Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Gue selalu percaya bahwa di balik setiap kejadian nggak enak, Allah pasti menyisipkan hal-hal yang membuat gue merasa bersalah karena selalu lupa bersyukur.

    Misalnya, saat seorang teman membuat gue kecewa karena mengecilkan pekerjaan gue. Atau, saat pagi tadi gue dimaki-maki seorang pria berusia 40 atau 50 tahunan karena menegurnya saat mendorong gue dengan sikutnya di antrian eskalator Stasiun Tanah Abang.

    Stasiun Tanah Abang di pagi hari memang seperti medan perang. Setiap orang memiliki kepentingan masing-masing. Jadi, nggak heran ya kalau orang-orang suka berebut naik eskalator setiap pagi. Begitu pun pagi ini, antrian naik eskalator begitu padat dan gue harus menegur seorang pria karena hal yang gue sebutkan di atas itu.

    Kesal gue tegur, pria itu pun ngomelin gue nggak berhenti. Asli! Gue cuma ngomong satu kalimat, dia balas dengan omelan puanjaaang. Gue memutuskan buat diam, males membalasnya. Tapi sepertinya Ia nggak terima gue cuekin, puncaknya Ia pun berkata dengan suara keras, "Jelek aja belagu."

    Gue diam sesaat karena syok. Ini bukan pertama kali sih gue dikatain jelek. Tapi sebagai cewek, kepercayaan diriku tercabik-cabik, Kak! Gue pun menoleh ke pria itu dan berkata dengan suara tenang, "Bapak kalau ngomong bisa yang sopan?" Lalu Ia diam dan gue berjalan cepat menuju pintu keluar stasiun.

    Sepanjang perjalanan menuju kantor, gue menahan kesal. Untuk beberapa saat gue berpikir akan langsung memberikan surat resign begitu sampai di kantor. Gue sempet mikir, "Kerja kok begini amat? Kenapa gue ketemu orang jahat mulu, sih!"

    Pagi gue hari ini benar-benar rusak! This is not my day. Begitu pikir gue tadi.

    Tapi di perjalanan pulang gue sadar bahwa hari gue lancar-lancar aja kok walau ketemu pria tak menyenangkan itu. Ketenangan pagi hari gue yang hilang, seperti diganti dengan hadiah-hadiah kecil dari Allah. Dan setelah gue urutkan, ternyata ada banyak hal yang harus gue syukuri hari ini.



    Contohnya ya, saat gue baru sampai kantor dengan penuh emosi dan butuh asupan cokelat, ternyata gue menemukan cemilan rasa cokelat di laci gue. Gue bahkan sempet lupa kalau gue punya cemilan.

    Begitu juga ketika gue mau menghangatkan pizza goreng di microwave untuk cemilan. Sebelumnya, gue cari cara agar pizza gue nggak keras setelah dipanaskan. Setelah dapet caranya dari Mbah Google, gue pun praktekin asal-asalan. Eh ternyata pizza gue masih empuk dan enak dong!

    Daftar bersyukur gue masih bertambah karena hari ini pekerjaan gue di kantor relatif santai. Padahal kantor gue sedang ada beberapa project dan akhir-akhir ini load pekerjaan gue lagi gila banget. Makanya, bersyukur banget nggak sih hari ini gue bisa rileks sedikit di kantor?

    Nggak cuma itu, hari ini gue pun dapet duduk di kereta dan perjalanan kereta malam ini lancar. Nggak ada tuh yang namanya ngetem sebelum masuk Stasiun Manggarai. Alhamdulillah.

    Tapi, di luar itu semua, gue bersyukur banget punya temen kantor yang menyenangkan dan selalu bisa diajak gila. Hal senyebelin apapun kayaknya selalu bisa dibawa santai dan jadi bahan ketawaan. Haha.

    Emang bener ya, life is like riding a roller coaster. Your journey will be full of ups and downs. You will experience sad and depressing moments, but you will find some ways to feel happy.

    Because in the end you will realize, there is always something to be thankful for.
    Continue Reading
    Belumlah sah berkunjung ke Belitung kalau belum menjelajahi pantainya. Jajaran batu granit, air laut yang jernih dengan gradasi warna biru yang cantik, serta langit biru yang cerah. Semuanya seperti pemandangan yang sering terlihat pada lukisan atau kartu pos. Belitung memang paket lengkap, cantiknya merata di lautan dan daratan.

    ***

    Pagi itu adalah pagi ketiga gue di Belitung. Tempat menginap yang jauh lebih layak dibanding malam sebelumnya membuat tidur gue lebih berkualitas. Pagi itu pun gue bangun dengan tubuh yang segar walau hari sebelumnya gue dan peserta tur lain sudah berkeliling kota Belitung dari pagi hingga malam hari. 

    Setelah sarapan dengan teh manis hangat dan setangkup roti cokelat, gue menyiapkan ‘peralatan perang’ yang akan dibawa mantai, seperti kacamata renang, sunblock, dan handphone. Tak lama, Pak Untung -tour guide kami- tiba dan perjalanan kami hari itu pun resmi dimulai.

    Setibanya di Pantai Tanjung Kalayang, Pak Untung membagikan life vest, alat snorkeling, dan fin sebelum kami menaiki perahu. Banyaknya jumlah peserta tur, membuat Pak Untung membagi kami ke dalam dua perahu. Lagi-lagi ku harus berpisah dengan yang ‘lucu’ di ujung sana. Ehem.

    Apakah kami langsung menuju spot snorkeling? Tentu tidak. Sebelumnya, Pak Untung mengajak kami melihat Batu Burung Garuda yang merupakan ikon kota Belitung, serta singgah sebentar di Pantai Batu Berlayar dan Pantai Pasir yang hanya muncul saat air laut surut. Setelahnya, barulah kami diajak menikmati pemandangan bawah laut Belitung yang cantik.

    Perahu akan berhenti sekitar 10 menit agar kita bisa foto ikon kota Belitung ini

    Di pantai ini, ada beberapa bintang laut yang bisa dijadikan properti foto :D


    Sayangnya, gue tidak bisa berlama-lama snorkeling karena beberapa hal. Sementara, salah seorang teman gue yang cowok (kita sebut saja B) baru ‘nyemplung’ sebentar udah naik ke perahu lagi. Takut hiu, katanya. 

    Selesai snorkeling, kami diajak mampir ke Pulau Lengkuas untuk makan siang. Di Pulau Lengkuas ada sebuah mercusuar setinggi 70 m. Banyak yang bilang, pemandangan Belitung dari atas mercusuar ini sangatlah cantik. Jadi, jika punya kesempatan ke Pulau Lengkuas, naiklah ke mercusuar ini. Lagi-lagi sayangnya, saat gue ke sana, mercusuar ini sedang tidak dibuka untuk umum.

    Ini dia mercuasuar yang sudah ada sejak tahun 1882


    Akhirnya, dua orang teman gue (si L & M) memilih main air sambil berfoto, sementara gue memilih duduk di bawah pohon kelapa sambil menikmati apa yang ada di sekitar gue.

    Kalau yang lain suka berfoto-foto, gue yang pada dasarnya berjiwa melankolis ini sebenarnya lebih suka leyeh-leyeh. Duduk santai di bawah pohon kelapa atau bebatuan karang, menikmati melodi yang muncul saat desiran ombak bertabrakan dengan bebatuan karang, merasakan terpaan angit laut atau sinar matahari ke wajah dan rambut, sambil berpikir ini dan itu.

    Gue hanya ingin menikmati suasana ini dan nggak mau peduli dengan yang lain.

    Terkadang, gue bahkan nggak kepikiran untuk ambil foto karena nggak ingin merusak suasana yang sedang gue bangun. Iya, gue memang anaknya suka melankolis gitu. :p

    Belum lama menikmati suasana pantai, hujan mulai turun. Semakin lama, hujan semakin deras disertai angin kencang. Kami cuma bisa berteduh di bawah warung sembari menikmati teh manis hangat. Beruntung, badai tak berlangsung lama sehingga kami bisa menikmati spot berikutnya: Pantai Tanjung Kalayang.



    Langi semakin gelap, badai akan segera datang


    Apakah kami akan kembali snorkeling? Tentu tidak. Kami justru diajak masuk ke hutan untuk menikmati spot yang keren. I can say it’s a hidden gem in Belitung. Kenapa? Karena untuk masuk ke sana, kami harus melewati hutan dan naik turun bebatuan licin. 

    Tetapi begitu kamu berhasil melewati bebatuan licin tersebut, kamu akan menemukan tempat (baca: surga) tersembunyi yang keren banget.





    Hari semakin sore, Pak Untung mulai mengumpulkan kami yang berpencar ke sana dan ke sini untuk menuju tempat berikutnya, yaitu Pantai Tanjung Tinggi. Jadi, pantai ini adalah tempat syuting film Laskar Pelangi. Sebagai pecinta novel, film, hingga musikal Laskar Pelangi, sudah pasti gue penasaran banget dengan pantai yang satu ini.

    Sayangnya, begitu kami sampai di sana, matahari sudah turun. Padahal gue yakin, Pantai Tanjung Tinggi pasti sangatlah cantik di siang hari. Akhirnya, kami semua cuma bisa foto-foto maksa berbekal cahaya flash. 

    Mengingat malam itu adalah malam terakhir kami di Belitung, Pak Untung pun mengajak kami ke pusat oleh-oleh khas Belitung. Tentu saja yang pertama gue cari adalah kerupuk bangka titipan nyokap dan sirup jeruk kunci khas Belitung.

    Peserta tur yang sudah selesai berbelanja memilih kembali ke bus untuk beristirahat. Maklum saja, kegiatan hari ini sangatlah padat dan melelahkan. Sebagian peserta pun lebih memilih beristirahat di bus sembari memejamkan mata. Suasana bus bisa dibilang hening dan tenang, sampai tiba-tiba…

    DUARRR.

    Meletuslah pertengkaran antara seorang pria dan wanita, yang nggak lain dan nggak bukan adalah teman gue sendiri, si L dan si B. HAHA.

    Peserta tur hening.

    Dua teman gue masih seru beradu mulut.

    Peserta tur tambah hening.

    Dua teman gue masih terus beradu mulut.

    Gue berusaha menengahi, teman gue pun.

    Teman gue yang cewek -si L- akhirnya diam, berusaha mengalah. Yang cowok -si B- justru kembali pasang petasan.

    Ah, ya sudahlah. Sudah gue bilang, kan, di postingan sebelumnya kalau traveling itu bukan hanya masalah tempat, tapi juga masalah teman.

    ***

    Keeseokan harinya, kami bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena jadwal penerbangan kami pagi hari. Justru karena jadwal penerbangan kami sore hari, kami bertiga memutuskan untuk menjelajahi Belitung pagi ini. Sementara, si B lebih memilih beristirahat di hotel. 

    Karena paket tur sudah berakhir, maka malam sebelumnya kami sudah menyewa motor. Harga sewa motornya sendiri kalau tidak salah ingat sekitar Rp40.000,- karena kami hanya menyewa setengah hari.

    Tujuan pertama kami adalah Danau Kaolin. Menurut salah seorang peserta tur, Danau Kaolin sangatlah cantik saat matahari terbit. Ketika kami sampai di sana, kami pun disuguhkan hamparan bebatuan putih, sekilas mirip salju. Tapi, berjalan di antara bebatuan itu susah banget! Entah kenapa bebatuan tersebut sangatlah lembek, sehingga kaki kami pun seringkali jeblos di tengah-tengah bebatuan.







    Puas foto-foto di Danau Kaolin, kami kembali menuju Pantai Tanjung Tinggi. Dan sesuai prediksi gue kemarin, pantai ini bagus dan asik banget buat duduk-duduk. Ditambah lagi, di sini sinyalnya kenceng. Jadi, gue bisa cari bacaan di Internet sembari nungguin dua teman gue foto-foto.





    Berhubung penerbangan kami sekitar pukul 12 siang, maka kami kembali ke hotel sekitar pukul 10. Di tengah perjalanan pulang, kami menemukan sebuah ayunan di pinggir pantai. Kami pun menepi sebentar untuk main ayunan sambil mengabadikan momen alias selfie.



    Sesampainya di hotel, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kami hanya punya waktu untuk mandi dan tidak sempat sarapan. Daripada ketinggalan pesawat, kami pun menahan lapar hingga tiba di Jakarta.

    ***

    Perjalanan dari Belitung menyisakan kulit yang -tumben-tumbenan- terbakar dan seorang teman baru. Perselisihan kedua teman baru gue tentu saja menjadi hal yang nggak menyenangkan selama perjalanan gue ke Belitung. Tapi hal tersebut juga menjadi pengingat bahwa traveling itu tidak hanya mengenai pergi ke tempat yang cantik, tapi juga tentang saling mengerti dan menjaga emosi. Traveling bukan hanya tentang diri kamu sendiri.

    Di balik itu, gue sangat menikmati perjalanan ke Belitung, kok. Jadi, kalau saat ini kamu lagi merasa 'kurang piknik' alias mumet dan jengah dengan segala rutinitas, siapkan backpack-mu dan pergilah ke Belitung.



    Baca juga: Belitung Part 1 & Part 2
    Continue Reading



    Kisah ini berawal dari apa yang terlihat di balik tembok besar keabu-abuan. Aku dan Nur, temanku, menyebutnya khayangan. Bagi siapa pun yang mengira bahwa khayangan hanya ada di langit, kalian salah besar. Kalian tidak pernah tahu, kan, di bumi juga ada khayangan? Ini karena kalian hanyalah seorang pengecut yang tidak berani mengintip isi di balik tembok besar keabu-abuan.

    Tembok yang menjaga khayangan itu berada di belakang kebun singkong milik Haji Namin. Sayangnya, kebun seluas 500 meter persegi tersebut dijaga oleh Roki, anjing hitam yang suka menggigit warga kampung yang melintasi kebun tersebut. Maka tak heran jika tak ada warga kampung yang berani memasuki kebun tersebut, kecuali kami.         

    Rasanya sungguh mustahil khayangan berada di bumi, bukan di langit seperti yang buku cerita katakan. Namun tempat itu sungguh-sungguh ada dan sungguh-sungguh indah. Persis seperti khayangan dalam imajinasi aku dan Nur. Sama halnya seperti khayangan, di sana pun ada malaikat. Tidak cuma satu, tapi banyak. Mereka sungguh indah, jauh dari kesan lusuh dan kumal seperti kami.

    Diantara kami berdua, Nur-lah yang paling semangat melihat khayangan. Setiap pukul tiga sore, ia selalu ke rumahku dan mengajakku ke sana. Tak lupa diseretnya tangga bambu agar kami bisa memanjat tembok dengan tinggi sekitar 2 meter tersebut.

    “Bagaimana yah caranya agar bisa ke khayangan dan bertemu dengan malaikat-malaikat itu?” tanya Nur suatu hari ketika kami tengah menikmati pemandangan khayangan dari balik tembok.

    “Hmmm... mungkin kau harus mati dulu,” jawabku ragu.

    Nur menatapku tajam. “Tidak mungkin. Lihat! Malaikat-malaikat itu menapak di tanah, seperti kita. Berarti kita pun bisa ke sana tanpa mati dulu,” sahut Nur sembari menatap khayangan penuh harap.

    Aku ikut menatap khayangan dengan nanar. “Mungkin, Ibu Guru tahu jawabannya.”

    ***

    Jawaban Ibu Guru SD kami beberapa tahun lalu ternyata membawa dampak yang begitu besar untuk Nur. Aku ingat betul, dengan nada tinggi Ibu Guru memberikan jawaban sembari mengomeli kami.

    Ia bilang, “Anak dari kuli miskin seperti kalian, sampai mati pun tidak akan bisa ke tempat seperti itu. Itu hanya tempat untuk orang kaya. Paling bagus, besar nanti kalian jadi guru dengan gaji sama seperti tukang sapu seperti Saya”.

    Mendengar jawaban Ibu Guru, aku yang masih berusia 10 tahun merasa ingin menangis dan putus asa. Bagaimana mungkin seorang guru yang kubanggakan justru menjatuhkan mimpi-mimpiku? Tapi sikap Nur justru berbeda. Tak ada tanda-tanda sedih atau kecewa. Saat itu, adalah pertama kalinya aku melihat mata Nur bercahaya penuh semangat dan harapan.

    Semenjak Ibu Guru memberikan jawaban itu, Nur memiliki cita-cita yang tak pernah berubah hingga saat ini: menjadi orang kaya. Sembari memandangi khayangan dari balik tembok keabu-abuan, Nur sering berkata bahwa sehabis lulus sekolah ia akan bekerja keras, keluar kampung, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

    “Kira-kira berapa uang yang harus aku kumpulkan agar bisa masuk ke sana?” tanya Nur sembari menikmati singkong rebus yang dibawanya dari rumah.

    Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Satu juta mungkin?”

    Nur tergelak hingga hampir tersedak singkong rebus yang sedang dikunyahnya. “Satu juta itu upah Ayahku selama dua tahun. Tidak mungkin sesedikit itu! Mungkin nol-nya harus ditambah,” sahut Nur dengan mimik serius.

    “Tapi bagaimana caranya mengumpulkan uang sebanyak itu?” kali ini aku bertanya serius. Dengan pendidikan hanya sampai SMA, mungkinkah kami mampu mengumpulkan uang jutaan bahkan milyaran? Ah, harusnya mimpi ini kutelan sejak SD.

    Nur tersenyum, menandakan dirinya memiliki jawaban atas kegusaranku. Nur memang pintar. Ia membuka ikat rambutnya dan tak lama tergerailah rambut lurus sebahu miliknya. Aku menganga. Dulu rambut Nur sama seperti rambutku. Kering, merah dan kasar. Tapi kini rambutnya lembut, hitam dan berkilau. Seperti rambut para malaikat di khayangan.

    “Sejak kapan kau merawat rambut?” tanyaku spontan. Hampir terbesit rasa iri di dalam ucapanku.

    “Sejak masuk SMA. Kau lihat? Untuk menjadi penghuni khayangan, kau harus terawat seperti mereka,” jawab Nur sembari menguncir lagi rambutnya.

    Diam-diam aku mengamati perubahan di diri Nur. Dari mulai rambut, kulit, hingga baju. Semuanya berubah. Nur tampak lebih bersih, tampak naik kelas. Perlahan Nur melangkah menuju khayangan, menuju mimpinya sejak tujuh tahun yang lalu.

    ***

    Aku memeluk Nur erat-erat dan melepasnya ketika ayah ibuku memanggil. Nur tersenyum, tapi aku melihat setitik air di sudut matanya. Saat itu bulan Januari, tahun 1997, ketika desa kami digusur untuk membangun pusat perbelanjaan. Kami, penduduk desa, diberikan dua pilihan oleh suruhan orang kaya itu: diberikan tempat tinggal di rumah susun pinggir kota, atau uang sebagai biaya ganti rugi.

    Orang tuaku memilih rumah susun, sementara orang tua Nur memilih uang. Jadi sejak saat itu, kami resmi berpisah. Nur tahu dimana aku akan tinggal, sementara aku tidak tahu kemana ia akan melangkah. Aku menghela nafas. Menjadi orang miskin memang tidak enak.

    “Berjanjilah. Kita akan bertemu kembali di khayangan,” bisik Nur sembari memulukku untuk yang terakhirnya.

    “Kapan?” tanyaku.

    “Hmm... setahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi. Kapan pun, Suci. Kapan pun. Tapi berjanjilah kamu akan ke sana. Kita akan bertemu di sana”, ujarnya lagi seraya tersenyum lebar.

    Aku mengangguk. Khayangan? Mimpi itu terasa semakin mustahil bagiku, namun janji ini seakan menjadi penyemangat baru untukku. Penyemangat baru pengganti kehadiran Nur.

    ***
                
    Aku menghirup wangi dedaunan pagi hari sembari mengingat kisahku ketika hidup di belakang tembok keabu-abuan. Rasanya sudah begitu lama aku tak memanjatnya bersama Nur. Ah, Nur. Sudah lima belas tahun aku tidak melihatnya. Bagaimana rupanya sekarang?

    Lamunanku terusik oleh suara riuh anak-anak kecil. Beberapa orang temanku tampak sibuk mengajak mereka bermain sembari belajar. Mengajari malaikat-malaikat kecil ini ternyata begitu menyenangkan dan menenangkan.

    Iya benar. Malaikat. Jika kau paham maksudku, maka kau pasti tahu jika kini aku telah berada di dalam khayangan. Bukan. Aku bukanlah salah seorang malaikat yang tinggal di sini, uangku tak cukup banyak untuk membangun istana.

    Selepas lulus SMA aku sempat bekerja dua tahun untuk mengumpulkan uang. Aku ingin menjadi guru dan syukurlah pilihanku tak salah. Profesiku sebagai guru ternyata mengantarku ke tempat ini sejak lima tahun yang lalu. Namun sekali pun aku tidak pernah melihat Nur. Aku ingin sekali mencari Nur dan mengatakan bahwa khayangan tidaklah seindah bayangan kami sewaktu kecil.

    Lamunanku kembali terusik oleh kasak-kusuk kelompok pembantu rumah tangga yang sedang menunggu para malaikat kecil sekolah. Sayup-sayup aku mendengarmereka membicarakan seorang wanita penghuni baru khayangan. Konon katanya wanita itu adalah istri kedua Pak Wiryo, salah satu malaikat terkaya di sini. Istri pertamanya sendiri setahun yang lalu menggugat cerai Pak Wiryo karena tak tahan terus diperlakukan kasar.

    Tak lama obrolan mereka berhenti. Aku memperhatikan arah tatapan mereka. Rupanya ada seorang wanita yang baru turun dari mobil, menggandeng seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia empat tahun, dan berjalan dengan angkuhnya melewati mereka.

    “Itu dia, kan? Istri kedua Pak Wiryo itu?” tanya salah seorang PRT ketika si wanita sudah berjalan menjauhinya.

    Aku memperhatikan wanita yang tengah berbincang dengan salah seorang guru. Ia mengenakan stiletto dengan tinggi tak kurang dari 12 cm, tubuhnya semampai berbalut mini dress hitam, rambutnya lurus indah kecokelatan, dan wajahnya.... astaga! Nur?

    Perlahan aku mendekati wanita yang hampir tak kukenali itu. Nur yang merasa diperhatikan pun menoleh kepadaku. Awalnya ia bingung, tapi tak lama ia memekik kaget dan memelukku erat. Aku yang terlebih dulu menyadari kegaduhan yang kami buat buru-buru menyeretnya ke halaman belakang sekolah.

    “Akhirnya Suci, akhirnyaaa...!” pekik Nur senang.

    Aku hanya memandangi wajahnya dengan heran. Ada rona biru di dekat pelipis kanannya. “Ya, Nur. Akhirnya... tapi... kamu... PakWiryo... biru...”, aku mulai meracau tidak jelas karena terlalu fokus dengan memar di pelipis kanan Nur yang nyaris tertutup oleh poninya.

    Nur tertawa. Tawa khas Nur yang renyah. “Tak ada yang gratis, Suci. Bahkan untuk menghirup udara segar pun kini kau harus ke desa,” ujar Nur enteng sembari mengambil bedak padat dari tas kecilnya dan menepuk-nepuknya perlahan ke memar di wajahnya.

    “Ya, memang. Tapi kau...”, ucapanku terputus oleh bayang-bayang Nur yang dipukuli Pak Wiryo.

    “Dipukuli?” Nur meneruskan omonganku, sementara aku hanya mengangguk kaku dengan berjuta tanda tanya di wajahku. “Tempat ini memang tak seindah yang kita bayangkan, bukan?”

    Nur kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menghisapnya didepanku. Aku melotot melihatnya sementara ia kembali tertawa, kali ini terkesan mengejek. “Kita ini bagian dari mereka, Suci. Dan beginilah cara mereka hidup”.

    “Kamu, Nur. Kamu yang bagian mereka, bukan aku.” sahutku ketus.

    “Tapi ini mimpi kita, kan?” tanya Nur sembari berusaha menyembunyikan ekspresi kagetnya karena aku begitu vokal, tidak seperti Suci yang dulu, yang lebih sering diam dan memperhatikan Nur yang begitu menggebu-gebu ketika membicarakan khayangan.

    Aku menatap nanar Nur, juga lingkungan sekitarku. Ternyata tempat yang terlihat indah tidak selalu memiliki nilai keindahan. Ternyata khayangan versiku berbeda dengan khayangan versi Nur.

    “Kamu, Nur. Lagi-lagi ini hanya mimpimu. Mimpiku adalah merasakan kebahagiaan. Menjadi guru serta masuk ke khayangan agar bisa bertemu denganmu adalah cara untuk mencapai kebahagiaanku.” ujarku sembari menahan segala emosi yang bercampur di dada. Sedih, marah, dan kecewa.

    Lagi-lagi Nur terkejut melihat reaksiku. Aku menatapnya sebentar, lalu meninggalkannya menuju khayangan versiku. Khayangan yang benar-benar putih dan murni.

    Nur, jadi inilah ujung dari mimpi kita saat itu, batinku.


    Tenggelam di email sejak Agustus 2012

               


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top