Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Naik kereta api tut... tut... tut... Siapa hendak turut?

    Kalau mengingat lagu itu, sepertinya naik kereta itu menyenangkan sekali, ya? Tapi, bagaimana jika kamu diajakin naik kereta saat ini? Hmm... mikir seribu kali, deh.

    Tentunya kereta yang gue maksud di sini adalah commuter line yang menjadi penghubung antara Jakarta dan daerah penyangga, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang. Naik kereta alias commuter line adalah bukti nyata bahwa kadang kenyataan dan harapan itu nggak sinkron.

    Nggak usah bohong, deh. Anak kereta pasti tiap berangkat dari rumah berharap kereta akan lancar jaya dan kosong (setidaknya nggak kayak pepes) di jam sibuk. Kenyataannya? Kita seringkali dapet kejutan dari commuter line. Entah gangguan sinyal, rel patah, diselak kereta jarak jauh, dan segala macam masalah yang kalau gue perhatiin sudah ada dari dulu namun tak kunjung selesai. Pait. Ku nggak suka dikasih surprise macam gini.

    Sumber: tribunnews.com
    Tapi hal yang nyebelin di kereta nggak harus kamu bawa kesel seharian. Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan?

    Gue pun nggak akan bilang “nikmatin aja”. Udah dibilang nggak enak, kok malah disuruh nikmatin. Itu semacam kamu dikentutin orang yang belum pup seminggu dan disuruh nikmatin aja. Terus gue harus happy dan nikmatin bau busuk ini, gitu? Ah… bau kentut ini sangatlah menyenangkan hatique. Terima kasih, Tukang Ngentut.

    Karena itu, menurut gue, kita bukan harus berusaha menikmati. Dalam kasus commuter line, kita harusnya berusaha bertahan, jika memang opsi transportasi lain tidak memungkinkan.

    Dan cara gue untuk bertahan dalam kecarutmarutan commuter line adalah….

    • Sarapan Sebelum Naik Kereta
    Yes, tentu saja. Gimana bisa punya tenaga ngelawan mbak-mbak super setrong di gerbong khusus wanita kalau kamu nggak isi bahan bakar? Gimana bisa berdiri umpel-umpelan saat kereta gangguan kalau perutmu kosong? Ada beberapa kasus penumpang pingsan di kereta karena belum sarapan. Makanya gue nggak pernah melewatkan sarapan. Wong, sudah sarapan pun gue bisa lapar lagi sehabis turun kereta. Hahaha.

    • Cek Keadaan Commuter Line Lewat Twitter
    Ternyata, pengguna commuter line cukup aktif di dunia per-twitter-an. Mulai dari mengeluhkan kereta gangguan, sampai ngomelin admin twitter commuter line yang suka bilang kereta normal padahal kenyataannya nggak gitu. Please, min, cobain naik produk sendiri! Jadi, sebelum naik kereta, luangkanlah waktumu sebentar buat cek twitter. Kalau kereta tak ada masalah ya alhamdulillah, kalau ternyata ada gangguan setidaknya kamu bisa bersiap-siap. 

    • Pakai Sepatu yang Nyaman
    Pakai sendal buat naik kereta di jam sibuk? Kasihanilah jempolmu wahai anak muda! Gue nggak ngerti kenapa, tapi pengguna kereta selalu kehilangan sensor buat memijak di tempat yang tepat, alias lantai kereta. Jadi, nggak usah heran kalau begitu turun kereta sepatu akan dipenuhi bekas sepatu orang. Pedih hatiku! Makanya, pakai sendal itu bukan keputusan bijak bagi gue. 

    Bahkan, gue pernah pakai sepatu boot dengan sol setebal Docmart saking keselnya jadi korban keinjek melulu. Suatu hari, saat gue sedang memakai sepatu itu, guelah yang kehilangan sensor memijak. Kaki gue pun mendarat manis di atas jempol seorang mbak yang sedang pakai sendal. Dia pun teriak kesakitan dan akhirnya sepatu itu jarang gue pakai lagi. Ngerti, kan, sekarang kenapa pakai sepatu itu penting di commuter line?

    • Dengerin Musik
    Mendengarkan musik memang nggak akan membuat kamu jadi tiba-tiba menikmati kereta. Yang namanya gangguan atau umpel-umpelan udah pasti bikin kesel dan nggak nyaman. Tapi, mendengarkan musik setidaknya bisa membuat syaraf-syaraf tegang di muka jadi kendor dikit. Yang tadinya kesel banget, jadi kesel aja. Setidaknya musik bisa membuat gue nggak terlalu stress di kereta.

    • Jangan Galak
    Kesenggol dikit, ngelirik judes. Kedorong dikit, nyinyir. Duh, situ hidup nggak boleh kecolek banget. Naik kereta itu jurusnya sabar dan pengertian. Ya, mau gimana? Kereta penuh dan gangguan adalah resiko yang harus kita hadapi. Jangan nambah-nambahin stress dengan menjadi orang yang tidak pengertian dan pemaaf. Percayalah, tidak ada yang lebih menghangatkan hati dibanding penumpang yang saling melempar senyum saat kondisi di dalam kereta layaknya replika neraka.

    • Tahu Batas
    Commuter line memang selalu penuh setiap pagi dan sore di hari kerja. Itu fakta yang sulit sekali diubah. Setiap pagi dan sore, stasiun pasti dipenuhi dengan pemandangan orang-orang yang rebutan naik kereta. Di sinilah waktunya kita adu kekuatan dan di saat yang bersamaan juga tahu batasan. Maksudnya, kalau memang kereta sudah terlalu penuh, ya, tunggu kereta berikutnya. Nggak usah memaksakan diri masuk ke gerbong yang sudah penuh sesak. Gue selalu berusaha untuk mengingat bahwa keselamatan itu lebih penting (dibanding masuk kantor tepat waktu haha). Kalau ujung-ujungnya badan akan sakit dan nggak bisa nafas, lebih baik nggak usah maksa. Jangan sampai juga jadi barbar dan ngedorong orang seenaknya. Kamu dikejar apa, sih?

    Cara yang terakhir tentu saja berdoa. Biar perjalananmu lancar dan kamu diberikan kekuatan untuk melalui kerasnya commuter line.

    Bilang apa? Aamiin....







    Continue Reading
    Nulis dan ngumpulin note book lucu-lucu adalah kesukaan gue sejak kecil, selain nyanyi tentunya. Note book yang gue punya tentu aja nggak cuma jadi pajangan. Mubazir, ah! Makanya semua note book yang gue punya pasti gue isi. Berhubung gue anaknya susah curhat sama orang, jadilah kebanyakan note book tersebut gue jadikan diary. Beberapa gue gunakan untuk menulis puisi, lirik lagu, cerpen, hingga novel.

    source: Pinterest
    Semakin gede, gue semakin jarang nulis diary, apalagi nulis puisi. Sorry, Rangga... pengaruhmu tak sekuat dulu. 

    Memasuki masa kuliah justru gue lebih banyak menulis di blog atau social media. Tapi ngetik dan nulis tangan itu rasanya beda. Menulis tangan membuat gue merasa lebih hidup. Makanya gue masih tetap mengumpulkan note book (juga pulpen lucu-lucu!). Kalau dulu isinya kebanyakan curhat, kali ini gue lebih banyak menulis tujuan hidup gue. Mulai dari tujuan satu tahun ke depan, hingga  10 tahun kemudian.

    Gue selalu percaya bahwa setiap kali kita menuliskan mimpi-mimpi kita, maka semesta akan membuat kita lebih dekat dengan mimpi tersebut. Alam bawah sadar kita akan mengingat mimpi tersebut dan menuntun kita untuk melangkah mendekatinya. Makanya, semua mimpi gue, pasti gue tuliskan dalam jurnal yang selalu gue bawa setiap hari.

    Kadang, setelah beberapa tahun kemudian, gue lupa dengan mimpi-mimpi yang gue punya. Tapi begitu gue sedang membereskan kamar dan membaca jurnal lama, gue pun terkejut karena mimpi-mimpi yang pernah gue tulis itu terwujud satu persatu.

    Tamparan-tamparan yang kita dapatkan dalam hidup terkadang memang membuat kita lupa sesaat dengan tujuan kita. Itulah sebabnya gue menulis semua mimpi gue. Biar sekeras apapun hidup mendorong gue, gue tidak akan terlalu jauh keluar jalur.

    Catatan-catatan itu menjadi 'mercusuar' gue di saat sedang (berasa) nyasar dan membutuhkan navigasi, seperti sekarang. Setidaknya, saat gue membaca catatan tersebut gue tahu tujuan gue ada di mana dan jalan apa yang harus gue tempuh.

    Setelah satu tujuan tercapai, biasanya akan muncul tujuan lain. Setelah satu kejadian terjadi, pun akan muncul keinginan lain. Mungkin itu sebabnya jurnal mimpi gue masih terus terisi hingga saat ini. Mulai dari keinginan untuk terus menjadi penulis hingga tua nanti, atau sesederhana #ValineTaken2018. Hahaha.

    Mau bantu aminkan? :p






    Continue Reading
    "Mas, ada Wi-Fi?"

    Pertanyaan seorang pria membuat gue yang baru beranjak pergi dari kasir menoleh kembali. Sekalian nguping password Wi-Finya jika ada, begitu pikir gue.

    "Nggak ada," jawab Si Barista. "Biar pada ngobrol," lanjutnya kemudian.

    Gue tersenyum geli sambil kembali berjalan menuju meja, serta berusaha menyeimbangkan badan agar segelas Red Velvet Latte hangat yang gue bawa tidak tumpah. 

    Coffee shop dan Wi-Fi saat ini memang sudah semacam panci dan tutupnya, atau kayak kaos kaki kanan dan kaos kaki kiri (sungguh perumpamaan yang sangat elegan, kan? :D). They are made for each other. Hakikat warung kopi modern kini tak lagi sekadar menjadi tempat menikmati kopi, namun juga menjadi tempat nongkrong, tempat ngerjain tugas kampus atau kerjaan freelance, serta tempat numpang download film. Maka itu, kehadiran Wi-Fi di warung kopi adalah suatu keharusan.

    Namun, saat berkunjung ke Filosofi Kopi di Yogya, justru mereka dengan sengaja tidak menyediakan Wi-Fi. Tujuannya? Agar manusia menjadi manusia. Jadi, silakan ngobrol ngalor ngidul dengan teman ngopimu secara langsung. Ngapain ngajak temen ngopi kalau ujung-ujungnya kamu main henpon, kan?

    Sebenarnya di Jakarta pun juga banyak toko kopi yang nggak menyediakan Wi-Fi. Namun yang blak-blakan nyuruh customer-nya ngobrol, gue baru menemukannya di Filosofi Kopi.

    Terus, apalagi yang menarik di Filosofi Kopi Yogya?

    Pertama, lokasinya. Menurut gue yang menginap di daerah Brontokusuman, lokasi Filosofi Kopi agak jauh dan sedikit 'nyempil'. Jadi, lokasinya tidak berada di pinggir jalan raya. Namun, kamu akan diarahkan masuk ke pemukiman, juga melewati beberapa petak sawah, saat menuju tempat ini. Mungkin karena lokasinya dekat dengan sawah, saat siang pun udara di sini tidaklah panas membara.

    Lokasi parkir mobilnya agak horor, ya...


    Yang lebih menarik, Filosofi Kopi juga sepertinya dekat dengan pemakaman. Sewaktu gue dan Daru lagi ngopi, di depan toko kopi ini tiba-tiba ramai dengan iring-iringan penduduk sekitar dan beberapa polisi. Begitu gue perhatikan, ternyata mereka membawa keranda. Anehnya, walaupun dekat dengan pemakaman, ditambah melihat langsung iringan masyarakat yang ingin memakamkan jenazah, suasananya tidak serta merta menjadi spooky. Pengunjung di sekitar gue pun terlihat biasa-biasa saja.

    Kedua, desain interiornya. Setengah bangunan di Filosofi Kopi Yogya masih menggunakan rangka rumah adat Yogya. Sementara, meja dan kursinya terdiri dari berbagai desain. Ada kursi dengan bantalan dari jeans bekas, ada kursi plastik warna-warni, ada juga kursi yang biasa kita jumpai di ruang tunggu terminal yang dialihfungsikan jadi tempat duduk lucu. Saat berkunjung ke sini, kamu akan menangkap kesan tradisional, jadul, tapi juga fun.




    Filosofi Kopi Yogya juga memasang berbagai lukisan bermedia kanvas, lengkap dengan quote menarik. Dan pastinya, nggak ketinggalan poster pemeran film Filosofi Kopi.



    Ketiga, harganya murah. Asli, nggak bohong. Harga di Filosofi Kopi menurut gue termasuk murah, lho. Saat ke sana, gue memesan Red Velvet Latte, French Fries, dan Ice Javanese Tea. Sedangkan Daru memesan Churros dan kopi yang gue lupa namanya haha. Untuk semua pesanan tersebut, kami hanya menghabiskan Rp110.000,- saja. Rasa makanan dan minumannya juga enak, walau tidak bisa dibilang spesial.




    Keempat, suasananya. Filosofi Kopi di sini sangatlah nyaman, menenangkan, dan bikin betah nongkrong lama-lama. Ditambah lagi, tidak ada fasilitas Wi-Fi sehingga ngobrol pun bisa jadi lebih berkualitas. Soalnya kalau nggak ada Wi-Fi jadi sayang kan mau streaming Youtube atau download episode drama Korea terbaru (ketauan deh perhitungannya haha).





    Menurut gue, kalau kamu lagi ke Yogya dan mau ngopi-ngopi cantik, sih, bisa mempertimbangkan untuk ke sini. Apalagi kalau kamu mencari tempat ngopi yang santai dan tenang, tapi juga 'Yogya' sekali. Cus, langsung aja meluncur ke daerah Ngaglik.













    Disclaimer: All photographs on this blog are the property of Valine Yarangga. No parts of the content of this blog may be distributed in public without the prior written permission of the owner.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top