Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Beberapa waktu lalu, gue nonton film dokumenter berjudul "Minimalism: A Documentary About the Important Things" yang direkomendasikan teman kuliah gue, Zelda. Dari judulnya, pasti kita sudah bisa menebak apa yang dibahas dalam film ini. 

    Iya, betul. Tentang hidup minimalis, alias hanya memiliki sedikit barang yang benar-benar kita butuhkan.

    Ngomongin konsep minimalis, sebenarnya gue sudah lama tertarik untuk mengaplikasikannya ke dalam hidup gue. Hanya saja, prosesnya ternyata enggak semudah itu. Apalagi untuk jiwa-jiwa yang masih banyak mau dan kadang iri melihat rumput tetangga yang kelihatannya lebih hijau, kayak gue.

    Selain itu, dulu gue memiliki kecenderungan hoarding, atau menimbun barang-barang yang sebenarnya belum tentu masih terpakai. Kecenderungan ini juga dimiliki oleh orang tua gue. Jadi, mungkin memang kebiasaan ini menular dan menurun ke gue.

    Bahkan, hingga sekitar empat tahun lalu, gue masih memiliki tumpukan soal ujian dari zaman SMP hingga kuliah, berlembar-lembar kertas file bergambar lucu hasil tukeran dengan teman semasa SD, juga buku-buku pelajaran dari SD hingga kuliah. Semuanya gue letakkan di atas lemari pakaian di kamar gue.

    Buat apa gue mengumpulkan barang-barang tersebut? Buat nostalgia aja.

    Dulu, gue menciptakan semacam keterikatan dengan barang-barang yang gue miliki. Bagi gue, setiap barang menyimpan cerita. Itu sebabnya gue mengumpulkan semua barang yang memiliki jejak masa lalu gue. Sayangnya, meski barang yang gue miliki terus bertambah, ukuran kamar gue ya segitu-gitu aja, begitu pun ukuran lemari pakaian dan rak di kamar gue.

    Source

    Perlahan, kamar gue terasa penuh. Ditambah lagi, sejak bekerja, waktu gue buat merapikan kamar semakin sedikit. Saat akhir pekan, gue lebih memilih untuk me time dibanding membersihkan tumpukan jejak masa lalu di atas lemari pakaian. Alhasil, debu menumpuk dan alergi gue pun sering kambuh. Kamar gue tidak lagi menjadi tempat beristirahat yang nyaman.

    Dari situlah, gue memutuskan untuk membuang barang-barang di kamar gue. Apakah gue langsung membuang semuanya? Enggak. Proses melepaskan tidak semudah itu, Sayang.

    Di awal proses decluttering, sekitar empat tahun lalu, gue hanya menyumbangkan kertas ujian zaman SMP hingga SMA ke tukang sayur dekat rumah dan buku-buku pelajaran SD hingga SMA ke tukang loak. Dari situ, kamar gue perlahan mulai terasa sedikit lebih lapang. Setidaknya, tumpukan file plastik di atas lemari mulai berkurang.

    Apakah prosesnya berhenti di situ? Tentu tidak. Proses decluttering memang sempat berjalan lambat sekali. Tetapi, sejak sedikit membaca mengenai konsep minimalisme dan mengenal Marie Kondo dua tahun lalu, gue jadi rutin melakukan decluttering. Mengutip kata-kata Marie Kondo, I only keep things that spark joy.

    Gue akhirnya menyumbangkan sisa kertas ujian dan buku kuliah. Sekarang, bagian atas lemari pakaian gue tidak ada lagi tumpukan file plastik, yang ada hanyalah matras yoga.

    Setelah selesai melepaskan tumpukan soal ujian dan buku pelajaran, gue beralih ke lemari pakaian. Setelah gue amati, ternyata ada banyak sekali baju yang sudah lama tidak terpakai dan tidak ingin gue pakai lagi. Kenyataannya, semakin bertambah usia, gue lebih mementingkan kenyamanan, sehingga baju yang gue pakai ya itu lagi, itu lagi.

    Akhirnya, gue mengosongkan hampir setengah isi lemari dan menyumbangkan baju yang masih bagus dan layak pakai. Kegiatan decluttering isi lemari ini rutin gue lakukan setiap tiga atau empat bulan, terutama jika ingin membeli baju baru. Prinsipnya, kalau ada baju yang masuk, maka harus ada baju yang keluar.

    Proses decluttering ini sebenarnya secara enggak langsung juga meningkatkan kualitas hidup gue. Bisa dibilang, tingkat impulsivitas gue saat belanja menurun cukup jauh sejak mencoba hidup lebih minimalis. Tiap ingin membeli barang, pasti gue berpikir berulang kali. Mau ditaruh di mana barangnya? Atau, apakah gue memang benar-benar butuh dengan barang tersebut? 

    Makanya, sekarang proses belanja gue bisa membutuhkan waktu berhari-hari karena kebanyakan mikir. Gue bisa berpikir lima hari lamanya hanya untuk membeli lipstik. Enggak usah dibayangkan berapa waktu yang gue habiskan untuk berpikir saat ingin membeli barang yang lebih mahal. Meski begitu, gue tetap impulsif saat membeli jajanan, hehehe. Jadi, ya, mungkin itu jadi pekerjaan rumah gue selanjutnya.

    Intinya, proses decluttering ini beneran mengubah hidup gue ke arah yang lebih baik. Memulainya memang sangat sulit karena lagi-lagi... proses melepaskan tidaklah mudah. Apalagi melepaskan sesuatu yang telah lo berikan "nilai" di dalamnya. Tapi, begitu mencoba pertama kali, proses selanjutnya akan jauh lebih mudah.

    Gue pun tidak akan berhenti di sini, sih. Menurut gue hidup minimalis mampu mengurangi stress dalam hidup gue. Jadi, pelan-pelan gue akan mencoba menerapkan konsep ini lebih jauh lagi, sembari mengeliminasi apa yang terasa berlebihan di hidup gue.

    Gimana dengan kalian? Tertarik mencoba gaya hidup minimalis juga?


    Ciao!



    Continue Reading
    Hai! Apa kabar hari ini?

    Rasanya tidak apa-apa dibuka dengan menanyakan kabar dulu, ya? Mengingat, kita semua paham betul bagaimana tahun 2020 menggempur kita tak berkesudahan. Jika di akhir 2019 gue bilang bahwa tahun tersebut ibarat bermain rollercoaster dengan track yang lebih menantang, maka track yang diberikan 2020 berada pada level lain. 2019 jadi terlihat enggak ada apa-apanya.

    Energi gue seperti diserap terus menerus. Terkadang gue ingin bilang, "Sebentar, sebentar. Boleh tekan tombol pause dulu untuk mengambil nafas?"

    Di masa seperti ini, sesungguhnya akan lebih menenangkan jika bisa bertatap muka dan berbincang dengan keluarga dan teman terdekat. Gue membayangkan betapa menyenangkannya bermain dengan sepupu gue yang mulai memasuki usia praremaja, bercerita selepas kerja bersama teman terdekat di cafe favorit kami di daerah Tebet, atau bercanda sembari bekerja bersama teman-teman satu tim.

    Sayangnya, saat ini, cara kita menunjukkan rasa sayang bukan dengan berdekatan, tapi berjauhan. Pelukan pun saat ini bisa saja menjadi senjata berbahaya. Kalau dipikir-pikir, ini ironis banget, ya?


    Ditambah lagi, sekarang kita semua dianjurkan tetap diam di rumah dan benar-benar membatasi aktivitas di luar. Bahkan, ini sudah memasuki minggu ketiga gue berdiam di rumah aja. Selama tiga minggu ini, gue cuma keluar rumah dua kali, yaitu ke Alfamart. Itu aja udah buat gue luar biasa senangnya.

    Tentu gue tidak bermaksud mengeluh karena harus diam di rumah saja. Bagaimana pun, gue mengamini sebuah cuitan yang gue temukan di Twitter beberapa waktu lalu, yaitu:

    "You're not stuck at home. You're safe at home."

    Gue sadar bahwa gue harusnya bersyukur memiliki privilege ini. Sementara, masih banyak orang yang ingin merasa aman dengan diam di rumah saja, tapi tidak bisa. Ada tanggung jawab lebih besar yang harus mereka penuhi, dan caranya adalah dengan berjuang di luar rumah.

    Tapi, gue pun juga tidak bisa serta merta mengacuhkan perasaan sendiri. Dari yang biasanya rutin beraktivitas di luar rumah, kini harus berdiam saja di dalam rumah. Sepertinya, bukan cuma gue yang merasa tergerus kewarasannya pelan-pelan dengan hal ini, juga semua hal yang terjadi dalam empat bulan terakhir.

    Gue sadar bahwa gue tidak baik-baik saja. Apalagi di minggu-minggu awal, di mana asam lambung gue sempat kambuh selama satu minggu disertai sesak nafas. Gue sadar betul bahwa kecemasan gue meningkat, juga mudah sekali terpicu akhir-akhir ini.

    Beberapa kali gue merasa tidak bersemangat melakukan apa pun. Terkadang gue begitu tidak menyukai hujan yang turun karena membuat suasana hati gue semakin gloomy.

    Enggak bohong, gue terkadang pesimis. Gue seringkali bertanya-tanya apakah gue mampu mengatasi ini dengan baik atau apakah semua akan berjalan seperti yang gue inginkan. Lebih parahnya, terkadang saat tingkat kecemasan gue sedang naik-naiknya, gue bertanya: apakah gue mampu bertahan?

    Kepala dan hati gue terkadang terlalu 'ramai' dan beberapa kali gue tidak bisa mengatasinya dengan baik. Yang jelas, gue tahu, gue enggak sendiri. Iya, kan? Please, say yes. :)

    Tapi, gue enggak mau membiarkan kewarasan gue terus tergerus. Mental gue harus tetap sehat, agar fisik gue pun kuat. Imunitas yang tinggi adalah sesuatu yang kita semua perlukan saat ini.


    ***

    Itu sebabnya gue berusaha mencari cara untuk self healing. Misalnya dengan memusatkan perhatian gue sepenuhnya untuk bekerja selama jam kantor. Meskipun gue enggak paham, apakah bekerja itu dikategorikan sebagai self healing atau pelarian semata. Yang jelas, selama sembilan jam gue bisa berhenti memikirkan hal-hal aneh.

    Ditambah lagi, gue memiliki teman-teman satu tim yang sangat solid dan manis. Enggak ada yang lebih menghangatkan hati dibanding ucapan terima kasih yang kami ucapkan satu sama lain, setelah bekerja 9 hingga 10 jam nyaris tanpa jeda.

    Jadi, jika ditanya apakah bekerja itu menjadi penyembuhan atau pelarian, mungkin jawabannya dua-duanya. Rekan kerja gue selalu berhasil membuat suasana kerja menjadi menyenangkan, baik saat kami semua berkumpul di kantor, maupun saat harus bekerja berjauhan seperti sekarang ini.

    Meski sudah dipakai bekerja selama sembilan jam, ternyata gue masih punya banyak waktu luang. Maka, gue memutuskan untuk mengisinya dengan hal-hal yang gue sukai. Rasanya semua pasti setuju bahwa melakukan hal yang lo suka itu menenangkan dan menyembuhkan.

    Gue pun kembali mewarnai buku bertema Secret Garden yang gue beli di akhir tahun 2015. Empat tahun berlalu, dan baru kali ini gue berhasil mewarnai satu halaman penuh.


    Gue mengisi hari-hari gue dengan menonton drama Korea terbaru atau serial Friends. Bahkan, gue bisa menamatkan drama Korea dalam tiga hari saja, sebuah 'pencapaian' yang tak mungkin terjadi saat gue bekerja di kantor dan menghabiskan waktu di jalan lebih dari tiga jam setiap harinya.

    Gue bisa bekerja sambil bernyanyi keras-keras. Setelah bekerja bahkan gue punya cukup banyak waktu untuk bermain gitar atau membuat cover lagu. Lagi-lagi, ini hal yang enggak bisa gue lakukan jika bekerja di kantor.

    Yang lebih menyenangkan lagi, gue memiliki banyak waktu untuk menulis kapan pun gue butuh. Seperti saat ini, misalnya. Buat gue, menulis itu menyembuhkan. Maka inilah yang gue lakukan saat kepala rasanya carut marut.

    ***

    Bekerja dan melakukan me time memang cukup membantu gue merasa hidup dan kembali bersemangat. Tapi, masih ada rasa mengganjal. Ada yang salah dan gue enggak tahu itu apa. Ada bagian dalam diri gue yang masih kusut, tapi gue enggak tahu di mana letaknya.

    Akhirnya, gue pun mengikuti saran Daru untuk meditasi. Kebetulan, Rollover Reaction mengadakan sesi meditasi bersama Pishi di Instagram Live mereka. Gue rasa ini bukan kebetulan, tapi semesta memang sedang memberikan jawaban.

    Maka, gue pun mengikuti sesi meditasi untuk pertama kalinya. Baru memasuki beberapa menit awal gue merasa dada gue sudah berat, mata pun rasanya panas. Gue enggak paham apa yang terjadi, tetapi begitu sesi meditasi berakhir, I started crying for about 15 minutes. Setelah itu, semuanya terasa sangat ringan.

    Pishi bilang, menangis adalah salah satu proses penyembuhan dan mungkin itu benar.

    Satu atau dua hari kemudian gue kembali mengikuti sesi meditasi Pishi, kembali menangis di sela-sela meditasi, dan kembali merasa ringan setelahnya.


    Apakah perjalanan gue menjaga kewarasan berhenti di sini? Tidak. Gue juga membatasi diri membaca berita. Katanya membaca itu jendela dunia, tapi kok gue malah membatasi diri dari dunia?

    Karena memang jendela itu ada waktunya untuk ditutup, Kak. Dalam kasus gue, terlalu banyak terpapar pemberitaan mengenai corona ternyata membuat gue cemas luar biasa. Itu sebabnya gue lebih banyak menutup jendela gue akhir-akhir ini.

    Gue tidak terlalu banyak mencari tahu, hanya seadanya saja. Gue pun tidak terlalu banyak membicarakannya, hanya sesekali saja. Dalam masa seperti ini, dibanding tahu ini itu, gue lebih butuh mempertahankan kewarasan.

    Nanti, jika yang kusut sudah kembali lurus, yang berantakan sudah kembali rapi, perlahan gue buka lagi jendelanya. Gue cari tahu lagi dengan kepala yang lebih ringan, dengan hati yang lebih kuat. Sementara, gue bertahan dulu. :)

    Semoga kalian pun masih semangat bertahan hingga saat ini, ya. Jika mulai merasa hilang arah, please lakukan sesuatu untuk tetap berada pada jalur yang benar. Tidak perlu berulang kali berkata lo tidak apa-apa jika kenyataannya tidak seperti itu. Jangan terjebak toxic positivity.

    Sadari apa yang kalian rasakan. Lalu pahami, dan cari solusinya.

    Mari kita saling mendoakan semoga badai ini cepat berlalu dan kita bisa kembali bercengkrama satu sama lain... seperti sedia kala. Bagaimana pun, gue (dan juga kita semua) pastinya enggak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini.

    Tapi, as cliché as it may sound...

    ... this too shall pass.





    Continue Reading
    Siang itu, di tengah rutinitas yang kadang membuat gue bosan (tapi gue cinta juga), tiba-tiba ada satu notifikasi di WhatsApp gue. Pesannya dari seseorang yang bahkan sudah lama tidak berkomunikasi dengan gue. Isinya kurang lebih kayak gini:

    "Mba valine boleh bilang lagi selama 6 tahun kerja dpt atasan cewek lagi br beberapa bulan ini. Dan mba valine tetap memegang posisi yg terbaik."



    Ada jeda beberapa detik sebelum gue kembali mengambil nafas. Mata gue rasanya panas. Jadilah gue selama beberapa menit mati-matian nahan air mata yang nyariiis keluar. Seumur-umur, gue nggak pernah menyangka akan mendapat apresiasi segini besarnya. Pun, di satu sisi gue merasa bahwa gue tidak melakukan hal sebesar itu.

    Gue ingat-ingat lagi. Saat bekerja bareng dia, usia gue masih 27 tahun. Ilmu gue belum seberapa. Secara kepribadian, gue pun belum cukup dewasa. Maka yang bisa gue tawarkan ke tim gue saat itu adalah menjadi teman diskusi. Kami belajar bersama, dan gue harap kami tumbuh bersama.

    Sungguh, bukanlah maksud gue menyombongkan ini. Hanya saja, pesan singkat di siang itu benar-benar membuat gue tersentuh, tepat di saat gue lagi-lagi meragukan diri gue. Kata orang, kita enggak boleh larut dalam pujian karena itu bisa menjadi awal keterpurukan.

    Tapi, tenang. Pesan singkat itu akan gue jadikan pengingat untuk bekerja sebaik mungkin, seikhlas mungkin. Sepertinya memang benar apa kata buku NKCTHI, "semua yang dikerjakan sepenuh hati pasti sampai ke hati lain".



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top