Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, bulan Februari lalu gue liburan ke Yogya bareng Daru. Ceritanya sendiri bisa dibaca di sini, sini, dan sini. Nah, selama di Yogya kemarin, gue dan Daru sempat menginap satu malam di YATS Colony.




    Kenapa kita memutuskan menginap di sini? Karena tempat ini ramai sekali diulas para influencers di social media. Gue pun jadi penasaran. Padahal awalnya kita nggak berniat menginap di sini. Tapi, berhubung kami extend satu hari dan belum memesan kamar, maka kami coba, deh, buat santai-santai semalam di YATS Colony.

    Jadi, ada hal menarik apa sajakah di YATS Colony? Ini dia.

    Area Lobi yang Unik

    Saat memasuki YATS, gue dan Daru melihat ada sebuah bangunan kecil di sebelah kiri. Karena kita belum tahu di mana tempat untuk check in, akhirnya kita pun memasuki ruangan ini. Oh, ternyata ruangan ini adalah lobi hotel sekaligus area check in.

    Yang bikin unik adalah lobi hotel ini dibagi menjadi dua area. Area sebelah kanan lobi merupakan cafe, sementara bagian kiri merupakan area untuk check in. Nggak hanya itu, di bagian kiri lobi pun terdapat display pernak-pernik, baju, serta aksesoris lainnya yang bisa dibeli. Jadi, sambil check in, bisa sambil cuci mata atau belanja juga.

    Bangunan ini juga terdiri dari dua lantai. Kalau lantai bawah merupakan lobi, cafe, dan area belanja, maka di lantai atas adalah tempat untuk sarapan.

    Maapin kelakuan gue, ya!

    Interior Kamar yang Lucu

    Selesai check in, gue dan Daru diberikan kunci kamar. Lalu, seorang petugas mengantarkan kami menuju kamar tipe "KA" dengan twin bed yang kami pesan. Ngomong-ngomong, saat itu kami membayar sekitar Rp500ribuan untuk kamar tipe ini.

    Begitu pintu kamar dibuka, kami pun langsung senyum-senyum excited karena interior kamarnya sungguh nggak mengecewakan dan sesuai ekspektasi kami. Interiornya sangat modern dan nyaman.

    Di samping pintu kamar, kami menemukan sebuah keranjang berisi peralatan mandi dan sandal. Di dalam keranjang tersebut juga terdapat welcome card dari pihak YATS. Nggak ketinggalan, ada juga sign untuk pintu yang desainnya dibuat mirip plat kendaraan.

    Selain tempat tidur (pastinya!), kamar ini juga dilengkapi televisi, wi-fi, meja rias, daybed, dan pajangan dinding yang artsy sekali. Kabarnya memang YATS Colony berkolaborasi dengan seniman muda Indonesia untuk menghiasi kamar serta area hotel.





    Bagi gue, kamar tipe KA ini udah cukup nyaman. Tapi, kalau kamu mau pengalaman menginap yang lebih menyenangkan, gue sarankan menyewa kamar tipe "NA". Di tipe kamar ini, pihak YATS menyediakan daybed di teras kamar dengan pemandangan kolam renang. Jadi, kamu bisa leyeh-leyeh dengan pemandangan cantik di pagi atau sore hari. Selain tipe kamar NA, kamu juga bisa menyewa kamar terbesar mereka yang dilengkapi dengan fasilitas onsen.

    Banyak Spot Foto

    Salah satu daya tarik YATS Colony memang terletak dari desain hotelnya yang anak muda banget. Jadi, nggak heran kalau YATS memiliki banyak sekali spot untuk berfoto. Salah satu spot foto favorit pengunjung YATS tentu saja bangku melingkar dengan cushion orange di sisi kolam renang. Saking eye-catchingnya pengunjung YATS Colony pasti selalu menyempatkan untuk berfoto di sini.




    Selain kolam renang, ada juga area yang sering dijadikan spot foto. Misalnya, area halaman depan tempat parkir dua becak mini. Atau, area menyerupai terowongan dengan grafiti dua kelinci laki-laki dan perempuan yang cute banget.




    Sebenarnya, karena interior di YATS Colony itu cantik-cantik, jadi banyak sekali tempat yang bisa dijadikan spot foto. Kalau kamu suka hunting tempat cantik untuk swafoto, hotel ini, sih, wajib kamu kunjungi saat ke Yogya.

    Menu Sarapan Sangat Variatif

    Sebagai orang yang belum ngerasa 'hidup' kalo nggak sarapan, sudah pasti bangun tidur ku terus mandi sarapan dulu, dong. Menurut gue, sarapan di YAST Colony itu menyenangkan dan menenangkan. Tempat sarapannya tenang dan nggak berisik, dan lagi-lagi, interiornya pun cukup bikin seger mata.

    Yang paling menarik tentu saja menu sarapan yang tersedia. Pilihannya sangat beragam. Jika kamu terbiasa makan berat saat sarapan, kamu bisa menemukan nasi dan segala macam lauk pauknya di sini. Tapi, jika kamu suka sarapan ringan, mereka menyediakan berbagai pastry seperti croissant dan danish bread, serta sandwich. Gue sendiri kemarin bolak balik ngambilin danish bread-nya terus menerus saking doyannya.

    Untuk minuman, selain menu standar seperti teh, kopi, susu, dan jus, mereka juga menyediakan jamu. Iya, jamu! Ada beras kencur sama kunyit asam. Berhubung gue sedang flu saat ke Yogya kemarin, gue pun minum jamu dulu biar lebih bugar.





    Selesai sarapan sambil leyeh-leyeh, gue dan Daru pun balik ke kamar untuk ganti baju renang. Eh, sebelum turun, nggak lupa ambil danish bread lagi. Haha.

    Suasananya Santai

    Biarpun pengunjungnya banyak, tapi suasana di YATS Colony itu cenderung tenang. Nggak riweuh. Buat manusia yang suka bermalas-malasan seperti gue, suasana ini sempurna sekali. Mungkin lebih seru kalau gue pesen kamar tipe "NA" biar bisa bermalas-malasan sambil baca buku atau mendengarkan musik di depan kolam renang.

    Atau, kalau mau bersantai sambil ngemil juga bisa mengunjungi cafe yang terletak di lobi hotel. Desain interior cafe ini juga lucu dan nyaman sekali, lho.



    Banyak Payung

    Sekilas terkesan nggak penting, ya? Tapi gue cukup amazed, sih, melihat tempat payung di beberapa titik hotel. Jumlah payungnya cukup banyak, lho. Kayaknya kalau tiba-tiba hujan, sih, dijamin nggak bakal rebutan payung. Hehe.


    Di lain waktu, kalau ke Yogya lagi, sepertinya gue ingin balik ke sini. Tapi nanti mau pesen kamar "NA" biar puas bersantai seharian sambil menikmati hidup. Haha.


    Info:
    YATS Colony
    www.yats.co
    Jl. Patangpuluhan no. 23, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55251
    (0274) 375948


    Continue Reading
    Kalau ada hal yang sangat berkesan di tengah datarnya kehidupan gue tahun ini, maka itu adalah menonton konser Paramore tadi malam. Bisa dibilang, menikmati pertunjukan Paramore secara langsung merupakan momen terbaik gue di tahun 2018 sejauh ini. 

    Rasa senangnya sulit sekali digambarkan. Akhirnya, penantian panjang gue selama tujuh tahun ada ujungnya. Bahkan, mengingat serunya konser tadi malam aja bikin gue emosional. Ingin nangis saking terharunya.

    Pertama kali Paramore datang ke Indonesia adalah tahun 2011. Saat itu gue ingin sekali menonton Paramore, tapi keadaan nggak memungkinkan. Alias, gue lagi nggak punya uang buat beli tiket karena uang jajan gue habis untuk ngurusin skripsi. Tahu, kan, biaya cetak dan fotokopi untuk skripsi itu nggak murah. Apalagi, saat itu gue mengambil metode survei yang mengharuskan gue keliling Depok untuk menyebar kuesioner.

    Mau minta uang ke orang tua pun rasanya nggak enak. Soalnya bokap saat itu sedang sakit dan butuh biaya untuk pengobatan. Ya sudahlah, mungkin bukan rezeki gue. Tapi nggak bohong, patah hati banget rasanya waktu itu.

    Tujuh tahun kemudian, mereka mengumumkan bakal konser di Jakarta bulan Februari. Dan gue tahunya telat! Tanggal konser mereka bertepatan dengan tanggal gue jalan ke Yogya. Gue tahu mereka akan konser saat rencana jalan-jalan ke Yogya sudah matang. Tiket pesawat sudah dibeli, kamar hotel pun sudah dipesan dan dibayar. Matik. Gue patah hati berat untuk yang kedua kalinya. Apa gue se-enggak jodoh itu sama Paramore, ya?

    Akhirnya dengan hati yang masih ketinggalan di Paramore, gue jalan ke Yogya. Gue ingat betul sore itu gue berada di Hutan Pinus Pengger, menanti matahari terbenam di ujung bukit bersama Daru. Saat itu gue berandai-andai bagaimana rasanya kalau gue ada di ICE BSD, menanti Paramore tampil di panggung.

    Tiba-tiba, banyak notifikasi bermunculan di ponsel gue. Gue pun mengecek WhatsApp dan Direct Message di Instagram. Entah kenapa banyak teman gue yang menghubungi gue saat itu, bahkan teman yang tidak begitu dekat sekali pun. Ternyata mereka memberitahu gue bahwa Paramore batal konser karena kondisi kesehatan Hayley sedang tidak memungkinkan. 

    Asli. Apa ini yang namanya jodoh, ya?

    Hayley Williams itu adalah girl crush gue. Gue begitu mengidolakan dia. Jadi, gue pun turut sedih kalau dia sakit. Tapi, tapi, tapi... gue nggak bisa bohong bahwa kejadian ini membawa harapan buat gue. Hehehe.

    Sekitar satu bulan gue menanti pengumuman jadwal baru untuk konser Paramore di Jakarta. Akhirnya mereka mengumumkan kalau Paramore akan konser tanggal 25 Agustus 2018. Setelah menemukan teman nonton konser, gue pun langsung beli tiket.



    Dan akhirnya... kemarin siang gue tiba di ICE BSD hall 10, bersama Meytri, Angga, dan Lanny. Enam jam kemudian kami sudah memasuki venue.

    Tepat jam delapan malam, Paramore pun berdiri di panggung, di depan gue. Rasanya nggak nyata banget. Di depan gue ada Hayley, Zac, dan Taylor yang selama ini cuma gue lihat dari Youtube.



    Sebagai pembuka, mereka menyanyikan lagu Grudges, salah satu lagu di album kelima mereka, After Laughter. Sehabis lagu Grudges, mereka lanjut menyanyikan Still Into You. Oh my God! Still Into You adalah lagu favorit gue banget banget dari album self titled mereka. Dulu, ya, zamannya lagu ini baru keluar, gue selalu puter setiap saat. Kadang, kalau dengerinnya di kamar, gue sambil joget-joget heboh sendiri karena lagu ini segitu serunya. Haha.


    Di konser kemarin mereka membawakan semua lagu di album After Laughter. Ada juga beberapa lagu unggulan di album lama, seperti That's What You Get, crushcrushcrush, Misguided Ghost, Ain't It Fun, Misery Business, dan Playing God. Mereka juga meng-cover lagu Drake di sesi akustik konser kemarin.

    Bagi gue, selain Still Into You, ada beberapa lagu yang berkesan banget kemarin pas dinyanyiin, yaitu:

    Rose-Colored Boy

    Pecah! Karena opening dan beberapa part lagu ini sendiri diisi sama yelling "low key, no pressure, just hang with me and my weather!" Nah, kebayang, kan, serunya konser kemarin begitu lagu ini dibawain?


    Fake Happy

    Kenapa berkesan? Karena seringkali gue merasa relate dengan lirik lagu ini. Jadi begitu lagu ini dimainkan, gue langsung ikutan nyanyi sepenuh hati.

    "Oh please, don't ask how me how I've been.
    Don't make me play pretend.
    Oh, no. Oh, oh, what's the use?
    Oh please, I bet everybody here is fake happy, too."


    Udah dengerin lagunya? Ya, sekarang mari kita nyanyi bareng "Parapara pap pap! Parapara pap pap!"

    26

    Siapapun gue rasa setuju bahwa lagu ini begitu emosional. Lirik lagu ini aja bagi gue sudah dalam, ya. Kemudian ditambah dengan irama yang syahdu dan dibawakan secara akustik. Duh, 26 kayaknya menjadi lagu galau sekaligus lagu penguat yang sempurna.

    Apalagi, sebelum membawakan lagu ini Hayley pun sempat berbincang santai tentang bagaimana kita harus berjuang menghadapi masalah dan sebagainya. Ini seperti obrolan dari hati. Memang, album After Laughter ini kayak menjadi wadah curhatnya Hayley. Dan lagu 26 mungkin bisa dibilang sebagai lagu curhat yang paling mengena.


    Saat konser kemarin, suasana terasa lebih emosional lagi karena penonton kompak menyalakan flash light dari ponsel mereka. Suasana venue kemarin menjadi sangat cantik begitu lagu ini dibawakan.

    Misery Business

    Lagu ini kayaknya menjadi lagu yang paling bikin pecah kemarin. Seru banget! Apalagi di pertengahan lagu ini Hayley juga mengajak dua penonton ke atas panggung. Satu dari Surabaya, satu dari Malaysia. Gila beruntung banget dua orang itu. Nggak sia-sia terbang ke Tangerang. :)

    Sehabis nonton konser. Muka senang, tetapi tampilan menyedihkan. Haha.
    Sampai siang ini, gue masih merasakan euforia sehabis menonton konser Paramore tadi malam. Penantian tujuh tahun gue berujung manis sekali. And it's not fake happy. I'm truly happy. Ternyata begini, ya, rasanya berjodoh dengan sesuatu yang lo sukai. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi dada gue benar-benar pengap karena rasa senangnya seperti meletup-letup. Haha.

    Semoga gue nggak harus menunggu tujuh tahun lagi untuk menonton konser Paramore selanjutnya. Mungkin dua atau tiga tahun cukup, ya?

    Dan terakhir... ini dua lagu terfavorit (udahlah favorit pakai "ter" juga) yang sayangnya nggak dibawain kemarin: Last Hope dan The Only Exception. Ngomong-ngomong, gue suka sekali dengan versi live lagu Last Hope yang satu ini karena stage act Hayley keren banget di sini!



    Love,



    Continue Reading
    Siapa yang sekarang suka belanja produk lokal? Hayoo... tunjuk tangan! Kalau kamu hobi ngintipin akun Instagram dan beli produk dari brand lokal, berarti kita sama, dong! Hehehe. 

    Semenjak bekerja di salah satu media lifestyle cetak terbesar di Indonesia enam tahun lalu, gue memang mulai tertarik ngikutin berbagai brand lokal Indonesia. Mulai dari baju, sepatu, hingga tas. Menurut gue, produk brand lokal saat ini nggak kalah kece sama brand internesyenel. Baik dari segi desain, maupun kualitas produknya.

    Nah, ngomongin tas, gue juga punya beberapa rekomendasi brand tas lokal. Tentunya gue sudah mencoba membeli dan menggunakan tas tersebut. Tiga brand lokal ini nggak cuma modelnya aja yang oke punya, gue pun berani mengacungkan jempol untuk kualitasnya. 

    Jadi, dari pada kelamaan basa-basi, ini dia tiga brand lokal khusus tas favorit gue hingga saat ini:

    POVILO

    Gue pertama kali tahu brand lokal ini sejak akhir 2016. Saat itu, gue naksir berat dengan model tas POVILO yang minimalis, versatile, dan punya banyak kantong atau kompartemen di dalamnya. Ini penting banget buat orang kayak gue yang isi tasnya mirip tempat sampah saking berantakannya. Haha.

    POVILO biasanya hadir dengan warna-warna netral sehingga mudah dipadupadankan dengan outfit kita, misalnya hitam, cokelat, caramel, dan merah maroon. Berhubung koleksi tas gue itu tidak banyak, maka gue selalu memilih tas dengan warna netral. Jadi, gue nggak perlu pusing mix and match sama koleksi baju gue yang juga sedikit.

    Brand lokal ini sepertinya sangat mengutamakan kualitas tas mereka. Terbukti dari penggunaan bahan berkualitas tinggi, seperti Premium Polyurethane, Ripstop Nylon, dan Ultra-fine Fiber.

    Tas POVILO pertama gue adalah Sada Bag warna hitam. Tas ini memiliki ukuran yang cukup besar. Pas banget buat menampung segala macam peralatan yang gue bawa ke kantor, seperti makeup pouch, kotak bekal, botol minum, dompet, handphone, jurnal, dan tumpukan struk yang suka lupa dibuang. Uniknya, tas ini punya kantong khusus botol minum di bagian dalam. Kayaknya ini buat menjaga agar botol minum tetap tegak, sehingga isinya tidak bocor atau merembes keluar.



    Selain tali pendek yang dijahit langsung dengan tasnya, Sada Bag juga dilengkapi dengan tali panjang tambahan. Jadi, tas ini bisa digunakan dalam dua versi.

    Setelah memiliki Sada Bag yang sudah teruji ketahanannya saat digunakan naik kereta, beberapa bulan kemudian gue membeli Povi Sling warna cokelat dari POVILO. Povi Sling menjadi tas favorit gue buat jalan-jalan hingga saat ini. Biarpun keliatannya kecil, tapi sling bag ini punya banyak kompartemen, yang sekali lagi berguna banget buat orang kayak gue.

    Saking sukanya sama tas dari brand ini, gue selalu merekomendasikan POVILO ke teman-teman terdekat. Jadilah orang-orang di sekitar gue dari berbagai circle pertemanan kini pakainya tas POVILO.

    Masalah harga, tas ini termasuk terjangkau, kok. Harga tas POVILO ini sekitar 350 - 495ribu aja. Sementara, harga card wallet-nya adalah Rp121.000. Menurut gue, harga tersebut worth it dengan model dan kualitasnya.

    Satu hal lagi yang gue suka dari POVILO adalah packaging mereka premium sekali. Tas mereka dibalut dalam sarung tas dan kemudian disimpan di dalam hard box putih polos dengan logo di bagian tutup kotak. Jadi, begitu paket tiba, gue udah langsung happy karena packaging-nya cantik sekali.

    MILORS

    Gue tahu brand lokal yang satu ini saat sedang mampir ke Gramedia, Depok. Gue kan memang suka sekali dengan tas kanvas, ya. Makanya, begitu lihat jejeran tas kanvas di Gramedia, gue pun nggak bisa menolak untuk melihatnya.

    Setelah gue amati, kok tas dari MILORS ini lucu-lucu banget, ya. Salah satu seri tas yang bikin gue naksir berat adalah Arreta Backpack warna abu-abu.

    Kalau nggak ditahan-tahan, rasanya pengen beli saat itu juga. Apalagi, harga tas kanvasnya cukup terjangkau, yaitu sekitar 200 hingga 500ribuan. Tapi, berhubung gue tahu membeli sesuatu secara impulsif akan bermuara ke rasa menyesal, maka gue tahan dulu keinginan gue untuk membeli tas ini.

    Dan benar aja, dong. Ternyata, sepupu gue memberikan tas ini sebagai hadiah ulang tahun gue November lalu. Sejak punya Arreta Backpack, gue selalu menggunakan tas ini ke kantor. Gue nggak pernah gonta-ganti tas lagi semenjak itu. Soalnya, gue sendiri lebih suka menggunakan backpack karena lebih praktis dan nyaman.



    Apalagi, tas ini luar biasa durable. Diajak desek-desekan dan ketarik sana-sini pas naik kereta selama 8 bulan aja masih awet, lho. Gue bahkan nggak melihat tanda-tanda talinya mau putus. Luar biasa, nggak? Gue jadi ingin membeli model tas MILORS lainnya mengingat tas ini gokil banget ketahanannya.

    Oh, ya... walaupun tas ini dari kanvas, tapi di bagian dalam tas diberikan lapisan lagi. Jadi, kalau tiba-tiba hujan turun saat kamu nggak bawa payung, tas ini masih mampu menahan air hujan sehingga nggak langsung merembes ke dalam tas. Tapi kalau diguyur air terus-terusan, tentu aja ujung-ujungnya rembes ke bagian dalam tas juga, lho, ya.

    Setahu gue, tas ini juga memiliki produk lain yang terbuat dari bahan kulit asli. Tapi sepertinya tas kulit mereka nggak dijual di semua store. Berhubung terbuat dari kulit asli, asumsi gue harganya akan jauh lebih mahal dibanding tas kanvasnya. Tapi, kalau kualitasnya oke punya, maka worth the price, kan?

    GORA

    Gue itu suka banget sama hal-hal klasik dan vintage. Makanya, gue seringkali terpikat dengan tas (juga sepatu) dari kulit asli. Sebenarnya, sekarang ada banyak brand lokal yang menghadirkan tas kulit asli. Sayangnya tidak semuanya cocok dengan keinginan gue, baik dari segi model maupun kualitas.

    Tapi, ada satu brand lokal asal Bali yang memroduksi tas kulit asli dengan desain dan kualitas yang top, serta mampu memenuhi ekspektasi gue. Namanya GORA. Brand tas lokal ini memang belum seterkenal brand tas lokal lainnya. Tapi, percaya, deh... untuk urusan kualitas, mereka nggak main-main.

    Tas kulit sapi dari GORA ini juga unik banget. Bagian dalam tas diberikan lapisan kain Endek. Bagi yang belum tahu, Endek merupakan kain tradisional Bali. Jadi, saat melihat tas GORA, kesan pertama gue adalah tas ini Indonesia sekali. Apalagi, nama setiap model tas GORA diambil dari bahasa Sansekerta. Sehingga, aura klasiknya makin terasa.


    Berhubung GORA menggunakan kulit sapi asli berkualitas tinggi, maka harga tas mereka pun terbilang cukup tinggi, yaitu sekitar 700ribu hingga dua jutaan rupiah. Tapi, untuk tas kulit asli berkualitas tinggi yang bisa awet hingga belasan tahun (bahkan puluhan tahun!), maka harga tersebut terbilang sangat wajar, kan?

    Nah, selain tiga brand lokal di atas, gue sebelumnya sempat mengadakan quick survey seputar brand tas lokal favorit di akun Instagram gue. Dari hasil survei tersebut, ini dia beberapa brand lokal lain yang direkomendasikan teman-teman gue:

    - Kalani
    Brand lokal yang satu ini menjual berbagai model tas wanita dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu sekitar 100ribuan saja. Gue sempat ngintip akun Instagramnya. Model tas yang dihadirkan Kalani lucu-lucu sekali, cocok digunakan buat jalan-jalan atau pergi ngumpul bareng teman.

    - Chic and Darling
    Kalau brand lokal ini tak hanya menghadirkan tas saja, tetapi juga laptop case dan pouch. Kebanyakan model tas dari brand ini menggunakan material kanvas. Walaupun bentuk asli tasnya sederhana, tapi brand ini membuat tampilan tas menjadi lebih unik dan modern dengan menambahkan motif kekinian atau tulisan tertentu pada koleksi tasnya.

    Untuk masalah harga, Chic and Darling menjual produknya mulai dari Rp95.000 hingga Rp315.000.

    - Visval
    Brand tas lokal yang satu ini memroduksi koleksi tas berdesain kasual yang cocok digunakan untuk traveling atau sekadar kongkow bareng teman-teman. Model tas yang mereka hadirkan pun cukup banyak, mulai dari tote bag, backpack, waist bag, sling bag, dan masih banyak lagi. Harga tasnya sendiri berkisar dari Rp89.000 hingga Rp349.000. Cukup terjangkau, kan?

    Kalau dipikir-pikir, pertumbuhan brand lokal Indonesia sekarang berkembang pesat aja, ya. Dengan banyaknya brand lokal dan kesadaran masyarakat Indonesia untuk membeli produk lokal, gue berharap perekonomian di Indonesia akan meningkat ke arah yang lebih baik.

    Balik lagi ngomongin tas, kamu sendiri punya nggak brand tas lokal favorit? Kalau ada, rekomendasikan brand lokal favoritmu di kolom komentar, yuk!


    xx,


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top