Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    "Halo. Apa kabar, Mba?"

    Awal perjalanan gue di mulai dengan sapaan hangat seorang driver Gojek yang sebelumnya pernah beberapa kali mengantar gue. Gue pun menjawab pertanyaannya yang disambut beliau dengan ,"Alhamdulillah". Sepanjang perjalanan dari rumah ke pool bus bandara yang singkat itu, Bapak Driver Gojek sempat bercerita tentang kesukaannya traveling ala backpacker. 

    Sesampainya di pool bus, nggak lama bus bandara tiba dan ternyata jalan tol pun lagi baik-baiknya sehingga gue sampai di bandara lebih cepat hampir 4 jam dari waktu take off. Tapi kalau kata Ode, lebih baik kecepetan daripada ketinggalan pesawat.

    "What a nice start", pikir gue.

    Setelah 1,5 jam keliling bandara sendirian, Tomo dan 2 temannya -Dolly dan Koh Robby- tiba. Ini pertama kalinya gue ketemu Dolly dan Koh Robby. Jujur aja gue harap-harap cemas traveling bareng kenalan baru karena gaya traveling orang, kan, beda-beda. Tapi bertemu orang baru selalu menambah pengalaman baru, kan? Pengalaman yang gue dapet kali ini persis seperti quote berikut:


    As with any journey, who you travel with can be more important than your destination - Unknown


    ***

    Pengalaman baru gue dimulai dengan diomelin mas-mas boarding room karena kita boarding super mepet. Loh, bukannya gue udah sampai lebih awal? Yes.

    Sebenarnya kita udah di ruang tunggu 10 menit sebelum boarding sampai tiba-tiba...

    Sesi curhat dimulai!

    Bukan gue, tapi satu dari laki-laki itu tiba-tiba curhat menggebu-gebu sehingga dua orang lainnya pun harus menanggapi. Gue seperti biasa mencari cara untuk melarikan diri dari awkward momen seperti itu. Begitu waktu boarding tiba, gue melirik ke tiga teman gue. Tak ada tanda-tanda pegerakan.

    25 menit sebelum take off. Petugas Sriwijaya Air memanggil kembali para penumpang yang belum berangkat menuju pesawat. Gue kembali melirik mereka. Posisi masih sama. Gue pun sibuk berspekulasi sendiri. Oh mungkin mereka sengaja karena sambil nunggu penumpang naikin barang di kabin. Atau, oh mungkin emang mereka nggak mau kelamaan nunggu di pesawat.

    20 menit sebelum take off. Petugas semakin gencar mengingatkan penumpang. Gue mulai lirik-lirik cemas dan tak ada tanda-tanda pergerakan.

    15 menit sebelum take off. Gue pun memanggil Tomo dan memberitahu kalau petugas Sriwijaya sudah memanggil untuk menuju pesawat. Mereka pun baru beranjak dan Tomo bilang mau ke toilet sebentar. Gue tepok jidat sambil ngeluarin satu bungkus stok sabar. 

    Usut punya usut, ternyata mereka bertiga nggak ada yang denger informasi dari petugas Sriwijaya saking serunya dengerin temen curhat. 

    Lesson number 1, jangan sibuk berspekulasi sendiri. 
    Lesson number 2, tolong cari momen yang tepat ya ibu-ibu kalau mau curhat.

    Ruang tunggu alias tempat curhat dadakan


    ***

    Perjalanan Jakarta-Belitung ternyata sangat singkat, hanya satu jam saja. Sore itu sekitar pukul 15.50 kami sampai di Bandara H. A. S. Hanandjoeddin dan disambut manis oleh Pak Agus, salah satu driver dari jasa antar-jemput bandara milik Pak Kusdian. 

    Sebenarnya kami mengikuti rombongan open trip dari Rani Journey. Tapi berhubung harga tiket tanggal 13 Mei membengkak, kami memutuskan untuk membeli tiket sehari sebelumnya dan berjalan-jalan sendiri.

    Kami pun memilih penginapan di dekat pantai Tanjung Pendam. Lumayan, kan, nanti sore bisa main di pantai. Pantai Tanjung Pendam sore itu tak terlalu ramai pengunjung. Mungkin karena pesonanya masih kalah cantik dibanding pantai di Belitung lainnya.


    Sunset-an dulu di Pantai Tanjung Pendam


    Dari pantai, kami berjalan kaki menuju pusat kota Tanjung Pandan. Di tengah perjalanan, kami mampir ke toko kopi Kong Djie. Sayangnya, asam lambung gue beberapa hari terakhir sedang tinggi sehingga gue tidak bisa ikut ngopi ala warga Belitung. Tapi, di sini gue mencoba jeruk kunci hangat yang ternyata enak dan segar rasanya.

    Sekitar 15 menit 'ngopi' di Kong Djie, kami pun beranjak ke tempat lain. Berhubung nggak sewa kendaraan, kami kembali berjalan kaki untuk mencari makan berat. Di sekitar Jalan Sriwijaya, kami pun menemukan Mie Atep. Di dalamnya, terpasang deretan foto pemilik Mie Atep dengan artis hingga politisi dalam negeri. 

    Gimana, sih, rasanya Mie Atep? Unik. Rasanya nggak biasa tapi enak. Isinya adalah mie kuning, udang, tahu, pempek, dan emping, lalu disiram oleh kuah kental berwarna kecokelatan. Selesai makan Mie Atep, kami kembali berkeliling untuk mencari makanan lainnya. Ternyata dua temen baru gue ini suka banget nyobain makanan baru. Sementara gue hanya jadi penonton karena perut gue tak sanggup lagi menampung makanan dan kebetulan mereka mencari makanan nggak halal. So... big no.

    Hari itu ditutup dengan kaki yang kecapean berjalan, bau kamar hotel yang agak aneh, dan adaptasi dengan teman-teman baru. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai esok hari saat tour guide kami menjemput di penginapan sekitar pukul 08.30 WIB. Gue akan menceritakan serunya jalan-jalan di kota Laskar Pelangi di post berikutnya. Tungguin, ya! 



    Continue Reading
    Prolog
    Sepertinya gue emang nggak bakat (alias terlalu malas) untuk nulis artikel bersambung. Jadi, setelah tertunda dua bulan lamanya, ini dia kelanjutan cerita gue di Karimunjawa Agustus lalu. Baca part 1-nya di sini.


    Day 3 at Karimunjawa
    "Kita bisa pulang nggak, ya?". Itu pertanyaan yang terulang terus sejak semalam. Kenapa? Karena kami mendapat kabar dari penduduk lokal kalau gelombang air laut sedang tinggi sehingga tidak ada kapal yang beroperasi.

    Pagi ini seharusnya kami sudah kembali ke Jakarta. Dengan perasaan penuh harap, pagi ini kami sarapan bersama sembari menunggu kabar dari tour guide. Siapa tahu siang ini kita bisa menyebrang dan mengejar kereta ke Jakarta yang akan berangkat di malam hari. Sekitar pukul 08.00 pagi, kami pun menelepon tour guide kami yang ramah itu. Dan ternyata... sudah ketuk palu sodara-sodaraaa...! Hari ini kapal beneran nggak diizinkan berangkat.

    Jadi, pagi itu kami pun disibukkan dengan memilih destinasi wisata selanjutnya. Ada yang mau wisata darat, ada yang mau wisata laut. Karena kami bertujuh, jadi keputusan harus dibuat seadil mungkin biar nggak bete-betean. Dan keputusan jatuh kepada... wisata darat.

    Emang ada wisata darat yang asik di Karimunjawa?

    Ada kok, guys. Mayan buat cuci-cuci mata, walaupun to be honest nggak sekece wisata lautnya. Tapi, daripada you bengong aja di penginapan, mending keliling-keliling, kan?

    So, di Karimunjawa ternyata ada wisata mangrove yang instagenic. Pas banget deh buat foto-foto cantik.

    Wisata Mangrove sembari ditemani desiran air laut

    Setelah mengitari area mangrove itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke bukit love. Kenapa dinamakan bukit love? Bukan, bukan karena bukit ini adalah latar dari cerita rakyat yang romantis. Bukit ini dinamakan bukit love karena... di pintu depan bukit ini ada tulisan LOVE. 

    Jujur aja, kita cuma foto-foto di depan bukit LOVE karena terlalu malas menanjak. Setelah foto-foto, perjalanan pun dilanjutkan ke Bukit Joko Tuo.

    Siap nanjak!
    Di perjalanan menuju ke atas bukit, kita akan melihat tulang belulang paus yang dulu pernah tersasar di area Karimunjawa.

    Ini dia tulang paus yang terdampar di Karimunjawa

    Begitu sampai di atas, kalian boleh berpuas hati karena pemandangan laut dari atas bukit bikin sejuk mata. Bukit Joko Tuo bisa dibilang adalah tempat yang pas untuk melihat sunset selama di Karimunjawa. Tapi karena kita sampai di bukit ini sekitar pukul 4 sore, which is masih lama untuk menunggu matahari terbenam, kami pun memutuskan untuk balik sebentar ke penginapan dan menghabiskan sunset di area dermaga.



    Lalu, apa yang kami lakukan di malam hari? Tentu aja makan lagi cumi crispy di alun-alun! 

    Day 4 at Karimunjawa
    Alam sepertinya belum mau berdamai. Gelombang masih tinggi dan kami pun terpaksa menunda kepulangan. Memasuki hari ke-empat di Karimunjawa, kami dihadapkan dengan rasa bosan karena hanya stay di penginapan. Bukan karena tak ada lagi daerah wisata yang bisa dikunjungi, namun karena kami harus berhemat jika besok gelombang air laut tak juga surut.

    Maka hari itu kami isi dengan rujakan jambu air yang metik di pohon depan penginapan. Bener-bener slow life. Sore harinya, tour guide kami datang dan berkata bahwa gelombang laut sudah mulai tenang dan kemungkinan kapal bisa berangkat besok hari.

    Masalah satu selesai, masalah baru tiba. Karena tiket kereta kami hangus, maka kami pun harus mencari tiket kereta kembali. Namun sayang, tiket kereta ke Jakarta keesokan hari sudah habis dan lusa kami sudah harus kembali bekerja.

    Awalnya kami ingin menaiki bus dari Jepara, namun bus baru ada di malam hari. Kami pun menanyakan penyewaan mobil ke tour guide dan alhamdulillah si bapak punya kenalan sewa mobil. Setelah nego beberapa kali, akhirnya kami menyewa Elf dari Jepara - Jakarta seharga 3,2 juta.

    Ya, semua demi masuk kerja lusa....

    Day 5 at Karimunjawa
    Jam 3 pagi kami sudah bangun dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Jam 4 pagi tour guide kami menjemput dan kami pun diantar menuju pelabuhan. Dari berita yang kami baca di media online, ada sekitar 900 turis yang terdampar di Karimunjawa, bersama kami. Namun pagi itu hanya sekitar 200 orang yang bisa menyebrang, termasuk kami.

    Beruntunglah kami karena menggunakan jasa travel sehingga mendapat jatah tempat untuk penyebrangan pertama ini. Kabarnya, hanya kapal express saja yang bisa menyebrang, sementara kapal besar seperti Siginja belum mendapat izin berangkat.

    Begitu sampai di pelabuhan Kartini, Jepara kami langsung menghubungi bapak sewa Elf yang sudah janjian di malam sebelumnya. Biaya sewa elf yang lumayan mahal mendadak terasa lebih ringan karena kondisi Elf yang masih bagus dan luas. Ditambah lagi, ada dua orang penumpang dadakan yang ingin pulang ke Jakarta dan kehabisan tiket kereta juga. Makin sedikit deh patungannya. :D

    Bagi gue, perjalanan ke Karimunjawa adalah one of my most unforgettable trip karena akhirnya gue berhasil mengalahkan ketakutan gue dengan air dan tentu saja merasakan terdampar di pulau selama dua hari. Dari liburan ini gue juga jadi menyadari bahwa bawa uang cadangan selama traveling itu penting!

    Tips liburan ke Karimunjawa
    1. Persiapkan mental dan dana untuk extend liburan. Gelombang air laut bisa tinggi sewaktu-waktu dan penyebrangan bisa ditiadakan untuk waktu yang tidak pasti.
    2. Bawa sunblock! Liburan ke sini akan dipenuhi dengan snorkeling dan main-main di pantai.

    Continue Reading
    Mencari destinasi wisata yang asik untuk berlibur saat weekend? Yuk, ke Teluk Kiluan Lampung! Nggak butuh waktu lama untuk berlibur di sini. Dalam dua hari kita bisa melihat lumba-lumba sampai berenang di kolam renang alami.

    Kerja dan beraktivitas di Jakarta pasti bikin suntuk dan lelah, kan? Untuk yang sudah bekerja pasti seringkali ingin berlibur namun terganjal dengan urusan cuti-cutian, seperti gue dan teman-teman. Karena itulah, penting banget buat kita mencari tempat liburan yang bisa dikunjungi saat weekend. Salah satu tempat liburan yang patut dikunjungi adalah Teluk Kiluan.

    Beneran ke Kiluan cuma butuh waktu dua hari aja?

    Beneran! Makanya, yuk baca terus perjalanan gue dan temen-temen kantor ini.

    Jumat, 5 Juni 2015
    Traveling ke Teluk Kiluan ini adalah jalan-jalan bersama pertama gue dan temen-temen kantor. Kita pun mencari travel agency sebulan sebelumnya dan hampir setiap hari ngomongin tentang rencana jalan-jalan kita ke Kiluan ini. Kita excited banget! Kebangetan malah.
    Akhirnya, hari yang kita tunggu-tunggu pun dateng. Sehabis pulang kerja, kita pun pergi ke Plaza Semanggi, meeting point kita dengan orang travelnya. Pukul 20.30an, setelah makan malam dan beli cemilan, kita berangkat menuju pool bis di daerah Tangerang kalo nggak salah. 
    Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 saat kita sampai di pool bis yang akan mengantar kita sampai Pelabuhan Merak. Maklum yah, jalanan Jakarta Jumat malam emang suka nggak logis.

    Sabtu, 6 Juni 2015
    Setelah sempat tidur-tidur ayam di bus, kita pun sampai di Merak sekitar jam 02.00 pagi. Dari tempat berhentinya bus ke Pelabuhan Merak deket banget. Bisa banget jalan kaki. Setelah itu kita nunggu (yang katanya) Tour Guide kita ngurusin tiket dan sekitar jam 02.30 kita udah di kapal menuju Pelabuhan Bakauheni.
    Perjalan ke Bakauheni memakan waktu sekitar dua jam. Sambil nunggu waktu, gue dan teman-teman tidur-tiduran. Beberapa, termasuk gue, ketiduran beneran. Dan yang lainnya nggak bisa tidur karena suara film yang diputer berisik banget. 
    Sampai di Bakauheni sekitar jam 05.00 pagi dan kita sudah dijemput oleh orang dari tur lokal Kiluan. Jadi, travel kita di Jakarta pakai jasa tur lokal Lampung.
    Perjalanan menuju Kiluan diteruskan melalui darat. Setengah perjalanan damai, namun bersiaplah untuk setengah perjalanan ke depan. Jalanan menuju Kiluan rusak parah. Parahnya beneran parah! Buat yang suka mabok, lebih baik minum antimo biar tidur di jalan.
    Setelah melalui jalanan yang parahnya kebangetan selama beberapa jam, kita pun sampai di Kiluan pukul 12.00 siang. Jangan ngarep penginapan bagus dan ber-AC ya. Jangan percaya juga kalau orang travel kamu ngejanjiin penginap kece dengan AC (ini serius kejadian sama gue dan temen-temen). Kabarnya penginapan di Kiluan berdinding kayu dan nggak ber-AC untuk menjaga ekosistem.
    Begitu sampai di penginapan (dan tercengang kaget karena kita -gue boleh bilang dibohongin ngga?- sama tur dari Jakarta yang bilang penginapannya ber-AC), kita pun disuguhkan makanan oleh ibu pemilik penginapan yang ramah banget. Setelah makan kita langsung pergi menuju Laguna Dodo, kolam renang alami yang terbentuk dari bebatuan karang.
    Untuk menuju Laguna Dodo, kita harus menyebrang menggunakan perahu jungkung ke pulau di seberang penginapan.
    Menaiki Jungkung Menuju ke Laguna Dodo
    Perjalanan tidak berhenti di situ karena perjalanan yang sesungguhnya dimulai setelah kita turun dari jungkung. Untuk menuju Laguna Dodo kita harus menaiki tanjakan, lalu menuruni tangga. Setelah menuruni tangga kita akan sampai di Pantai Gayo.
    Pantai Gayao, Lampung
    Pantai Gayao, Lampung

    Lagi-lagi perjalanan tidak berhenti di situ. Begitu sampai di Pantai Gayo, kita dihadapkan dengan bebatuan karang. Iya, untuk menuju Laguna Dodo kita harus melewati bebatuan karang yang tajam dan licin ini. Jadi lebih baik hati-hati dan gunakanlah alas kaki yang tepat ya.
    Iya, sekecil itu space buat jalannya, guys!
    Naik-turun karang menuju Laguna Dodo
    Perjalanan naik turun karang ini kira-kira memakan waktu 30-60 menit. Kalau kamu sempet sok-sokan mau naik karang yang tinggi dan foto-foto kayak kita kemungkinan ya bisa lebih lama dari itu hahaha.
    Sok-sokan naik karang tinggi, pas turun bingung :D
    Dan setelah perjalanan melelahkan itu, akhirnya sampai jugalah kita ke Laguna Dodo. Karang di Laguna Dodo tajem dan licin, jadi harus ekstra hati-hati. Selain bisa berenang, di Laguna Dodo juga bisa main bareng clownfish, lho. Banyak banget clownfish-nya. 
    Karena gue memiliki pengalaman buruk dengan air, alhasil gue pun merepotkan temen-temen gue karena gue cemen banget di air. Awalnya takut banget nyebur, tapi pengen. Akhirnya pakai life vest dan mulailah gue latihan berenang di laut.

    Laguna Dodo


    Puas main air, kita pun kembali ke penginapan dan tentu aja melewati perjalanan naik-turun karang tadi. Perjalanan pulang terasa lebih berat karena tenaga kita sudah mulai habis.

    Muka-muka cape abis trekking

    Minggu, 7 Juni 2015
    Hari Minggu ini adalah hari yang paling kita tunggu karena kita akan hunting lumba-lumba ke tengah laut. Awalnya Ibu pemilik penginapan menyuruh kita siap-siap dari jam 5 pagi, lalu sarapan dan berangkat menuju tengah laut pukul setengah 6. Tapi karena kita baru bangun jam setengah 6, kita pun baru berangkat 6 lewat.
    Untuk melihat lumba-lumba ini kita menaiki jungkung ke tengah laut. Iya, ke tengah laut! Menuju tengah laut kita akan dihadapkan dengan ombak yang cukup besar. Jungkung pun naik turun terhempas ombak.
    Awalnya kita ragu bisa melihat gerombolan lumba-lumba karena kita berangkat siang. Tapi ternyata nggak! Begitu sampai di tengah, kita melihat gerombolan lumba-lumba di depan, di belakang dan di kanan, di kiri jungkung. Lumba-lumbanya banyak banget! Sayang gue nggak punya dokumentasi foto dan videonya.
    Sehabis melihat lumba-lumba, bapak pengendara jungkung membawa kita ke Pulau Kelapa untuk snorkeling. 
    Happy abis liat lumba-lumba

    Pasir di Pulau Kelapa lebih putih dan halus dibandingkan Pantai Gayao. Kita pun berenang di sana sambil menunggu peralatan snorkeling tiba. Begitu peralatan snorkeling datang, kita langsung meluncur untuk snorkeling di tepi pantai.
    Air di Pulau Kelapa sangatlah bening. Tapi sayang, nggak ada ikan dan karang yang bisa kita lihat. Kita pun gagal snorkeling. Nggak mau kecewa lama-lama akhirnya kita pergi sedikit ke tengah dan main-main di sana.

    Pulau Kelapa
    Pulau Kelapa

    Selesai main di pantai, waktunya kita siap-siap pulang dan kembali menghadapi realita: kembali bekerja di hari Senin pagi.

    TIPS KE KILUAN:
    1. Lebih baik pakai tur lokal dari Bakauheni karena dari pengalaman gue kemarin, toh ujung-ujungnya tur yang di Jakarta minta bantuan tur lokal.
    2. Pakai alas kaki yang aman untuk trekking ke Laguna Dodo
    3. Untuk yang nggak biasa trekking, perjalanan ke Laguna Dodo cukup melelahkan. Jadi, olah raga dulu sebelum ke Kiluan

    Jadi, selamat liburan ya!

    Continue Reading
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top