Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Nulis dan ngumpulin note book lucu-lucu adalah kesukaan gue sejak kecil, selain nyanyi tentunya. Note book yang gue punya tentu aja nggak cuma jadi pajangan. Mubazir, ah! Makanya semua note book yang gue punya pasti gue isi. Berhubung gue anaknya susah curhat sama orang, jadilah kebanyakan note book tersebut gue jadikan diary. Beberapa gue gunakan untuk menulis puisi, lirik lagu, cerpen, hingga novel.

    source: Pinterest
    Semakin gede, gue semakin jarang nulis diary, apalagi nulis puisi. Sorry, Rangga... pengaruhmu tak sekuat dulu. 

    Memasuki masa kuliah justru gue lebih banyak menulis di blog atau social media. Tapi ngetik dan nulis tangan itu rasanya beda. Menulis tangan membuat gue merasa lebih hidup. Makanya gue masih tetap mengumpulkan note book (juga pulpen lucu-lucu!). Kalau dulu isinya kebanyakan curhat, kali ini gue lebih banyak menulis tujuan hidup gue. Mulai dari tujuan satu tahun ke depan, hingga  10 tahun kemudian.

    Gue selalu percaya bahwa setiap kali kita menuliskan mimpi-mimpi kita, maka semesta akan membuat kita lebih dekat dengan mimpi tersebut. Alam bawah sadar kita akan mengingat mimpi tersebut dan menuntun kita untuk melangkah mendekatinya. Makanya, semua mimpi gue, pasti gue tuliskan dalam jurnal yang selalu gue bawa setiap hari.

    Kadang, setelah beberapa tahun kemudian, gue lupa dengan mimpi-mimpi yang gue punya. Tapi begitu gue sedang membereskan kamar dan membaca jurnal lama, gue pun terkejut karena mimpi-mimpi yang pernah gue tulis itu terwujud satu persatu.

    Tamparan-tamparan yang kita dapatkan dalam hidup terkadang memang membuat kita lupa sesaat dengan tujuan kita. Itulah sebabnya gue menulis semua mimpi gue. Biar sekeras apapun hidup mendorong gue, gue tidak akan terlalu jauh keluar jalur.

    Catatan-catatan itu menjadi 'mercusuar' gue di saat sedang (berasa) nyasar dan membutuhkan navigasi, seperti sekarang. Setidaknya, saat gue membaca catatan tersebut gue tahu tujuan gue ada di mana dan jalan apa yang harus gue tempuh.

    Setelah satu tujuan tercapai, biasanya akan muncul tujuan lain. Setelah satu kejadian terjadi, pun akan muncul keinginan lain. Mungkin itu sebabnya jurnal mimpi gue masih terus terisi hingga saat ini. Mulai dari keinginan untuk terus menjadi penulis hingga tua nanti, atau sesederhana #ValineTaken2018. Hahaha.

    Mau bantu aminkan? :p






    Continue Reading
    "Mas, ada Wi-Fi?"

    Pertanyaan seorang pria membuat gue yang baru beranjak pergi dari kasir menoleh kembali. Sekalian nguping password Wi-Finya jika ada, begitu pikir gue.

    "Nggak ada," jawab Si Barista. "Biar pada ngobrol," lanjutnya kemudian.

    Gue tersenyum geli sambil kembali berjalan menuju meja, serta berusaha menyeimbangkan badan agar segelas Red Velvet Latte hangat yang gue bawa tidak tumpah. 

    Coffee shop dan Wi-Fi saat ini memang sudah semacam panci dan tutupnya, atau kayak kaos kaki kanan dan kaos kaki kiri (sungguh perumpamaan yang sangat elegan, kan? :D). They are made for each other. Hakikat warung kopi modern kini tak lagi sekadar menjadi tempat menikmati kopi, namun juga menjadi tempat nongkrong, tempat ngerjain tugas kampus atau kerjaan freelance, serta tempat numpang download film. Maka itu, kehadiran Wi-Fi di warung kopi adalah suatu keharusan.

    Namun, saat berkunjung ke Filosofi Kopi di Yogya, justru mereka dengan sengaja tidak menyediakan Wi-Fi. Tujuannya? Agar manusia menjadi manusia. Jadi, silakan ngobrol ngalor ngidul dengan teman ngopimu secara langsung. Ngapain ngajak temen ngopi kalau ujung-ujungnya kamu main henpon, kan?

    Sebenarnya di Jakarta pun juga banyak toko kopi yang nggak menyediakan Wi-Fi. Namun yang blak-blakan nyuruh customer-nya ngobrol, gue baru menemukannya di Filosofi Kopi.

    Terus, apalagi yang menarik di Filosofi Kopi Yogya?

    Pertama, lokasinya. Menurut gue yang menginap di daerah Brontokusuman, lokasi Filosofi Kopi agak jauh dan sedikit 'nyempil'. Jadi, lokasinya tidak berada di pinggir jalan raya. Namun, kamu akan diarahkan masuk ke pemukiman, juga melewati beberapa petak sawah, saat menuju tempat ini. Mungkin karena lokasinya dekat dengan sawah, saat siang pun udara di sini tidaklah panas membara.

    Lokasi parkir mobilnya agak horor, ya...


    Yang lebih menarik, Filosofi Kopi juga sepertinya dekat dengan pemakaman. Sewaktu gue dan Daru lagi ngopi, di depan toko kopi ini tiba-tiba ramai dengan iring-iringan penduduk sekitar dan beberapa polisi. Begitu gue perhatikan, ternyata mereka membawa keranda. Anehnya, walaupun dekat dengan pemakaman, ditambah melihat langsung iringan masyarakat yang ingin memakamkan jenazah, suasananya tidak serta merta menjadi spooky. Pengunjung di sekitar gue pun terlihat biasa-biasa saja.

    Kedua, desain interiornya. Setengah bangunan di Filosofi Kopi Yogya masih menggunakan rangka rumah adat Yogya. Sementara, meja dan kursinya terdiri dari berbagai desain. Ada kursi dengan bantalan dari jeans bekas, ada kursi plastik warna-warni, ada juga kursi yang biasa kita jumpai di ruang tunggu terminal yang dialihfungsikan jadi tempat duduk lucu. Saat berkunjung ke sini, kamu akan menangkap kesan tradisional, jadul, tapi juga fun.




    Filosofi Kopi Yogya juga memasang berbagai lukisan bermedia kanvas, lengkap dengan quote menarik. Dan pastinya, nggak ketinggalan poster pemeran film Filosofi Kopi.



    Ketiga, harganya murah. Asli, nggak bohong. Harga di Filosofi Kopi menurut gue termasuk murah, lho. Saat ke sana, gue memesan Red Velvet Latte, French Fries, dan Ice Javanese Tea. Sedangkan Daru memesan Churros dan kopi yang gue lupa namanya haha. Untuk semua pesanan tersebut, kami hanya menghabiskan Rp110.000,- saja. Rasa makanan dan minumannya juga enak, walau tidak bisa dibilang spesial.




    Keempat, suasananya. Filosofi Kopi di sini sangatlah nyaman, menenangkan, dan bikin betah nongkrong lama-lama. Ditambah lagi, tidak ada fasilitas Wi-Fi sehingga ngobrol pun bisa jadi lebih berkualitas. Soalnya kalau nggak ada Wi-Fi jadi sayang kan mau streaming Youtube atau download episode drama Korea terbaru (ketauan deh perhitungannya haha).





    Menurut gue, kalau kamu lagi ke Yogya dan mau ngopi-ngopi cantik, sih, bisa mempertimbangkan untuk ke sini. Apalagi kalau kamu mencari tempat ngopi yang santai dan tenang, tapi juga 'Yogya' sekali. Cus, langsung aja meluncur ke daerah Ngaglik.













    Disclaimer: All photographs on this blog are the property of Valine Yarangga. No parts of the content of this blog may be distributed in public without the prior written permission of the owner.
    Continue Reading
    Perjalanan menuju Yogya pertengahan Februari lalu tidaklah bisa dikatakan lancar. Hujan mengguyur Depok dan Jakarta dari pagi. Gue pun terpaksa berangkat ke pool bus bandara dalam keadaan hujan deras. Tentu saja hujan deras memiliki korelasi yang kuat dengan kondisi jalanan. Hujan = macet. 

    Setelah terjebak di perjalanan menuju bandara selama hampir 3 jam (dan hampir telat counter check in), gue harus menghadapi kenyataan bahwa pesawat yang akan gue naiki delay selama 20 menit. Oh, tentu saja itu bukanlah akhir dari cerita perjalanan ini.

    Mendekati bandara Adi Sutjipto, pilot memberi tahu bahwa pesawat kami harus menunggu antrian untuk landing. 30 menit berlalu dan pilot kembali memberi tahu bahwa pesawat kami belum bisa mendarat karena cuaca di bawah pesawat kami sedang buruk. Pesawat kembali berputar-putar di udara, sementara telinga gue sudah berdengung.

    Setelah kembali menunggu di udara 30 menit lamanya, akhirnya pilot memberi tahu bahwa pesawat kami akan transit di bandar udara Juanda karena cuaca di Yogya belum juga membaik. Begitu landing di Surabaya, pilot kembali menginfokan kalau cuaca di Yogya sudah membaik. Kami pun bisa cus balik ke Yogya setelah mengisi bahan bakar.

    Setelah menempuh perjalanan balik selama 40 menit, akhirnya pesawat yang gue naiki tiba di Yogyakarta. Jika ditotal, perjalanan Jakarta - Yogya malam itu kira-kira mencapai 3 jam lebih. Semua penumpang kompak tepuk tangan begitu pesawat landing. Ini beneran, lho. Hahaha.

    Nggak lama, gue bertemu Daru yang sudah kering kerontang nungguin gue hingga 3 jam. Kami pun order Go-Car di luar bandara sembari hujan-hujanan. Telinga gue masih berdengung dan flu gue semakin berat. Setelah perjalanan panjang (dan intro yang juga panjang) ini, gue cuma berharap hotel yang kami pesan cukup nyaman untuk beristirahat.

    Lalu akhirnya, tibalah kami di Adhistana Hotel.




    Begitu turun dari mobil, satpam hotel dengan cekatan langsung memberikan kami payung dan menurunkan koper kami dari mobil. Kami pun memasuki hotel dan menuju meja resepsionis. Kesan etnik dan bersahaja langsung terasa begitu memasuki hotel ini.

    Di depan meja resepsionis terdapat sebuah kursi panjang, lengkap dengan bantal bersarung batik warna biru. Untuk menambah kesan tempo dulu, di sisi kursi diletakkan sebuah telepon antik. Sementara, di sebelah kiri resepsionis, terdapat welcome drink berupa asem jawa dan snack. Di sisi yang sama juga terdapat gelas besi yang jadul banget itu.





    Setelah mengurus administrasi, pegawai hotel pun mengantar kami ke kamar. Kamarnya terbilang kecil, tapi nyaman. Apalagi nuansanya etnik dan tradisional sekali. Dari bantal, tirai, hingga sendal hotel... semua hadir dengan motif batik berwarna biru. Kami tentu saja langsung heboh foto-foto seisi kamar, seperti lupa habis melalui perjalanan yang panjang. Haha.




    Setelah puas foto-foto, gue memasuki kamar mandi dan menemukan dua kendi berisi sampo dan sabun mandi yang lucu sekali. Gue dan Daru suka banget dengan wangi sabunnya. Wangi aromaterapinya bener-bener bikin rileks. Rasa capek kayak langsung hilang begitu saja.

    Berhubung setelah landing kami memutuskan untuk langsung ke hotel, maka gue belum sempat makan malam, bahkan gue juga skip makan siang. Jadilah begitu sampai, gue langsung memesan mie goreng jawa di hotel. Ternyata, ya, untuk ukuran hotel harga makanannya cukup bersahabat. Untuk sepiring mie goreng jawa dan segelas wedang jahe, gue hanya menghabiskan sekitar 50 ribuan.



    Keesokan harinya gue bangun dengan tubuh yang lebih segar karena tidur nyenyak. Gue langsung membuka tirai dan mengintip situasi di luar hotel. Terlihat beberapa orang dewasa dan anak-anak yang sedang seru berenang. Kebetulan, kami memesan kamar hotel yang terletak persis di depan kolam renang. Jadi, kami bisa dengan mudah bolak-balik berenang, atau sekadar leyeh-leyeh di kursi kolam renang.





    Suasana pagi di Adhistana Hotel menurut gue cukup tenang. Tidak ramai, namun juga tidak sesepi itu. Setelah mandi, kami pun sarapan. Lokasi untuk sarapan terletak di lantai 2 Lawas Cafe. Interiornya juga tak kalah menarik dari hotelnya, lho.

    Pilihan makanan yang disediakan pun cukup beragam. Ada nasi putih, nasi goreng, lauk pauk yang berubah setiap harinya, croissant, sereal, roti, omelet, wafel/ pancake, puding, hingga buah-buahan. Tak ketinggalan berbagai variasi minuman seperti teh, susu, jus, hingga kopi. Rasanya juga enak. Hanya saja, gue sempat menemukan beberapa alat makan yang kurang bersih dicucinya.



    Gue dan Daru menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di Adhistana. Di mana, untuk semalam, kami cukup membayar sekitar Rp525.000 saja, termasuk sarapan. 

    Kami berdua benar-benar menikmati pengalaman menginap di Adhistana. Apalagi Adhistana memiliki banyak spot untuk duduk-duduk santai sambil menikmati hidup, juga untuk foto-foto. Itu sebabnya kami memilih leyeh-leyeh di hotel saja di hari ketiga kami di Yogya.







    Jika gue berlibur kembali ke Yogya, gue sudah pasti akan menginap kembali di Adhistana, sih. Satu, karena suasananya santai dan bersahaja. Dua, karena harganya bersahabat. Tiga, karena wangi sabunnya enak!

    Ciao!
















    Disclaimer: All photographs on this blog are the property of Valine Yarangga. No parts of the content of this blog may be distributed in public without the prior written permission of the owner.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top