Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Yo, I'm back!

    Setelah 'nyuekin' blog ini selama empat bulan—yang sebenernya gak ada yang sadar juga—akhirnya gue kembali lagi. Dipikir-pikir, lama juga ya gak nulis di sini empat bulan lamanya. Padahal, gue punya resolusi buat ngeblog setidaknya sebulan sekali.

    Tapi, resolusi tinggal resolusi. Kala kerjaan menguras tenaga, ujung-ujungnya sampai rumah gue pun langsung tidur juga. Saking penatnya, gue sampai tak punya tenaga dan keinginan buat pakai skincare. *maapin daku curhaaat*

    Untungnya, setelah menghabiskan weekend tanpa menyentuh kerjaan sama sekali, rasa penat gue jadi berkurang banyak. Gue pun mengumpulkan niat, rasa kangen ngeblog yang meletup-letup *ajegile*, dan sisa-sisa ingatan tentang workshop bulan lalu,

    Dan akhirnya... inilah dia cerita gue saat mengikuti workshop How To Make Botanical Aromatic Candle yang diadakan oleh Klei & Clay bulan Agustus kemarin.


    ***

    Sebenarnya, ide ikutan workshop ini digagas oleh Fele—temen kantor gue—saat dia lagi liat-liat daftar workshop di situs Mau Belaja Apa. Berhubung gue juga lagi suka ikutan workshop, gue pun mengiyakan dengan cepat.

    Tanpa mikir terlalu lama, gue dan Fele segera 'mengamankan' kursi untuk ikutan kelas ini. Maklum aja, slot buat workshop biasanya terbatas. Jadi, semakin cepat daftar, semakin baik.

    Biaya untuk mengikuti workshop ini sendiri adalah Rp325.000. Dengan biaya tersebut, gue nggak hanya diajarkan cara membuat lilin aromatik, tapi juga bisa membawa pulang lilin kreasi gue dan mendapat satu gelas kopi selama kelas berlangsung. Kebetulan, kelasnya sendiri memang diadakan di Nusa Kopi yang terletak di wilayah Kebayoran.

    Singkat cerita, Sabtu itu gue dan Fele sudah duduk manis di dalam Nusa Kopi sejak pukul 10.00 kurang. Sebelumnya, kami sudah diminta memesan minuman terlebih dahulu. Setelah memesan minum, barulah kami duduk di area workshop. 

    Meski kelas belum dimulai, tapi di atas meja peserta sudah tersedia satu paper bag kecil berisi panduan membuat lilin aromatik dan sample produk face mist mereka, satu gelas kaca untuk wadah lilin beserta sumbu lilinnya, satu mangkuk, bahan lilin, satu pinset, satu kerta pola, dan satu kertas sebagai alas.


    Sembari menunggu peserta yang lain tiba, gue mengamati tim Klei & Clay sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lilin aromatik. Mereka menyiapkan berbagai hiasan bertema flora. Tema workshop kali ini feminin banget, begitu juga dengan para peserta workshop. 

    Sungguh berbeda dengan gue yang cuma pakai kaos, celana jins, sepatu kets, dan rambut awut-awutan. Hahaharusnyakudandandikit. 😂

    Balik lagi ke workshop. Selain bahan dekorasi lilin, tim Klei & Clay juga menyiapkan fragrance oil yang akan dicampur dengan lilin. Saat workshop kemarin, mereka menyediakan tiga varian wangi-wangian, yaitu lavender, vanila, dan green tea.

    Tak lama, kelas pun dimulai. Ternyata founder Klei & Clay langsung yang mengajarkan kami cara membuat lilin aromatik. Sebelum gue dan para peserta memulai proses pembuat lilin, Diva—pendiri Klei & Clay—memberikan kami sejumlah informasi yang harus kami ketahui.

    Misalnya saja, bahan baku lilin. Di kelas ini, kami membuat lilin menggunakan soy wax, bukan paraffin. Selain lebih murah, soy wax juga ternyata lebih ramah lingkungan. 

    Selain itu, dalam proses pembuatan lilin ini, kami juga tidak menggunakan essential oil, melainkan fragrance oil. Berbeda dengan essential oil yang memberikan efek healing, fragrance oil hanya menghasilkan wangi saja. Itulah sebabnya, lilin yang akan kami buat disebut lilin aromatik, bukan lilin aromaterapi.

    Diva juga memberikan tip jika para peserta ingin mencampur dua atau tiga varian fragrance oil. Misalnya, varian vanila memiliki aroma yang lebih kuat dibanding lavender dan green tea. Sehingga, jika ingin menggunakan campuran vanila dengan lavender atau green tea, pastikan untuk menggunakannya dalam jumlah lebih sedikit dibanding varian lainnya.

    ***

    Setelah memberikan sejumlah info dan tip, praktik membuat lilin pun dimulai. 

    Pertama, para peserta mengambil hiasan yang diinginkan, lalu membuat rancangan dekorasi lilin di atas kertas pola yang sudah disediakan. Jika sudah selesai, peserta bisa mulai memilih varian fragrance oil yang diinginkan.



    Selanjutnya, tim Klei & Clay akan membantu melelehkan soy wax. Berhubung peralatan untuk melelahkan soy wax tidak cukup banyak, maka bagian ini dikerjakan langsung oleh tim Klei & Clay. Lilin yang sudah dilelehkan harus ditunggu sampai suhunya turun menjadi 60℃ sebelum dicampur dengan fragrance oil.

    Nah, sembari menunggu suhu lilin turun, gue pun menghias sisi dalam gelas. Sayangnya, glue gun yang disediakan tim Klei & Clay cuma satu. Gue dan peserta lain pun harus menggunakannya ganti-gantian dan membuat proses dekor menjadi lebih lama. 

    Alhasil, begitu gue kembali ke meja, suhu lilin gue pun sudah turun hingga 52℃. Oh no. Gue pun bingung. Untunglah teman semeja gue baik hati. Dia langsung memandu gue dengan sigap. Mulai dari membantu gue mencampur fragrance oil ke lilin, sampai menuangkan lilin yang masih cair ke dalam gelas. 

    Oh iya, sebelumnya, gue sudah menempelkan lempengan candle wick alias sumbu lilin ke bagian dasar gelas menggunakan glue gun. Nah, biar sumbu lilinnya tidak bergerak, gue menahannya menggunakan kertas yang telah dilubangi di bagian tengah.

    Begitu lilin selesai dituang, gue pun kembali menunggu hingga lilin sedikit mengeras agar bisa dihias. Saat warna lilin sudah mulai memutih, itulah tanda lilin sudah mulai mengeras dan bisa mulai didekorasi.


    Jujur aja, dibanding proses sebelumnya, bagian hias-menghias inilah yang paling menyenangkan dan menantang. Karena hiasan yang gue gunakan berukuran kecil, maka gue harus meletakkannya dengan sangat berhati-hati agar tidak merusak keseluruhan dekorasi. Untungnya, tim Klei & Clay sudah menyediakan pinset.

    Apakah proses pembuatan lilin aromatik berhenti di situ? Tentu tidak. Lilin aromatik yang sudah dihias kemungkinan belum mengeras secara merata. Oleh karena itu, selanjutnya tim Klei & Clay memberikan wadah berisi air es untuk merendam gelas.


    Setelah beberapa saat, lilin pun mengeras dan bisa dibawa pulang. Meskipun sudah keras, namun lilin tersebut masih perlu didiamkan hingga tiga hari sebelum dibakar.

    ***

    Kalau diinget-inget, ternyata buat lilin aromatik ini lumayan gampang, lho. Terutama buat gue yang suka nggak sabaran dan maunya serba cepat. 

    Setelah mengikuti workshop ini, gue pun sempat mencoba mencari bahan bakunya di Shopee dan Tokopedia. Ternyata cukup banyak yang jual di sana, lho. Jadi, kalau sewaktu-waktu gue mau membuat lilin aromatik kembali, gue bisa mendapatkan bahan bakunya dengan mudah.

    Jujur aja, sampai sekarang lilinnya masih gue pajang dan belum gue bakar. Habis sayang. Rasanya ingin gue letakkan di dalam kotak kaca sekalian. Haha. 


    Jadi... begitulah cerita gue pas ikut workshop membuat lilin kemarin. Habis ini enaknya ikut kelas membuat apa, ya? Ada ide?




    Continue Reading
    Ahoj!

    Gila. Ternyata udah dua bulan gue nggak nge-blog. Padahal, gue udah resign dan sedang menjajal kehidupan sebagai freelancer. Harusnya waktu gue jauh lebih banyak buat menulis di sini, kan, ya. Tapi apa daya, distraksi sehabis resign pun ternyata buanyak sekali. Haha.

    Source: Pinterest

    Jadi, apa yang sudah gue lakukan setelah memutuskan keluar dari pekerjaan gue kemarin? Mostly, gue berkontemplasi, sih. Cailah, berat Valine, berat!

    Sejak resign, gue sebenarnya jadi lebih banyak mikir dan mencari tahu, disertai dengan emosi yang naik turun. Kadang gue semangat '45, kadang kepercayaan diri gue nyungsep. Begitu terus berulang kali. Sebenarnya itu normal, sih, mengingat gue pun hanya manusia biasa. 

    Setidaknya gue happy karena akhirnya gue punya masa di mana semangat gue naik. Padahal, setahun belakangan kemarin semangat dan kepercayaan diri gue lagi aur-auran. Dengan kepercayaan diri yang segitu rendahnya, gue pun sukses menyia-nyiakan banyak kesempatan. Ya, kalau mau berpikir positif, mungkin memang belum jodoh.

    Tapi, menganggap "belum jodoh" sebagai satu-satunya faktor penyebab kegagalan kok seperti 'ngumpet' dari kelemahan diri sendiri, ya. Gue percaya bahwa faktor penyebab kegagalan itu bukan hanya karena belum jodoh semata, tapi juga ada faktor internalnya. Dengan kata lain, gue juga ikut nyumbang kesalahan.

    Setiap kali gagal gue pasti bersedih, kadang marah. Tapi, setiap kali gagal gue pun belajar. Gue menganalisa dan merenungi apa penyebabnya. Lalu gue mencoba lagi. Sepertinya akhir-akhir ini, itu yang sibuk gue lakukan. Gue berulang kali jatoh, lalu berulang kali mencari cara buat bangkit. Setahun terakhir ini intens sekali, Sisteeer.

    Dari kegagalan-kegagalan ini, akhirnya gue berusaha fokus terhadap diri gue. Gue berusaha mendengar dan melihat ke dalam diri gue. Apa, sih, yang selama ini gue cari? Jawaban ini udah pasti cuma gue yang tau, bukan orang lain.

    Klise banget, ya? Tapi, memang bener, kok. Hanya elo yang tau apa yang lo mau, cara apa yang bekerja untuk lo, dan hal apa yang bikin lo merasa hidup.

    Orang lain mungkin menyayangkan keputusan gue meninggalkan kantor dengan gaji lumayan, tapi gue tidak menyesali keputusan tersebut. Itu karena gue tau ini yang gue mau. Orang lain bisa memberikan saran ini dan itu tapi semua balik lagi ke elo. Saran tersebut nyangkut nggak di hati lo? Saran tersebut sesuai nggak dengan nilai-nilai hidup lo?

    Ketika ekspektasi, anggapan, dan pendapat orang lain kita jadikan patokan mutlak, maka saat itulah tujuan hidup lo jadi kabur. Butuh contoh? Definisi sukses saat ini. 

    Mungkin masih banyak orang yang mengasosiasikan sukses dengan uang. Sukses itu kalau sudah punya rumah. Sukses itu kalau sudah punya mobil. Sukses itu kalau dapat gaji sekian. Tapi, apakah benar itu bentuk kesuksesan yang elo cari? Cuma elo yang tau jawabannya.

    Ada kalanya kita terlalu terkungkung dengan "kondisi ideal" yang terbentuk di masyarakat. Alhasil, kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Ujung-ujungnya hidup kitalah yang kita korbankan. Itu yang gue nggak mau terjadi pada diri gue.

    Susah, sih, ngejalaninnya. Apalagi, terkadang orang terdekat lo sendirilah yang secara tidak langsung memaksa lo menyamakan persepsi mengenai kesuksesan dan kebahagiaan. Padahal konsepsi kebahagiaan setiap orang berbeda. Beda banget.

    Lo mungkin bahagia buka puasa pakai es buah, tapi gue akan lebih bahagia kalau buka puasa pakai teh manis hangat. See? Bahkan konsepsi kebahagiaan tiap orang untuk hal kecil aja segitu bedanya.

    Inilah yang membuat gue banyak merenung. Gue ingin tau apa yang benar-benar gue inginkan. Gue tidak ingin hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Gue ingin hidup dengan sadar. Itulah sebabnya setahun terakhir ini gue lalui dengan banyak perenungan, dan tentunya percobaan.

    Iya, gue nggak cuma diem di rumah aja. Gue juga mengeksplor hal-hal yang gue sukai lebih dalam. Misalnya dengan mengikuti seminar atau workshop yang berhubungan dengan content creating, ikut les bahasa Inggris, bergabung dengan komunitas, sampai bikin akun @bukunalan. Kadang gue membahas target ke depan sama Daru, kadang hanya ngobrol singkat buat saling menularkan semangat.


    View this post on Instagram

    A post shared by Review Buku (@bukunalan) on Apr 24, 2019 at 7:22am PDT


    Gue rasa inilah distraksi-distraksi yang bikin otak gue muter mulu sampai kelupaan sama blog ini. (ngeles aja kau, Lin!) :p

    Terkadang gue menyesal kenapa gue tidak mengeksplor sejak dulu. Tapi, balik lagi. Jalan hidup tiap orang itu beda-beda. Gue anggap sejumlah kegagalan akhir-akhir sebagai wake up call gue. Sembari terus menggali dan mencari tau, gue akan terus mencoba dan mencicipi 'menu' baru yang berguna untuk kehidupan gue ke depannya.

    Yang pasti, gue akan berusaha menerima setiap rasa dari proses yang gue jalanin dengan sadar. Ya tidak apa-apa hari ini sedih, toh, hidup berputar. Kalau terus berusaha, nanti pasti ketemu sama yang namanya bahagia. Terus bagaimana kalau ketemu lagi sama Si Sedih dan teman-temannya? Ya, terima saja. Namanya juga hidup, kan.

    Jadi, gue harap kalian semua pun tetap semangat mencari tau apa yang kalian mau dan mengejar mimpi-mimpi kalian. Nggak ada salahnya kalian tutup telinga sejenak dari omongan orang. Kadang, omongan orang terlalu berisik sampai bikin kita lupa sama tujuan kita.

    Kalau pun di tengah perjalanan kalian lelah, nggak ada salahnya, lho, duduk sebentar. Kalian yang paling tau kekuatan kalian. Lagipula, lelah itu biasa. Menyerah itulah yang berbahaya.

    Sekian dulu tulisan ngalor ngidul gue ini. Semoga siapa pun yang baca jadi kembali bersemangat, sama bersemangatnya dengan gue saat menulis ini. Hehehe.

    Ciao!







    Continue Reading
    "Valine, mau ikut naik MRT gak besok?" ajakan Clara di Senin siang itu langsung gue iyakan dengan cepat. Siapa juga yang enggak tertarik ikutan uji coba MRT Jakarta, kan? Apalagi, moda transportasi ini memang sudah ditunggu-tunggu warga Jakarta sejak lama.

    Sebagai info, uji coba publik MRT ini diadakan pada tanggal 12 hingga 24 Maret 2014. Untuk mengikutinya, kita bisa daftar di Bukalapak. Berhubung peminatnya banyak, maka tiket uji coba MRT ini cepat habis. Apalagi uji coba ini gratisan alias tidak dipungut biaya sama sekali. Makanya, gue beruntung banget diajakin Clara naik MRT tanpa harus usaha cari tiket. :D

    Selasa pagi, saat sedang bersiap-siap, tiba-tiba Clara chat gue via What'sApp. Ternyata dia salah tanggal. Kami kebagian jatah uji coba MRT di hari Sabtu, bukan hari Selasa. Haha. Akhirnya, hari Sabtu pun kami janjian bertemu jam 12 siang di stasiun MRT Bundaran HI, letaknya persis di depan pintu Thamrin Plaza Indonesia.

    Stasiun MRT Bundaran HI

    Suasana di depan stasiun MRT Bundaran HI siang itu cukup ramai. Mungkin banyak yang memilih naik MRT di siang hari. Soalnya, jika kalian mendapat jatah naik MRT di hari tertentu, kalian bebas memilih jamnya sendiri. Ketentuan jam untuk mengikuti uji coba MRT adalah 10-12, 12-14, dan 14-16.

    Di stasiun Bundaran HI, MRT beroperasi di bawah tanah. Jadi, kita harus menuruni tangga dua kali dulu sebelum sampai di peron MRT. Saat menuruni tangga satu kali, kita akan melewati lorong yang cukup panjang sebelum bertemu tangga berikutnya.

    Stasiun MRT Bundaran HI

    Stasiun MRT Bundaran HI

    Stasiun MRT Bundaran HI

    Lorong ini terlihat modern, terang, dan bersih. Fasilitas yang tersedia di lantai ini pun cukup lengkap. Di awal memasuki lorong, kalian akan menemukan ruang P3K. Lalu, berjalan sedikit kalian akan menemukan mushola. Ukurannya memang kecil dan dicampur antara pria dengan wanita. Namun, jangan khawatir. Di tempat wudhu, ada tirai pemisah yang bisa digunakan jika kamu berhijab.

    Selain ruang P3K dan mushola, di lantai ini juga tersedia tempat pembelian tiket manual dan otomatis. Tapi, sejauh mata memandang, gue hanya menemukan satu mesin tiket otomatis. CMIIW, ya. Di lantai ini tersedia juga toilet untuk wanita dan pria dengan ukuran yang besar dan bilik yang cukup banyak.

    Ketika baru pertama kali mencoba MRT, kamu enggak perlu bingung dan takut nyasar. Soalnya, di setiap lantai tersedia banyak penunjuk arah. Jadi, kamu tinggal mengikuti petunjuk tersebut.

    Nah, berhubung kami mengikuti uji coba publik, maka sebelum turun ke lantai berikutnya, kami wajib menunjukkan QR Code booking dan KTP. Setelahnya, kami diberikan stiker yang harus ditempel selama kami mengikuti uji coba publik.

    Mesin Kartu Otomatis MRT Jakarta

    Uji Coba Publik MRT Jakarta

    Uji Coba Publik MRT Jakarta

    Begitu melewati pos ini, kami pun langsung turun menuju peron MRT. Desain peron MRT Jakarta benar-benar mengingatkan gue sama MRT di Singapura. Mirip. 

    Saat tiba di peron, petugas akan mengingatkan untuk berdiri setidaknya 50 cm dari pintu peron untuk keamanan. Di bagian lantai peron juga terdapat cat kuning sebagai tanda untuk area mengantre. Jadi, penumpang yang ingin naik harus menunggu di sisi pintu, bukan di tengah pintu. Tujuannya, agar penumpang yang mau turun tidak tersendat oleh penumpang yang ingin naik MRT.

    Petugas juga akan mengingatkan kita untuk tidak makan dan minum di dalam gerbong agar kebersihan gerbong akan selalu terjaga. Eh, sayangnya, saat memasuki gerbong kemarin, gue menemukan adanya sampah plastik di rak atas, dong. Semoga pelakunya tidak sengaja, ya.

    Peron MRT Jakarta

    Peron MRT Jakarta

    Tak lama menunggu, MRT pun tiba. Dalam satu rangkaian kereta, terdapat lima gerbong. Di setiap sudut gerbong ini terdapat kursi prioritas. Kalau di area umum pegangan tangannya berwarna putih, maka di area kursi prioritas pegangan tangannya berwarna kuning.

    Pada bagian atas pintu gerbong, terdapat layar kecil yang memberitahukan tujuan akhir, stasiun pemberhentian terkini, serta posisi gerbong tempat kita naik. Selain itu, ada juga stiker yang berisi informasi rute evakuasi.

    MRT Jakarta

    MRT Jakarta

    MRT Jakarta

    Di stasiun Bundaran HI, MRT berhenti lebih lama dibandingkan stasiun lainnya. Setelah menunggu beberapa menit, MRT pun akhirnya berangkat menuju stasiun pemberhentian akhir, yaitu Stasiun Lebak Bulus. 

    Dari Bundaran HI ke Lebak Bulus, kita akan berhenti di 13 stasiun. Waktu tempuhnya adalah sekitar 30 menit. Saat ngantor kemarin, gue pun biasa melewati 13 stasiun dengan menggunakan commuter line. Waktu untuk menempuh 13 stasiun dengan menggunakan commuter line adalah sekitar 40 menit, itu pun kalau lagi enggak ada gangguan. 

    Itulah sebabnya, waktu 30 menit tersebut terbilang sangat cepat apalagi mengingat jalur yang dilewati itu langganan macet. Tau sendiri, kan, kalau jam pulang kantor daerah Thamrin-Sudirman macetnya kayak apa? Waktu tempuh dari Thamrin ke Bendungan Hilir aja bisa memakan waktu 30 menit. Gimana kalau diterusin sampai Lebak Bulus? Mungkin durasinya bakal sama kayak film End Game nanti.

    Selama perjalanan, MRT enggak selalu beroperasi di bawah tanah. Setelah melewati stasiun Senayan, MRT akan naik dan beroperasi di jalan layang. Saat menaiki MRT kemarin, seru banget rasanya melihat pemandangan Jakarta dari atas. 

    Makanya, gue sama Clara menyempatkan diri buat turun sebentar di stasiun Blok M. Ngomong-ngomong, stasiun Blok M ini terkoneksi langsung dengan Blok M Plaza, lho.

    Stasiun MRT Blok M

    Stasiun MRT Blok M


    Setelah kami tiba di stasiun Lebak Bulus, kami pun berfoto dulu sebentar. Tak lama, kami pun kembali ke peron untuk menunggu MRT yang akan mengantarkan kami kembali ke stasiun Bundaran HI. 

    Terus berapa, sih, tarif MRT di Jakarta? Belum ada info resmi terkait hal ini. Tapi, mengingat fasilitas dan kecepatannya, mungkin akan lebih mahal dibanding commuter line atau Transjakarta.

    Yang pasti, gue seneng banget bisa ikut uji coba publik MRT ini dan bangga karena sekarang sistem transportasi di Jakarta sudah lebih maju. Semoga dengan hadirnya MRT, warga Jakarta bisa lebih produktif karena lebih mudah menjangkau daerah tujuan. Mau meeting ke sana ke sini pun jadi lebih cepat.

    Nah, pemerintah kan sudah menyediakan fasilitasnya. Jadi, sekarang giliran kita buat menjaganya. Mulai dari hal yang sederhana dulu, deh. Misalnya kayak, mendahulukan penumpang yang mau turun dan tidak membuang sampah sembarangan. Gampang, kan?



















    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top