Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review



    Kisah ini berawal dari apa yang terlihat di balik tembok besar keabu-abuan. Aku dan Nur, temanku, menyebutnya khayangan. Bagi siapa pun yang mengira bahwa khayangan hanya ada di langit, kalian salah besar. Kalian tidak pernah tahu, kan, di bumi juga ada khayangan? Ini karena kalian hanyalah seorang pengecut yang tidak berani mengintip isi di balik tembok besar keabu-abuan.

    Tembok yang menjaga khayangan itu berada di belakang kebun singkong milik Haji Namin. Sayangnya, kebun seluas 500 meter persegi tersebut dijaga oleh Roki, anjing hitam yang suka menggigit warga kampung yang melintasi kebun tersebut. Maka tak heran jika tak ada warga kampung yang berani memasuki kebun tersebut, kecuali kami.         

    Rasanya sungguh mustahil khayangan berada di bumi, bukan di langit seperti yang buku cerita katakan. Namun tempat itu sungguh-sungguh ada dan sungguh-sungguh indah. Persis seperti khayangan dalam imajinasi aku dan Nur. Sama halnya seperti khayangan, di sana pun ada malaikat. Tidak cuma satu, tapi banyak. Mereka sungguh indah, jauh dari kesan lusuh dan kumal seperti kami.

    Diantara kami berdua, Nur-lah yang paling semangat melihat khayangan. Setiap pukul tiga sore, ia selalu ke rumahku dan mengajakku ke sana. Tak lupa diseretnya tangga bambu agar kami bisa memanjat tembok dengan tinggi sekitar 2 meter tersebut.

    “Bagaimana yah caranya agar bisa ke khayangan dan bertemu dengan malaikat-malaikat itu?” tanya Nur suatu hari ketika kami tengah menikmati pemandangan khayangan dari balik tembok.

    “Hmmm... mungkin kau harus mati dulu,” jawabku ragu.

    Nur menatapku tajam. “Tidak mungkin. Lihat! Malaikat-malaikat itu menapak di tanah, seperti kita. Berarti kita pun bisa ke sana tanpa mati dulu,” sahut Nur sembari menatap khayangan penuh harap.

    Aku ikut menatap khayangan dengan nanar. “Mungkin, Ibu Guru tahu jawabannya.”

    ***

    Jawaban Ibu Guru SD kami beberapa tahun lalu ternyata membawa dampak yang begitu besar untuk Nur. Aku ingat betul, dengan nada tinggi Ibu Guru memberikan jawaban sembari mengomeli kami.

    Ia bilang, “Anak dari kuli miskin seperti kalian, sampai mati pun tidak akan bisa ke tempat seperti itu. Itu hanya tempat untuk orang kaya. Paling bagus, besar nanti kalian jadi guru dengan gaji sama seperti tukang sapu seperti Saya”.

    Mendengar jawaban Ibu Guru, aku yang masih berusia 10 tahun merasa ingin menangis dan putus asa. Bagaimana mungkin seorang guru yang kubanggakan justru menjatuhkan mimpi-mimpiku? Tapi sikap Nur justru berbeda. Tak ada tanda-tanda sedih atau kecewa. Saat itu, adalah pertama kalinya aku melihat mata Nur bercahaya penuh semangat dan harapan.

    Semenjak Ibu Guru memberikan jawaban itu, Nur memiliki cita-cita yang tak pernah berubah hingga saat ini: menjadi orang kaya. Sembari memandangi khayangan dari balik tembok keabu-abuan, Nur sering berkata bahwa sehabis lulus sekolah ia akan bekerja keras, keluar kampung, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

    “Kira-kira berapa uang yang harus aku kumpulkan agar bisa masuk ke sana?” tanya Nur sembari menikmati singkong rebus yang dibawanya dari rumah.

    Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Satu juta mungkin?”

    Nur tergelak hingga hampir tersedak singkong rebus yang sedang dikunyahnya. “Satu juta itu upah Ayahku selama dua tahun. Tidak mungkin sesedikit itu! Mungkin nol-nya harus ditambah,” sahut Nur dengan mimik serius.

    “Tapi bagaimana caranya mengumpulkan uang sebanyak itu?” kali ini aku bertanya serius. Dengan pendidikan hanya sampai SMA, mungkinkah kami mampu mengumpulkan uang jutaan bahkan milyaran? Ah, harusnya mimpi ini kutelan sejak SD.

    Nur tersenyum, menandakan dirinya memiliki jawaban atas kegusaranku. Nur memang pintar. Ia membuka ikat rambutnya dan tak lama tergerailah rambut lurus sebahu miliknya. Aku menganga. Dulu rambut Nur sama seperti rambutku. Kering, merah dan kasar. Tapi kini rambutnya lembut, hitam dan berkilau. Seperti rambut para malaikat di khayangan.

    “Sejak kapan kau merawat rambut?” tanyaku spontan. Hampir terbesit rasa iri di dalam ucapanku.

    “Sejak masuk SMA. Kau lihat? Untuk menjadi penghuni khayangan, kau harus terawat seperti mereka,” jawab Nur sembari menguncir lagi rambutnya.

    Diam-diam aku mengamati perubahan di diri Nur. Dari mulai rambut, kulit, hingga baju. Semuanya berubah. Nur tampak lebih bersih, tampak naik kelas. Perlahan Nur melangkah menuju khayangan, menuju mimpinya sejak tujuh tahun yang lalu.

    ***

    Aku memeluk Nur erat-erat dan melepasnya ketika ayah ibuku memanggil. Nur tersenyum, tapi aku melihat setitik air di sudut matanya. Saat itu bulan Januari, tahun 1997, ketika desa kami digusur untuk membangun pusat perbelanjaan. Kami, penduduk desa, diberikan dua pilihan oleh suruhan orang kaya itu: diberikan tempat tinggal di rumah susun pinggir kota, atau uang sebagai biaya ganti rugi.

    Orang tuaku memilih rumah susun, sementara orang tua Nur memilih uang. Jadi sejak saat itu, kami resmi berpisah. Nur tahu dimana aku akan tinggal, sementara aku tidak tahu kemana ia akan melangkah. Aku menghela nafas. Menjadi orang miskin memang tidak enak.

    “Berjanjilah. Kita akan bertemu kembali di khayangan,” bisik Nur sembari memulukku untuk yang terakhirnya.

    “Kapan?” tanyaku.

    “Hmm... setahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi. Kapan pun, Suci. Kapan pun. Tapi berjanjilah kamu akan ke sana. Kita akan bertemu di sana”, ujarnya lagi seraya tersenyum lebar.

    Aku mengangguk. Khayangan? Mimpi itu terasa semakin mustahil bagiku, namun janji ini seakan menjadi penyemangat baru untukku. Penyemangat baru pengganti kehadiran Nur.

    ***
                
    Aku menghirup wangi dedaunan pagi hari sembari mengingat kisahku ketika hidup di belakang tembok keabu-abuan. Rasanya sudah begitu lama aku tak memanjatnya bersama Nur. Ah, Nur. Sudah lima belas tahun aku tidak melihatnya. Bagaimana rupanya sekarang?

    Lamunanku terusik oleh suara riuh anak-anak kecil. Beberapa orang temanku tampak sibuk mengajak mereka bermain sembari belajar. Mengajari malaikat-malaikat kecil ini ternyata begitu menyenangkan dan menenangkan.

    Iya benar. Malaikat. Jika kau paham maksudku, maka kau pasti tahu jika kini aku telah berada di dalam khayangan. Bukan. Aku bukanlah salah seorang malaikat yang tinggal di sini, uangku tak cukup banyak untuk membangun istana.

    Selepas lulus SMA aku sempat bekerja dua tahun untuk mengumpulkan uang. Aku ingin menjadi guru dan syukurlah pilihanku tak salah. Profesiku sebagai guru ternyata mengantarku ke tempat ini sejak lima tahun yang lalu. Namun sekali pun aku tidak pernah melihat Nur. Aku ingin sekali mencari Nur dan mengatakan bahwa khayangan tidaklah seindah bayangan kami sewaktu kecil.

    Lamunanku kembali terusik oleh kasak-kusuk kelompok pembantu rumah tangga yang sedang menunggu para malaikat kecil sekolah. Sayup-sayup aku mendengarmereka membicarakan seorang wanita penghuni baru khayangan. Konon katanya wanita itu adalah istri kedua Pak Wiryo, salah satu malaikat terkaya di sini. Istri pertamanya sendiri setahun yang lalu menggugat cerai Pak Wiryo karena tak tahan terus diperlakukan kasar.

    Tak lama obrolan mereka berhenti. Aku memperhatikan arah tatapan mereka. Rupanya ada seorang wanita yang baru turun dari mobil, menggandeng seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia empat tahun, dan berjalan dengan angkuhnya melewati mereka.

    “Itu dia, kan? Istri kedua Pak Wiryo itu?” tanya salah seorang PRT ketika si wanita sudah berjalan menjauhinya.

    Aku memperhatikan wanita yang tengah berbincang dengan salah seorang guru. Ia mengenakan stiletto dengan tinggi tak kurang dari 12 cm, tubuhnya semampai berbalut mini dress hitam, rambutnya lurus indah kecokelatan, dan wajahnya.... astaga! Nur?

    Perlahan aku mendekati wanita yang hampir tak kukenali itu. Nur yang merasa diperhatikan pun menoleh kepadaku. Awalnya ia bingung, tapi tak lama ia memekik kaget dan memelukku erat. Aku yang terlebih dulu menyadari kegaduhan yang kami buat buru-buru menyeretnya ke halaman belakang sekolah.

    “Akhirnya Suci, akhirnyaaa...!” pekik Nur senang.

    Aku hanya memandangi wajahnya dengan heran. Ada rona biru di dekat pelipis kanannya. “Ya, Nur. Akhirnya... tapi... kamu... PakWiryo... biru...”, aku mulai meracau tidak jelas karena terlalu fokus dengan memar di pelipis kanan Nur yang nyaris tertutup oleh poninya.

    Nur tertawa. Tawa khas Nur yang renyah. “Tak ada yang gratis, Suci. Bahkan untuk menghirup udara segar pun kini kau harus ke desa,” ujar Nur enteng sembari mengambil bedak padat dari tas kecilnya dan menepuk-nepuknya perlahan ke memar di wajahnya.

    “Ya, memang. Tapi kau...”, ucapanku terputus oleh bayang-bayang Nur yang dipukuli Pak Wiryo.

    “Dipukuli?” Nur meneruskan omonganku, sementara aku hanya mengangguk kaku dengan berjuta tanda tanya di wajahku. “Tempat ini memang tak seindah yang kita bayangkan, bukan?”

    Nur kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menghisapnya didepanku. Aku melotot melihatnya sementara ia kembali tertawa, kali ini terkesan mengejek. “Kita ini bagian dari mereka, Suci. Dan beginilah cara mereka hidup”.

    “Kamu, Nur. Kamu yang bagian mereka, bukan aku.” sahutku ketus.

    “Tapi ini mimpi kita, kan?” tanya Nur sembari berusaha menyembunyikan ekspresi kagetnya karena aku begitu vokal, tidak seperti Suci yang dulu, yang lebih sering diam dan memperhatikan Nur yang begitu menggebu-gebu ketika membicarakan khayangan.

    Aku menatap nanar Nur, juga lingkungan sekitarku. Ternyata tempat yang terlihat indah tidak selalu memiliki nilai keindahan. Ternyata khayangan versiku berbeda dengan khayangan versi Nur.

    “Kamu, Nur. Lagi-lagi ini hanya mimpimu. Mimpiku adalah merasakan kebahagiaan. Menjadi guru serta masuk ke khayangan agar bisa bertemu denganmu adalah cara untuk mencapai kebahagiaanku.” ujarku sembari menahan segala emosi yang bercampur di dada. Sedih, marah, dan kecewa.

    Lagi-lagi Nur terkejut melihat reaksiku. Aku menatapnya sebentar, lalu meninggalkannya menuju khayangan versiku. Khayangan yang benar-benar putih dan murni.

    Nur, jadi inilah ujung dari mimpi kita saat itu, batinku.


    Tenggelam di email sejak Agustus 2012

               


    Continue Reading
    Matahari Belitung pagi itu sangatlah cerah. Sayang, kamar kami yang terletak di pojokan  tak mendapat 'jatah' sinar matahari. Bau kamar yang aneh dan pengap pun membuat gue tak betah berlama-lama di kamar dan memilih berjemur di taman hotel. 

    Suntikan sinar matahari pagi, secangkir teh hangat, setangkup roti panggang cokelat, dan pemandangan seekor kadal sepanjang 1 meter yang sedang bersantai di atap hotel sepertinya cukup membuat energi dan semangat gue terisi penuh. 

    Sekitar jam 08.30 WIB, dua mobil elf memasuki halaman hotel yang kami tempati.  Pak Untung, tour guide kami, pun keluar mobil dan menegur kami dengan ramah. Kami merupakan rombongan terakhir yang dijemput Pak Untung.

    Setelah peserta tur lengkap, mobil yang kami tumpangi pun bergerak ke destinasi pertama, yaitu restoran Mie Atep. 

    Rasa Mie Atep yang disajikan di restoran ini menurut gue dan teman-teman lebih enak dibanding Mie Atep yang kami makan sebelumnya. Mie Atep di sini rasanya lebih ringan, sehingga cocok dinikmati saat sarapan.



    Kali ini, gue lebih bisa menikmati Mie Atep dan jeruk kunci hangat yang disajikan. Selain karena rasanya lebih enak, gue juga memiliki waktu lebih lama untuk mencerna makanan gue. Maklum aja, di hari sebelumnya, gue -atau kita- nggak pernah duduk lama setiap singgah di tempat makan. Kayak lagi dikejar-kejar debt collector!

    Setelah mengisi penuh tangki tenaga (baca: perut), kami pun mulai berkliling-kliling kota, hendak melihat-lihat keramaian yang ada.


    ***

    10 menit kemudian, kami tiba di rumah adat Belitung. Tak terlalu banyak hal yang kami lakukan di sana, jadi gue akan lanjut bercerita mengenai destinasi selanjutnya: The Ironically Beautiful Danau Kaolin.

    Kenapa ironis? Karena danau ini justru terbentuk akibat eksploitasi kaolin habis-habisan di Belitung. Saat berkunjung ke sana, kalian akan disuguhkan pemandangan yang benar-benar cantik. Lubang bekas galian terisi oleh air kebiruan. Air yang memenuhi bekas galian tersebut dibingkai oleh hamparan tanah putih mirip salju. Pemandangan tersebut juga dipercantik oleh langit biru yang cerah.


    Sayangnya, kami (lagi-lagi) hanya diberikan waktu sebentar untuk menikmati dan mengambil foto pemandangan Danau Kaolin yang cantik ini.


    "Semua sudah lengkap? Nggak ada yang perlu ganti baju karena salah kostum, kan? Mobil sebelah ada yang mau ambil baju di hotel karena salah kostum, nih!" seru Pak Untung yang disambut oleh senyum seadanya dari para peserta tur.

    Sementara gue udah gatel pengen komen. Temen nyinyir mana temen nyinyiiiir?


    ***

    Dari Danau Kaolin, kami melanjutkan perjalanan ke satu lokasi yang paling gue nanti.

    Yep. Replika Sekolah Laskar Pelangi.

    Sedikit intermezzo, gue adalah pecinta kisah Laskar Pelangi. Gue mengikuti kisah ini mulai dari novel yang ditulis Andrea Hirata, lalu dilanjutkan dengan menonton setiap film dan teater musikalnya. Gue bahkan memiliki CD yang berisi soundtrack Musikal Laskar Pelangi. Intinya, I love everything about Laskar Pelangi.

    Walaupun sudah segitu sukanya, tapi entah kenapa gue membutuhkan waktu lama untuk berkunjung ke Belitung. Ini persis kayak Ikal yang cuma bisa liatin Aling dari kejauhan.

    Tapi setelah bertahun-tahun memendam rasa, akhirnya saya sampai sini juga, Boy!

    Udara Belitung yang menyengat siang itu nggak menghentikan gue untuk eksplor sana-sini. Masuk ke ruang kelas, foto di setiap sudut, hingga mendengarkan anak asli Belitung menyanyikan lagu Laskar Pelangi yang diciptakan oleh Nidji.



    Berada di sini seperti mengantarkan gue kembali pada masa sekolah dan kuliah. Saat di mana mimpi sedang dipasang setinggi-tingginya. Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Kutipan dari novel Sang Pemimpi tersebut adalah petuah hidup gue saat itu.

    Itu dulu. Sebelum gue jadi seonggok karyawan yang sudah tergerus kenyataan pahit Ibu Kota. Mimpi gue jadi sesederhana dapet duduk di commuterline tiap pergi dan pulang kerja. Haha.


    ***

    Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di SD Laskar Pelangi. Akhirnya kami 'loncat' ke tujuan selanjutnya. Kenapa loncat? Karena jaraknya deket banget dari SD Laskar Pelangi.

    Jadi, kalau nanti kamu berkunjung ke SD Laskar Pelangi, jangan lupa sempatkan waktu untuk mampir ke Gelembung Rotan yang terletak di tepi Sungai Lenggang. Tempat ini cocok banget buat selfie, terus dipamerin deh di Instagram. Sukur-sukur dapet banyak like! #TujuanHidupAnakMillennial


    Di belakang gelembung rotan juga terdapat dermaga yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat selfie. Atau, kalau mau usaha sedikit, kamu juga bisa turun untuk foto di tengah rumput liar seperti ini.



    ***

    Hari itu sepertinya kita hampir membabat habis lokasi wisata yang terletak di Belitung Timur.

    Singkatnya, setelah dari Gelembung Rotan, kami berkunjung ke Museum Kata Andrea Hirata dengan desain arsitektur warna-warni yang memanjakan mata dan naluri untuk (lagi-lagi) selfie. Untuk masuk ke museum ini, kita harus membayar Rp50.000. Merasa kemahalan? Tenang. Dengan membayar Rp50.000 kita juga akan mendapat satu buku Andrea Hirata.

    Selanjutnya, kami diajak ngopi di Kota 1001 Warung Kopi, Manggar. Menurut teman gue, rasa kopinya lebih enak di Warung Kong Djie yang ada di Tanjung Pandan. Selesai ngopi cantik, kami kembali diajak ke tempat lainnya, mulai dari kediaman Pak Basuki atau Ahok, Vihara Dewi Kwan Im, dan pantai yang gue lupa namanya, tapi yang pasti ada di Belitung Timur.



    Berbeda dengan peserta lain yang hanya bermain-main di sekitar penjual kelapa muda, kami memilih berjalan sedikit jauh menuju dermaga untuk mendapat foto ciamik. Namanya juga anak hobi pamer, kan. Hahaha.



    ***

    Tenggelamnya matahari menutup perjalanan kami hari itu. Tubuh sudah lengket akibat keringat yang nggak berhenti mengucur sepanjang hari. Kaki sudah pegal karena berjalan ke sana dan ke sini. Perut pun sudah lapar minta kembali diisi.

    Sepanjang perjalanan pulang, ada yang memilih tidur, bengong, hingga ngomel karena kelaperan. Kalau kamu tipe yang lapar dikit jadi cranky, mending siapin stok cemilan deh daripada bikin temen kamu keki, kan.

    Perjalanan gue di Belitung tentu tidak terhenti hari ini. Esokan harinya, gue dan peserta tur lainnya akan menjelajahi pantai Belitung yang dipenuhi oleh bebatuan granit.

    Sama seperti gue yang harus naik turun bebatuan granit untuk menikmati keindahan alam Belitung, perjalanan gue keesokan harinya juga 'dihiasi' dengan naik turunnya emosi.

    Tapi gue akan menceritakannya nanti, di post selanjutnya. Masih mau nungguin, kan? :D














    Continue Reading
    "Halo. Apa kabar, Mba?"

    Awal perjalanan gue di mulai dengan sapaan hangat seorang driver Gojek yang sebelumnya pernah beberapa kali mengantar gue. Gue pun menjawab pertanyaannya yang disambut beliau dengan ,"Alhamdulillah". Sepanjang perjalanan dari rumah ke pool bus bandara yang singkat itu, Bapak Driver Gojek sempat bercerita tentang kesukaannya traveling ala backpacker. 

    Sesampainya di pool bus, nggak lama bus bandara tiba dan ternyata jalan tol pun lagi baik-baiknya sehingga gue sampai di bandara lebih cepat hampir 4 jam dari waktu take off. Tapi kalau kata Ode, lebih baik kecepetan daripada ketinggalan pesawat.

    "What a nice start", pikir gue.

    Setelah 1,5 jam keliling bandara sendirian, Tomo dan 2 temannya -Dolly dan Koh Robby- tiba. Ini pertama kalinya gue ketemu Dolly dan Koh Robby. Jujur aja gue harap-harap cemas traveling bareng kenalan baru karena gaya traveling orang, kan, beda-beda. Tapi bertemu orang baru selalu menambah pengalaman baru, kan? Pengalaman yang gue dapet kali ini persis seperti quote berikut:


    As with any journey, who you travel with can be more important than your destination - Unknown


    ***

    Pengalaman baru gue dimulai dengan diomelin mas-mas boarding room karena kita boarding super mepet. Loh, bukannya gue udah sampai lebih awal? Yes.

    Sebenarnya kita udah di ruang tunggu 10 menit sebelum boarding sampai tiba-tiba...

    Sesi curhat dimulai!

    Bukan gue, tapi satu dari laki-laki itu tiba-tiba curhat menggebu-gebu sehingga dua orang lainnya pun harus menanggapi. Gue seperti biasa mencari cara untuk melarikan diri dari awkward momen seperti itu. Begitu waktu boarding tiba, gue melirik ke tiga teman gue. Tak ada tanda-tanda pegerakan.

    25 menit sebelum take off. Petugas Sriwijaya Air memanggil kembali para penumpang yang belum berangkat menuju pesawat. Gue kembali melirik mereka. Posisi masih sama. Gue pun sibuk berspekulasi sendiri. Oh mungkin mereka sengaja karena sambil nunggu penumpang naikin barang di kabin. Atau, oh mungkin emang mereka nggak mau kelamaan nunggu di pesawat.

    20 menit sebelum take off. Petugas semakin gencar mengingatkan penumpang. Gue mulai lirik-lirik cemas dan tak ada tanda-tanda pergerakan.

    15 menit sebelum take off. Gue pun memanggil Tomo dan memberitahu kalau petugas Sriwijaya sudah memanggil untuk menuju pesawat. Mereka pun baru beranjak dan Tomo bilang mau ke toilet sebentar. Gue tepok jidat sambil ngeluarin satu bungkus stok sabar. 

    Usut punya usut, ternyata mereka bertiga nggak ada yang denger informasi dari petugas Sriwijaya saking serunya dengerin temen curhat. 

    Lesson number 1, jangan sibuk berspekulasi sendiri. 
    Lesson number 2, tolong cari momen yang tepat ya ibu-ibu kalau mau curhat.

    Ruang tunggu alias tempat curhat dadakan


    ***

    Perjalanan Jakarta-Belitung ternyata sangat singkat, hanya satu jam saja. Sore itu sekitar pukul 15.50 kami sampai di Bandara H. A. S. Hanandjoeddin dan disambut manis oleh Pak Agus, salah satu driver dari jasa antar-jemput bandara milik Pak Kusdian. 

    Sebenarnya kami mengikuti rombongan open trip dari Rani Journey. Tapi berhubung harga tiket tanggal 13 Mei membengkak, kami memutuskan untuk membeli tiket sehari sebelumnya dan berjalan-jalan sendiri.

    Kami pun memilih penginapan di dekat pantai Tanjung Pendam. Lumayan, kan, nanti sore bisa main di pantai. Pantai Tanjung Pendam sore itu tak terlalu ramai pengunjung. Mungkin karena pesonanya masih kalah cantik dibanding pantai di Belitung lainnya.


    Sunset-an dulu di Pantai Tanjung Pendam


    Dari pantai, kami berjalan kaki menuju pusat kota Tanjung Pandan. Di tengah perjalanan, kami mampir ke toko kopi Kong Djie. Sayangnya, asam lambung gue beberapa hari terakhir sedang tinggi sehingga gue tidak bisa ikut ngopi ala warga Belitung. Tapi, di sini gue mencoba jeruk kunci hangat yang ternyata enak dan segar rasanya.

    Sekitar 15 menit 'ngopi' di Kong Djie, kami pun beranjak ke tempat lain. Berhubung nggak sewa kendaraan, kami kembali berjalan kaki untuk mencari makan berat. Di sekitar Jalan Sriwijaya, kami pun menemukan Mie Atep. Di dalamnya, terpasang deretan foto pemilik Mie Atep dengan artis hingga politisi dalam negeri. 

    Gimana, sih, rasanya Mie Atep? Unik. Rasanya nggak biasa tapi enak. Isinya adalah mie kuning, udang, tahu, pempek, dan emping, lalu disiram oleh kuah kental berwarna kecokelatan. Selesai makan Mie Atep, kami kembali berkeliling untuk mencari makanan lainnya. Ternyata dua temen baru gue ini suka banget nyobain makanan baru. Sementara gue hanya jadi penonton karena perut gue tak sanggup lagi menampung makanan dan kebetulan mereka mencari makanan nggak halal. So... big no.

    Hari itu ditutup dengan kaki yang kecapean berjalan, bau kamar hotel yang agak aneh, dan adaptasi dengan teman-teman baru. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai esok hari saat tour guide kami menjemput di penginapan sekitar pukul 08.30 WIB. Gue akan menceritakan serunya jalan-jalan di kota Laskar Pelangi di post berikutnya. Tungguin, ya! 



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top