Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Sewaktu SMA, hal yang paling gue inginkan adalah memakai kacamata. Menurut gue, orang yang pakai kacamata itu terlihat pintar dan keren. Pemikiran labil macam inilah yang akhirnya membuat gue senang banget saat dinyatakan memiliki minus 0.25 dan 0.5 untuk kedua mata gue. 

    Tetapi, di pertengahan kuliah gue memutuskan untuk tidak lagi menggunakan kacamata karena gue sedang menggunakan behel. Gue merasa menggunakan behel dan kacamata sekaligus membuat penampilan gue terlihat berlebihan. Maka gue tinggalkanlah kacamata walaupun gue masih merasa menggunakan kacamata itu bisa bikin orang terlihat lebih keren. Kebetulan, saat itu gue iseng mampir ke salah satu optik di mall untuk cek mata haratesan dan ternyata mata gue sudah normal. Gue nggak tahu, sih, apakah secara ilmiah minus di mata memang bisa turun dan hilang atau nggak. 

    Setelah lepas behel, sebenarnya gue masih ingin menggunakan kacamata karena masih ada sisa-sisa pemikiran labil gue jaman SMA. Tapi, berhubung mata gue normal, ngapain juga gue beli kacamata? Bagi gue, pakai kacamata tujuannya itu harus jelas, bukan untuk gaya semata. Misalnya, pakai kacamata karena matanya memang minus, atau pakai sunglasess karena silau. Ini tanpa maksud menyudutkan mereka yang memakai kacamata tanpa kaca (eh gimana?), alias frame kopong, lho, ya. Kamu mau pakai apa aja bebas, aku mah bisa apa. 

    Gue semakin menjauhi kacamata karena sejumlah teman di kantor lama gue sepakat bahwa gue nggak cocok pakai kacamata apapun. A-pa-pun. Oh Tuhan, kutukan apa ini? Bagi seseorang yang punya pemikiran labil bahwa pakai kacamata itu keren, sesungguhnya ini adalah ujian hidup yang cukup bikin galau. Semacam, lo suka cokelat, tapi lo alergi cokelat. Ngerti, kan, permasalahan hidup gue ini?

    Sampai akhirnya, beberapa bulan terakhir ini gue merasakan pandangan gue mulai kabur dan mata gue cepat sekali lelah. Sesekali gue juga merasa pusing, apalagi jika habis menulis atau membaca. Gue pikir, permasalahan gue ini disebabkan karena kurang tidur. Tapi, gue sudah mencoba tidur cukup pun masalah tersebut masih gue rasakan.

    Akhirnya, atas rekomendasi Pipit, gue pun mengunjungi OWL Eyewear di Kota Kasablanka. Dengan hati dag dig dug, gue pun memasuki butik dari brand kacamata yang terinspirasi dari gaya ala Korea Selatan ini.

    Hal pertama yang menarik dari OWL (Obsessed with Looks) adalah cara mereka men-display koleksi kacamata mereka. Di optik kebanyakan, umumnya kacamata akan diletakkan di etalase. Pengunjung pun harus meminta bantuan pegawai optik saat ingin mencoba model kacamata tertentu. Tapi, di OWL nggak begitu. Semua kacamata di-display di rak terbuka -lengkap dengan info harga- sehingga pengunjung bisa bebas mencoba berbagai model kacamata. 

    Buat orang yang sudah lama nggak menggunakan kacamata serta nggak pede pakai kacamata, tentu aja ini menyenangkan. Gue tidak perlu merasa canggung karena mencoba kacamata sambil 'ditontonin' pegawai optik. Gue juga bebas memilih model kacamata tanpa 'merepotkan' siapapun. 


    A post shared by OWL EYEWEAR INDONESIA (@owleyewearid) on Dec 2, 2015 at 7:31pm PST


    Masalah model, OWL memiliki berbagai koleksi yang bisa disesuaikan dengan gaya pribadi, aktivitas, sampai isi dompet. Misalnya, mereka punya koleksi kacamata Smart untuk orang yang suka model kacamata simpel dan terlihat intelek, atau koleksi Flex untuk orang yang terlalu lincah sampai kacamatanya sering patah karena jatuh atau kedudukan. Nah, mereka juga punya koleksi Premium dengan desain kacamata jaman now: modern, unik, dan terlihat berkelas. Asli, koleksi Premium mereka lucu dan gemes parah. 

    Untuk harga pun juga bisa dibilang standar, nggak terlalu murah tapi juga nggak mahal-mahal banget. Kisaran harga mereka adalah Rp699.000 - Rp1.399.000, sudah termasuk lensa standar. Kalau mau upgrade kualitas lensa, seinget gue mereka akan mengenakan biaya tambahan sekitar Rp399.000.

    Sewaktu membeli kacamata kemarin, gue sampai menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk mencoba berbagai kacamata. Pokoknya gue memastikan bahwa kacamata yang gue beli harus pas sama bentuk muka gue dan nggak bikin gue terlihat tua. Tentu saja gue nggak memilih sendiri. Gue ditemani adik gue sebagai penasehat utama dan meminta saran dari 3 teman gue lainnya. Iya, gue separno itu saat memilih kacamata.

    Setelah mencoba puluhan model kacamata, akhirnya gue pun menjatuhkan pilihan pada salah satu model dalam koleksi Premium mereka. Kemudian, salah satu petugas OWL melakukan pengecekan pada mata gue. Proses pengecekannya sendiri bisa dibilang lebih detail dibanding optik lain yang pernah gue kunjungi. Seinget gue, mereka mengecek tiga kali dengan metode yang berbeda. Tujuh tahun berlalu dan ternyata mata gue sudah minus 1. Ya pantes aja selama ini mata gue cepat sekali lelah sampai kepala pusing.




    Model sudah dipilih, mata sudah dicek, dan pembayaran sudah dilunasi. Maka ini saatnya untuk mengganti lensa. Sebelumnya, gue sudah mencari tahu tentang waktu pembuatan kacamata OWL di instagram mereka. Di sana tertulis bahwa proses pembuatan kacamata memakan waktu hingga 1 jam. Tapi saat gue membuat kacamata kemarin, gue hanya perlu menunggu 30 menit hingga kacamata gue selesai. Oh, senangnya hatiku!

    Sebagai orang yang kembali membeli kacamata setelah sekian lama, tentu aja pengalaman belanja di OWL ini sangat nyaman dan membantu sekali. Apalagi gue bisa memilih model kacamata dengan hati-hati dan santai, tanpa dihampiri terlalu sering oleh petugas optik. Ditambah lagi, petugas optik di OWL sangat ramah dan tidak terkesan memaksa pengunjung yang sedang melihat-lihat kacamata. 

    Intinya, gue bebas memilih sampai menemukan kacamata terbaik untuk bentuk wajah (dan isi dompet) gue. Jadi gue akan lebih percaya diri saat menggunakan kacamata. Walaupun sampai saat ini gue masih agak minder dan masih terus melafalkan mantra-mantra positif untuk diri gue. Haha.

    Tapi setidaknya, dunia gue kini jadi lebih terang dan jelas.

    Ok, cus!
    Continue Reading
    Depok setahun belakangan ini sangatlah menyenangkan. Kafe dan tempat makan baru banyak bermunculan. Ya, walaupun kemunculan tempat nongkrong baru ini bikin macet di Depok tambah parah. Tapi, setidaknya gue nggak perlu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk makan enak atau ngopi tenang.

    Karena itulah, akhir-akhir ini, saat diajak main ke luar Depok saat weekend, gue sering pikir-pikir dulu sebelum langsung mengiyakan. Depok aja sudah seasik ini, ngapain gue pergi jauh-jauh? Tuh kan, udah aku bilang, aku anaknya suka overly attached gitu. 

    Pada dasarnya gue memang suka banget pergi ke kafe atau coffee shop. Kadang sendiri, kadang bareng temen. Kadang sambil nulis, kadang cuma numpang makan, kadang cuma bengong buat cari inspirasi. Nah, di antara berbagai macam tempat nongkrong asik di Depok, ini dia tempat ngopi atau kafe yang paling gue suka:


    #1 Jacob Koffie Huis

    Kalau nggak salah, sih, Jacob Koffie Huis adalah tempat ngopi terbaru di Depok. Lokasinya ada di Jalan Kemuning, Pancoran Mas dan agak masuk ke dalam gang.

    Toko kopi ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian dalam dengan desain yang didominasi warna netral, dan bagian taman yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk sambil ngopi juga.

    Good morning folks! Our door closed as usual for today. Come again tomorrow! Pict by @poncoiskandar30 👌🏻
    A post shared by Jacob Koffie Huis (@jacob.koffie) on Oct 8, 2017 at 7:26pm PDT


    Hows your monday? 😏 dont worry, we got your back, we'll open at 2pm tomorrow!
    A post shared by Jacob Koffie Huis (@jacob.koffie) on Aug 7, 2017 at 4:48am PDT



    Suasana coffee shop ini nyaman banget! Saking nyamannya, bisa sampai bikin lupa waktu, lho. Mungkin karena interiornya yang bergaya modern minimalist (plus instagenic!) dan suasananya yang cenderung tenang karena nggak terletak di pinggir jalan raya.

    Gue emang suka banget kafe yang tenang. Makanya Jacob Koffie Huis bisa dibilang jadi salah satu coffee shop favorit gue. Percaya deh, toko kopi ini asik banget dijadiin tempat ngobrol santai bareng temen atau untuk mengerjakan tugas kuliah atau kantor. Mau sendiri atau ramai-ramai, tempat ini asik banget buat dijadiin tempat nongkrong. 

    Pilihan minuman yang dijual pun cukup bervariasi dengan harga standar toko kopi. Rasanya? Nggak perlu diragukan. Enak, kok!



    Rate: 9/10


    #2 Kami Ruang & Kafe

    Walaupun letaknya di pinggir jalan, tapi kamu mungkin nggak 'ngeh' dengan keberadaan kafe ini karena ukurannya kecil dan letaknya nyempil. Kalau kamu mau ke sini, patokannya adalah jembatan penyebrangan Margonda Residence arah ke Pasar Minggu.

    Suasana Kami Ruang & Kafe juga tenang dan sangat kondusif untuk mengerjakan tugas kuliah atau tugas kantor. Sama seperti Jacob Koffie Huis, desainnya juga mengusung tema modern minimalist yang didominasi dengan warna-warna netral seperti putih dan cokelat.


    May your deadline be good, and your Friday be great. . Don't forget to join #AkuKamuKami photo #challange so you can be the part of the #exhibition . Let's meet up! #jurnalkami
    A post shared by Kami | ruang & kafe (@kami485) on Apr 28, 2016 at 11:57pm PDT


    Untuk minuman dan makanan, harganya pun standar toko kopi. Rasa minumannya oke, tapi untuk rasa makanannya sepertinya perlu ditingkatkan lagi.

    Rate: 8/10


    #3 Starbucks D-Mall

    D-Mall yang dulunya bernama Depok Mall ini sepertinya lagi rebranding, ya. Setelah sempat ’nggak dilirik’ oleh orang Depok, sekarang mereka mulai membenahi diri. Hasilnya? Mall ini mulai diisi oleh berbagai tenant yang lagi ‘laris’, sebut aja toko roti Tous Le Jours, CGV, sampai Starbucks!

    Gerai Starbucks di sini bisa dibilang lebih pewe dibanding gerai Starbucks lainnya di Depok. Selain lebih luas, bagian outdoor gerai Starbucks di D-Mall juga lebih nyaman dan adem. Ditambah lagi, pengunjung D-Mall tidak terlalu ramai seperti Margo City, sehingga suasana Starbucks di sini cenderung tenang dan menyenangkan.


    Rate: 8/10


    #4 Saturday Coffee

    Sama seperti Kami Ruang & Kafe, letak toko kopi yang satu ini juga nyempil. Tapi, Saturday Coffee mudah ditemukan, kok. Letaknya persis di seberang Lawson samping Universitas Gunadarma, Depok.

    Buat gue, toko kopi dengan interior bergaya rustic industrial (cmiiw) ini lebih asik dikunjungi bareng temen-temen buat ngobrol santai sambil ngopi. Karena tempatnya kecil, jadi letak meja yang satu dengan meja yang lain berdekatan. Buat kamu yang butuh banyak space untuk nulis atau mengerjakan tugas, gue sarankan sih pilih coffee shop lain. Tapi, kalau mau cari tempat ngopi yang suasananya humble dan menyenangkan, ajak deh temen-temen kamu ke sini.

    Midweek hustle would be better with a cup of coffee ☕ . . #saturdaycoffee #coffeshop #manualbrewing #kedaikopi #kedaikopilokal #kedaikopidepok #kopidepok #kopiindonesia #anakkopi #hobikopi #jajanandepok #goodvibes
    A post shared by Saturday Coffee (@saturdaycoffee) on Oct 26, 2017 at 5:15am PDT


    Ini baru selasa di bawa santai aja kawan, yuk ngopi ♨ . . #saturdaycoffee #coffeeshop #manualbrew #kedaikopilokal #kedaikopi #Ngopidepok #kedaikopidepok #ngopi #jajanandepok #corner #anakkopi
    A post shared by Saturday Coffee (@saturdaycoffee) on Sep 12, 2017 at 3:55am PDT


    Bicara tentang menu yang disajikan, mereka menyediakan berbagai macam minuman dengan harga yang bisa dibilang murah. Mungkin karena terletak di dekat kampus, jadi harganya pun menyesuaikan kantong mahasiswa. Ini asumsi sotoy gue aja, sih. Untuk makanan, mereka menyediakan berbagai macam cemilan dan indomie. Namun, variasi makanannya sendiri tidaklah banyak.


    Rate: 7,5/10

    Empat tempat ngopi di atas adalah coffee shop kesukaan gue sejauh ini. Kamu punya rekomendasi tempat ngopi di Depok lainnya, nggak? Share, dong! :D

    Continue Reading


    Tahun ini kayaknya adalah tahun yang impulsif buat gue. Semua gue kerjakan serba spontan, kadang tanpa pikir panjang. Mulai dari hal se-simple beli baju, sampai hal yang sedikit menguras saldo tabungan kayak liburan gue ke Bali tahun ini.

    Tapi tentu aja gue nggak menyesali liburan dadakan ke Bali kali ini. Gue memang selalu menyempatkan waktu untuk liburan setidaknya 2x dalam setahun. Sementara, tahun ini gue baru liburan ke Belitung aja. Berarti gue masih ada jatah liburan satu kali, kan? :D

    Lagipula, ini Bali. Tempat yang selalu menyenangkan untuk dikunjungi berulang kali. Ditambah lagi, momennya lagi pas banget. Pas ke Bali, pas lagi ulang tahun.

    Setiap kali gue ke Bali, gue hampir nggak pernah membuat itinerary. Semua gue lakukan sesuai isi hati aja. Hari ini enaknya ke pantai? Oke, kita nongkrong di Seminyak. Mau cari suasana adem? Baiklah, kita berangkat ke Ubud. Liburan gue kali ini pun begitu. Gue nggak punya rencana perjalanan sama sekali.

    Tujuan gue ke Bali cuma satu: leyeh-leyeh.

    Beruntungnya, gue punya dua teman sejak SMA yang merantau di Bali, yaitu Daru dan Jijah. Berhubung Jijah sibuk dengan usaha rumah makannya, maka tiap kali ke Bali gue selalu 'gangguin' Daru. Akhirnya, gue pun 'menculik' Daru selama tiga hari demi melancarkan aksi leyeh-leyeh gue. Karena tujuannya leyeh-leyeh, maka kegiatan gue dan Daru selama tiga hari adalah nyari cafe pewe, nemenin Daru kerja sebentar, makan, ngobrol, bengong, ngemil.

    Jadi, ke mana kami menghabiskan waktu selama tiga hari -tanpa itinerary- di Bali? Keep on reading, guys.

    ***

    Hari pertama di Bali gue habiskan di Gianyar dan Ubud. Suasana Ubud yang santai dan adem memang pas banget untuk destinasi liburan para pekerja di kota besar yang terbiasa dijejali kemacetan dan kesensian para penghuninya (haha!).

    Tujuan pertama kami hari itu adalah Tegallalang Rice Terrace. Walaupun cuaca mulai mendung, tapi kami tetap nekad naik-turun ladang padi. Pemandangan yang indah dan udara yang sejuk bikin gue semangat untuk mengeksplor ladang padi ini. Sampai tiba-tiba, hujan turun dan kami berdua pun tergopoh-gopoh menuruni dan mendaki ladang, lalu mencari cafe dengan nafas terengah-engah. Usia dan gaya hidup memang nggak bisa bohong.



    Sambil menunggu hujan reda, kami mampir di salah satu cafe kecil dengan view menghadap ke terasering padi. Kami ngobrol ngalor ngidul sembari ditemani es teh manis dan pisang goreng dengan harga yang sedikit-nggak-logis-tapi-yaudahlah.

    Ketika hujan mulai reda, kami pun menuju pemberhentian selanjutnya, yaitu Folk Pool & Gardens. Dari depan, cafe ini keliatannya biasa banget. Tapi begitu masuk, pengunjung akan menemukan tempat nongkrong yang pewe dan homey. Pokoknya, kalau lagi main ke daerah Ubud dan pengen santai di tempat yang instagenic, di sinilah tempatnya.

    Saking pewenya, gue dan Daru menghabiskan waktu lama banget di sini. Antara terlalu nyaman sama nggak tahu diri, sih. Hahaha.






    Sekitar pukul 18.30, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelumnya, kami mampir dulu ke KOU Cuisine. Dari Folk Pool & Gardens, kamu cukup berjalan kaki ke KOU Cuisine.

    Sebenarnya, KOU terkenal akan selainya. Tapi menurut Daru, madu KOU juga nggak kalah enak. Akhirnya, gue pun membawa pulang dua botol madu (coffee tree dan longan tree) serta satu botol selai cokelat yang enak banget. Yumm!

    ***

    Keesokannya, gue bangun dengan kepala yang fresh dan mood yang bagus. Ah... hari Senin rasanya nggak pernah sesantai ini. Yaiyalah, kan lagi liburan!

    Berhubung hari Senin, maka hal pertama yang gue lakukan adalah nemenin Daru kerja mampir sebentar ke kantor pemerintah. Sebelumnya, kami beli nasi jinggo lima rebu perak untuk sarapan. Murah, enak, kenyang. Hatiku pun senang.



    Setelah Daru selesai dengan urusannya, kami pun meluncur ke Nook untuk makan siang. Sayangnya, karena cuma berdua dan sudah memasuki jam makan siang, kami tidak bisa memilih meja dengan view cantik.



    Selesai menghabiskan waktu di Nook, kami pun pergi menuju Seminyak untuk sunset-an di Capil Beach Grill & Bar. Di tengah perjalanan, kami mampir dulu ke outlet RasaLokal Bali milik Glenn Alinskie & Chelsea Olivia.

    Berhubung banyak yang ngomongin, gue jadi penasaran dong seperti apa rasa keripik singkong yang dicocol sambal matah ini. Eh, ternyata rasanya enak, lho! Ini nggak bohong karena temen-temen kantor yang nyobain pun juga bilang enak. Jadi, next time kamu ke Bali, coba deh mampir ke outlet mereka. Nggak nyesel, kok.

    Habis membeli keripik singkong RasaLokal Bali, kami pun melanjutkan perjalanan ke Seminyak. Hujan mulai turun dan kami mulai khawatir nggak bisa lihat sunset. Akhirnya, atas rekomendasi teman kantor gue - Felecia- kami pun mampir ke gerai Gaya Gelato yang kebetulan juga ada di Seminyak. Gue pilih rasa cokelat campur vanila, sementara Daru pilih cokelat campur pistachio. Dan ternyata gelato rasa pistachio mereka enak banget! Huft.



    Gelato sudah habis, tapi hujan nggak juga berhenti. Kekhawatiran gue dan Daru tampaknya jadi kenyataan. Akhirnya kami nggak jadi nongkrong santai sambil lihat sunset dan meluncur menuju Livingstone Cafe & Bakery. Yup, makan lagi.

    Selamat tinggal, Penat. Selamat datang, Lemak.

    Kami pun memanggil seorang Mbak di Livingstone untuk memesan minuman. Gue memesan Caramel Macchiato, sementara Daru memesan Cappuccino. Selesai memesan minuman, gue  melihat-lihat etalase roti dan cake mereka. Livingstone ini terkenal dengan watermelon bread-nya yang lucu banget itu. Tapi hari itu pilihan gue jatuh pada donat cokelat kelebihan gizi, alias gede binggo ukurannya.

    Setelah gue memesan kue, gantian Daru yang memesan. Tak lama, ia kembali dengan cake berbentuk botol Nutella dengan dua buah lilin (yang belum dinyalain) di sekitarnya. Di antara teman gue yang lain, dia memang paling rajin kasih kue ulang tahun ke temennya. Akhirnya, sambil ketawa-ketawa seru sendiri, kami pun merayakan ulang tahun gue. Ulang tahun ke berapa, Lin? Banyaklah pokoknya. :D



    ***

    Hari terakhir di Bali adalah saatnya mantai! Yup, berhubung dua hari sebelumnya cuaca di Bali mendung-mendung galau hingga hujan gerimis mengundang mantan, maka gue baru bisa ke pantai di hari ketiga. Untungnya, gue memilih flight di malam hari sehingga gue masih bisa menikmati sunset di Bali.

    Seperti hari kemarin, pagi ini gue habiskan dengan menemani Daru bekerja di rumah sakit. Sementara, siangnya kami beranjak ke Sanur untuk makan siang di Warung Mak Beng. Bagi gue, belum sah ke Bali kalau belum makan di Mak Beng. Enaknya nagih!

    Selesai makan siang, kami kembali ke RasaLokal dan Krisna untuk membeli oleh-oleh dan titipan. Setelah urusan peroleh-olehan kelar, barulah kami meluncur ke Seminyak untuk menunggu sunset.

    Air laut saat itu sepertinya sedang surut, sehingga area pantai terlihat sangat luas. Ditambah lagi, pantulan cahaya matahari di pasir dan air laut sangatlah cantik. Momen tersebut tentu saja harus diabadikan. Hashtag kids jaman now.





    Selesai foto-foto, kami akhirnya mampir ke Capil Beach Grill & Bar untuk bersantai. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA. Perlahan matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga di antara gelapnya langit. Gue dan Daru pun bergegas pergi ke bandara agar gue tidak ketinggalan pesawat.

    Sempat terbesit pikiran untuk 'merelakan' tiket pesawat dan kembali ke Jakarta esok hari saja. Tapi, gue tersadar bahwa hal tersebut pasti akan menyisakan penyesalan saat melihat jumlah saldo di rekening tabungan nantinya.



    Akhirnya, dengan berat hati gue dan Daru melangkahkan kaki menuju bandara. Hati masih ingin bermesraan dengan suasana santai di Pulau Dewata, tapi masih ada tanggung jawab yang mengetuk-ngetuk pintu moral (halah!).

    Liburan suka-suka tanpa itinerary di Bali gue pun berakhir sore itu. Semoga dalam waktu dekat bisa main ke Bali lagi, ya. See you soon, Bali!
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top