Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Pagi itu adalah hari Sabtu, namun gue sudah terbangun sejak pukul tujuh. Kalau bukan karena sedang liburan, tentu saja gue pasti masih tidur pulas. Gue memang bukan seseorang yang mudah bangun pagi. Tapi, selalu ada pengecualian dalam hidup ini, bukan? Buat gue, liburan adalah momen di mana gue bisa bangun pagi dengan mudah, tanpa paksaan. Apalagi, suasana Bali pagi itu lagi cerah-cerahnya sehingga membuat gue makin semangat.

    Rencana gue dan Daru hari itu adalah mengikuti kelas membuat perhiasan perak di Ubud. Sebelumnya, kami sudah mencari informasi lokakarya terlebih dahulu melalui AirBnB. Gue sendiri baru tahu kalau kita nggak hanya bisa memesan penginapan di AirBnB. Situs ini ternyata juga menyediakan banyak pilihan kegiatan yang bisa kita ikuti di setiap destinasi wisata.

    Kelas membuat perhiasan perak ini sebenarnya dimulai pukul 14.30, tapi kami sudah berangkat ke Ubud sejak pukul 09.30. Sebelum mengikuti lokakarya, kami mampir dulu ke Kebun Bistro. Kalau kalian lagi mampir ke Ubud, gue sarankan mampir ke sini sebentar untuk menikmati secangkir kopi dan croissant mereka. Nggak cuma makanannya yang enak, suasana cafe ini pun nyaman dan instagenic.


    Selesai menikmati brunch, gue dan Daru pun beranjak menuju W.S. Art Studio, tempat lokakarya pembuatan perhiasan perak diadakan. Memasuki area studio, gue dan Daru disambut dengan hamparan sawah dan sebuah penginapan dengan desain ala Bali.

    Lalu, setelah menginfokan kelas yang akan kami ikuti, kami pun diantarkan oleh staff studio ke ruangan semi terbuka di bagian belakang. Ruangan ini langsung menghadap ke hamparan sawah dan penginapan. Suasananya asri dan sejuk banget. Bikin betah.



    Di ruang tersebut ada empat hingga lima meja besar dengan sejumlah kursi. Tak ketinggalan, ada juga berbagai peralatan untuk membuat perhiasan perak, serta peralatan untuk kelas memahat dan membatik. Yes, studio ini nggak hanya membuka kelas membuat perhiasan perak saja. Kita juga bisa mengikuti kelas memahat, melukis, membuat layang-layang, dan masih banyak lagi.



    Meskipun kami datang sebelum pukul 14.30, namun gue dan Daru sudah diperbolehkan untuk memulai kelas. Nah, yang membimbing dan mengajari kami membuat perhiasan perak adalah Bu Ayu. Sebelum memulai kelas, Bu Ayu menginfokan biaya lokakarya yang gue dan Daru ikuti, yaitu Rp380.000. Info biaya ini sebenarnya sudah tertera di AirBnB.

    Bu Ayu juga menjelaskan bahwa dengan biaya tersebut, gue dan Daru bisa mengikuti kelas selama empat jam dan mendapatkan lima gram perak untuk membuat perhiasan. Jika ternyata jumlah perak yang kami gunakan lebih dari lima gram, maka kami harus membayar Rp15.000,- untuk tiap gram kelebihannya.

    Oh iya, perak yang digunakan di lokakarya ini memiliki kadar 92,5%, sementara 7,5% lainnya merupakan campuran tembaga. Kadar ini memang umum digunakan untuk membuat perhiasan perak. Nama populer perak dengan kadar 92,5% adalah sterling silver.

    Setelah memberikan penjelasan singkat, kelas pun dimulai. Seperti apa, sih, proses pembuatan perhiasan perak?

    Pertama, menentukan desain perhiasan. Jadi, awalnya kami diminta untuk membuat sketsa desain perhiasan yang akan dibuat. Bu Ayu pun memberikan kami selembar kertas dan sebuah pensil. Karena sebelumnya gue sudah mencari tahu desain perhisan yang ingin gue buat, maka gue tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan sketsa, begitu juga dengan Daru.


    Kedua, menggambar ulang desain di lempengan perak. Selesai menggambar sketsa perhiasan di kertas, Bu Ayu pun memberikan gue sebuah lempengan perak kecil untuk menggambar kembali sketsa perhiasan. Saat itu, gue ingin membuat cincin gajah. Jadi, gue menggambar kepala dan badan gajah secara terpisah di lempengan perak, sesuai arahan Bu Ayu.


    Ketiga, menggunting lempengan perak sesuai desain. Setelah selesai menggambar, maka langkah selanjutnya adalah menggunting gambar tersebut. Untuk menggunting lempengan perak, kita membutuhkan sebuah gunting khusus.

    Meskipun menggunakan alat khusus, namun jangan pikir mengguntingnya mudah. Ternyata menggunting lempengan perak itu sulit karena lempengan tersebut lumayan keras. Jadi, kita harus memberikan tenaga lebih untuk mengguntingnya. Proses menggunting tersebut juga makin sulit karena ukuran gajah yang gue buat cukup kecil.


    Keempat, menghaluskan sisi lempengan perak. Jika sudah selesai menggunting, otomatis bagian pinggir lempengan akan bergerigi dan cenderung tajam. Nah, itulah sebabnya sisi lempengan harus dihaluskan dengan alat kikir agar lebih mulus.


    Kelima, menggabungkan beberapa lempengan jadi satu. Karena desain gajah untuk cincin gue terdiri dari dua bagian, yaitu kepala dan badan, maka dua lempengan tersebut harus direkatkan terlebih dahulu. Caranya adalah dengan menggunakan bahan perekat bernama bora, lalu dibakar. Untuk proses perekatan ini, Bu Ayu langsung yang mengerjakannya.


    Keenam, membuat band cincin. Sebelum membuat ring band, gue memberi tahu Bu Ayu kalau gue ingin model ring band berulir. Jadi, Bu Ayu pun memberikan gue dua kawat perak untuk dililit. Proses melilit dua kawat ini harus dilakukan dengan hati-hati agar bentuk ulirannya tetap rapih. Agar proses melilit ini lebih mudah, Bu Ayu menyarankan untuk menggunakan alat bantu berupa tang khusus perhiasan.

    Setelah dua kawat tersebut dililit, Bu Ayu pun menyesuaikan panjangnya dengan ukuran jari gue, lalu mengguntingnya. Selanjutnya, bagian ujung kawat harus kembali dikikir agar tidak tajam dan melukai jari tangan.


    Ketujuh, menggabungkan ring band dengan lempengan gajah. Sama seperti proses penggabungan atau perekatan sebelumnya, proses ini pun menggunakan bahan perekat dan api. Namun, sebelum direkatkan, cincin yang belum berbentuk bulat sempurna, dibulatkan terlebih dahulu dengan menggunakan mandrel.

    Kedelapan, merendam cincin di air aki. Cincin yang sudah berbentuk kemudian direndam di air aki selama kurang lebih dua puluh menit. Tujuannya adalah untuk membersihkan noda-noda bekas lem dan pembakaran. 

    Sambil menunggu cincin selesai direndam, gue dan Daru pun foto-foto di area belakang studio yang asri. Sesekali, kami juga mencicipi cemilan yang diberikan gratis oleh W.S. Art Studio, yaitu nanas dan pisang goreng. Nggak cuma cemilan, mereka juga menyediakan air mineral, teh, atau kopi untuk peserta lokakarya.


    Kesembilan, mencuci cincin dengan air sabun. Meskipun sudah direndam menggunakan air aki, namun masih ada kotoran yang menempel pada perhiasan. Itulah sebabnya, perhiasan harus kembali dicuci menggunakan air sabun sembari disikat secara perlahan.

    Kesepuluh, memoles perhiasan. Perhiasan yang sudah bersih harus dipoles terlebih dahulu agar terlihat berkilau. Proses pemolesan ini tidak dilakukan oleh peserta lokakarya, namun dilakukan oleh Bu Ayu. Sebelum memoles perhiasan di mesin khusus, Bu Ayu mengoleskan cairan khusus ke perhiasan. Proses pemolesan ini diulang sebanyak dua kali.


    Selesai dipoles, perhiasan perak pun terlihat berkilau dan cantik sekali. Gue dan Daru puas sekali dengan cincin yang kami buat, tentu saja dengan bantuan Bu Ayu (Bahkan selama di Bali, cincin itu selalu gue pakai, lho).

    Durasi kelas selama empat jam terasa begitu singkat karena kami benar-benar menikmati setiap proses pembuatan perhiasan perak ini. Sehabis mengikuti kelas, gue dan Daru tidak hanya membawa pulang cincin perak kami saja. W.S. Art Studio ternyata juga memberikan kami sertifikat. Yay!


    Kalau kalian ingin mencoba sesuatu yang berbeda di Bali, kalian bisa, lho, mencoba berbagai kelas kerajinan dan kebudayaan Bali seperti yang gue dan Daru ikuti. Itung-itung menambah pengalaman sekaligus mengasah kreativitas.








    Continue Reading
    Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, bulan Februari lalu gue liburan ke Yogya bareng Daru. Ceritanya sendiri bisa dibaca di sini, sini, dan sini. Nah, selama di Yogya kemarin, gue dan Daru sempat menginap satu malam di YATS Colony.




    Kenapa kita memutuskan menginap di sini? Karena tempat ini ramai sekali diulas para influencers di social media. Gue pun jadi penasaran. Padahal awalnya kita nggak berniat menginap di sini. Tapi, berhubung kami extend satu hari dan belum memesan kamar, maka kami coba, deh, buat santai-santai semalam di YATS Colony.

    Jadi, ada hal menarik apa sajakah di YATS Colony? Ini dia.

    Area Lobi yang Unik

    Saat memasuki YATS, gue dan Daru melihat ada sebuah bangunan kecil di sebelah kiri. Karena kita belum tahu di mana tempat untuk check in, akhirnya kita pun memasuki ruangan ini. Oh, ternyata ruangan ini adalah lobi hotel sekaligus area check in.

    Yang bikin unik adalah lobi hotel ini dibagi menjadi dua area. Area sebelah kanan lobi merupakan cafe, sementara bagian kiri merupakan area untuk check in. Nggak hanya itu, di bagian kiri lobi pun terdapat display pernak-pernik, baju, serta aksesoris lainnya yang bisa dibeli. Jadi, sambil check in, bisa sambil cuci mata atau belanja juga.

    Bangunan ini juga terdiri dari dua lantai. Kalau lantai bawah merupakan lobi, cafe, dan area belanja, maka di lantai atas adalah tempat untuk sarapan.

    Maapin kelakuan gue, ya!

    Interior Kamar yang Lucu

    Selesai check in, gue dan Daru diberikan kunci kamar. Lalu, seorang petugas mengantarkan kami menuju kamar tipe "KA" dengan twin bed yang kami pesan. Ngomong-ngomong, saat itu kami membayar sekitar Rp500ribuan untuk kamar tipe ini.

    Begitu pintu kamar dibuka, kami pun langsung senyum-senyum excited karena interior kamarnya sungguh nggak mengecewakan dan sesuai ekspektasi kami. Interiornya sangat modern dan nyaman.

    Di samping pintu kamar, kami menemukan sebuah keranjang berisi peralatan mandi dan sandal. Di dalam keranjang tersebut juga terdapat welcome card dari pihak YATS. Nggak ketinggalan, ada juga sign untuk pintu yang desainnya dibuat mirip plat kendaraan.

    Selain tempat tidur (pastinya!), kamar ini juga dilengkapi televisi, wi-fi, meja rias, daybed, dan pajangan dinding yang artsy sekali. Kabarnya memang YATS Colony berkolaborasi dengan seniman muda Indonesia untuk menghiasi kamar serta area hotel.





    Bagi gue, kamar tipe KA ini udah cukup nyaman. Tapi, kalau kamu mau pengalaman menginap yang lebih menyenangkan, gue sarankan menyewa kamar tipe "NA". Di tipe kamar ini, pihak YATS menyediakan daybed di teras kamar dengan pemandangan kolam renang. Jadi, kamu bisa leyeh-leyeh dengan pemandangan cantik di pagi atau sore hari. Selain tipe kamar NA, kamu juga bisa menyewa kamar terbesar mereka yang dilengkapi dengan fasilitas onsen.

    Banyak Spot Foto

    Salah satu daya tarik YATS Colony memang terletak dari desain hotelnya yang anak muda banget. Jadi, nggak heran kalau YATS memiliki banyak sekali spot untuk berfoto. Salah satu spot foto favorit pengunjung YATS tentu saja bangku melingkar dengan cushion orange di sisi kolam renang. Saking eye-catchingnya pengunjung YATS Colony pasti selalu menyempatkan untuk berfoto di sini.




    Selain kolam renang, ada juga area yang sering dijadikan spot foto. Misalnya, area halaman depan tempat parkir dua becak mini. Atau, area menyerupai terowongan dengan grafiti dua kelinci laki-laki dan perempuan yang cute banget.




    Sebenarnya, karena interior di YATS Colony itu cantik-cantik, jadi banyak sekali tempat yang bisa dijadikan spot foto. Kalau kamu suka hunting tempat cantik untuk swafoto, hotel ini, sih, wajib kamu kunjungi saat ke Yogya.

    Menu Sarapan Sangat Variatif

    Sebagai orang yang belum ngerasa 'hidup' kalo nggak sarapan, sudah pasti bangun tidur ku terus mandi sarapan dulu, dong. Menurut gue, sarapan di YAST Colony itu menyenangkan dan menenangkan. Tempat sarapannya tenang dan nggak berisik, dan lagi-lagi, interiornya pun cukup bikin seger mata.

    Yang paling menarik tentu saja menu sarapan yang tersedia. Pilihannya sangat beragam. Jika kamu terbiasa makan berat saat sarapan, kamu bisa menemukan nasi dan segala macam lauk pauknya di sini. Tapi, jika kamu suka sarapan ringan, mereka menyediakan berbagai pastry seperti croissant dan danish bread, serta sandwich. Gue sendiri kemarin bolak balik ngambilin danish bread-nya terus menerus saking doyannya.

    Untuk minuman, selain menu standar seperti teh, kopi, susu, dan jus, mereka juga menyediakan jamu. Iya, jamu! Ada beras kencur sama kunyit asam. Berhubung gue sedang flu saat ke Yogya kemarin, gue pun minum jamu dulu biar lebih bugar.





    Selesai sarapan sambil leyeh-leyeh, gue dan Daru pun balik ke kamar untuk ganti baju renang. Eh, sebelum turun, nggak lupa ambil danish bread lagi. Haha.

    Suasananya Santai

    Biarpun pengunjungnya banyak, tapi suasana di YATS Colony itu cenderung tenang. Nggak riweuh. Buat manusia yang suka bermalas-malasan seperti gue, suasana ini sempurna sekali. Mungkin lebih seru kalau gue pesen kamar tipe "NA" biar bisa bermalas-malasan sambil baca buku atau mendengarkan musik di depan kolam renang.

    Atau, kalau mau bersantai sambil ngemil juga bisa mengunjungi cafe yang terletak di lobi hotel. Desain interior cafe ini juga lucu dan nyaman sekali, lho.



    Banyak Payung

    Sekilas terkesan nggak penting, ya? Tapi gue cukup amazed, sih, melihat tempat payung di beberapa titik hotel. Jumlah payungnya cukup banyak, lho. Kayaknya kalau tiba-tiba hujan, sih, dijamin nggak bakal rebutan payung. Hehe.


    Di lain waktu, kalau ke Yogya lagi, sepertinya gue ingin balik ke sini. Tapi nanti mau pesen kamar "NA" biar puas bersantai seharian sambil menikmati hidup. Haha.


    Info:
    YATS Colony
    www.yats.co
    Jl. Patangpuluhan no. 23, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55251
    (0274) 375948


    Continue Reading
    Kalau ada hal yang sangat berkesan di tengah datarnya kehidupan gue tahun ini, maka itu adalah menonton konser Paramore tadi malam. Bisa dibilang, menikmati pertunjukan Paramore secara langsung merupakan momen terbaik gue di tahun 2018 sejauh ini. 

    Rasa senangnya sulit sekali digambarkan. Akhirnya, penantian panjang gue selama tujuh tahun ada ujungnya. Bahkan, mengingat serunya konser tadi malam aja bikin gue emosional. Ingin nangis saking terharunya.

    Pertama kali Paramore datang ke Indonesia adalah tahun 2011. Saat itu gue ingin sekali menonton Paramore, tapi keadaan nggak memungkinkan. Alias, gue lagi nggak punya uang buat beli tiket karena uang jajan gue habis untuk ngurusin skripsi. Tahu, kan, biaya cetak dan fotokopi untuk skripsi itu nggak murah. Apalagi, saat itu gue mengambil metode survei yang mengharuskan gue keliling Depok untuk menyebar kuesioner.

    Mau minta uang ke orang tua pun rasanya nggak enak. Soalnya bokap saat itu sedang sakit dan butuh biaya untuk pengobatan. Ya sudahlah, mungkin bukan rezeki gue. Tapi nggak bohong, patah hati banget rasanya waktu itu.

    Tujuh tahun kemudian, mereka mengumumkan bakal konser di Jakarta bulan Februari. Dan gue tahunya telat! Tanggal konser mereka bertepatan dengan tanggal gue jalan ke Yogya. Gue tahu mereka akan konser saat rencana jalan-jalan ke Yogya sudah matang. Tiket pesawat sudah dibeli, kamar hotel pun sudah dipesan dan dibayar. Matik. Gue patah hati berat untuk yang kedua kalinya. Apa gue se-enggak jodoh itu sama Paramore, ya?

    Akhirnya dengan hati yang masih ketinggalan di Paramore, gue jalan ke Yogya. Gue ingat betul sore itu gue berada di Hutan Pinus Pengger, menanti matahari terbenam di ujung bukit bersama Daru. Saat itu gue berandai-andai bagaimana rasanya kalau gue ada di ICE BSD, menanti Paramore tampil di panggung.

    Tiba-tiba, banyak notifikasi bermunculan di ponsel gue. Gue pun mengecek WhatsApp dan Direct Message di Instagram. Entah kenapa banyak teman gue yang menghubungi gue saat itu, bahkan teman yang tidak begitu dekat sekali pun. Ternyata mereka memberitahu gue bahwa Paramore batal konser karena kondisi kesehatan Hayley sedang tidak memungkinkan. 

    Asli. Apa ini yang namanya jodoh, ya?

    Hayley Williams itu adalah girl crush gue. Gue begitu mengidolakan dia. Jadi, gue pun turut sedih kalau dia sakit. Tapi, tapi, tapi... gue nggak bisa bohong bahwa kejadian ini membawa harapan buat gue. Hehehe.

    Sekitar satu bulan gue menanti pengumuman jadwal baru untuk konser Paramore di Jakarta. Akhirnya mereka mengumumkan kalau Paramore akan konser tanggal 25 Agustus 2018. Setelah menemukan teman nonton konser, gue pun langsung beli tiket.



    Dan akhirnya... kemarin siang gue tiba di ICE BSD hall 10, bersama Meytri, Angga, dan Lanny. Enam jam kemudian kami sudah memasuki venue.

    Tepat jam delapan malam, Paramore pun berdiri di panggung, di depan gue. Rasanya nggak nyata banget. Di depan gue ada Hayley, Zac, dan Taylor yang selama ini cuma gue lihat dari Youtube.



    Sebagai pembuka, mereka menyanyikan lagu Grudges, salah satu lagu di album kelima mereka, After Laughter. Sehabis lagu Grudges, mereka lanjut menyanyikan Still Into You. Oh my God! Still Into You adalah lagu favorit gue banget banget dari album self titled mereka. Dulu, ya, zamannya lagu ini baru keluar, gue selalu puter setiap saat. Kadang, kalau dengerinnya di kamar, gue sambil joget-joget heboh sendiri karena lagu ini segitu serunya. Haha.


    Di konser kemarin mereka membawakan semua lagu di album After Laughter. Ada juga beberapa lagu unggulan di album lama, seperti That's What You Get, crushcrushcrush, Misguided Ghost, Ain't It Fun, Misery Business, dan Playing God. Mereka juga meng-cover lagu Drake di sesi akustik konser kemarin.

    Bagi gue, selain Still Into You, ada beberapa lagu yang berkesan banget kemarin pas dinyanyiin, yaitu:

    Rose-Colored Boy

    Pecah! Karena opening dan beberapa part lagu ini sendiri diisi sama yelling "low key, no pressure, just hang with me and my weather!" Nah, kebayang, kan, serunya konser kemarin begitu lagu ini dibawain?


    Fake Happy

    Kenapa berkesan? Karena seringkali gue merasa relate dengan lirik lagu ini. Jadi begitu lagu ini dimainkan, gue langsung ikutan nyanyi sepenuh hati.

    "Oh please, don't ask how me how I've been.
    Don't make me play pretend.
    Oh, no. Oh, oh, what's the use?
    Oh please, I bet everybody here is fake happy, too."


    Udah dengerin lagunya? Ya, sekarang mari kita nyanyi bareng "Parapara pap pap! Parapara pap pap!"

    26

    Siapapun gue rasa setuju bahwa lagu ini begitu emosional. Lirik lagu ini aja bagi gue sudah dalam, ya. Kemudian ditambah dengan irama yang syahdu dan dibawakan secara akustik. Duh, 26 kayaknya menjadi lagu galau sekaligus lagu penguat yang sempurna.

    Apalagi, sebelum membawakan lagu ini Hayley pun sempat berbincang santai tentang bagaimana kita harus berjuang menghadapi masalah dan sebagainya. Ini seperti obrolan dari hati. Memang, album After Laughter ini kayak menjadi wadah curhatnya Hayley. Dan lagu 26 mungkin bisa dibilang sebagai lagu curhat yang paling mengena.


    Saat konser kemarin, suasana terasa lebih emosional lagi karena penonton kompak menyalakan flash light dari ponsel mereka. Suasana venue kemarin menjadi sangat cantik begitu lagu ini dibawakan.

    Misery Business

    Lagu ini kayaknya menjadi lagu yang paling bikin pecah kemarin. Seru banget! Apalagi di pertengahan lagu ini Hayley juga mengajak dua penonton ke atas panggung. Satu dari Surabaya, satu dari Malaysia. Gila beruntung banget dua orang itu. Nggak sia-sia terbang ke Tangerang. :)

    Sehabis nonton konser. Muka senang, tetapi tampilan menyedihkan. Haha.
    Sampai siang ini, gue masih merasakan euforia sehabis menonton konser Paramore tadi malam. Penantian tujuh tahun gue berujung manis sekali. And it's not fake happy. I'm truly happy. Ternyata begini, ya, rasanya berjodoh dengan sesuatu yang lo sukai. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi dada gue benar-benar pengap karena rasa senangnya seperti meletup-letup. Haha.

    Semoga gue nggak harus menunggu tujuh tahun lagi untuk menonton konser Paramore selanjutnya. Mungkin dua atau tiga tahun cukup, ya?

    Dan terakhir... ini dua lagu terfavorit (udahlah favorit pakai "ter" juga) yang sayangnya nggak dibawain kemarin: Last Hope dan The Only Exception. Ngomong-ngomong, gue suka sekali dengan versi live lagu Last Hope yang satu ini karena stage act Hayley keren banget di sini!



    Love,



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top