Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Berawal dari celetukan singkat "eh, gue pengen jalan-jalan, nih" di akhir Desember 2017 lalu, maka di pertengahan Februari 2017 kemarin berangkatlah gue dan Daru ke Kota Pelajar, Yogyakarta.

    Perjalanan ke Yogyakarta selama lima hari ini adalah salah satu bentuk relaksasi untuk gue yang akan pindah ke kantor baru, juga untuk Daru yang sedang jenuh di kantornya saat ini. Bisa dibilang, tema perjalanan kali ini adalah berpetualang sambil bersantai. Ada jalan-jalannya, ada juga leyeh-leyeh di hotel seharian.

    Lalu, apa yang gue lakukan di Yogya dalam waktu 5 hari? Jadi gini ceritanya.

    Mengunjungi Situs Warungboto
    Pernah mendengar atau mengunjungi Taman Sari? Nah! Bentuk bangunan di Situs Warungboto ini mirip dengan desain arsitektur Taman Sari. Dulunya, Situs Warungboto digunakan oleh Sultan Hamengkubuwono II sebagai tempat peristirahatan. Sisa-sisa bangunan Situs Warungboto sempat rusak parah akibat gempa tektonik pada tahun 2006. Tapi kemudian, Balai Pelestarian Cagar Budaya melakukan renovasi dan kini Situs Warungboto menjadi salah satu tempat wisata yang mulai ramai dikunjungi wisatawan.



    Situs Warungboto sendiri memiliki struktur bangunan yang instagenic, alias sangat ketje dijadikan spot untuk foto-foto kemudian di-post di Instagram. Haha! Makanya, nggak heran kalau saat berkunjung ke sini, kalian banyak menemukan muda-mudi yang sibuk foto-foto dengan alat perang (re: kamera) mereka. Tentu saja gue dan Daru nggak mau melewatkan momen untuk foto di tempat cantik ini.




    Untuk berkunjung ke Situs Warungboto, pengunjung nggak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Hanya butuh Rp3.000 saja untuk biaya parkir. Menuju tempat ini pun tidak sulit karena letaknya tidak jauh dari pusat kota.

    Menghirup Udara Pegunungan di Hutan Pinus
    Dari pantai, hingga hutan... Yogyakarta punya banyak tempat seru untuk dijelajahi. Jadi, kalau kamu nggak mau belok ke pantai, kamu bisa terus lari ke hutan (sounds familiar?). Ada beberapa hutan pinus di Yogyakarta yang bisa dikunjungi, yaitu Hutan Pinus Asri, Hutan Pinus Mangunan, dan Hutan Pinus Pengger. Dalam kunjungan kali ini, gue dan Daru memutuskan untuk pergi ke Hutan Pinus Pengger.



    Perjalanan menuju Hutan Pinus Pengger hanya memakan waktu 40 menit dari penginapan gue di daerah Brontokusuman. Walaupun tidak terbilang jauh, namun rute perjalanannya cukup 'gahar' untuk kami, Ciwik-ciwik Nekad. Jalanan naik turun dengan belokan curam, serta sawah, kebun dan jurang mewarnai perjalanan kami menuju Hutan Pinus Pengger. Pastikan kamu selalu berhati-hati saat berkendara menuju tempat ini, ya. Apalagi saat malam hari, di mana tidak ada lampu jalan di sekitar hutan. 

    Begitu sampai di area hutan, pengunjung diwajibkan membayar biaya parkir dan biaya masuk. Untuk dua orang dan satu motor, gue hanya dikenakan biaya Rp7.000 saja. Biaya ini terbilang sangat murah untuk tempat wisata dengan toilet dan mukena yang bersih.

    Saat gue ke sana, Hutan Pinus Pengger sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Wajar aja, sih, karena gue berkunjung saat long weekend. Biarpun ramai, tapi suasananya nggak nyebelin. Semua orang tertib antre untuk foto di sejumlah spot cantik, mulai dari rumah-rumah kurcaci yang dibentuk dari ranting pohon, hammock warna-warni yang dipasang bertingkat, hingga gardu pandang berbentuk tangan raksasa. Intinya, kalau kamu ke sini, jangan lupa untuk mengeksplor setiap sudut Hutan Pinus Pengger ini.




    Nggak cuma untuk membersihkan paru-paru dan menambah koleksi foto aja, kamu juga bisa menikmati pemandangan matahari terbenam di Hutan Pinus Pengger. Dalam suasana ramai saja, gue dan Daru masih bisa menikmati sunset yang cantik sembari ditemani angin sepoi-sepoi.







    Makan Sate Klatak
    Di pertengahan jalan menuju Hutan Pinus Pengger, kami sempat mampir ke Sate Klatak Pak Pong untuk makan siang. Mumpung lagi ke Yogya, Daru pun mengajak gue nyicipin makanan khas Bantul ini.

    Kenapa dinamakan sate klatak? Konon katanya nama tersebut diambil dari bunyi "klatak klatak" yang muncul saat sate ini dipanggang. Kenapa bisa muncul suara tersebut? Karena sate yang terbuat dari daging kambing muda dengan bumbu garam dan merica ini tidak ditusuk dengan bambu seperti sate kebanyakan, melainkan jeruji sepeda.



    Penyajian sate ini juga beda dari sate pada umumnya. Jika sate biasanya disajikan dengan bumbu kacang atau sambal kecap, maka sate klatak disajikan dengan sedikit kuah gulai. Seinget gue, harga satu porsi yang terdiri dari dua tusuk sate itu hanya sekitar 20 ribuan.

    Jalan-jalan Malam di Malioboro
    Ada yang bilang, belum sah ke Yogya kalau nggak mampir ke Malioboro. Meskipun selalu ramai (dan meskipun hingga saat ini gue belum pernah foto di plang Malioboro), tapi nggak tahu kenapa rasanya pengen aja gitu jalan-jalan di sekitaran Malioboro. Iya, nggak, sih? Apa cuma gue doang? Haha.



    Emang ada apa di Malioboro? Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dinikmati. Mulai dari hiruk pikuk delman dan becak, pedagang kaki lama, warung lesehan, hingga seniman jalanan. Biarpun ramai, tapi suasananya tetap santai. Yogya sekali. Makanya gue suka kembali ke sini. Padahal hanya sekadar jajan wedang ronde, tapi nggak afdol aja gitu kalau ke Yogya tapi belum ke Malioboro.






    Nongkrong di Warung Kopi
    Budaya nongkrong di warung kopi sebenernya emang udah ada sejak jaman dulu. Makanya warkop-warkop merajalela di tiap sudut kota. Hanya saja, sekarang warkop alias warung kopi sudah bertransformasi menjadi lebih modern, dari konsep pelayanannya hinga desain interiornya. 

    Warung kopi modern ini nggak cuma menjamur di Jakarta, tapi juga di Yogya. Coffee shop yang gue dan Daru kunjungi saat ke Yogya kemarin adalah Filosofi Kopi. Yup, betul. Filosofi Kopi nggak cuma ada di Jakarta, tapi juga buka cabang di Yogya.




    Berbeda dari Jakarta, suasana FilKop di Yogya sangatlah sejuk dan tenang. Bawaannya pengen leyeh-leyeh seharian, nggak mau mikirin masalah hidup (seberat apa sih masalah ngana, cuy!). Nulis di sini pasti menyenangkan banget!

    Jajan Es Krim di Tempo Gelato
    Jika masih memiliki waktu senggang di Yogya, tidak ada salahnya untuk menyempatkan diri mencoba gelato di Tempo Gelato. Kios gelato ini memang terkenal di kalangan wisatawan, jadi sudah pasti tempat ini akan ramai oleh pengunjung yang penasaran dengan rasa gelato mereka *tunjuk diri sendiri*.

    Selain dari interiornya yang bertema rustic, menurut gue harga gelato yang murah juga menjadi nilai jual mereka. Untuk satu cup kecil, gue cukup membayar Rp20.000 saja dan sudah bisa memilih 2 rasa. Masalah rasa? Hmm... cukup oke. Tapi gue pribadi, sih, lebih suka Gaya Gelato dan Gusto Gelato di Bali, ya.





    Bersantai di Hotel
    Jika tujuan traveling kalian adalah relaksasi, maka bersantai di hotel bisa jadi pilihan. Saat ke Yogya kemarin, gue menginap di dua hotel berbeda, yaitu Adhistana Hotel dan YATS Colony. Mengapa memilih dua hotel tersebut? Karena dua hotel tersebut nggak cuma bagus untuk foto-foto, tapi juga nyaman sekali buat bersantai.

    Dua hotel tersebut tentunya meninggalkan kesan tersendiri buat gue dan Daru. Adhistana dengan suasana tenang dan santai khas Yogya, sementara YATS hadir dengan suasana yang lebih modern namun tetap asri dan rindang. Gue akan menuliskan review lengkap udah kedua hotel ini di post selanjutnya, ya.



    Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi saat pergi ke Yogyakarta. Misalnya, Gumuk Pasir, Goa Pindul, Merapi, hingga jajaran pantainya. Tapi, semua kembali lagi ke tujuan traveling kalian. Tujuan traveling lo apa?

    Love you!





    Continue Reading
    Coba hitung seberapa sering kita nyinyirin hidup seseorang karena -menurut kita- hidupnya sangatlah enak? Atau, seberapa sering kita merasa hidup kita nggak ada apa-apanya dibanding hidup orang lain?

    Sadar atau nggak, manusia memang sepertinya cenderung membandingkan hidupnya dengan orang lain. Iya nggak, sih? Misalnya, Si Anu udah bisa liburan ke Los Angeles, kok gue cuma liburan ke rumah nenek di sekitaran Lenteng Agung. Si Itu sudah bisa beli mobil, lah gue naik ojek online aja masih ngandelin promo. Dan sebagainya, dan sebagainya.

    Ditambah lagi, setiap orang kini bisa dengan leluasa membentuk image mereka di social media. Seketika, semua orang terasa memiliki hidup yang sempurna dan hidup gue doang yang kayak jalanan rusak. Tiba-tiba, rumput tetangga terlihat sangatlah hijau, sementara halaman gue tandus. Rumput aja kayak malas tumbuh di situ.

    Inilah yang dinamakan lingkaran setan. Kegiatan membanding-bandingkan ini nggak akan ada habisnya sampai kita memutus lingkaran tersebut. Alias, sadar bahwa tiap manusia itu adalah pemeran utama di sinetronnya masing-masing. Jalan cerita di sinetronmu nggak akan sama dengan sinetronku. Tapi, kalau kamu mau, kita bisa bikin sinetron versi kamu dan aku. #RecehSquad #GombalGagal

    Terdengar klise, tapi benar bahwa setiap orang pasti punya masalah, terlepas dari hidupnya terlihat sempurna dan serba mevvah layaknya Kim Kardashian. Nggak ada orang yang benar-benar terbebas dari masalah. Please, realistis dong, ah. 

    Kalau kamu ngeliatin temanmu liburan mulu ke luar negeri, bisa aja sebenernya dia banting tulang atau lembur tiap malam biar bisa pergi ke tempat yang dia mau. Kalau kamu punya teman yang bisa nangis di dalam Mercedes (karena katanya nangis di Mercedes lebih nyaman daripada nangis di pinggir jalan), bisa aja dia sebenernya mendingan nangis di bajaj tapi ada yang nemenin.

    Kalau kamu ngerasa hidupmu serba kurang, bisa aja karena kamu kurang usaha dan kurang bersyukur! Membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain terus menerus nggak akan memperbaiki keadaan juga. Karena kamu jadi fokus dengan hidup orang lain dan merasa pesimis dengan hidupmu. Ujung-ujungnya, kamu akan merasa kecil atau nyalahin keadaan.

    Hal tersebutlah yang membuat gue berusaha berhenti membandingkan hidup dengan orang lain. Ya, walaupun dalam praktiknya susah juga. Bagaimana pun juga gue hanyalah manusia biasa yang seringkali terbuai dengan keindahan duniawi. 

    Tapi, gue berusaha agar distraksi yang datang tidak membuat gue lupa dengan tujuan hidup gue. Juga tidak membuat gue lupa kalau...

    Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tapi kita nggak pernah tau sebanyak apa tai kucing di sela-sela rumput tersebut. :)

    source: Pinterest

    Continue Reading
    Kira-kira satu tahun yang lalu gue membaca novel Dilan, hasil karya Pidi Baiq. Hasil pinjam temen kantor, sih. Tapi rasa senang sehabis membaca novel Dilan teringat sampai sekarang.


    Makanya, ketika ada berita novel Dilan mau dibuat filmnya, gue penasaran dong siapa yang akan memerankan tokoh Dilan yang bikin geregetan ini. Bandel, tapi bikin hati lumer. Dilan adalah sosok yang romantis, unik dan nggak dibuat-buat. Duhileh.

    Begitu nama Iqbaal, mantan anggota Coboy Junior tercetus, reaksi gue pun sama kayak penikmat novel Dilan lainnya. Kok dia, sih? Berhubung gue nggak tau siapa aja aktor muda Indonesia, gue juga nggak bisa membayangkan siapa yang cocok memerankan sosok Dilan ini.

    Ketika trailer film ini keluar, gue makin ketar ketir. Kok rasanya nggak sampai, sih? Mana rasa grenyet-grenyet (ngerti kan maksudnya? haha) yang kudapat saat membaca novelnya?

    Sampai tibalah hari peluncuran film Dilan dan review-review mulai bertebaran. Temen gue, Eby, yang udah nonton film ini duluan manas-manasin gue buat nonton ini. Katanya film ini bikin efek senyum-senyum sehabis nonton. Seorang temen gue lainnya, Nanda, bilang di instastory-nya kalau film ini cheesy. Tapi cheesy yang menyenangkan. Sementara, teman gue lainnya bilang bahwa film ini adalah penyiksaan yang hakiki. Dua review yang sangat bertentangan muncul di timeline social media gue.

    Berhubung penasaran, maka pergilah gue menonton Dilan 1990. Sepulang kerja. Seorang diri. Sehabis hujan.

    Nah, sebelum gue memberikan review, gue cuma mau menekankan bahwa Dilan 1990 adalah cerita cinta anak remaja. Jadi, sebelum lo menonton, pastikan lo udah sadar dengan hal ini. Bahwasanya, saudara saudari sekalian, di cerita cinta anak remaja lo nggak akan menemukan kisah yang dewasa dan dramatis ala Habibie dan Ainun atau Fahri dan Aisyah. Kalau lo mencari kisah tentang percintaan yang dewasa secara emosional, lebih baik lo tidak menonton Dilan 1990 karena apa yang lo cari tidak akan lo temukan di film ini. Tapi mungkin di aku. #ehmaapin

    Jadi, bagaimana kesan gue setelah menonton film Dilan 1990? Menyenangkan dan menyegarkan. Kayak habis olahraga, terus elo minum es teh manis. Dan es tehnya dibeliin gebetan. Hahaha.
    Kalau lo sudah pernah baca novelnya, maka rasa yang lo dapat di filmnya kurang lebih sama dengan novelnya. Bonusnya, di film ini lo dapat melihat tatapan Iqbaal ke Milea yang bikin cewek-cewek lumer. Kayaknya baru kemarin akika nonton film 5 Elang, terus sekarang kamu udah ganteng begini, Dik Iqbaal?

    Secara keseluruhan, film ini menyenangkan sekali untuk ditonton, terutama kalau elo fakir dopamine. Hahaha. Apalagi, ocehan-ocehan lucu dan unik khas Pidi Baiq dikeluarkan jor-joran di film ini. Mulai dari "Cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri dan saat ini aku sedang tidak percaya diri" sampai "jangan rindu, berat, biar aku saja". Semua celotehan yang bikin cewek baper itu bakal elo temuin di film ini. Nggak heran kalau elo akan senyum-senyum sendiri sehabis menonton film ini. Film Dilan 1990 bener-bener mampu membuat elo nostalgia ke masa-masa SMA. Zaman di mana elo deg-degan tiap ketemu gebetan, atau saat pedekate.

    Bagi gue, film ini sukses mengadaptasi novelnya. Tentu saja, Iqbaal juga sukses menghidupkan sosok Dilan. Kalau selama ini elo menganggap Iqbaal itu kurang 'nakal' untuk memerankan Dilan, mungkin lo harus coba tonton film ini. Gue cukup amazed dengan ekspresi gahar Iqbaal saat lagi naik motor bareng geng motornya di scene awal.

    Terlepas dari rasa nostalgic dan menyenangkan yang dihadirkan, gue setuju dengan Eby bahwa film ini sayangnya tidak digarap dengan baik dari sisi sinematografi. Oh man, pengambilan gambar saat Milea dan Bunda di dalam mobil itu nggak banget, sih. Keliatan banget kalau Bunda nggak benar-benar nyetir.

    Beberapa pemain pun menurut gue tidak berakting dengan baik, alias kaku shay! Untungnya, hal-hal tersebut tidak terlalu terasa karena percaya deh... elo akan fokus oleh celotehan Dilan dan interaksinya dengan Milea. Satu hal lagi yang gue suka dari film ini adalah betapa naturalnya makeup Milea. Asli, beneran fresh dan remaja sekali tanpa keliatan berlebihan. Pas banget!

    Jadi, tonton jangan? Aku ramal pasti kamu jadi sedikit penasaran. :D
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top