ya!

    ***

    Tiket Pesawat PP Singapura

    Ini dia berita baik buat kita semua: tiket pesawat ke Singapura seringkali lebih murah dari pada tiket pesawat ke destinasi dalam negeri. Bahkan, kadang lebih murah beberapa ratus ribu rupiah dibanding tiket PP ke Bali.

    Saat ke Singapore kemarin, gue membeli tiket pulang dan pergi secara terpisah. Soalnya, gue belum memutuskan lama kunjungan ke Singapore. Kak Echa dan Icha sendiri sudah memutuskan dari awal akan stay selama enam hari, sementara gue masih galau menimbang-nimbang.

    Akhirnya, setelah proses menimbang selesai, gue putuskan untuk liburan selama empat hari saja di Negeri Singa ini. Untuk keberangkatan, gue menggunakan maskapai JetStar dengan harga tiket sekitar Rp500.000-an. Sementara, saat kembali ke Jakarta, gue menggunakan maskapai Air Asia dengan harga tiket sekitar Rp600.000-an.

    Tiket pesawat ini gue beli secara online di Tiket.com dan pegipegi. Sebelum beli tiket, jangan lupa cek dulu promo yang sedang berlangsung di online travel agent (OTA). Lumayan, lho! Saat pesan tiket pesawat di pegipegi kemarin, gue mendapat potongan harga sekitar Rp150.000-an dengan menggunakan kode promo.

    Untuk penerbangan internasional ini, gue hanya mendapat bagasi kabin dengan kapasitas 7kg. Berhubung gue merasa akan banyak jajan di Singapore, maka gue memesan tambahan bagasi sebesar 20kg saat pulang. Harga bagasi Air Asia dengan kapasitas 20kg adalah sekitar Rp230.000-an. 

    Lebih baik bayar bagasi di awal, deh, daripada saat check in, ternyata koper kelebihan muatan dan kena denda Rp150.000-Rp190.000 per kilonya. Apalagi, kemarin total bagasi gue adalah 11kg. Jadi mahal banget, kan, kalau kena denda?

    Jewel Changi Rain Vortex
    Area Rain Vortex di Jewel Changi

    Transportasi di Singapore

    Nah, sekarang lanjut ke transportasi begitu tiba di Singapura. Pada dasarnya, transportasi di Singapore sangatlah nyaman dan sistemnya sudah sangat baik. Selama liburan di Singapore, gue dan teman-teman hanya menggunakan MRT, berhubung tujuan wisata gue dilalui MRT semua.

    Untuk menaiki MRT, kita bisa membeli tiket satuan atau menggunakan kartu EZ Link. Harga tiket satuan biasa lebih mahal 70-90 cent dibanding kartu EZ Link.

    Bahkan, mulai tahun ini, kita bisa menggunakan kartu bank yang sudah dilengkapi teknologi VISA Paywave untuk naik MRT! Dan nggak cuma itu... berhubung kartu Jenius sudah memiliki teknologi ini, maka saat di Singapore kemarin gue bisa pergi ke mana-mana menggunakan kartu Jenius. Harga tiketnya pun mengikuti harga kartu EZ Link.

    Sebagai self-proclaimed Duta Jenius, gue tentu sangat senang dengan kabar ini.

    Cara Menggunakan Kartu Jenius untuk Naik MRT Singapura

    Apakah kartu Jenius bisa langsung digunakan untuk naik MRT di Singapura? Jawabannya tidak (cmiiw). Untuk naik MRT Singapore dengan Jenius, kita harus mengaktifkan dan membeli saldo mata uang asing terlebih dahulu. 

    Di Jenius sendiri, saat ini baru tersedia empat mata uang asing dan mata uang Singapore adalah salah satunya. Saldo mata uang asing ini hanya bisa diaktifkan di hari kerja pada pukul 08:00-16:00, ya.

    Setelah membeli dolar Singapura, pilih menu "Card Center", lalu ubah saldo aktif di m-Card menjadi saldo SGD. Selesai, deh! Nah, biaya MRT ini akan diakumulasikan per hari dan dipotong keesokan harinya.

    Karena gue sudah membeli saldo SGD, maka kemarin gue nggak tukar uang sama sekali di money changer. Gue cukup menarik uang tunai di ATM saat sudah sampai di bandara Changi. Memang, sih, untuk mengambil uang ini akan terkena biaya admin sebesar 2,5 SGD. Tapi, nggak apa-apalah, toh tarik tunainya hanya sekali.

    Hotel di Singapore

    Kayaknya bukan rahasia lagi kalau harga sewa kamar di Singapura tuh mahal. Huh, ampun, deh. Jiwaku terkoyak begitu lihat harga kamar hotel di sana. 

    Setelah mencari cukup lama, Kak Echa kemudian menyarankan untuk menginap di The Great Madras. The Great Madras merupakan hotel bintang-bintang (baca: bintang dua 😜) dengan konsep boutique hotel, yaitu hotel dengan ukuran cenderung kecil, tapi memiliki arsitektur dan desain interiro yang bagus dan unik, alias instagrammable. 

    Harga kamar hotel ini dibanderol mulai dari 800 ribuan semalam. Untuk harga 800 ribuan ini, gue hanya bisa mendapat tipe kamar hostel dengan kamar mandi bareng-bareng. Untuk areanya, gue pilih area khusus wanita berhubung gue akan di kamar sendirian. Biar lebih aman aja gitu. Sementara, Kak Echa dan Icha menginap bersama di area campuran.

    Nah, berhubung harga 800 ribuan semalam itu menurut gue cukup mahal, ya. Jadilah gue membandingkan harga dan promo di beberapa OTA. Akhirnya, gue memutuskan booking kamar lewat aplikasi pegipegi karena mendapatkan potongan harga hampir 200 ribuan per malam. Iyes, gue cukup bayar 600 ribuan aja jadinya.

    Lagi-lagi, keberuntungan menghampiri gue (alhamdulillah). Begitu check in, staf hotel mengatakan kalau kamar gue di-upgrade gratis karena area khusus wanita sedang direnovasi. Gue pun diberikan kamar tipe deluxe dengan kamar mandi di dalam. Yuhuu!

    Selama empat hari tiga malam, pengalaman menginap gue di The Great Madras bisa dibilang nyaman. Meskipun, di malam terakhir, orang-orang di kamar sebelah ngobrol keras banget dan kedengeran sampai kamar gue. Tapi, berhubung gue lelah, gue bisa tidur cepat meski suara di kamar sebelah berisik.

    Oh iya, lokasi hotel ini pun cukup strategis. Letaknya di daerah Little India dan dekat sekali dengan MRT Rochor dan Little India. Demi kenyamanan selama berjalan kaki dari dan menuju hotel, gue sarankan untuk naik dan turun di MRT Rochor, ya.


    Tempat Wisata di Singapura

    Meskipun negaranya hanyalah seluas Jakarta, tapi Singapura memiliki banyak tempat wisata yang menarik untung dikunjungi. Misalnya saja, Universal Studio Singapore (USS), Garden by The Bay, Fort Canning, atau Haji Lane. Beberapa memang berbayar dengan harga yang wow, tapi nggak sedikit juga yang bisa dinikmati gratisan.

    Jika ingin ke destinasi wisata berbayar, kita semua nggak perlu sedih. Ada cara yang bisa dilakukan untuk menghemat biaya, yaitu dengan memanfaatkan kode voucher di OTA seperti Traveloka dan Tiket.com.

    Kemarin, dengan berbekal kode promo, gue berhasil mendapatkan tiket USS seharga 600 ribuan di Tiket.com dan tiket Garden by The Bay untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest seharga 166 ribuan di Traveloka. Murah, kan?

    Welcome to Universal Studio Singapore!
    Not Penny Lane, but Haji Lane
    Air terjun di Cloud Forest, Garden by The Bay

    Makanan di Singapore

    Untuk urusan makan, gue sebenarnya tidak terlalu mengawasi berapa biaya yang dikeluarkan. Maklum, gue penganut perut kenyang, hati senang. Jadi, kapan saja gue lapar, ya gue akan makan dan nggak terlalu memperhatikan harga.

    Meski begitu, terkadang saat perut belum memberontak, gue, Kak Echa, dan Icha juga beberapa kali memutar otak biar biaya makan kami nggak terlalu mahal. Misalnya saja, ada kalanya kami makan di hawker, sebutan kaki lima di Singapura.

    Saat liburan ke Singapura kemarin, kami sempat berkunjung ke Newton Food Center. Iya, kalau elo nonton Crazy Rich Asians, ada adegan di mana Nick, Rachel, Colin, dan Araminta makan di sini. Gue dan teman-teman memesan dua nasi goreng seafood, fried baby octopus, dan oyster omellete. Total yang harus kami habiskan adalah 33 SGD. Kalau dihitung-hitung, mahal juga ya buat berdua.

    Tapi... ternyata porsi nasi gorengnya banyak banget! Dan ternyata, mayoritas makanan di Singapura itu porsinya besar, cukup untuk berdua. Nah, ini bisa jadi cara untuk menghemat budget makan, nih: sharing makanan.

    Waktu di USS pun—yang harga makanannya sekitar 15 SGD—kami makan ramean dan ternyata porsinya sangat pas setelah dibagi.

    Cafe Latte %Arabica di Arab Street, dekat Haji Lane
    1 porsi chicken wings dan 1 porsi Tater Tots di Goldilocks USS. Pas untuk bertiga!

    Pengeluaran Lainnya

    Selain beberapa biaya penting di atas, kemungkinan akan ada tambahan biaya lainnya, seperti internet dan oleh-oleh.

    Untuk internet, gue membeli SIM card melalui Klook seharga 100 ribuan. Dengan harga ini, gue mendapat kuota internet sebanyak 100 GB. Selain SIM card, elo juga bisa menyewa MiFi melalui Klook.

    Lalu, untuk oleh-oleh, sebenarnya ada beberapa tempat yang bisa didatangi. Contohnya, di sekitaran Bugis Street, Lucky Plaza, dan Mustafa. Gue menyarankan membeli di Mustafa karena harganya bisa lebih murah 40-50 cent dibanding Lucky Plaza. Selain itu, pilihan di sini pun lebih banyak.

    ***

    Kalau ditotal, biaya yang harus gue keluarkan untuk liburan akhir tahun ke Singapore selama 4 hari 3 malam adalah sekitar 5,6 juta, di luar oleh-oleh. Tentunya biaya tersebut bisa ditekan hingga 1 jutaan lagi kalau elo nginep satu kamar berdua (nggak sendirian kayak gue), sharing bagasi, atau menghemat biaya makan.

    Jadi... selamat menyusun rencana liburan, ya!



    Continue Reading
    Rasa-rasanya, 2019 itu jadi tahun coba-coba gue, ya. Kalau sebelumnya coba-coba resign terus balikan sama kantor lama, sekarang coba-coba rafting alias arung jeram untuk pertama kalinya.

    Padahal ya, gue seperti kucing: takut air. Walau sebenarnya dari dulu pengen banget rafting, tapi tetep aja ujung-ujungnya mundur pelan-pelan. Ya gimana, pengalaman tenggelam pas banjir saat SD dulu masih menghantui sampai saat ini, Sist!

    Walau udah berani snorkeling sejak empat tahun lalu, tapi gue tetap mikir kalau air di laut itu beda sama air di kolam renang dan sungai. Logika halu gue ini selalu mikir kalau gue tenggelam di laut maka kemungkinan ngambangnya lebih tinggi daripada di kolam renang dan sungai. Makanya, gue lebih berani main air di laut. I know, I know... halu, kan? Tapi, gimana dong? 😜

    Nah, berhubung gue pengeeeen banget cobain main arung jeram dari dulu, dan tiba-tiba tingkat keinginan gue jadi sedikit lebih tinggi dibanding tingkat ketakutan gue, akhirnya gue pun bergabung dengan anak-anak kantor gue untuk rafting di Ciberang, Banten. Deg-degan sih, tapi hajar ajalah!

    Lagi-lagi kepanjangan ya intronya? Haha. Baiklah, gue lanjutkan ke hari H, hari penentuan kapok tidaknya gue rafting.

    ***

    Sebelum berangkat rafting, Ihsan, kepala sukunya tim IT sudah membagi 14 anak kantor menjadi tiga tim berdasarkan lokasi keberangkatan. Titik kumpul gue adalah di Stasiun Bogor karena gue berencana nebeng mobil Sindyta yang tinggal di Bogor. Selain gue, ada tiga orang lainnya yang nebeng Sindyta.

    Bisa dibilang, perjalanan menuju Ciberang seperti latihan persiapan buat rafting hari itu. Pertama, mobil yang dikendarai Syndita adalah mobil Taft yang dimiliki keluarganya sejak tahun 1986. Yang mana... sepanjang perjalanan guncangannya begitu terasa, tapi seru! Semacam pengen lagi roadtrip pakai mobil begini.



    Kedua, kami nyasar dua kali. Tim lain sepertinya melewati jalan normal yang bersahabat, sementara kami melewati hutan, jurang, gunung... dan empang. Alhasil, perjalanan yang harusnya hanya memakan waktu 2,5 jam pun molor menjadi 4 jam.

    Begitu tiba di titik kumpul, sekaligus titik awal rafting, makan siang sudah tersedia di saung. Anak-anak yang lain sudah makan lebih dulu karena memang sudah masuk jam makan siang. Berhubung sudah lapar, kami pun langsung ikutan menikmati nasi dengan sayur asam, ayam dan tempe goreng, serta karedok. Nggak ketinggalan, kerupuk dan sambalnya.

    Selain saung untuk tempat makan dan beristirahat, di lokasi kumpul tersebut juga ada enam kamar mandi untuk tempat bilas dan mushola. Bahkan, di depan saung ada Indomaret juga, lho. Jadi, untuk orang-orang yang butuh gula, kayak gue kemarin, bisa dengan mudah membeli teh botol dingin.

    Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami pun bersiap rafting sekitar jam 2 siang. Sebelum rafting, kami harus menggunakan peralatan keselamatan dulu, yaitu life vest dan helm. Masing-masing dari kami juga diberikan satu dayung.


    Setelah semua menggunakan peralatan keselamatan, kami dibagi menjadi empat tim. Yang membagi adalah pemandunya langsung. Mereka membagi tim berdasarkan berat badan untuk menjaga keseimbangan di kapal nanti.

    Begitu tim sudah dibagi, kami pun diperkenalkan dengan pemandu untuk tiap tim dan diajak turun ke sungai. Saat rafting kemarin, pemandu gue adalah Rohim, yang ternyata pernah menjadi perwakilan kotanya untuk kejuaraan rafting nasional, jika gue tidak salah ingat.


    Sampai di sungai, pemandu akan mengatur posisi duduk kami. Kemudian, kami pun diberikan briefing singkat, mulai dari cara memegang dayung hingga sejumlah aba-aba yang akan diberikan pemandu dan harus kami lakukan saat rafting. Misalnya saja, jika pemandu berteriak "Stop!", maka dayung harus diangkat dari sungai dan diletakkan di atas paha masing-masing.

    Akhirnya, setelah diawali dengan berdoa bersama... rafting pun dimulai. Rasa deg-degan berubah menjadi super excited. Iya, gue nggak lagi cemas karena sudah pake life vest dan udah ingetin (dengan nada menggertak) pemandunya biar kapal gue nggak ditebalikin. Haha.

    Sebelum di-brief pemandu
    Saat rafting kemarin, kami memilih perjalanan 10 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Selain jarak 10 km, ada juga jarak 900 m untuk anak-anak dan 25km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam.

    Gue pikir, gue akan mendapat serangan panik saat rafting. Tapi, ternyata justru gue sangat menikmati perjalanan menyusuri Sungai Ciberang ini. Seru banget rasanya saat perahu yang gue naiki berjalan tidak seimbang ketika melewati celah bebatuan, atau saat tersangkut di batu sampai perahu miring.

    Sembari rafting, gue dan teman-teman juga menikmati pemandangan cantik di sekitar sungai. Bahkan, gue sempat melihat biawak di sisi sungai, sementara teman gue melihat monyet di atas pohon. Perjalanan menjadi semakin menyenangkan saat hujan turun. Kapan lagi kan happy saat kehujanan? Cuma pas rafting aja kayaknya.



    Sesekali, pemandu kami juga bercerita tentang area yang kami lalui. Misalnya saja, ada jeram yang dinamakan Jeram Brimob karena anggota Bribob pernah terjatuh di situ. Sekilas, gue berpikir, haruskah gue menceburkan diri di salah satu jeram biar dinamakan Jeram Valine? Hahaha.

    Saat hampir melewati setengah perjalanan, kami diajak beristirahat sebentar di sisi sungai. Beberapa dari kami memilih berenang atau bermain air, sementara beberapa orang lainnya mencoba melompat dari bebatuan tinggi di sisi sungai.

    Sekitar 15 menit kemudian (ini ngarang sih karena gue gak pakai jam hahaha), perjalanan kami pun dilanjutkan. Kali ini, medan yang harus dilalui lebih berat dibanding sebelumnya. Bahkan, kami harus melewati air terjun dengan ketinggian 1,5 meter.

    Momen saat perahu menuruni air terjun itu cukup bikin deg-degan, tapi ini menjadi tantangan favorit gue saat rafting kemarin. Saat menuruni air terjun, gue hampir kecebur. Untungnya, pemandu perahu yang gue naiki dengan sigap menarik life vest gue.

    Look how happy I was haha
    Setelah mengarungi sungai, kami dihadapkan kembali dengan bendungan air terjun setinggi 3 meter. Kali ini, kami harus turun dari perahu atas alasan keamanan. Kami pun turun ke bagian seberang air terjun lewat pinggir sungai yang memang sudah dibeton dan dilengkapi dengan tangga.

    Bendungan tiga meter
    Begitu perahu sudah turun, perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, bukanlah pepohonan yang berada di kanan dan kiri kami, melainkan rumah warga. Kami juga sempat melihat berbagai aktivitas mereka, mulai dari sikat gigi hingga mencuci baju. Ada juga tiga anak kecil yang sedang mandi dan mencipratkan air sungai ke kami. Sayangnya, di area ini air sungainya mulai kotor. Banyak sampah di kanan kiri sungai, bahkan beberapa terbawa arus.

    Tak lama, kami pun tiba di titik terakhir. Di perhentian akhir ini, kami disajikan air kelapa dan tempe goreng. Pas banget, di pertengahan rafting rasanya perut sudah keruyukan, padahal baru makan tak sampai 4 jam yang lalu. Setelah selesai mengganjal perut, kami pun diantarkan kembali ke titik awal dengan menggunakan mobil bak terbuka. Wah, rasa-rasanya terakhir naik mobil beginian pas SD dulu, deh! Haha.

    Naik pick up sambil kedinginan karena basah kuyup
    Overall, perjalanan rafting ini cukup seru untuk gue yang baru pertama kali mencoba, bahkan gue merasa tantangannya belum cukup ekstrim sebenarnya. Menurut pemandu gue, ini disebabkan karena ketinggian air hanya 35 cm, padahal standarnya adalah 70 cm. Kegiatan arung jeram akan lebih seru lagi jika ketinggian air mencapai 90 cm.

    Jadi, kapok atau nggak? Ya, nggak dong! Malah nagih, pengen coba yang lebih menantang. 😁


    Disclaimer: All photos in this post aren't mine. Semua diminta dari koleksi foto teman-teman kantor gue (Sindyta & Tino) dan dari pihak travel.


    Ciao!

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top