Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Meski gak pernah terucap, tapi sebenarnya gue sadar sekali bahwasanya gue adalah makhluk yang overthinking, penuh keraguan akan potensi diri sendiri, dan takut salah. Sungguh rangkaian pemikiran yang saling melengkapi hingga menciptakan kecarutmarutan mental seorang perempuan bernama Valine. Yak!

    Gue sadar tiga pemikiran itu ada dan gue paham bahwa gue nggak bisa mengubah pemikiran yang sudah ada bertahun-tahun lamanya dalam waktu singkat. Jadi, gue mulai perlahan mengubah pemikiran tersebut. Dimulai dari: takut salah.

    Pemikiran takut salah pada akhirnya membuat gue sulit maju. Gue lebih banyak bermain di zona aman dan tidak berani menantang diri gue sendiri untuk tumbuh. Beberapa kali, pemikiran takut salah ini justru malah memicu kesalahan-kesalahan lain. Nah lho, nah lho.

    Pada akhirnya, hal pertama yang gue lakukan adalah berusaha menerima kesalahan. Memang manusia itu tempatnya salah, kok. Gak mungkin ada hidup yang 100% tanpa kesalahan. Itu mustahil, ya, Valine. Inilah yang semalam gue ungkapkan pada Bayu, yang juga disepakati oleh dia.

    Gue sadar bahwa melakukan kesalahan sebenarnya adalah proses belajar. 

    Sumber

    Misalnya aja, dari pengamatan gue ketika manggung, gue paling banyak melakukan kesalahan di antara anggota band yang lain. Kadang fals, kadang suara gak keluar. Ada ajalah masalah daku di panggung. 

    Tapi, kabar baiknya untuk diri gue adalah akhir-akhir ini gue menerima kesalahan-kesalahan tersebut dengan ketenangan dan kesadaran penuh. Gue tidak lagi merasa malu atau menyalahkan diri sendiri hingga sebegitunya.

    Sebaliknya, gue pelajari kesalahan-kesalahan tersebut agar nantinya gue bisa meminimalisirnya.

    Menuliskan pemikiran biar gak takut salah di blog pun menjadi cara gue untuk menanamkan pemikiran ini lebih dalam di dalam diri gue. Biar gue tidak lagi menjadi pribadi yang takut salah (juga takut dicibir karena melakukan kesalahan), karena lagi-lagi ... gue manusia. 

    Dan sungguh manusiawi melakukan kesalahan.



    Continue Reading

    Ketika gue memberi tahu beberapa teman dekat gue mengenai rencana pernikahan gue tahun ini, reaksi yang gue dapat terbagi dua. Pertama, tentu aja senang. Kedua, heran.

    Salah seorang teman gue secara blak-blakan menanyakan alasan gue menikah. Padahal, di antara kami berlima, gue terlihat paling enggan berkomitmen. Sudah lama menjomlo pula. Apalagi, sebelumnya setiap kali gue mulai dekat sama cowok, ujung-ujungnya bubar jalan tanpa sempat jadian.

    Di masa awal pendekatan gue dan Bayu pun, teman gue sempat geregetan karena lagi-lagi... gue terlihat enggan. Ketika ditanya bagaimana kelanjutan hubungan gue dengan Bayu, jawaban gue cuma, "Gak tahu, deh!". Jawaban yang menimbulkan asumsi kalau gue dan Bayu gak akan ke mana-mana.

    Balik lagi ke pertanyaan teman gue: Kenapa gue akhirnya memutuskan menikah? Bagaimana awalnya? Kok bisa?

    valineyarangga.blogspot.com


    Kalau ditanya bagaimana awalnya, terus terang gue enggak tahu. Perbincangan tentang pernikahan terjadi begitu saja, saat gue dan Bayu sedang ngobrol santai. 

    Entah obrolan apa yang mengantarkan kami ke topik pernikahan. Yang gue ingat, malam itu tiba-tiba saja gue dan Bayu membicarakan budget pernikahan dan selanjutnya mengalir begitu saja. Tapi bukan berarti gue merencanakan pernikahan tanpa sadar.

    Obrolan dan rencana pernikahan tidak akan mengalir selancar itu jika gue merasa ragu, baik dengan diri gue atau Bayu.

    Kalau dulu gue terlihat enggan berkomitmen, ya mungkin memang karena belum menemukan yang cocok aja. Sebenernya alasannya sesederhana itu. Gue pun tidak ingin terburu-buru punya pasangan atau menikah karena... kenapa harus memburu-burui hal yang ada campur tangan Tuhan di dalamnya?

    Maksud gue, udah jelas kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Sejauh apa pun gue mencari, kalau belum saatnya nemu, ya gak akan nemu.

    Lagi pula, sejak lulus kuliah, tujuan gue berpacaran adalah untuk menikah. Gue merasa hati gue tidak cukup kuat untuk patah hati berkali-kali karena tidak berjodoh dengan seseorang.

    Ditambah lagi, bagi gue konsep pernikahan itu sangat rumit. Memutuskan untuk hidup sampai mati dengan seseorang? Terikat secara agama dan hukum pula. Wow, membayangkannya saja aku merasa overwhelmed. 

    Apalagi jika membicarakan urusan rasa. Gue penuh dengan keraguan. 

    Apa mungkin bisa jatuh cinta dengan orang yang sama puluhan tahun? Apa durasi mencintai bisa sepanjang itu? 

    Gue yang mudah jengkel dengan orang lain meragukan hal itu. Meragukan diri gue lebih tepatnya. Bagaimana jika gue pada akhirnya tidak bisa menerima pasangan gue apa adanya dan menjadi penyebab retaknya rumah tangga gue? Duh, serem.

    Tapi, suatu ketika gue mendengarkan satu konten podcast-nya Shegario dan istrinya, Nucha. Mereka membicarakan bahwa pasangan, suami atau istri, haruslah bisa menjadi teman. Mereka dengan realistis mengungkapkan bahwa seiring waktu, kurva cinta itu akan semakin landai, tidak meletup-letup seperti di awal hubungan.

    Memang, sesekali akan ada saatnya kita kembali berbunga-bunga karena pasangan. Hanya saja, kurvanya tidak akan setinggi di awal hubungan. Makanya, pilihlah pasangan yang bisa menjadi teman. 

    Gue pada akhirnya menemukan konsep pernikahan yang cocok untuk gue.

    Pilihlah pasangan yang bisa menjadi teman. Karena ketika rasa cinta itu melandai, gue punya teman yang bisa diajak ngobrol atau gila-gilaan sampai tua nanti. 

    source

    Di Bayu, gue tidak hanya menemukan material suami yang cocok dengan karakter gue, tetapi juga partner bertukar pikiran dan teman.

    Gue butuh seseorang yang bisa gue ajak berkomunikasi apa saja, tanpa takut dan khawatir dihakimi. Bagi gue, komunikasi adalah salah satu pilar utama rumah tangga, setidaknya itulah yang gue petik dari beberapa permasalahan rumah tangga di sekitar gue.

    Senangnya, gue bisa dengan nyaman bicara dan berdiskusi apa saja dengan Bayu. Bahkan, sejak pacaran kami sudah terbuka masalah finansial. Kami saling bercerita cara kami mengelola keuangan, tantangan finanasial kami, dan ekspektasi kami terhadap pasangan terkait finansial.

    Gue juga bisa bertanya apa pun sama Bayu, dari hal yang serius hingga paling konyol dan paling bodoh sekali pun. Gue bisa sesekali memaki. Semua akan didengarkan tanpa tatapan "kok lo gitu sih?". 

    Bonusnya, Bayu bisa menjadi air untuk gue yang sering meletup-letup seperti api, alias emosian mulu.

    Itu sebabnya, setelah mencoba saling mengenal sekian ratus hari dengan penuh kedamaian, akhirnya gue tanpa keraguan, tanpa paksaan, juga tanpa tekanan memutuskan menjadi teman seumur hidup Bayu.

    Ternyata, begitu bertemu dengan orang yang tepat, alias jodohnya, jalannya akan semulus dan selapang itu. Segala keruwetan di otak gue tentang jodoh, suami, dan kehidupan rumah tangga, tau-tau terurai tanpa gue sadar.

    Tiba-tiba aja gue tidak takut menjalani kehidupan sebagai seorang istri, juga seorang teman. :)



    Continue Reading

    Pagi ini, gue dibangunkan oleh suara pintu kamar yang dibuka nyokap. "Jadi, gak?" tanya nyokap yang gue jawab dengan anggukan kecil. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, gue meraba-raba lantai di sekitar tempat tidur gue, mencari handphone yang memang selalu gue letakkan di sekitar sana.

    Jam di hp menunjukkan pukul 06:27 pagi. Gue melihat ada notifikasi WhatsApp dan membukanya. Ternyata dari Bayu. Isinya kira-kira begini, "Jangan kelewat sesi jalan-jalan di taman ya. Kalau sekarang udah bangun sih subuhan dulu."

    Semalam gue memang sudah janjian dengan nyokap untuk jalan-jalan pagi di sekitar rumah. Sudah sekitar empat bulan gue melewatkan rutinitas olahraga. Badan pun rasanya kurang begitu segar. Jadi, gue putuskan untuk mulai berolahraga kembali. Semoga, sih, bisa rutin seperti beberapa bulan lalu.

    Jam enam pagi, gue dan nyokap mulai berjalan kaki. Cuaca pagi ini cerah, namun juga sejuk. Rasanya sudah lamaaa sekali nggak merasakan udara sesegar ini. 

    Saat berjalan kaki, gue dan nyokap berbincang kecil. Tentang betapa rendahnya gaji guru di salah satu sekolah di dekat rumah. Tentang kebiasaan tetangga-tetangga gue yang gemar berjalan kaki hingga ke Terminal Jati Jajar di akhir pekan, padahal lokasinya lumayan jauh. Atau tentang sejumlah pohon mangga di sepanjang Perumahan Jati Jajar yang sedang berbuah lebat dan membuat kami seru sendiri saat melihatnya.


    Setelah berjalan sekitar satu jam atau sejauh 3,9 km, kami memutuskan kembali ke rumah. Gue pun mencuci tangan dan mulai membuat sarapan. Pagi ini gue menikmati secangkir teh hitam dengan campuran jahe, jeruk, dan kayu manis yang diberikan Eby, juga chicken sandwich dan dua potong gyoza.

    Satu jam berlalu dan gue memutuskan untuk mandi. Jam masih menunjukkan pukul 09:30 dan gue sudah lama sekali tidak merasa memiliki waktu sebanyak ini. Kepala gue terasa enteng, badan gue terasa segar. Hati gue sedang dalam kondisi terbaiknya pagi ini. Gue selalu percaya, sih, bahwa olahraga itu memang bisa membuat seseorang (atau mungkin gue, lebih tepatnya) melihat hidup lebih positif dan optimis.

    Jadi, di sinilah gue sekarang, kembali menulis di blog karena ada beberapa hal yang ingin gue update dan syukuri.

    ***

    Banyaknya waktu yang gue miliki pagi ini, membuat waktu merenung gue juga menjadi lebih panjang. Hingga tiba-tiba, gue tersadar bahwa:

    Tahun 2020 akan berakhir dalam dua bulan.

    Seriusan, nih, waktu berlalu secepat ini, bahkan di saat kita semua tahu bahwa 2020 bukanlah tahun yang ramah?

    Gue pun memikirkan dan mempertanyakan lagi, apa saja yang terjadi di tahun ini. Apa yang gue lewati dan apa yang gue rasakan. Jawabannya, banyak hal nggak menyenangkan yang gue alami sampai-sampai gue merasa perlu melakukan meditasi. Banyak cara yang gue lakukan demi tetap waras.

    Tapi, pagi ini gue merasa takjub begitu menyadari gue (dan tentunya kamu yang lagi membaca ini) berhasil bertahan hingga sejauh ini. Bagi gue, bertahan adalah sebuah pencapaian besar. Mampu bertahan adalah sesuatu yang layak disyukuri.

    Semua tahu, 2020 adalah tahun yang begitu menguji kesabaran dan kewarasan. Dimulai dari bencana banjir di awal tahun, lalu hadirnya sebuah virus yang nggak hanya mengancam kesehatan, tapi juga mempengaruhi kebebasan dan keuangan banyak orang.

    Buat gue, ujian terbesar tahun ini adalah ketika 'kapal' yang gue tumpangi terkena terjangan ombak bertubi-tubi, lalu terombang ambing di tengah lautan tanpa arah. Beberapa sisi kapal bocor, air mulai memasuki kapal, dan rasanya kapal yang gue tumpangi perlahan tenggelam.

    Awalnya gue melihat harapan. Karena itu, berbagai cara gue dan para penghuni kapal coba lakukan untuk menambal kebocoran. Sejumlah ide pun kami paparkan demi menggerakkan kapal. Nyatanya, harapan yang tadinya terlihat jelas, berubah samar. Gue merasa semangat gue mulai padam, kepala mulai sakit, dan perut mual sejadi-jadinya. Sepertinya gue dan para penghuni kapal terkena mabuk laut. 


    Beruntung, di bulan kelima gue menemukan kapal baru. Rasanya lega sekali. Gue sangat bersyukur karena di saat kapal-kapal lain berusaha mengurangi muatan, justru kapal ini menerima kehadiran gue.

    Gue pun akhirnya berganti kapal, meninggalkan teman-teman yang tetap tinggal di kapal sebelumnya. Tentu saja, gue berharap mereka menemukan kapal baru yang lebih kokoh. Atau, jika mungkin, gue berharap kapal lama yang gue tumpangi bisa menambal kebocoran dan kembali berlayar seperti sedia kala. Jika mungkin.

    Memang track yang ditawarkan 2020 ini benar-benar bikin takjub. Jalannya berliku, penuh dengan tanjakan dan turunan. Gue sempat mengira bahwa tahun ini akan segitu pahitnya. Tapi, ternyata tidak.

    Tahun ini mengingatkan gue bahwa hidup itu seimbang. Kadar pahit dan manisnya dibuat setara. Selain mengalami berbagai hal menyebalkan (yang kadang bikin dispepsia kambuh saking stressnya), gue juga mendapatkan berbagai hal menyenangkan yang harus banget disyukuri.

    Bukan cuma mengenai datangnya kapal baru tepat di saat gue mulai putus asa, tapi juga beberapa hal manis lainnya.

    Misalnya saja, dari rasa bosan karena harus lebih banyak di rumah selama tujuh bulan terakhir ini, akhirnya gue mencoba melakukan sesuatu yang nggak pernah kepikiran sebelumnya, yaitu memasak. Yang lebih mengejutkan, ternyata gue cukup menikmati baking, meski sejauh ini gue baru membuat cookies dan croissant.

    Atau, ketika pandemi menjauhkan gue dari kebiasaan nongkrong bersama teman-teman sepulang kerja, tapi ternyata justru mendekatkan gue dengan seorang Bayu dan segala absurditasnya. Absurd yang menyenangkan tapi. :)


    Tahun 2020 memang tinggal dua bulan lagi. Apakah gue merasa lega? Jujur aja, nggak tahu. Gue memang berharap hari esok berjalan lebih mulus, penuh dengan hal-hal manis seperti yang sedang gue rasakan saat ini.

    Tapi, lagi-lagi, gue harus realistis. Jalan di depan nggak mungkin mulus terus, pasti akan ketemu sejumlah rintangan. Begitu terus, bergantian.

    Jadi, doa gue adalah semoga kita bisa melalui dengan baik apa pun ujian yang diberikan di hari-hari atau tahun-tahun berikutnya. Semoga kita bisa selalu mensyukuri dan menghargai hal-hal manis, meskipun kecil, yang didapat.

    Mengutip kata-kata yang selalu Bayu ucapin saat gue lagi pesimis, "Yuk, bisa, yuk!"





    Continue Reading
    Beberapa waktu lalu, gue nonton film dokumenter berjudul "Minimalism: A Documentary About the Important Things" yang direkomendasikan teman kuliah gue, Zelda. Dari judulnya, pasti kita sudah bisa menebak apa yang dibahas dalam film ini. 

    Iya, betul. Tentang hidup minimalis, alias hanya memiliki sedikit barang yang benar-benar kita butuhkan.

    Ngomongin konsep minimalis, sebenarnya gue sudah lama tertarik untuk mengaplikasikannya ke dalam hidup gue. Hanya saja, prosesnya ternyata enggak semudah itu. Apalagi untuk jiwa-jiwa yang masih banyak mau dan kadang iri melihat rumput tetangga yang kelihatannya lebih hijau, kayak gue.

    Selain itu, dulu gue memiliki kecenderungan hoarding, atau menimbun barang-barang yang sebenarnya belum tentu masih terpakai. Kecenderungan ini juga dimiliki oleh orang tua gue. Jadi, mungkin memang kebiasaan ini menular dan menurun ke gue.

    Bahkan, hingga sekitar empat tahun lalu, gue masih memiliki tumpukan soal ujian dari zaman SMP hingga kuliah, berlembar-lembar kertas file bergambar lucu hasil tukeran dengan teman semasa SD, juga buku-buku pelajaran dari SD hingga kuliah. Semuanya gue letakkan di atas lemari pakaian di kamar gue.

    Buat apa gue mengumpulkan barang-barang tersebut? Buat nostalgia aja.

    Dulu, gue menciptakan semacam keterikatan dengan barang-barang yang gue miliki. Bagi gue, setiap barang menyimpan cerita. Itu sebabnya gue mengumpulkan semua barang yang memiliki jejak masa lalu gue. Sayangnya, meski barang yang gue miliki terus bertambah, ukuran kamar gue ya segitu-gitu aja, begitu pun ukuran lemari pakaian dan rak di kamar gue.

    Source

    Perlahan, kamar gue terasa penuh. Ditambah lagi, sejak bekerja, waktu gue buat merapikan kamar semakin sedikit. Saat akhir pekan, gue lebih memilih untuk me time dibanding membersihkan tumpukan jejak masa lalu di atas lemari pakaian. Alhasil, debu menumpuk dan alergi gue pun sering kambuh. Kamar gue tidak lagi menjadi tempat beristirahat yang nyaman.

    Dari situlah, gue memutuskan untuk membuang barang-barang di kamar gue. Apakah gue langsung membuang semuanya? Enggak. Proses melepaskan tidak semudah itu, Sayang.

    Di awal proses decluttering, sekitar empat tahun lalu, gue hanya menyumbangkan kertas ujian zaman SMP hingga SMA ke tukang sayur dekat rumah dan buku-buku pelajaran SD hingga SMA ke tukang loak. Dari situ, kamar gue perlahan mulai terasa sedikit lebih lapang. Setidaknya, tumpukan file plastik di atas lemari mulai berkurang.

    Apakah prosesnya berhenti di situ? Tentu tidak. Proses decluttering memang sempat berjalan lambat sekali. Tetapi, sejak sedikit membaca mengenai konsep minimalisme dan mengenal Marie Kondo dua tahun lalu, gue jadi rutin melakukan decluttering. Mengutip kata-kata Marie Kondo, I only keep things that spark joy.

    Gue akhirnya menyumbangkan sisa kertas ujian dan buku kuliah. Sekarang, bagian atas lemari pakaian gue tidak ada lagi tumpukan file plastik, yang ada hanyalah matras yoga.

    Setelah selesai melepaskan tumpukan soal ujian dan buku pelajaran, gue beralih ke lemari pakaian. Setelah gue amati, ternyata ada banyak sekali baju yang sudah lama tidak terpakai dan tidak ingin gue pakai lagi. Kenyataannya, semakin bertambah usia, gue lebih mementingkan kenyamanan, sehingga baju yang gue pakai ya itu lagi, itu lagi.

    Akhirnya, gue mengosongkan hampir setengah isi lemari dan menyumbangkan baju yang masih bagus dan layak pakai. Kegiatan decluttering isi lemari ini rutin gue lakukan setiap tiga atau empat bulan, terutama jika ingin membeli baju baru. Prinsipnya, kalau ada baju yang masuk, maka harus ada baju yang keluar.

    Proses decluttering ini sebenarnya secara enggak langsung juga meningkatkan kualitas hidup gue. Bisa dibilang, tingkat impulsivitas gue saat belanja menurun cukup jauh sejak mencoba hidup lebih minimalis. Tiap ingin membeli barang, pasti gue berpikir berulang kali. Mau ditaruh di mana barangnya? Atau, apakah gue memang benar-benar butuh dengan barang tersebut? 

    Makanya, sekarang proses belanja gue bisa membutuhkan waktu berhari-hari karena kebanyakan mikir. Gue bisa berpikir lima hari lamanya hanya untuk membeli lipstik. Enggak usah dibayangkan berapa waktu yang gue habiskan untuk berpikir saat ingin membeli barang yang lebih mahal. Meski begitu, gue tetap impulsif saat membeli jajanan, hehehe. Jadi, ya, mungkin itu jadi pekerjaan rumah gue selanjutnya.

    Intinya, proses decluttering ini beneran mengubah hidup gue ke arah yang lebih baik. Memulainya memang sangat sulit karena lagi-lagi... proses melepaskan tidaklah mudah. Apalagi melepaskan sesuatu yang telah lo berikan "nilai" di dalamnya. Tapi, begitu mencoba pertama kali, proses selanjutnya akan jauh lebih mudah.

    Gue pun tidak akan berhenti di sini, sih. Menurut gue hidup minimalis mampu mengurangi stress dalam hidup gue. Jadi, pelan-pelan gue akan mencoba menerapkan konsep ini lebih jauh lagi, sembari mengeliminasi apa yang terasa berlebihan di hidup gue.

    Gimana dengan kalian? Tertarik mencoba gaya hidup minimalis juga?


    Ciao!



    Continue Reading
    Hai! Apa kabar hari ini?

    Rasanya tidak apa-apa dibuka dengan menanyakan kabar dulu, ya? Mengingat, kita semua paham betul bagaimana tahun 2020 menggempur kita tak berkesudahan. Jika di akhir 2019 gue bilang bahwa tahun tersebut ibarat bermain rollercoaster dengan track yang lebih menantang, maka track yang diberikan 2020 berada pada level lain. 2019 jadi terlihat enggak ada apa-apanya.

    Energi gue seperti diserap terus menerus. Terkadang gue ingin bilang, "Sebentar, sebentar. Boleh tekan tombol pause dulu untuk mengambil nafas?"

    Di masa seperti ini, sesungguhnya akan lebih menenangkan jika bisa bertatap muka dan berbincang dengan keluarga dan teman terdekat. Gue membayangkan betapa menyenangkannya bermain dengan sepupu gue yang mulai memasuki usia praremaja, bercerita selepas kerja bersama teman terdekat di cafe favorit kami di daerah Tebet, atau bercanda sembari bekerja bersama teman-teman satu tim.

    Sayangnya, saat ini, cara kita menunjukkan rasa sayang bukan dengan berdekatan, tapi berjauhan. Pelukan pun saat ini bisa saja menjadi senjata berbahaya. Kalau dipikir-pikir, ini ironis banget, ya?


    Ditambah lagi, sekarang kita semua dianjurkan tetap diam di rumah dan benar-benar membatasi aktivitas di luar. Bahkan, ini sudah memasuki minggu ketiga gue berdiam di rumah aja. Selama tiga minggu ini, gue cuma keluar rumah dua kali, yaitu ke Alfamart. Itu aja udah buat gue luar biasa senangnya.

    Tentu gue tidak bermaksud mengeluh karena harus diam di rumah saja. Bagaimana pun, gue mengamini sebuah cuitan yang gue temukan di Twitter beberapa waktu lalu, yaitu:

    "You're not stuck at home. You're safe at home."

    Gue sadar bahwa gue harusnya bersyukur memiliki privilege ini. Sementara, masih banyak orang yang ingin merasa aman dengan diam di rumah saja, tapi tidak bisa. Ada tanggung jawab lebih besar yang harus mereka penuhi, dan caranya adalah dengan berjuang di luar rumah.

    Tapi, gue pun juga tidak bisa serta merta mengacuhkan perasaan sendiri. Dari yang biasanya rutin beraktivitas di luar rumah, kini harus berdiam saja di dalam rumah. Sepertinya, bukan cuma gue yang merasa tergerus kewarasannya pelan-pelan dengan hal ini, juga semua hal yang terjadi dalam empat bulan terakhir.

    Gue sadar bahwa gue tidak baik-baik saja. Apalagi di minggu-minggu awal, di mana asam lambung gue sempat kambuh selama satu minggu disertai sesak nafas. Gue sadar betul bahwa kecemasan gue meningkat, juga mudah sekali terpicu akhir-akhir ini.

    Beberapa kali gue merasa tidak bersemangat melakukan apa pun. Terkadang gue begitu tidak menyukai hujan yang turun karena membuat suasana hati gue semakin gloomy.

    Enggak bohong, gue terkadang pesimis. Gue seringkali bertanya-tanya apakah gue mampu mengatasi ini dengan baik atau apakah semua akan berjalan seperti yang gue inginkan. Lebih parahnya, terkadang saat tingkat kecemasan gue sedang naik-naiknya, gue bertanya: apakah gue mampu bertahan?

    Kepala dan hati gue terkadang terlalu 'ramai' dan beberapa kali gue tidak bisa mengatasinya dengan baik. Yang jelas, gue tahu, gue enggak sendiri. Iya, kan? Please, say yes. :)

    Tapi, gue enggak mau membiarkan kewarasan gue terus tergerus. Mental gue harus tetap sehat, agar fisik gue pun kuat. Imunitas yang tinggi adalah sesuatu yang kita semua perlukan saat ini.


    ***

    Itu sebabnya gue berusaha mencari cara untuk self healing. Misalnya dengan memusatkan perhatian gue sepenuhnya untuk bekerja selama jam kantor. Meskipun gue enggak paham, apakah bekerja itu dikategorikan sebagai self healing atau pelarian semata. Yang jelas, selama sembilan jam gue bisa berhenti memikirkan hal-hal aneh.

    Ditambah lagi, gue memiliki teman-teman satu tim yang sangat solid dan manis. Enggak ada yang lebih menghangatkan hati dibanding ucapan terima kasih yang kami ucapkan satu sama lain, setelah bekerja 9 hingga 10 jam nyaris tanpa jeda.

    Jadi, jika ditanya apakah bekerja itu menjadi penyembuhan atau pelarian, mungkin jawabannya dua-duanya. Rekan kerja gue selalu berhasil membuat suasana kerja menjadi menyenangkan, baik saat kami semua berkumpul di kantor, maupun saat harus bekerja berjauhan seperti sekarang ini.

    Meski sudah dipakai bekerja selama sembilan jam, ternyata gue masih punya banyak waktu luang. Maka, gue memutuskan untuk mengisinya dengan hal-hal yang gue sukai. Rasanya semua pasti setuju bahwa melakukan hal yang lo suka itu menenangkan dan menyembuhkan.

    Gue pun kembali mewarnai buku bertema Secret Garden yang gue beli di akhir tahun 2015. Empat tahun berlalu, dan baru kali ini gue berhasil mewarnai satu halaman penuh.


    Gue mengisi hari-hari gue dengan menonton drama Korea terbaru atau serial Friends. Bahkan, gue bisa menamatkan drama Korea dalam tiga hari saja, sebuah 'pencapaian' yang tak mungkin terjadi saat gue bekerja di kantor dan menghabiskan waktu di jalan lebih dari tiga jam setiap harinya.

    Gue bisa bekerja sambil bernyanyi keras-keras. Setelah bekerja bahkan gue punya cukup banyak waktu untuk bermain gitar atau membuat cover lagu. Lagi-lagi, ini hal yang enggak bisa gue lakukan jika bekerja di kantor.

    Yang lebih menyenangkan lagi, gue memiliki banyak waktu untuk menulis kapan pun gue butuh. Seperti saat ini, misalnya. Buat gue, menulis itu menyembuhkan. Maka inilah yang gue lakukan saat kepala rasanya carut marut.

    ***

    Bekerja dan melakukan me time memang cukup membantu gue merasa hidup dan kembali bersemangat. Tapi, masih ada rasa mengganjal. Ada yang salah dan gue enggak tahu itu apa. Ada bagian dalam diri gue yang masih kusut, tapi gue enggak tahu di mana letaknya.

    Akhirnya, gue pun mengikuti saran Daru untuk meditasi. Kebetulan, Rollover Reaction mengadakan sesi meditasi bersama Pishi di Instagram Live mereka. Gue rasa ini bukan kebetulan, tapi semesta memang sedang memberikan jawaban.

    Maka, gue pun mengikuti sesi meditasi untuk pertama kalinya. Baru memasuki beberapa menit awal gue merasa dada gue sudah berat, mata pun rasanya panas. Gue enggak paham apa yang terjadi, tetapi begitu sesi meditasi berakhir, I started crying for about 15 minutes. Setelah itu, semuanya terasa sangat ringan.

    Pishi bilang, menangis adalah salah satu proses penyembuhan dan mungkin itu benar.

    Satu atau dua hari kemudian gue kembali mengikuti sesi meditasi Pishi, kembali menangis di sela-sela meditasi, dan kembali merasa ringan setelahnya.


    Apakah perjalanan gue menjaga kewarasan berhenti di sini? Tidak. Gue juga membatasi diri membaca berita. Katanya membaca itu jendela dunia, tapi kok gue malah membatasi diri dari dunia?

    Karena memang jendela itu ada waktunya untuk ditutup, Kak. Dalam kasus gue, terlalu banyak terpapar pemberitaan mengenai corona ternyata membuat gue cemas luar biasa. Itu sebabnya gue lebih banyak menutup jendela gue akhir-akhir ini.

    Gue tidak terlalu banyak mencari tahu, hanya seadanya saja. Gue pun tidak terlalu banyak membicarakannya, hanya sesekali saja. Dalam masa seperti ini, dibanding tahu ini itu, gue lebih butuh mempertahankan kewarasan.

    Nanti, jika yang kusut sudah kembali lurus, yang berantakan sudah kembali rapi, perlahan gue buka lagi jendelanya. Gue cari tahu lagi dengan kepala yang lebih ringan, dengan hati yang lebih kuat. Sementara, gue bertahan dulu. :)

    Semoga kalian pun masih semangat bertahan hingga saat ini, ya. Jika mulai merasa hilang arah, please lakukan sesuatu untuk tetap berada pada jalur yang benar. Tidak perlu berulang kali berkata lo tidak apa-apa jika kenyataannya tidak seperti itu. Jangan terjebak toxic positivity.

    Sadari apa yang kalian rasakan. Lalu pahami, dan cari solusinya.

    Mari kita saling mendoakan semoga badai ini cepat berlalu dan kita bisa kembali bercengkrama satu sama lain... seperti sedia kala. Bagaimana pun, gue (dan juga kita semua) pastinya enggak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini.

    Tapi, as cliché as it may sound...

    ... this too shall pass.





    Continue Reading
    Siang itu, di tengah rutinitas yang kadang membuat gue bosan (tapi gue cinta juga), tiba-tiba ada satu notifikasi di WhatsApp gue. Pesannya dari seseorang yang bahkan sudah lama tidak berkomunikasi dengan gue. Isinya kurang lebih kayak gini:

    "Mba valine boleh bilang lagi selama 6 tahun kerja dpt atasan cewek lagi br beberapa bulan ini. Dan mba valine tetap memegang posisi yg terbaik."



    Ada jeda beberapa detik sebelum gue kembali mengambil nafas. Mata gue rasanya panas. Jadilah gue selama beberapa menit mati-matian nahan air mata yang nyariiis keluar. Seumur-umur, gue nggak pernah menyangka akan mendapat apresiasi segini besarnya. Pun, di satu sisi gue merasa bahwa gue tidak melakukan hal sebesar itu.

    Gue ingat-ingat lagi. Saat bekerja bareng dia, usia gue masih 27 tahun. Ilmu gue belum seberapa. Secara kepribadian, gue pun belum cukup dewasa. Maka yang bisa gue tawarkan ke tim gue saat itu adalah menjadi teman diskusi. Kami belajar bersama, dan gue harap kami tumbuh bersama.

    Sungguh, bukanlah maksud gue menyombongkan ini. Hanya saja, pesan singkat di siang itu benar-benar membuat gue tersentuh, tepat di saat gue lagi-lagi meragukan diri gue. Kata orang, kita enggak boleh larut dalam pujian karena itu bisa menjadi awal keterpurukan.

    Tapi, tenang. Pesan singkat itu akan gue jadikan pengingat untuk bekerja sebaik mungkin, seikhlas mungkin. Sepertinya memang benar apa kata buku NKCTHI, "semua yang dikerjakan sepenuh hati pasti sampai ke hati lain".



    Continue Reading
    Permisi~ Assalamualaikum! *nongol dari balik pintu*

    Sudah lama banget nggak ngunjungin blog ini, ya. Rasanya hidup ada yang kurang, tapi lagi-lagi gue cuma bisa kasih alasan klasik atas menghilangnya gue selama ini: sibuk sama kerjaan.

    Kerjaan apa? Nulis. Gue pastikan gue enggak akan jauh-jauh dari kerjaan ini seumur hidup gue. :)



    Iya, secinta itu gue sama menulis. Sampai-sampai, gue enggak tahu mau ngapain kalau enggak menulis. Bahkan, meski gue juga suka musik, gue tidak pernah berpikir untuk menjadikan hobi yang satu itu sebagai sumber penghasilan utama.

    Gue tidak bisa terlalu lama berada di bawah spotlight. Mental gue pun tidak cukup tangguh untuk berlama-lama berinteraksi dengan banyak orang. Mungkin, inilah bukti karakter introver gue yang entah kenapa diragukan beberapa orang akhir-akhir ini. Haha.

    Jadi, gue akan selalu kembali menulis. Meski kalau lagi mentok alias terserang writer's block, gue sering mempertanyakan kenapa gue menekuni bidang ini. But again, I love writing. Secinta itu.

    Nah, saat lagi nulis, bagi gue penting banget buat membangun mood. Gue harus merasa rileks dan nyaman, sehingga isi kepala bisa tercurahkan dengan maksimal. Selama ini, cara gue membangun mood adalah dengan mendengarkan musik. Makanya, kalau kelupaan bawa headset ke kantor, bisa dipastikan gue tidak akan terlalu lancar menulis di hari tersebut.

    Meski ujung-ujungnya target tulisan gue tercapai, namun gue biasanya tidak bisa menghasilkan tulisan yang memuaskan (setidaknya menurut gue). Terlebih, saat elo lepas headset di kantor, itu berarti elo mengirim kode ke orang-orang bahwa elo bebas diajak ngobrol.

    Enggak pakai headset = panggil saja aku kapan pun kamu mau meski aku terlihat sedang sibuk.

    Intinya, bawa headset ke kantor itu wajib hukumnya.

    Nah, balik lagi. Di tahun 2017, gue buat playlist di Spotify yang berisi kumpulan lagu asik versi gue buat nemenin nulis. Sejak pertama kali dibuat, gue jarang sekali memperbarui list lagu di playlist tersebut. Kayaknya gue hanya menambahkan kurang dari lima lagu ke dalam playlist tersebut.

    Jadi, bisa dibilang, selama tiga tahun terakhir, gue hampir mendengarkan lagu yang itu-itu aja saat menulis.

    Di dalam playlist yang selalu gue putar berulang kali saat menulis tersebut, ada lima lagu favorit gue yang dibawakan oleh musisi lokal. Mau tau, gak? Nih, gue share. Siapa tahu kita satu frekuensi, kan?

    Soon Finland by Heidi (The Girl with The Hair)

    Sejujurnya, gue lupa dari mana gue tau lagu ini. Yang jelas, pertama kali gue mendengarkan lagu ini, gue langsung suka.

    Mungkin karena melodi lagunya enak. Bisa juga karena suara penyanyinya bagus. Bisa juga karena liriknya begitu sederhana, namun manis sekali. Atau, karena gue ingin sekali mencoba tinggal di Finlandia. Bukan dalam waktu lama, setidaknya gue hidup selama enam bulan di sana. Bantu aminin dong? :D


    Memulai Kembali by Monita Tahalea

    Suaranya Monita Tahalea tuh adem banget! Setuju? Itulah kenapa, lagu-lagu dia selalu cocok menjadi teman menulis. Lagunya enggak berisik dan bikin tenang.

    Salah satu lagu Monita Tahalea yang jadi favorit gue adalah Memulai Kembali. Bahkan, di Spotify 2019 Wrapped, Memulai Kembali jadi lagu yang paling sering gue putar, lho. Menurut gue, lagu ini bukan cuma musiknya aja yang menenangkan, liriknya juga cantik.


    Forget Jakarta by Adhitia Sofyan

    Kalau elo coba dengerin dari lagu pertama yang gue berikan, pasti sadar deh tipikal lagu favorit gue buat nemenin nulis itu yang akustikan. Termasuk lagu Forget Jakarta dari Adhitia Sofyan ini, nih. Enggak musiknya, enggak liriknya, enggak suara masnya... semua bikin tenang.

    Sebenarnya, lagu ini enggak cuma gue dengarkan saat menulis aja, tapi juga saat di dalam kereta. Apalagi saat naik kereta pagi yang super penuh dan habis ketemu mbak-mbak galak, rasanya ingin langsung nyanyi, "I forget Jakarta. Leaving all the lunacy behind."





    I Love You but I'm Letting Go by Pamungkas

    Masih inget kan kalau gue cuma menambahkan kurang dari lima lagu di playlist gue? Nah, lagu Pamungkas ini salah satunya. Sama kayak lagunya Heidi, gue pun langsung suka saat pertama kali ngedengerin lagu ini.

    Ambyar banget, sih, lagu ini. Apalagi kalau didengerin pas lagi enggak ngapa-ngapain. Tiba-tiba gloomy aja gitu suasana hati gue. Apalagi, gue kan anaknya agak kelebihan emosi, ya. Semakin jadi, deh.

    Anehnya, lagu ini juga asik didengerin saat lagi nulis. Saat ngedengerin lagu ini pas lagi nulis, gue enggak merasa ambyar atau sedih, tapi jadi lebih rileks aja. Mungkin karena emang lagunya enak kali, ya. Didengerin pas lagi ngerjain apa pun jadinya tetep enak.


    Fine Today by Ardhito Pramono

    Awalnya, gue tau Ardhito Pramono karena dia kolaborasi sama Mocca. Saat itu, dia dan Mocca membawakan salah satu lagunya yang berjudul The Bitterlove. Begitu gue dengerin, kok enak, ya?

    Nggak lama, film NKCTHI keluar. Walau gue enggak terlalu suka sama filmnya, tapi salah satu soundtracknya yang berjudul Fine Today ternyata nyangkut di telinga gue. Begitu gue cari tahu, ternyata yang nyanyi Ardhito. Sejak itu, resmilah sudah lagu ini jadi teman nulis gue.

    Eh, enggak cuma The Bitterlove dan Fine Today, lagu-lagu Ardhito yang lain juga asik-asik banget. Kemarin, gue akhirnya menyempatkan diri buat melihat video klip lagu-lagunya Ardhito. Sebagian besar dikemas sederhana, tapi jadi menarik karena Ardhito jago berekspresi alias akting. Dasar Kale!




    ***

    Itu dia lima lagu favorit gue buat nemenin nulis. Kenapa gue enggak masukin Mocca padahal gue segitu sukanya sama mereka? Sederhana aja. Kalau dengerin musik mereka gue langsung ikutan nyanyi saking menikmatinya. Ujung-ujungnya enggak jadi nulis. Haha.

    Punya rekomendasi lagu yang asik buat nemenin nulis? Gue happy banget kalau kalian mau share di kolom komentar. :D


    Continue Reading
    Dulu, setiap kali mendengar kata toxic, gue langsung inget sama lagunya Britney Spears. Iya, yang di video klipnya dia jadi pramugari itu, lho. Sekarang, setiap kali gue mendengar kata ini, otak gue secara otomatis langsung bertanya-tanya, "Ada apa lagi ini?".

    Beberapa tahun terakhir ini, kata toxic memang sedang naik daun. Istilah ini populer banget dipake di mana-mana, dilabeli dengan mudahnya ke siapa saja. Banyak banget tuh postingan di socmed yang isinya ciri-ciri orang toxic, mulai dari mereka yang 'palsu', pesimis, hingga manipulator. 

    Postingan macam gini kemudian berujung pada pembenaran semacam, "Ih, bener. Dia tuh tipe toxic people yang ini banget". Ngejudge orang lain 'beracun' pun menjadi hal yang umum sekali dilakukan akhir-akhir ini.

    Semakin hari, gue merasa semakin risih dan lelah kalau mendengar kata "toxic". Menurut gue, penggunaannya sudah overused. Sudah terlalu berlebihan dipakai buat melabeli orang lain. Salah sedikit, dicap toxic. Nggak sejalan sedikit, dianggap toxic. Beda cara bergaul, dibilang toxic.

    Di dalam dunia psikologi sendiri, setahu gue istilah toxic people ini tidak pernah ada (cmiiw). Artinya, belum ada indikator valid yang bisa digunakan untuk mengukur dan menentukan apakah seseorang layak dilabeli toxic atau tidak.

    Jadi, bagaimana cara kita semua menentukan ke-toxic-an orang lain selama ini? Ya, atas dasar subjektifitas, alias suka-suka kita semua aja. Sama kayak kita ngelabelin orang nyebelin. Kita mencap seperti itu berdasarkan perasaan sendiri. Bedanya, label toxic itu dampaknya lebih besar.


    Tahu, kan, kalau toxic itu artinya racun? Di otak kita, racun itu sudah dikenali sebagai sesuatu yang sangat berbahaya dan perlu kita hindari. Itu sebabnya, orang yang dilabeli toxic itu seolah nggak ada bagus-bagusnya. Seolah semua yang ada pada diri dia segitu jeleknya. Gak usah ditemenin, gak usah dideketin... dia itu toxic!

    Dijauhi itu adalah efek pemberian label toxic yang segitu berbahaya dan menyedihkan, sih.

    Ya memang, memilih teman adalah hak kita semua. Kita tidak bisa cocok dengan semua orang dan kita berhak merasa bahagia dengan dekat bersama orang-orang yang membuat kita nyaman. Kita tidak perlu berteman dengan semua orang. Tapi, memberikan label toxic ke orang lain buat gue kini terasa berlebihan.

    Gue inget banget waktu itu pernah bertanya ke Kak Echa, kenapa dia masih mau sesekali main bareng temennya yang super pelit dan susah diajak patungan padahal lagi makan tengah. Jawaban Kak Echa sesederhana, "Ya, biar gitu-gitu, kan dia ada sisi baik yang gue suka juga."

    Klise? Iya. Tapi bener. Bener banget.

    Ibarat air dan api, yin dan yang, juga putih dan hitam... pada dasarnya kita semua memiliki dua sisi: baik dan buruk. Setiap dari kita punya sisi angelic dan toxic. Lagian, emang kita segitu yakinnya merasa tidak pernah mengeluarkan sisi gelap ini saat berhubungan dengan orang lain?

    Inilah yang membuat gue pada akhirnya pelan-pelan mulai mengubah kebiasaan men-judge dan memberikan label beracun ke orang lain. Rasanya terlalu arogan dan sok paling benar kalau asal tunjuk, asal menghakimi, asal memberikan label ini ke orang lain. 

    Bukan berarti semua yang tidak terasa klik buat kita itu toxic, kan? Ada banyak faktor yang menentukan perilaku seseorang, latar belakang keluarga salah satunya. Sepertinya kita harus belajar melihat lebih luas, dari sisi yang berbeda. Belajar memaklumi dan berkompromi untuk beberapa hal. 

    Mengingat manusia nggak ada yang sempurna, rasanya akan lebih damai kalau kita tidak saling menghakimi, tunjuk menunjuk, atau saling ngatain toxic.

    Ada kalanya hubungan kita dengan orang lain tidak berjalan baik, dan begitulah hidup. 

    Gue jadi ingat salah satu dialog di film NKCTHI yang kira-kira begini bunyinya: "Kebahagiaan kamu itu bukan tanggung jawab aku."

    Dengan kata lain, bukan tanggung jawab orang lain untuk membuat kita senang. Kita nggak bisa mengharapkan orang lain buat terus menerus menjaga perasaan kita. Sama kayak kita, mereka juga punya hati yang mesti dijaga. Tapi ini bukanlah pembenaran untuk menyakiti hati orang demi kebahagiaan sendiri, ya. 

    Kadang orang berbuat jahat, tapi nggak serta merta kamu menyebut mereka penjahat, kan? Begitu juga dengan pemberian label toxic. 

    Lagi-lagi, toxic is such a harsh word. Dampaknya juga cukup berat. Semoga ke depannya kita nggak segitu mudahnya melabeli orang lain dengan kata toxic ini. Semoga selanjutnya kita bisa memilih untuk memaafkan dan tidak saling melempar racun. 

    Continue Reading
    Perjalanan ini dimulai tahun sebelumnya, ketika kereta yang saya naiki berhenti di satu stasiun dan saya memilih turun. Bukan untuk menikmati pemandangan di sekitar stasiun, melainkan untuk berganti kereta.


    Saat itu, saya sadar betul bahwa hidup selalu penuh dengan ketidakpastian. Yang tidak saya ketahui adalah, kereta berikutnya yang saya naiki ternyata membawa saya pada suatu perjalanan yang benar-benar tidak saya duga. Kereta tersebut melaju lambat sekali tanpa ada pemandangan indah yang bisa saya nikmati selama perjalanan.

    Perjalanan saya begitu sunyi dan suram, hingga membuat saya takut karena api semangat di dalam diri saya perlahan padam. 

    Saya ingin berganti kereta. Namun hal tersebut sulit sekali saya lakukan meski saya ingin. Meski saya sudah berdoa sekuat tenaga. Meski hal tersebutlah yang selalu saya rapalkan nyaris setiap saat. Tapi, sejauh mata memandang, tak ada stasiun di mana kereta yang saya naiki bisa berhenti.

    Saya terus menaiki kereta yang sama, kereta yang berjalan pelan sekali, hingga tahun berikutnya. Perlahan... kata menyerah terasa begitu jelas terlihat. Haruskah saya diam saja di sini? Jelas hati saya tidak menginginkannya. Jelas sekali. 

    Hingga akhirnya saya pengap dengan semua senyap yang mengungkung saya di sini. Perlahan saya menyiapkan hati. Saya takut, tapi berada di dalam kereta ini perlahan membuat saya sesak. Akhirnya, saya buka jendela kereta lebar-lebar dan saya melompat ke luar. 

    Tibalah saya di sebuah tempat asing. Sejujurnya, tempat ini pernah saya bayangkan sebelumnya sehingga berada di sini tidaklah terlalu mengagetkan. 

    Seusai melompat, pelan-pelan saya bangkit. Sedikit babak belur, tapi saya tak lagi merasa pengap. Saya memutuskan berkemah di sini sementara waktu. Hanya sementara, pikir saya. Saya akan menikmati berada di sini, hingga saya menemukan jalan menuju stasiun berikutnya.

    Saya pun membangun tenda di tempat itu, kembali menghabiskan waktu dengan menulis. Sesuatu yang saya sukai sejak kecil dulu. Sesekali, saya menyanyikan lagu favorit saya, lagu dengan kata Finlandia di dalamnya, namun ternyata hanya sedikit menyinggung tentang Finlandia. Tapi tetap saja, saya suka. Lalu sesekali, saya menggambar dengan pensil yang selalu saya bawa di dalam tas.

    Untuk sementara waktu, api saya mulai menyala walau kecil. Tidak apa-apa, setidaknya tempat itu tidak segelap kereta sebelumnya. Meski tak seterang yang saya harapkan, namun saya rasa saya bisa bertahan.

    Sembari menghabiskan waktu di tempat itu, saya mencari jalan menuju stasiun. Satu kali, dua kali, tiga kali, berkali-kali... saya gagal menemukannya. Sejauh apa pun saya mencari, saya kembali ke tempat yang sama.

    Terkadang saya melihat secercah harapan. Terlihat seperti peron, namun begitu saya dekati ternyata itu hanyalah gundukan bebatuan. Fatamorgana, mereka bilang.

    Saya berada pada titik di mana saya benar-benar merindukan perjalanan yang membuat dada saya bergemuruh, saking bersemangatnya. Saya merindukan perjalanan yang membuat saya tidak sabar menunggu datangnya pagi. Saya merindukan api yang menyala terang benderang.

    Saya mencari dan terus kembali. Begitu seterusnya. Saya semakin sering mempertanyakan kelayakan diri saya seiring dengan kegagalan yang terus-menerus saya hadapi. Saya semakin ingin menyerah, namun juga tidak rela jika menyerah. Tahukah kamu rasa seperti ini?

    Mungkin memang benar, sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah bisa kamu raih sekencang apa pun kamu berlari ke arahnya, sekuat apa pun kamu berusaha. Memang benar, ada hal-hal yang ditakdirkan untukmu, dan ada yang tidak. Ada saatnya kamu cuma bisa menerima saat sesuatu yang ingin kamu raih ternyata bukan untukmu, seperti saya saat itu.

    Tentu saja, hati saya tak cukup lapang untuk menerima kegagalan dengan tenang. Saya marah, sedikit putus asa. Sepertinya dulu tak sulit menemukan stasiun saat saya tak ingin berhenti. Mengapa sekarang sulit sekali? Bisakah kamu menjelaskan fenomena apa yang sedang saya hadapi? 

    Akhirnya saya berhenti sejenak. Bukan untuk menerima atau menikmati semua ini, seperti yang mereka katakan saat saya tiba-tiba mempertanyakan semua hal ini. Saya hanya... letih. Mungkin itu kata yang paling tepat saat itu.

    Saya meluruskan kaki saya. Rasa pegal sisa berjalan ke sana kemari sebelumnya sepertinya tak kunjung hilang. Yang lebih parah, saya merasa sekujur tubuh saya sakit, meski saat itu saya memutuskan tidak berbuat apa-apa. Yang lebih parah lagi, dada saya kembali terasa sesak sekali. Ya Tuhan, saya lelah sekali.

    Lagi-lagi, mungkin memang benar, Tuhan akan menjawab doamu di saat yang tepat. Di sisa-sisa semangat yang saya miliki, saya tiba-tiba melihat sebuah stasiun di sudut yang tidak saya duga sebelumnya. Bahkan tidak jauh dari tempat saya berada.

    Saya berjalan pelan ke sana. 

    Dan begitu memijakkan kaki saya di peron stasiun, saya kembali terdiam melihat kereta yang ada di depan saya. Betapa hidup penuh dengan ketidakpastian dan kejutan. Kadang ironis, kadang dramatis. Kadang magis.

    Kereta di depan saya adalah kereta pertama yang saya tinggalkan tahun lalu. Pintu kereta itu terbuka lebar dan tetap seperti itu seolah menunggu saya yang masih bimbang untuk melangkah masuk.

    Beberapa saat kemudian, saya mendapati diri saya ada di dalam kereta. Saya masih ragu-ragu, namun yang saya tahu... tempat ini masih cukup terang dan riang. Tempat ini sepertinya masih mampu meletupkan api di dalam dada saya. Itulah yang pada akhirnya membuat saya tidak mengucapkan kata lain, selain syukur.

    Saya tidak pernah tahu bahwa semesta bisa bekerja segila ini. 

    Tak lama, pintu kereta tertutup. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kereta pertama. Meski tak mulus, tapi setidaknya saya yakin bahwa api itu tak akan padam untuk waktu yang lama. Itu saja sudah lebih dari cukup. Saya merasa cukup.

    Sejenak saya menilik kembali ke hal-hal yang telah saya lalui. Sesungguhnya, saya tidak menyesal telah berganti kereta. Setidaknya dari situ saya belajar, walau dengan cara yang cukup keras.

    Saya belajar tentang bagaimana menerima hasil meski sudah berusaha sekuat tenaga. Tentang bagaimana segala sesuatunya akan diberikan sesuatu waktunya. Tentang bagaimana bersabar. Tentang bagaimana mengikhlaskan.

    Kereta ini sudah membawa saya hingga penghujung tahun. Perjalanan ke depan tentu penuh kejutan, tapi saya menantikannya. Saya akan melihat bagaimana diri saya tumbuh sekali lagi.



    Continue Reading
    Lima tahun lalu, saat gue liburan ke Singapore pertama kalinya, gue nggak pernah berpikir akan kembali ke negara ini (dengan uang gue sendiri). Mengingat, saat itu gue merasa bahwa Singapura adalah negara yang serba mahal. Maklum aja, sebagai seorang fresh graduate dengan gaji UMR, uang gue ngepas banget saat itu.

    Nah, di bulan Juli lalu, Kak Echa mengajak gue liburan ke Singapore. Selain gue, dia juga mengajak sepupunya, Icha. Berhubung di tahun 2019 (sampai bulan Juli) gue belum traveling, juga belum ada rencana traveling, maka akhirnya gue ayoin ajakannya. Kalau lima tahun lalu Singapura terasa mahal, saat ini pun gue masih merasa sama mahalnya. Tapi, alhamdulillah, kini perjalanan terasa lebih lancar dan tidak se-ngepas dulu.

    Liburan gue kali ini mungkin bisa dibilang ala flashpacker, bukan backpacker seperti lima tahun lalu. Perjalanan gue terasa nyaman, tapi juga nggak bikin nangis karena tabungan terkikis habis. Intinya, yang sedang-sedang aja. It was not too fancy but still made me happy.

    Jadi, berapa biaya liburan gue ke Singapore dan seperti apa triknya biar hemat budget? Here, I'm gonna tell the tricks for ya!

    ***

    Tiket Pesawat PP Singapura

    Ini dia berita baik buat kita semua: tiket pesawat ke Singapura seringkali lebih murah dari pada tiket pesawat ke destinasi dalam negeri. Bahkan, kadang lebih murah beberapa ratus ribu rupiah dibanding tiket PP ke Bali.

    Saat ke Singapore kemarin, gue membeli tiket pulang dan pergi secara terpisah. Soalnya, gue belum memutuskan lama kunjungan ke Singapore. Kak Echa dan Icha sendiri sudah memutuskan dari awal akan stay selama enam hari, sementara gue masih galau menimbang-nimbang.

    Akhirnya, setelah proses menimbang selesai, gue putuskan untuk liburan selama empat hari saja di Negeri Singa ini. Untuk keberangkatan, gue menggunakan maskapai JetStar dengan harga tiket sekitar Rp500.000-an. Sementara, saat kembali ke Jakarta, gue menggunakan maskapai Air Asia dengan harga tiket sekitar Rp600.000-an.

    Tiket pesawat ini gue beli secara online di Tiket.com dan pegipegi. Sebelum beli tiket, jangan lupa cek dulu promo yang sedang berlangsung di online travel agent (OTA). Lumayan, lho! Saat pesan tiket pesawat di pegipegi kemarin, gue mendapat potongan harga sekitar Rp150.000-an dengan menggunakan kode promo.

    Untuk penerbangan internasional ini, gue hanya mendapat bagasi kabin dengan kapasitas 7kg. Berhubung gue merasa akan banyak jajan di Singapore, maka gue memesan tambahan bagasi sebesar 20kg saat pulang. Harga bagasi Air Asia dengan kapasitas 20kg adalah sekitar Rp230.000-an. 

    Lebih baik bayar bagasi di awal, deh, daripada saat check in, ternyata koper kelebihan muatan dan kena denda Rp150.000-Rp190.000 per kilonya. Apalagi, kemarin total bagasi gue adalah 11kg. Jadi mahal banget, kan, kalau kena denda?

    Jewel Changi Rain Vortex
    Area Rain Vortex di Jewel Changi

    Transportasi di Singapore

    Nah, sekarang lanjut ke transportasi begitu tiba di Singapura. Pada dasarnya, transportasi di Singapore sangatlah nyaman dan sistemnya sudah sangat baik. Selama liburan di Singapore, gue dan teman-teman hanya menggunakan MRT, berhubung tujuan wisata gue dilalui MRT semua.

    Untuk menaiki MRT, kita bisa membeli tiket satuan atau menggunakan kartu EZ Link. Harga tiket satuan biasa lebih mahal 70-90 cent dibanding kartu EZ Link.

    Bahkan, mulai tahun ini, kita bisa menggunakan kartu bank yang sudah dilengkapi teknologi VISA Paywave untuk naik MRT! Dan nggak cuma itu... berhubung kartu Jenius sudah memiliki teknologi ini, maka saat di Singapore kemarin gue bisa pergi ke mana-mana menggunakan kartu Jenius. Harga tiketnya pun mengikuti harga kartu EZ Link.

    Sebagai self-proclaimed Duta Jenius, gue tentu sangat senang dengan kabar ini.

    Cara Menggunakan Kartu Jenius untuk Naik MRT Singapura

    Apakah kartu Jenius bisa langsung digunakan untuk naik MRT di Singapura? Jawabannya tidak (cmiiw). Untuk naik MRT Singapore dengan Jenius, kita harus mengaktifkan dan membeli saldo mata uang asing terlebih dahulu. 

    Di Jenius sendiri, saat ini baru tersedia empat mata uang asing dan mata uang Singapore adalah salah satunya. Saldo mata uang asing ini hanya bisa diaktifkan di hari kerja pada pukul 08:00-16:00, ya.

    Setelah membeli dolar Singapura, pilih menu "Card Center", lalu ubah saldo aktif di m-Card menjadi saldo SGD. Selesai, deh! Nah, biaya MRT ini akan diakumulasikan per hari dan dipotong keesokan harinya.

    Karena gue sudah membeli saldo SGD, maka kemarin gue nggak tukar uang sama sekali di money changer. Gue cukup menarik uang tunai di ATM saat sudah sampai di bandara Changi. Memang, sih, untuk mengambil uang ini akan terkena biaya admin sebesar 2,5 SGD. Tapi, nggak apa-apalah, toh tarik tunainya hanya sekali.

    Hotel di Singapore

    Kayaknya bukan rahasia lagi kalau harga sewa kamar di Singapura tuh mahal. Huh, ampun, deh. Jiwaku terkoyak begitu lihat harga kamar hotel di sana. 

    Setelah mencari cukup lama, Kak Echa kemudian menyarankan untuk menginap di The Great Madras. The Great Madras merupakan hotel bintang-bintang (baca: bintang dua 😜) dengan konsep boutique hotel, yaitu hotel dengan ukuran cenderung kecil, tapi memiliki arsitektur dan desain interiro yang bagus dan unik, alias instagrammable. 

    Harga kamar hotel ini dibanderol mulai dari 800 ribuan semalam. Untuk harga 800 ribuan ini, gue hanya bisa mendapat tipe kamar hostel dengan kamar mandi bareng-bareng. Untuk areanya, gue pilih area khusus wanita berhubung gue akan di kamar sendirian. Biar lebih aman aja gitu. Sementara, Kak Echa dan Icha menginap bersama di area campuran.

    Nah, berhubung harga 800 ribuan semalam itu menurut gue cukup mahal, ya. Jadilah gue membandingkan harga dan promo di beberapa OTA. Akhirnya, gue memutuskan booking kamar lewat aplikasi pegipegi karena mendapatkan potongan harga hampir 200 ribuan per malam. Iyes, gue cukup bayar 600 ribuan aja jadinya.

    Lagi-lagi, keberuntungan menghampiri gue (alhamdulillah). Begitu check in, staf hotel mengatakan kalau kamar gue di-upgrade gratis karena area khusus wanita sedang direnovasi. Gue pun diberikan kamar tipe deluxe dengan kamar mandi di dalam. Yuhuu!

    Selama empat hari tiga malam, pengalaman menginap gue di The Great Madras bisa dibilang nyaman. Meskipun, di malam terakhir, orang-orang di kamar sebelah ngobrol keras banget dan kedengeran sampai kamar gue. Tapi, berhubung gue lelah, gue bisa tidur cepat meski suara di kamar sebelah berisik.

    Oh iya, lokasi hotel ini pun cukup strategis. Letaknya di daerah Little India dan dekat sekali dengan MRT Rochor dan Little India. Demi kenyamanan selama berjalan kaki dari dan menuju hotel, gue sarankan untuk naik dan turun di MRT Rochor, ya.


    Tempat Wisata di Singapura

    Meskipun negaranya hanyalah seluas Jakarta, tapi Singapura memiliki banyak tempat wisata yang menarik untung dikunjungi. Misalnya saja, Universal Studio Singapore (USS), Garden by The Bay, Fort Canning, atau Haji Lane. Beberapa memang berbayar dengan harga yang wow, tapi nggak sedikit juga yang bisa dinikmati gratisan.

    Jika ingin ke destinasi wisata berbayar, kita semua nggak perlu sedih. Ada cara yang bisa dilakukan untuk menghemat biaya, yaitu dengan memanfaatkan kode voucher di OTA seperti Traveloka dan Tiket.com.

    Kemarin, dengan berbekal kode promo, gue berhasil mendapatkan tiket USS seharga 600 ribuan di Tiket.com dan tiket Garden by The Bay untuk masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest seharga 166 ribuan di Traveloka. Murah, kan?

    Welcome to Universal Studio Singapore!
    Not Penny Lane, but Haji Lane
    Air terjun di Cloud Forest, Garden by The Bay

    Makanan di Singapore

    Untuk urusan makan, gue sebenarnya tidak terlalu mengawasi berapa biaya yang dikeluarkan. Maklum, gue penganut perut kenyang, hati senang. Jadi, kapan saja gue lapar, ya gue akan makan dan nggak terlalu memperhatikan harga.

    Meski begitu, terkadang saat perut belum memberontak, gue, Kak Echa, dan Icha juga beberapa kali memutar otak biar biaya makan kami nggak terlalu mahal. Misalnya saja, ada kalanya kami makan di hawker, sebutan kaki lima di Singapura.

    Saat liburan ke Singapura kemarin, kami sempat berkunjung ke Newton Food Center. Iya, kalau elo nonton Crazy Rich Asians, ada adegan di mana Nick, Rachel, Colin, dan Araminta makan di sini. Gue dan teman-teman memesan dua nasi goreng seafood, fried baby octopus, dan oyster omellete. Total yang harus kami habiskan adalah 33 SGD. Kalau dihitung-hitung, mahal juga ya buat berdua.

    Tapi... ternyata porsi nasi gorengnya banyak banget! Dan ternyata, mayoritas makanan di Singapura itu porsinya besar, cukup untuk berdua. Nah, ini bisa jadi cara untuk menghemat budget makan, nih: sharing makanan.

    Waktu di USS pun—yang harga makanannya sekitar 15 SGD—kami makan ramean dan ternyata porsinya sangat pas setelah dibagi.

    Cafe Latte %Arabica di Arab Street, dekat Haji Lane
    1 porsi chicken wings dan 1 porsi Tater Tots di Goldilocks USS. Pas untuk bertiga!

    Pengeluaran Lainnya

    Selain beberapa biaya penting di atas, kemungkinan akan ada tambahan biaya lainnya, seperti internet dan oleh-oleh.

    Untuk internet, gue membeli SIM card melalui Klook seharga 100 ribuan. Dengan harga ini, gue mendapat kuota internet sebanyak 100 GB. Selain SIM card, elo juga bisa menyewa MiFi melalui Klook.

    Lalu, untuk oleh-oleh, sebenarnya ada beberapa tempat yang bisa didatangi. Contohnya, di sekitaran Bugis Street, Lucky Plaza, dan Mustafa. Gue menyarankan membeli di Mustafa karena harganya bisa lebih murah 40-50 cent dibanding Lucky Plaza. Selain itu, pilihan di sini pun lebih banyak.

    ***

    Kalau ditotal, biaya yang harus gue keluarkan untuk liburan akhir tahun ke Singapore selama 4 hari 3 malam adalah sekitar 5,6 juta, di luar oleh-oleh. Tentunya biaya tersebut bisa ditekan hingga 1 jutaan lagi kalau elo nginep satu kamar berdua (nggak sendirian kayak gue), sharing bagasi, atau menghemat biaya makan.

    Jadi... selamat menyusun rencana liburan, ya!



    Continue Reading
    Rasa-rasanya, 2019 itu jadi tahun coba-coba gue, ya. Kalau sebelumnya coba-coba resign terus balikan sama kantor lama, sekarang coba-coba rafting alias arung jeram untuk pertama kalinya.

    Padahal ya, gue seperti kucing: takut air. Walau sebenarnya dari dulu pengen banget rafting, tapi tetep aja ujung-ujungnya mundur pelan-pelan. Ya gimana, pengalaman tenggelam pas banjir saat SD dulu masih menghantui sampai saat ini, Sist!

    Walau udah berani snorkeling sejak empat tahun lalu, tapi gue tetap mikir kalau air di laut itu beda sama air di kolam renang dan sungai. Logika halu gue ini selalu mikir kalau gue tenggelam di laut maka kemungkinan ngambangnya lebih tinggi daripada di kolam renang dan sungai. Makanya, gue lebih berani main air di laut. I know, I know... halu, kan? Tapi, gimana dong? 😜

    Nah, berhubung gue pengeeeen banget cobain main arung jeram dari dulu, dan tiba-tiba tingkat keinginan gue jadi sedikit lebih tinggi dibanding tingkat ketakutan gue, akhirnya gue pun bergabung dengan anak-anak kantor gue untuk rafting di Ciberang, Banten. Deg-degan sih, tapi hajar ajalah!

    Lagi-lagi kepanjangan ya intronya? Haha. Baiklah, gue lanjutkan ke hari H, hari penentuan kapok tidaknya gue rafting.

    ***

    Sebelum berangkat rafting, Ihsan, kepala sukunya tim IT sudah membagi 14 anak kantor menjadi tiga tim berdasarkan lokasi keberangkatan. Titik kumpul gue adalah di Stasiun Bogor karena gue berencana nebeng mobil Sindyta yang tinggal di Bogor. Selain gue, ada tiga orang lainnya yang nebeng Sindyta.

    Bisa dibilang, perjalanan menuju Ciberang seperti latihan persiapan buat rafting hari itu. Pertama, mobil yang dikendarai Syndita adalah mobil Taft yang dimiliki keluarganya sejak tahun 1986. Yang mana... sepanjang perjalanan guncangannya begitu terasa, tapi seru! Semacam pengen lagi roadtrip pakai mobil begini.



    Kedua, kami nyasar dua kali. Tim lain sepertinya melewati jalan normal yang bersahabat, sementara kami melewati hutan, jurang, gunung... dan empang. Alhasil, perjalanan yang harusnya hanya memakan waktu 2,5 jam pun molor menjadi 4 jam.

    Begitu tiba di titik kumpul, sekaligus titik awal rafting, makan siang sudah tersedia di saung. Anak-anak yang lain sudah makan lebih dulu karena memang sudah masuk jam makan siang. Berhubung sudah lapar, kami pun langsung ikutan menikmati nasi dengan sayur asam, ayam dan tempe goreng, serta karedok. Nggak ketinggalan, kerupuk dan sambalnya.

    Selain saung untuk tempat makan dan beristirahat, di lokasi kumpul tersebut juga ada enam kamar mandi untuk tempat bilas dan mushola. Bahkan, di depan saung ada Indomaret juga, lho. Jadi, untuk orang-orang yang butuh gula, kayak gue kemarin, bisa dengan mudah membeli teh botol dingin.

    Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami pun bersiap rafting sekitar jam 2 siang. Sebelum rafting, kami harus menggunakan peralatan keselamatan dulu, yaitu life vest dan helm. Masing-masing dari kami juga diberikan satu dayung.


    Setelah semua menggunakan peralatan keselamatan, kami dibagi menjadi empat tim. Yang membagi adalah pemandunya langsung. Mereka membagi tim berdasarkan berat badan untuk menjaga keseimbangan di kapal nanti.

    Begitu tim sudah dibagi, kami pun diperkenalkan dengan pemandu untuk tiap tim dan diajak turun ke sungai. Saat rafting kemarin, pemandu gue adalah Rohim, yang ternyata pernah menjadi perwakilan kotanya untuk kejuaraan rafting nasional, jika gue tidak salah ingat.


    Sampai di sungai, pemandu akan mengatur posisi duduk kami. Kemudian, kami pun diberikan briefing singkat, mulai dari cara memegang dayung hingga sejumlah aba-aba yang akan diberikan pemandu dan harus kami lakukan saat rafting. Misalnya saja, jika pemandu berteriak "Stop!", maka dayung harus diangkat dari sungai dan diletakkan di atas paha masing-masing.

    Akhirnya, setelah diawali dengan berdoa bersama... rafting pun dimulai. Rasa deg-degan berubah menjadi super excited. Iya, gue nggak lagi cemas karena sudah pake life vest dan udah ingetin (dengan nada menggertak) pemandunya biar kapal gue nggak ditebalikin. Haha.

    Sebelum di-brief pemandu
    Saat rafting kemarin, kami memilih perjalanan 10 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Selain jarak 10 km, ada juga jarak 900 m untuk anak-anak dan 25km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam.

    Gue pikir, gue akan mendapat serangan panik saat rafting. Tapi, ternyata justru gue sangat menikmati perjalanan menyusuri Sungai Ciberang ini. Seru banget rasanya saat perahu yang gue naiki berjalan tidak seimbang ketika melewati celah bebatuan, atau saat tersangkut di batu sampai perahu miring.

    Sembari rafting, gue dan teman-teman juga menikmati pemandangan cantik di sekitar sungai. Bahkan, gue sempat melihat biawak di sisi sungai, sementara teman gue melihat monyet di atas pohon. Perjalanan menjadi semakin menyenangkan saat hujan turun. Kapan lagi kan happy saat kehujanan? Cuma pas rafting aja kayaknya.



    Sesekali, pemandu kami juga bercerita tentang area yang kami lalui. Misalnya saja, ada jeram yang dinamakan Jeram Brimob karena anggota Bribob pernah terjatuh di situ. Sekilas, gue berpikir, haruskah gue menceburkan diri di salah satu jeram biar dinamakan Jeram Valine? Hahaha.

    Saat hampir melewati setengah perjalanan, kami diajak beristirahat sebentar di sisi sungai. Beberapa dari kami memilih berenang atau bermain air, sementara beberapa orang lainnya mencoba melompat dari bebatuan tinggi di sisi sungai.

    Sekitar 15 menit kemudian (ini ngarang sih karena gue gak pakai jam hahaha), perjalanan kami pun dilanjutkan. Kali ini, medan yang harus dilalui lebih berat dibanding sebelumnya. Bahkan, kami harus melewati air terjun dengan ketinggian 1,5 meter.

    Momen saat perahu menuruni air terjun itu cukup bikin deg-degan, tapi ini menjadi tantangan favorit gue saat rafting kemarin. Saat menuruni air terjun, gue hampir kecebur. Untungnya, pemandu perahu yang gue naiki dengan sigap menarik life vest gue.

    Look how happy I was haha
    Setelah mengarungi sungai, kami dihadapkan kembali dengan bendungan air terjun setinggi 3 meter. Kali ini, kami harus turun dari perahu atas alasan keamanan. Kami pun turun ke bagian seberang air terjun lewat pinggir sungai yang memang sudah dibeton dan dilengkapi dengan tangga.

    Bendungan tiga meter
    Begitu perahu sudah turun, perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, bukanlah pepohonan yang berada di kanan dan kiri kami, melainkan rumah warga. Kami juga sempat melihat berbagai aktivitas mereka, mulai dari sikat gigi hingga mencuci baju. Ada juga tiga anak kecil yang sedang mandi dan mencipratkan air sungai ke kami. Sayangnya, di area ini air sungainya mulai kotor. Banyak sampah di kanan kiri sungai, bahkan beberapa terbawa arus.

    Tak lama, kami pun tiba di titik terakhir. Di perhentian akhir ini, kami disajikan air kelapa dan tempe goreng. Pas banget, di pertengahan rafting rasanya perut sudah keruyukan, padahal baru makan tak sampai 4 jam yang lalu. Setelah selesai mengganjal perut, kami pun diantarkan kembali ke titik awal dengan menggunakan mobil bak terbuka. Wah, rasa-rasanya terakhir naik mobil beginian pas SD dulu, deh! Haha.

    Naik pick up sambil kedinginan karena basah kuyup
    Overall, perjalanan rafting ini cukup seru untuk gue yang baru pertama kali mencoba, bahkan gue merasa tantangannya belum cukup ekstrim sebenarnya. Menurut pemandu gue, ini disebabkan karena ketinggian air hanya 35 cm, padahal standarnya adalah 70 cm. Kegiatan arung jeram akan lebih seru lagi jika ketinggian air mencapai 90 cm.

    Jadi, kapok atau nggak? Ya, nggak dong! Malah nagih, pengen coba yang lebih menantang. 😁


    Disclaimer: All photos in this post aren't mine. Semua diminta dari koleksi foto teman-teman kantor gue (Sindyta & Tino) dan dari pihak travel.


    Ciao!

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top