Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review

    Menurut gue, karyawan di wilayah Jakarta itu rentan banget terkena stress hingga psikosomatis. Apa, tuh? Psikosomatis adalah gangguan pada fisik yang disebabkan karena stress berlebih, contohnya maag, sakit kepala, gangguan tidur, dan sebagainya. Intinya, sistem imun pada tubuh akan melemah akibat stress berlebih ini.

    Kenapa karyawan di Jakarta rentan stress berlebih? Karena tekanannya nggak cuma didapat dari pekerjaan kantor, tetapi juga dari carut marutnya jalanan Jakarta. Sadar atau nggak, jalanan Jakarta tuh sangat mempengaruhi kondisi psikis kita, lho.

    Jakarta memang sedang dibangun. Tapi, pembangunan itu nggak secepet ngebalikin telapak tangan. Ingat, di zaman kita nggak ada Bandung Bondowoso yang bisa bikin 999 candi dalam semalam. Menurut gue, semakin semrawutnya Jakarta kurang lebih adalah efek dari pembangunan itu sendiri. Ya kita mau nggak mau harus bersabar hati. Harus mau nunggu beberapa tahun lagi, hingga Jakarta benar-benar sembuh.

    Terus gimana caranya biar tetep waras di tengah keruwetan ini?

    Ambil cuti dan pergi liburan.

    Kita harus peka sama diri sendiri. Jangan cuma peka sama perasaan gebetan, Sis. Istirahat kalau tubuhmu sudah lelah. Liburan kalau pikiran dan hatimu sudah mumet.

    Gimana mau produktif kalau pikiran aja sudah penuh sama hal-hal negatif? Gimana mau maksimal ngerjain task di kantor kalo otak saja sudah mumet? Gimana mau semangat kalo mental saja sudah menipis kayak tempe mendoan?

    Mungkin itulah kenapa karyawan diberikan hak cuti. Karena karyawan itu manusia, bukan robot.

    When they're tired, give 'em some time to rest. When they're lacking in ideas, let 'em go holiday. I think that's how company should treat their employees.

    Sebagai karyawan, ada masanya di mana kita merasa weekend aja nggak cukup. Ada masanya kita butuh cuti dan keluar sejenak dari rutinitas.

    Karyawan yang mempergunakan cutinya secara nggak langsung juga memberikan kontribusi buat perusahaan, kok. Kenapa? Karena karyawan yang baru pulang liburan biasanya akan lebih fresh dan bersemangat saat kerja. Mood mereka akan lebih baik dan ide mereka akan lebih mengalir. Percaya deh.

    Jadi guys, kalau saat ini elo udah merasa sering sakit-sakitan akibat stress, bahkan sampe ngeresein orang lain, jangan tunggu lama lagi. Segeralah urus cuti dan pergi liburan.

    Because you deserve to be happy.




    Continue Reading
    Sebagai penulis, gue kadang suka ngerasa mentok. Boro-boro nulis satu artikel, nulis satu kalimat aja rasanya kok susah banget. Makanya gue heran sama yang bilang nulis itu gampang. Menurut gue, semua pekerjaan nggak ada yang mudah.




    Coba sebut satu pekerjaan yang elo anggap mudah. Terus resapi lagi. Mudah, nggak? Nggak, kan? *curcol*

    Setiap pekerjaan pasti punya kesulitan masing-masing, termasuk menulis. Kalau ide lagi mengalir deras, nulis satu artikel sih bisa 20 - 30 menit. Tapi kalau lagi buntu, nulis wording satu paragraf aja baru bisa selesai berjam-jam atau berhari-hari kemudian. Itu pun belum tentu hasilnya maksimal. Terus kalau lagi buntu gimana, dong?

    Tiap penulis pastinya punya cara yang berbeda buat mengatasi writer's block ini. Kalau gue, biasanya akan melakukan berbagai cara ini saat lagi buntu ide buat nulis:

    1. Ganti Suasana Kerja
    Kerja sembilan jam selama lima hari berturut-turut di meja yang sama, kursi yang sama, tempat yang sama, dan pemandangan yang sama itu bikin jenuh. Apalagi kalau nggak ada yang 'seger-seger' di depan kamu (ngerti, kan, maksudnya? Nggak? Yaudah gapapa).

    Makanya, kalau udah susah nulis, gue buru-buru deh cari tempat ngetik lain. Selain meja gue yang berantakan, tempat favorit lain buat nulis di kantor adalah pantry, sofa empuk di lobby depan sambil gangguin sales kantor gue yang cantik-cantik, dan tangga darurat. Kalau tiga tempat itu lagi ramai, gue juga suka numpang ngetik di sisi jendela kantor atau ruang meeting. Cuma toilet aja sih yang belum pernah gue cobain di kantor.

    2. Dengerin Lagu Sesuai Mood
    Saat mau nulis atau kerjain apapun, biasanya gue nge-set mood lewat bantuan musik. Contohnya, kalau lagi bikin artikel yang mellow-mellow tentang pernikahan, gue akan dengerin lagu bertema wedding (untungnya sejauh ini belum baper). Atau, kalau lagi riweuh gara-gara kerjaan menumpuk sampai nggak tahu mau ngerjain yang mana dulu, gue dengerin musik yang adem-adem biar hati ikutan kalem.

    3. Pasang Headset, Matiin Lagu
    Ada saatnya di mana musik nggak bisa membantu dalam menulis. Ada saatnya di mana elo pengen keadaan yang beneran sunyi senyap. Makanya, ada saatnya di mana gue matiin musik tapi tetep pasang headset. Selain bikin suara sekitar sedikit keredam, memakai headset tuh secara nggak langsung ngasih message gini buat orang-orang di sekitar, "I'm wearing headset because I don't want to talk with anybody".

    Kalo udah pasang headset tapi masih ada yang ngajak ngobrol? Sometimes, I simply ignore them. Ih valine ja'at! Emang. Aku kan bukan ibu peri. Pfft.

    4. Nulis yang Lain
    Kalau udah berusaha nulis tapi masih mentok, biasanya gue ngerjain tulisan lain. Kayak nulis blog ini misalnya. Yep yep, postingan ini ditulis di sela-sela jam kantor saat gue nggak ada ide buat ngerjain tulisan kantor. Gapapa dong ya, Pak Boss? Yang penting kerjaan kelar, kan, abis ini? Hehehe.

    5. Berhenti Nulis
    Bukan, maksudnya bukan tulis surat resign terus pensiun dini jadi penulis. Kalau berbagai cara sudah dilakukan tetapi masih aja buntu menulis berarti elo emang bener-bener lagi jenuh. Nggak usah dipaksa. Daripada kesel sendiri karena nggak juga dapet ide, tutup aja dulu microsoft word-nya, buka youtube, terus nonton.

    Gimana pun juga kita semua butuh waktu 'istirahat', kan? Kalau deadline-nya sebentar lagi, biasanya gue bikin rileks badan dan nge-refresh otak terlebih dahulu dengan stretching, ngemil yang manis-manis, jalan-jalan sebentar, atau bercanda bareng temen kantor. Pokoknya berhenti dulu, istirahat, baru mulai lagi.

    Yang terakhir nih, guys... jangan lupa berdoa sebelum lanjut menulis lagi biar dipermudah. Ih valine tumben alim! Iya. Aku kan mau jadi kayak ibu peri. Peace.



    Continue Reading
    Kerja di perkantoran Jakarta bikin nggak produktif. Iya nggak, sih? Mungkin bukan gue aja yang merasakan hal ini, tapi juga karyawan yang bekerja di Jakarta lainnya.

    Gimana nggak? Jalanan Jakarta itu cuma bebas macet saat tengah malam (hari Jumat nggak dihitung) dan libur lebaran. Sayangnya, dua kondisi tersebut adalah saat di mana sebagian besar karyawan nggak bekerja. Nah, di saat sebagian besar karyawan bekerja, Jakarta ibarat benang kusut. Naik kendaraan pribadi salah, naik bus salah, naik kereta salah, naik helikopter sayangnya nggak punya. Kerja di Jakarta tuh kayak harus siap dicabik-cabik kenyataan pahit Ibu Kota. Jalanan Jakarta adalah cobaan hidup yang sesungguhnya. Tsaah~

    Source


    Kenapa cobaan? Karena Jakarta tuh ruwet! Lebih ruwet dari 3x10x7:8x111:2x0×17890:100-12345. Betul, nggak?

    Jakarta tuh ya Sis, macetnya kayak udah nggak ada obat. Lebih gilanya lagi Sis, angkutan umumnya juga bikin penat. Jalur Transjakarta yang harusnya lancar, malah jadi sama macetnya karena banyak kendaraan pribadi yang nekad lewat situ. Kereta atau commuter line yang harusnya bisa jadi transportasi cepat, justru makin bikin sakit kepala karena dikit-dikit gangguan, dikit-dikit antrian. Asli! Pacaran yang melibatkan emosi sedemikan rupa aja nggak bikin mau gila kayak gini, Sis.

    Makanya, alangkah indahnya hidup ini kalau perusahaan-perusahaan mulai menerapkan remote office untuk posisi-posisi tertentu, writer misalnya. We can work from everywhere: from our home, from a coffeeshop, even from our bed. Imagine how productive we can be. Mengapa bisa jadi produktif? Karena mood kita akan stabil dan stamina juga masih terjaga.

    Pernah denger quote "don't let your mood dictate your manner"? Iyes. Itu bener banget. Bekerja memang harus profesional. Jangan mau dikalahin mood. Tapi to be honest ya, mood beneran mempengaruhi kualitas dan produktifitas kerja. Misalnya, kalo pagi-pagi terjebak macet atau terkena gangguan kereta, sampai kantor pasti jadi bete dan cape. Dan kalo udah ngerasa cape atau bete, gue biasanya melakukan hal-hal tertentu untuk mengembalikan mood, misalnya browsing di Youtube atau baca buzzfeed. Yang artinya, satu jam waktu di kantor terbuang. Kalaupun gue langsung kerja, ujung-ujungnya nggak efisien juga karena pekerjaan yang seharusnya bisa selesai dalam waktu 30 menit justru memakan waktu 2 jam. Duh!

    Mengingat jalanan Ibu Kota itu sebegininya, menurut gue salah satu solusinya ya remote office. We can be connected through internet. Bukan nggak mungkin juga karyawan bekerja lebih dari 8 jam sehari saking betahnya kerja dari rumah atau dari coffee shop favorit. Ditambah lagi, saking terjaganya mood dan stamina, kerja pun akan lebih produktif. Tapi sekali lagi, ini hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu ya, seperti writer, social media, dan graphic designer. 

    source


    Ditambah lagi, dari pada menuh-menuhin jalanan Jakarta, mending kita-kita yang bisa remote office kerja dari rumah aja, kan? Apalagi yang bekerja di Jakarta tidak hanya warga Jakarta aja. Tapi juga warga dari berbagai kota penyangga, kayak Depok, Bekasi, dan Tangerang. Jadi, remote office ini bisa dibilang mempermudah karyawan lainnya -yang nggak memungkinkan untuk remote office- biar lebih lancar di jalan dan lebih produktif dalam bekerja. (Halah! Alasannya aja kamu, Valine. Bilang aja males mandi pagi!)

    Nggak cuma itu aja kok keuntungan remote office. Beberapa manfaat lainnya misalnya mengurangi tingkat polusi karena berkurangnya pemakaian kendaraan pribadi dan lebih hemat kertas karena semua berkas dikirim via email. Intinya, remote office berperan dalam menjaga lingkungan. Nggak cuma untuk karyawan dan lingkungan, perusahaan juga diuntungkan kok dengan sistem remote office ini, misalnya kayak mengurangi biaya sewa gedung atau se-simple menghemat biaya beli alat tulis kantor.

    Tapi di balik berbagai keuntungan kerja dari rumah, gue sadar bahwa sebaik-baiknya dan semudah-mudah komunikasi adalah dengan berkomunikasi langsung. Mungkin karena itu juga banyak perusahaan yang masih mempertahankan sistem kerja dengan ketemuan langsung. Apalagi kalau kita bekerja dalam tim, bukan single fighter. Gue percaya bawah tim yang kompak akan membuat karyawan jadi betah ngantor dan jadi loyal sama perusahaan. Nah, caranya adalah dengan berkomunikasi langsung: diskusi bareng, bercanda bareng, ketawa bareng, makan siang bareng, atau pulang kerja bareng. 

    Jadi, pilih yang mana dong? Remote office atau kerja dari kantor?

    Pilihannya adalah... buka kantor sendiri aja, Sis! Biar bagaimana pun juga, jadi boss untuk diri sendiri itu lebih keren dan lebih bermanfaat untuk orang lain. 


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top