Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Kulit wajah gue itu bisa dibilang kayak kulit badak. Bisa dihitung jari, deh, berapa kali kulit gue bereaksi sama skin care. Saat gue pakai skin care itu, biasanya hanya ada dua kemungkinan: muka jadi kinclong atau muka nggak mengalami efek apapun.

    Meski begitu, wajah gue juga nggak mulus-mulus amat. Sekali dua kali gue pun mengalami jerawat hormonal saat sedang menstruasi. Jadi, tentu aja noda hitam dan lobang akibat jerawat nggak bisa gue hindari sepenuhnya.

    Walau nggak cakep-cakep amat, tetep aja gue bersyukur muka gue nggak rewel. Cukup urusan rambut saja yang bikin gue pusing, ya. Hehehe.

    Sampai tiba-tiba, gue mencoba pelembab berinisial N yang dipuja-puja banyak orang. Setelah penggunaan beberapa kali ternyata di jidat gue muncul jerawat kecil-kecil. Jerawat yang nggak ada matanya itu, lho. Dan makin lama makin banyak!

    Aslinya lebih banyak dari ini jerawatnya. Tolong jangan salfok sama cincin yaaa...

    Kenapa gue bisa menyimpulkan bahwa pelembab itulah biang keroknya? Karena gue nggak mengganti skin care lain kecuali pelembab. Ya, sebenarnya saat itu skin care gue cuma pelembab, pembersih muka, dan sabun muka, sih.

    Teman gue pun sampai heran melihat kondisi muka gue saat itu. Karena memang kulit gue segitu badaknya.

    Nah, berhubung gue buta banget sama skin care dan gue juga cuek banget sama jerawat di jidat, ya gue tetep aja pakai pelembab itu. Kemudian, jawaban atas permasalahanku datang di saat yang tidak terduga.

    Jawaban itu datang bersama paket berisi BB cushion gue. Si pemilik online shop ternyata memberikan gue sample lotion Hada Labo Shirojyun. Gue pun mencoba menggunakan lotion ini sebagai toner. Ternyata gue merasa kulit wajah gue enak sekali setelah memakai toner ini.


    Akhirnya, gue membeli travel set Hada Labo Shirojyun. Satu set terdiri dari toner, sabun muka, dan pelembab. Gue juga mengganti pembersih muka gue dengan Bioderma Sensibio, yang kemudian berganti menjadi Bioderma Hydrabio. Setelah sekian lama cuek dengan kondisi muka, gue coba untuk mulai rajin menggunakan skin care. 


    Sambil pakai Hada Labo Shirojyun ini, gue coba baca-baca seputar dunia skin care. Gue cari tahu tipe kulit gue dan bagaimana penangannya. Gue jadi rajin buka aplikasi female daily buat cari tahu review produk Hada Labo Shirojyun, micellar water Bioderma, dan produk lain yang gue incar.

    Ternyata memang banyak juga yang cocok sama Hada Labo Shirojyun ini. Tapi, sekalinya ada yang nggak cocok, wajah mereka bisa sampai break out parah. Syukur alhamdulillah gue termasuk yang cocok dengan Hada Labo. 

    Hasilnya? Jerawat di jidat gue menghilang dengan cepat, dong! Jidatku kini mulus, walau tak semulus pantat bayi. Tapi jerawat kecil-kecil itu beneran ilang gitu aja setelah gue rutin double cleansing dan pakai toner.

    Dari sinilah gue sadar bahwa jadi orang jangan sombong! Hahaha. Sebadak-badaknya kulit kita, tetep aja perlu dirawat dan disayang. Biar nggak ngambek. Dan yang paling penting, harus peka sama kondisi kulit. Jangan maksain pakai suatu produk kalau memang tidak cocok.

    Yang cocok di orang lain, kan, belum tentu cocok di kita. Urusan cocok-cocokan ini biar jadi urusan kamu sama aku aja, ya. #mulaigila

    Ciao!




    Continue Reading
    Bagi saya, nyari tiket pesawat murah untuk liburan itu wajib hukumnya. Maklum aja, isi tabungan dan gaji belum memungkinkan untuk membeli tiket pesawat tanpa mempertimbangkan harganya. Dalam hati, sih, pengen banget liburan ke destinasi impian dengan pesawat first class. Tapi, kenyataan memang kadang nggak semanis khayalan, bukan?


    source
    Makanya cari tiket pesawat murah adalah salah satu cara untuk menjelajahi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Saya sendiri punya daftar destinasi wisata yang harus dikunjungi selama saya masih jadi penghuni bumi. Mulai dari merasakan pengalaman Live on Board di Flores, menikmati cantiknya Raja Ampat, ikut tur safari di Kenya, hingga jalan-jalan sore di sepanjang Charles Bridge, Praha. Destinasi terakhir adalah travel goal saya. Saking pengennya ke sana, kota ini sampai saya ucapkan terus menerus biar tercapai. 

    Demi menjejakkan kaki ke tempat-tempat tersebut, saya yang merupakan karyawan kantoran dengan budget (dan cuti) seadanya ini akhirnya memutar otak. Iya, otak. Kalau putar kepala nanti kayak Trio Macan. Krik.

    Tentu saja saya harus mengatur strategi seapik mungkin agar liburan berjalan lancar, aman (di kantong), dan tidak menimbulkan masalah untuk jalan-jalan berikutnya. Misalnya, menghamburkan banyak uang saat traveling sehingga membuat kondisi finansial jadi berantakan. Lalu, ujung-ujungnya nggak bisa beli tiket pesawat untuk traveling selanjutnya. No, thank you.

    Jadi, sebelum pergi liburan, biasanya saya akan mempertimbangkan hal-hal berikut:

    • Tentukan Tujuan Traveling
    Sebelum pergi ke destinasi yang diinginkan, saya akan memikirkan motif jalan-jalannya. Maksudnya, saya menentukan apa yang ingin saya cari selama traveling. Apa ingin menantang adrenalin? Ingin relaksasi sambil menikmati nyamannya slow life? Ingin belajar kebudayaan? Dan sebagainya.

    Motif traveling kita akan menentukan lokasi traveling, besarnya dana traveling, lama waktu cuti, pilihan penginapan, juga itinerary jalan-jalan. Kalau saya, sih, biasanya menentukan tujuan traveling sesuai kondisi mental saat itu (kok kesannya serius banget, ya? Haha). Misalnya, saya sedang capek banget dengan pekerjaan kantor, maka saya akan memilih liburan santai ke Bali atau Lombok. Jika hidup lagi terasa membosankan, berarti ini saatnya mewujudkan mimpi untuk Live on Board di Flores. 

    • Menghitung Sisa Cuti
    Saya punya prinsip harus liburan minimal 2x dalam setahun. Jadi, biasanya saya sudah mempertimbangkan tujuan wisata untuk setahun ini. Dengan demikian, saya bisa menghitung apakah sisa cuti cukup atau tidak? Apakah perlu hutang cuti atau mengajukan unpaid leave ke HR tercinta? Sesungguhnya, jatah cuti 12 hari itu hanyalah ilusi. Setelah dipotong libur bersama, bisa dibilang jatah cuti saya hanya tersisa 8 atau 9 hari saja. Cry.

    Sebenarnya, ada juga trik liburan agar tidak menguras jatah cuti, yaitu dengan memanfaatkan long weekend. Tapi, tentu saja konsekuensinya adalah biaya traveling menjadi lebih mahal. Kalau kebetulan dananya ada, ya nggak apa-apa juga liburan pas long weekend. Kalau lagi nggak ada? Ya, nggak usah maksain. Siapin formulir cuti, yuk! 

    • Cari Tiket Pesawat Murah
    Bersyukurlah generasi millennial karena saat ini ada banyak budget airlines yang membuat jalan-jalan menjadi lebih mudah dan ramah kantong. Yang penting, cari tiket pesawatnya harus dari jauh-jauh hari.

    Lagipula, sekarang beli tiket pesawat itu nggak ribet sama sekali. Tinggal buka penyedia tiket pesawat online atau online travel agent, maka kita semua udah bisa beli tiket pesawat kapan dan di mana saja.

    Selain beli tiket dari jauh-jauh hari, kita juga harus peka sama promo. Nah, poin plus belanja tiket online itu adalah harga yang diberikan lebih murah karena banyak promo yang mereka tawarkan, misalnya potongan harga dengan menggunakan kartu debit/ kredit dari bank tertentu.


    Percayalah, punya budget terbatas secara nggak langsung membuat kita lebih kreatif dan rajin pilah pilih penyedia tiket transportasi dengan penawaran paling oke.

    • Pesan Hotel Sesuai Budget
    Sebagai kaum menengah yang banyak gaya, kita pasti mau nginep di hotel-hotel cantik nan instagramable dan nyaman. Tujuannya? Selain bikin liburan jadi berasa lebih nikmat, tentu aja buat bikin feed Instagram jadi lebih artistik. #TujuanHidupMilenial

    Tapi, lagi-lagi saya teringat bahwa saya bukanlah Kylie Jenner. Jadi, kembali saya putar utang otak agar bisa dapat penginapan yang kece dengan harga yang bersahabat.

    Sebenernya, sekarang banyak, lho, hotel bagus yang menyasar para flashpacker. Yang penting, kita rajin-rajin aja cari info hotelnya. Jangan lupa juga cek rating dan fasilitas hotel tersebut biar nggak zonk. Seperti kata iklan, biar murah tapi nggak murahan.

    Lagian, sekarang alasan malas cari hotel tuh udah basi banget. Kenapa? Karena kita bisa cari tiket pesawat dan hotel dalam satu pusat perbelanjaan online. Jadi, kita tinggal berkelana, deh, mencari hotel sesuai keinginan dan budget. Kita bisa filter kisaran budget, rating penginapan, sampai tipe akomodasi. Maksudnya tipe akomodasi itu, kita mau nginep di hotel, vila, atau apartemen. 

    Lagi-lagi, enaknya belanja online itu adalah... banyak promo. Banyak, lho, online travel agent yang menyediakan program cicilan 0%. Nginep di hotel pun jadi lebih ringan karena bisa dicicil.


    Tuh, kan. Sebenarnya pergi ke tempat wisata impian kita itu nggak sulit. Yang kita butuhkan hanya niat, dana, dan usaha. Kalau sudah ada niat, kita tinggal siapkan dananya. Kalau dana sudah ada, ini waktu kita usaha mencari cara agar dana tersebut cukup untuk jalan-jalan. 

    Sejujurnya, ya, menurut saya usaha yang kita kerahkan juga nggak begitu keras. Kan bisa online. Mau cari tiket pesawat murah sampai cari hotel pun bisa. 

    Jadi, kini kita nggak perlu kebanyakan mikir atau baper liat orang lain jalan-jalan. Saya (kita semua!) juga bisa pergi ke destinasi wisata impian dengan mudah, kok. Ingat, pemimpi itu selalu punya cara untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Kalau beraninya mimpi doang? Itu namanya tukang ngayal! 

    Selamat jalan-jalan para Tukang Ngayal... eh para Pemimpi!



    Continue Reading

    Naik kereta api tut... tut... tut... Siapa hendak turut?

    Kalau mengingat lagu itu, sepertinya naik kereta itu menyenangkan sekali, ya? Tapi, bagaimana jika kamu diajakin naik kereta saat ini? Hmm... mikir seribu kali, deh.

    Tentunya kereta yang gue maksud di sini adalah commuter line yang menjadi penghubung antara Jakarta dan daerah penyangga, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang. Naik kereta alias commuter line adalah bukti nyata bahwa kadang kenyataan dan harapan itu nggak sinkron.

    Nggak usah bohong, deh. Anak kereta pasti tiap berangkat dari rumah berharap kereta akan lancar jaya dan kosong (setidaknya nggak kayak pepes) di jam sibuk. Kenyataannya? Kita seringkali dapet kejutan dari commuter line. Entah gangguan sinyal, rel patah, diselak kereta jarak jauh, dan segala macam masalah yang kalau gue perhatiin sudah ada dari dulu namun tak kunjung selesai. Pait. Ku nggak suka dikasih surprise macam gini.

    Sumber: tribunnews.com
    Tapi hal yang nyebelin di kereta nggak harus kamu bawa kesel seharian. Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan?

    Gue pun nggak akan bilang “nikmatin aja”. Udah dibilang nggak enak, kok malah disuruh nikmatin. Itu semacam kamu dikentutin orang yang belum pup seminggu dan disuruh nikmatin aja. Terus gue harus happy dan nikmatin bau busuk ini, gitu? Ah… bau kentut ini sangatlah menyenangkan hatique. Terima kasih, Tukang Ngentut.

    Karena itu, menurut gue, kita bukan harus berusaha menikmati. Dalam kasus commuter line, kita harusnya berusaha bertahan, jika memang opsi transportasi lain tidak memungkinkan.

    Dan cara gue untuk bertahan dalam kecarutmarutan commuter line adalah….

    • Sarapan Sebelum Naik Kereta
    Yes, tentu saja. Gimana bisa punya tenaga ngelawan mbak-mbak super setrong di gerbong khusus wanita kalau kamu nggak isi bahan bakar? Gimana bisa berdiri umpel-umpelan saat kereta gangguan kalau perutmu kosong? Ada beberapa kasus penumpang pingsan di kereta karena belum sarapan. Makanya gue nggak pernah melewatkan sarapan. Wong, sudah sarapan pun gue bisa lapar lagi sehabis turun kereta. Hahaha.

    • Cek Keadaan Commuter Line Lewat Twitter
    Ternyata, pengguna commuter line cukup aktif di dunia per-twitter-an. Mulai dari mengeluhkan kereta gangguan, sampai ngomelin admin twitter commuter line yang suka bilang kereta normal padahal kenyataannya nggak gitu. Please, min, cobain naik produk sendiri! Jadi, sebelum naik kereta, luangkanlah waktumu sebentar buat cek twitter. Kalau kereta tak ada masalah ya alhamdulillah, kalau ternyata ada gangguan setidaknya kamu bisa bersiap-siap. 

    • Pakai Sepatu yang Nyaman
    Pakai sendal buat naik kereta di jam sibuk? Kasihanilah jempolmu wahai anak muda! Gue nggak ngerti kenapa, tapi pengguna kereta selalu kehilangan sensor buat memijak di tempat yang tepat, alias lantai kereta. Jadi, nggak usah heran kalau begitu turun kereta sepatu akan dipenuhi bekas sepatu orang. Pedih hatiku! Makanya, pakai sendal itu bukan keputusan bijak bagi gue. 

    Bahkan, gue pernah pakai sepatu boot dengan sol setebal Docmart saking keselnya jadi korban keinjek melulu. Suatu hari, saat gue sedang memakai sepatu itu, guelah yang kehilangan sensor memijak. Kaki gue pun mendarat manis di atas jempol seorang mbak yang sedang pakai sendal. Dia pun teriak kesakitan dan akhirnya sepatu itu jarang gue pakai lagi. Ngerti, kan, sekarang kenapa pakai sepatu itu penting di commuter line?

    • Dengerin Musik
    Mendengarkan musik memang nggak akan membuat kamu jadi tiba-tiba menikmati kereta. Yang namanya gangguan atau umpel-umpelan udah pasti bikin kesel dan nggak nyaman. Tapi, mendengarkan musik setidaknya bisa membuat syaraf-syaraf tegang di muka jadi kendor dikit. Yang tadinya kesel banget, jadi kesel aja. Setidaknya musik bisa membuat gue nggak terlalu stress di kereta.

    • Jangan Galak
    Kesenggol dikit, ngelirik judes. Kedorong dikit, nyinyir. Duh, situ hidup nggak boleh kecolek banget. Naik kereta itu jurusnya sabar dan pengertian. Ya, mau gimana? Kereta penuh dan gangguan adalah resiko yang harus kita hadapi. Jangan nambah-nambahin stress dengan menjadi orang yang tidak pengertian dan pemaaf. Percayalah, tidak ada yang lebih menghangatkan hati dibanding penumpang yang saling melempar senyum saat kondisi di dalam kereta layaknya replika neraka.

    • Tahu Batas
    Commuter line memang selalu penuh setiap pagi dan sore di hari kerja. Itu fakta yang sulit sekali diubah. Setiap pagi dan sore, stasiun pasti dipenuhi dengan pemandangan orang-orang yang rebutan naik kereta. Di sinilah waktunya kita adu kekuatan dan di saat yang bersamaan juga tahu batasan. Maksudnya, kalau memang kereta sudah terlalu penuh, ya, tunggu kereta berikutnya. Nggak usah memaksakan diri masuk ke gerbong yang sudah penuh sesak. Gue selalu berusaha untuk mengingat bahwa keselamatan itu lebih penting (dibanding masuk kantor tepat waktu haha). Kalau ujung-ujungnya badan akan sakit dan nggak bisa nafas, lebih baik nggak usah maksa. Jangan sampai juga jadi barbar dan ngedorong orang seenaknya. Kamu dikejar apa, sih?

    Cara yang terakhir tentu saja berdoa. Biar perjalananmu lancar dan kamu diberikan kekuatan untuk melalui kerasnya commuter line.

    Bilang apa? Aamiin....







    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top