Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Kira-kira satu tahun yang lalu gue membaca novel Dilan, hasil karya Pidi Baiq. Hasil pinjam temen kantor, sih. Tapi rasa senang sehabis membaca novel Dilan teringat sampai sekarang.


    Makanya, ketika ada berita novel Dilan mau dibuat filmnya, gue penasaran dong siapa yang akan memerankan tokoh Dilan yang bikin geregetan ini. Bandel, tapi bikin hati lumer. Dilan adalah sosok yang romantis, unik dan nggak dibuat-buat. Duhileh.

    Begitu nama Iqbaal, mantan anggota Coboy Junior tercetus, reaksi gue pun sama kayak penikmat novel Dilan lainnya. Kok dia, sih? Berhubung gue nggak tau siapa aja aktor muda Indonesia, gue juga nggak bisa membayangkan siapa yang cocok memerankan sosok Dilan ini.

    Ketika trailer film ini keluar, gue makin ketar ketir. Kok rasanya nggak sampai, sih? Mana rasa grenyet-grenyet (ngerti kan maksudnya? haha) yang kudapat saat membaca novelnya?

    Sampai tibalah hari peluncuran film Dilan dan review-review mulai bertebaran. Temen gue, Eby, yang udah nonton film ini duluan manas-manasin gue buat nonton ini. Katanya film ini bikin efek senyum-senyum sehabis nonton. Seorang temen gue lainnya, Nanda, bilang di instastory-nya kalau film ini cheesy. Tapi cheesy yang menyenangkan. Sementara, teman gue lainnya bilang bahwa film ini adalah penyiksaan yang hakiki. Dua review yang sangat bertentangan muncul di timeline social media gue.

    Berhubung penasaran, maka pergilah gue menonton Dilan 1990. Sepulang kerja. Seorang diri. Sehabis hujan.

    Nah, sebelum gue memberikan review, gue cuma mau menekankan bahwa Dilan 1990 adalah cerita cinta anak remaja. Jadi, sebelum lo menonton, pastikan lo udah sadar dengan hal ini. Bahwasanya, saudara saudari sekalian, di cerita cinta anak remaja lo nggak akan menemukan kisah yang dewasa dan dramatis ala Habibie dan Ainun atau Fahri dan Aisyah. Kalau lo mencari kisah tentang percintaan yang dewasa secara emosional, lebih baik lo tidak menonton Dilan 1990 karena apa yang lo cari tidak akan lo temukan di film ini. Tapi mungkin di aku. #ehmaapin

    Jadi, bagaimana kesan gue setelah menonton film Dilan 1990? Menyenangkan dan menyegarkan. Kayak habis olahraga, terus elo minum es teh manis. Dan es tehnya dibeliin gebetan. Hahaha.
    Kalau lo sudah pernah baca novelnya, maka rasa yang lo dapat di filmnya kurang lebih sama dengan novelnya. Bonusnya, di film ini lo dapat melihat tatapan Iqbaal ke Milea yang bikin cewek-cewek lumer. Kayaknya baru kemarin akika nonton film 5 Elang, terus sekarang kamu udah ganteng begini, Dik Iqbaal?

    Secara keseluruhan, film ini menyenangkan sekali untuk ditonton, terutama kalau elo fakir dopamine. Hahaha. Apalagi, ocehan-ocehan lucu dan unik khas Pidi Baiq dikeluarkan jor-joran di film ini. Mulai dari "Cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri dan saat ini aku sedang tidak percaya diri" sampai "jangan rindu, berat, biar aku saja". Semua celotehan yang bikin cewek baper itu bakal elo temuin di film ini. Nggak heran kalau elo akan senyum-senyum sendiri sehabis menonton film ini. Film Dilan 1990 bener-bener mampu membuat elo nostalgia ke masa-masa SMA. Zaman di mana elo deg-degan tiap ketemu gebetan, atau saat pedekate.

    Bagi gue, film ini sukses mengadaptasi novelnya. Tentu saja, Iqbaal juga sukses menghidupkan sosok Dilan. Kalau selama ini elo menganggap Iqbaal itu kurang 'nakal' untuk memerankan Dilan, mungkin lo harus coba tonton film ini. Gue cukup amazed dengan ekspresi gahar Iqbaal saat lagi naik motor bareng geng motornya di scene awal.

    Terlepas dari rasa nostalgic dan menyenangkan yang dihadirkan, gue setuju dengan Eby bahwa film ini sayangnya tidak digarap dengan baik dari sisi sinematografi. Oh man, pengambilan gambar saat Milea dan Bunda di dalam mobil itu nggak banget, sih. Keliatan banget kalau Bunda nggak benar-benar nyetir.

    Beberapa pemain pun menurut gue tidak berakting dengan baik, alias kaku shay! Untungnya, hal-hal tersebut tidak terlalu terasa karena percaya deh... elo akan fokus oleh celotehan Dilan dan interaksinya dengan Milea. Satu hal lagi yang gue suka dari film ini adalah betapa naturalnya makeup Milea. Asli, beneran fresh dan remaja sekali tanpa keliatan berlebihan. Pas banget!

    Jadi, tonton jangan? Aku ramal pasti kamu jadi sedikit penasaran. :D
    Continue Reading
    Gue pernah ada pada masa "work hard, shop hard". Rajin bekerja, rajin pula gue menghabiskannya buat hura-hura. Terkadang, dalam satu bulan gue bisa lebih besar pasak dari pada tiang. Kalau Ligwina Hananto kenal sama gue saat itu, mungkin gue udah ditatar abis-abisan sama dia.

    Intinya, manajemen keuangan gue saat itu kacau balau. Tenggelamkan saja kapal saya, Jendral!

    Nah, setelah pindah kantor tiga tahunan lalu, gue bertemu dengan rekan kerja yang bergaya hidup frugal dan gemar menabung. Lingkungan memang benar-benar bisa membentuk karakter seseorang ternyata. Perlahan, gue mulai terbawa dengan kebiasaan tersebut. Nggak langsung berbalik 180 derajat, sih. Pelan-pelan, tapi pasti.

    Semua dimulai dari rasa malu saat mereka ngomongin masalah nabung dan investasi. Sementara, gue justru investasi lemak dan kantong mata karena kebanyakan jajan di luar atau nongkrong di kafe sampai dini hari.

    Sekarang masih tetep suka nongkrong, sih, tapi nggak sesering dulu. Mungkin karena mulai terbiasa pulang kerja langsung ke rumah atau karena sudah mulai letih dengan hiruk pikuk jalanan. Ditambah lagi, kalau lagi capek sisi introvert gue langsung meledak-ledak dan gue jadi malas ketemu orang-orang kalau sudah begitu.

    Perbedaan yang paling terasa nyata adalah gue mulai sadar dan berusaha untuk nabung. Mulai dari misahin uang di rekening berbeda, ikut arisan, nyelengin uang koin, sampai *jeng jeng* investasi.

    Sebagai investor pemula, gue pilih yang paling gampang dan nggak terlalu beresiko. Namanya juga 'anak baru' kan, masih takut-takut dan parno-an. Soalnya, kalau salah pilih alat investasi, yang ada bukannya untung, malah buntung! Makanya untuk orang kayak gue, investasi emas batangan atau logam mulia itu udah paling aman.

    Selain itu, gue juga punya alasan lain kenapa memilih investasi emas. Berikut alasannya:

    - Investasi emas itu sifatnya likuid. Maksudnya, mudah diperjualbelikan. Jadi, kalau tiba-tiba gue butuh dana darurat, gue bisa dengan mudah menjual atau menggadaikan logam mulia tersebut. Nggak cuma itu, gue juga bisa menjual emas di banyak tempat, mulai dari kantor cabang Antam, pegadaian, atau di toko perhiasan online ORORI.

    - Harga emas setiap tahunnya cenderung naik. Walaupun harga emas itu setiap harinya naik turun alias fluktuatif, tapi dari pengamatan gue -yang nggak segitu ngamatinnya- harga emas dari tahun ke tahun itu ujung-ujungnya bakal naik. Beda halnya dengan deposito. Menurut data yang gue baca, dalam 5 tahun terakhir nilai rupiah turun 42% (cmiiw), sementara tiap tahun nasabah biasanya mendapatkan bunga deposito sekitar 5% saja. Wew. 

    Makanya, investasi emas ini menurut gue bagus untuk menangkal inflasi dan menjaga nilai kekayaan yang kita punya. Berdasarkan data di atas, kalau menabung 10 juta dalam bentuk uang hari ini, maka bisa jadi nilainya saat lima tahun mendatang hanya sekitar 6 jutaan. Sementara, kalau menabung 10 juta dalam bentuk emas, maka lima tahun mendatang nilainya kemungkinan akan tetap sama.

    - Investasi emas itu nggak butuh modal banyak. Beda dengan deposito yang mengharuskan kita menyetor uang mulai dari 5 jutaan di awal, investasi emas justru bisa dimulai dengan modal 600ribuan aja untuk 1 gram emas batangan. Investasi emas bikin tabungan bulanan jadi nggak terasa segitu beratnya. *elus kartu ATM*

    Ditambah lagi, ya, baru-baru ini gue nyobain aplikasi e-mas untuk beli emas online. Ternyata, di aplikasi ini gue bisa beli emas mulai dari Rp10.000-an aja. Bayangin, dengan biaya nongkrong di kafe, yaitu sekitar Rp150.000-an, gue udah bisa beliin emas sekitar 0,3 gram. Saking bisa dibeli dengan uang sekecil itu, beli emas berasa kayak lagi jajan.

    x: Mau jajan, ah...
    y: Jajan apa?
    x: Jajan emas *tebar recehan*

    Kumpulin koin 1000-an sampai 10 dan kita udah bisa beli emas

    Biarpun menguntungkan, sebenarnya masih ada hal yang nggak gue suka dari investasi emas, yaitu masalah keamanan saat menyimpannya. Seperti yang kita-kita tahu, ya, ukuran logam mulia 1 gram itu kecil banget. Paling cuma segede kuku! Benda sekecil itu pasti mudah banget keselip atau hilang. Padahal logam mulia 1 gram itu kecil-kecil cabe rawit. Biarpun kecil tapi nilainya besar. Pasti nyesek banget kan kalau sampai hilang? Belum lagi resiko dicuri orang. Duh, masalah penyimpanan ini pe-er banget. Apalagi kalau elo seperti gue yang suka teledor atau lupaan. Bawaannya was-was terus.

    Untuk orang seperti gue, pilihan terbaik demi kebahagiaan yang haqiqi ya pakai jasa simpan emas di pegadaian atau safe deposit box. Tapi, itu tentu aja butuh biaya lagi, walaupun di pegadaian biaya penyimpanan per tahunnya tergolong murah, sih.

    Karena itulah gue cukup happy begitu mengetahui aplikasi e-mas ini. Soalnya, emas yang gue beli di sana akan langsung disimpan secara digital di akun gue. Jadi, gue nggak perlu pusing masalah penyimpanan emas dan nggak perlu takut emas gue digondol kucing maling. Nantinya, gue bisa menjual emas gue langsung di aplikasinya atau menarik emas batangan Antam. Untuk penarikan emas batangan ini akan ada biaya tambahan untuk cetak sertifikat dan biaya pengiriman. 



    Aplikasi jual beli emas online ini pasti menimbulkan pro kontra, sih. Apalagi emas pengguna nggak langsung dikirim, tapi disimpan dulu dalam akun tiap pengguna. Gue pribadi merasa secure sejauh ini karena setiap kali top up emas, gue akan dikirimkan bukti transaksi melalui email dan sms. Bukti transaksi di email ini biasanya gue simpan buat jaga-jaga. Selain itu, gue juga merasa aman karena proses verifikasi mereka cukup detail. Misalnya, pengguna diharuskan mengisi data KTP dan rekening bank, serta mengunggah foto KTP, foto selfie bareng KTP, dan foto buku tabungan. Bahkan, ada formulir untuk mengisi data ahli waris segala!

    Nah, semua balik lagi ke pribadi masing-masing. Kalau merasa kurang aman, ya lebih baik mencari alternatif lain yang bikin nyaman. Tapi kalau gue, lebih suka berinvestasi emas sambil memanfaatkan kemudahan yang ada. Kalau bisa beli mulai dari nominal kecil sekaligus simpan emas gratisan, kenapa nggak? :D





    Continue Reading
    Gue itu anaknya suka bersantai, alias malas ngapa-ngapain, alias mageran. Kayaknya bersantai adalah tujuan hidup gue, deh, hahaha. Makanya, setiap pagi sebelum ngantor, gue lebih senang 'menginvestasikan' waktu gue untuk leyeh-leyeh sambil sarapan/ membaca/ menonton dibanding bersiap-siap atau makeup-an.


    Berhubung waktu gue untuk makeup-an sedikit, gue pun berusaha membuat step makeup gue sesimpel mungkin. Ya memang, boleh-boleh aja sih kalau nggak pakai makeup ke kantor. Tapi, kok, berangkat ke kantor tanpa usaha sedikit untuk terlihat 'cantik' rasanya seperti kurang menghargai diri sendiri, ya? Menurut gue, tampil baik itu adalah cara untuk terlihat profesional di lingkungan kerja, biarpun lingkungan kerja gue santai banget.

    Walaupun gue suka males dandan, sebisa mungkin gue nggak melewatkan tahap skin care. Biasanya, sebelum pakai makeup gue mempersiapkan kulit gue dengan menggunakan toner, essence, serum, eye cream, lip balm, dan moisturizer. Banyak? Ah, belum sebanyak 10 skin care steps ala Korea, kok. :D

    Setelah menggunakan skin care, baru deh rutinitas perlenongan gue dimulai.

    Bagi yang sudah mengenal gue, pasti sudah tahu kalau permasalahan kulit terbesar gue adalah lingkaran hitam di mata. Dulu, gue suka mencoba berbagai corrector atau concealer. Ada masanya juga di mana gue menggunakan concealer berlapis-lapis sampai kulit di bawah mata terlihat cakey dan creasing. Semua demi menutupi dark circles yang kelewatan 'dark' ini. Tapi sekarang gue lebih memilih bodo amat dan mencoba menerima lingkaran hitam ini sebagai bagian dari diri gue (terima kasih buat campaign "woman empowerment" yang merajalela akhir-akhir ini).

    Sekarang, gue cuma pakai korektor warna orange tipis-tipis, lalu menggunakan BB cream tipis-tipis. Kalau lagi rajin, gue akan kembali menggunakan concealer tipis-tipis juga. Pokoknya, gue nggak ingin makeup menjadi topeng. Gue mau makeup menonjolkan siapa gue tanpa menyembunyikan diri gue (ntaps!). Lingkaran hitam gue memang tidak tersamarkan dengan sempurna, tapi gue mencoba percaya diri tampil dengan 'trade mark' gue yang satu ini.



    Untuk corrector dan concealer, gue menggunakan produk sejuta umat, yaitu L.A. Girl HD Pro Concealer. Sementara, untuk BB cream-nya, gue menggunakan Laneige BB Cushion Whitening shade 23 atau Maybelline Super BB Cover shade Natural. Kulit gue memang medium to dark, tapi ternyata Laneige BB Cushion shade 23 masih cocok di kulit wajah gue dan nggak bikin gue kayak pakai powder abu vulkanik (baca: abu-abu).

    Setelah selesai di bagian complexion (udah kayak beauty blogger belum?), gue pun mengeset concealer dengan bedak tabur POND's yang lagi digandrungi ciwik-ciwik masa kini. Gue sendiri sudah membuktikan kemejikan bedak tabur ini di kulit kering kombinasi (?) gue. Jadi, biasanya menjelang siang hidung gue akan mulai berkilau layaknya loyang yang diolesi margarin sebelum dimasukkan ke oven. Tapi, begitu pakai bedak ini, area hidung dan dahi gue justru terlihat dewy-dewy sehat macam idola Korea, bahkan saat gue pakai di teriknya cuaca Bali pas liburan kemarin.



    Selanjutnya, gue ngurusin bagian mata.  Lagi-lagi, kalau sedang rajin atau kalau lingkaran hitam gue lebih gelap dari biasanya, gue akan menggunakan eyeshadow. Karena gue nggak segitu seringnya pakai eyeshadow, maka gue cuma punya dua palet eyeshadow dari City Color dan Mizzu. Favorit gue tentu aja dari Mizzu. Untuk palet berisi tiga warna eyeshadow, gue cukup merogoh kocek sekitar 40 atau 50 ribuan saja. Harga tersebut tergolong murah mengingat pigmentasinya yang oke punya, bahkan di kelopak mata gue yang gelap ini. Untuk menjaga penampilan tetap natural (dan waktu dandan nggak kelamaan) gue hanya menggunakan satu warna eyeshadow saja.

    Kalau gue lagi nggak menggunakan eyeshadow, biasanya gue akan langsung mengisi alis. Untuk alis gue menggunakan brow pomade dari Milani yang shade Brunette. Konon katanya, produk ini adalah versi dupe dari brow pomade Anastasia Beverly Hills. Berhubung gue nggak pernah pakai brow pomade dari ABH, sesungguhnya tidaklah tepat jika gue mengaminkan pendapat tersebut.



    Tapiii... brow pomade dari Milani emang top, sih. Pertama, tahan lama saat digunakan. Kedua, warnanya bisa di-build. Ketiga, mudah dibaurkan jadi nggak usah takut pakai alis ketebelan. Keempat, dilengkapi kuas + spoolie haratesan. Sayangnya, brow pomade ini agak cepat kering walaupun tidak secepat gel eyeliner-nya Maybelline.

    Tahap selanjutnya yang juga merupakan tahap akhir adalah lipstick. Gue paling sering menggunakan Amore Matte Lip Cream dari Milani yang shade Precious. Tapi, terkadang gue juga suka menggunakan Purbasari nomor 81 atau Wardah Lip Cream yang shade Honey Bee. Untuk urusan lipstick, warna yang gue pilih biasanya warna-warna nude atau natural yang cocok untuk sehari-hari.


    Selesai deh makeup routine cewek pemalas ala gue. Sehari-hari gue paling hanya butuh waktu 10-15 menit untuk makeup-an, sementara 1 jam lainnya gue pergunakan untuk leyeh-leyeh menyusun mood di pagi hari.

    Ciao!



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top