Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Selain podcast Thirty Days of Lunch, salah satu penyelamat hidup gue sejak akhir tahun 2018 lalu adalah Purivera Botanicals Evening Primrose Oil Serum. Yak, panjang banget namanya, Jenderal! Tapi, alhamdulillah serum oil ini tak membutuhkan waktu panjang untuk mengenyahkan jerawat yang tiba-tiba muncul dengan brutalnya di wajah gue.

    Oke, gue sedikit berlebihan.

    Sebenarnya nggak sebrutal itu. Tapi cukup bikin gue panik karena seumur hidup gue, gue hampir tidak pernah memiliki masalah dengan jerawat. Iya, gue memang terkadang suka jerawatan saat menstruasi. Tapi setelah itu, sudah. Urusan kelar.

    Beda sekali dengan apa yang terjadi pada gue sejak sekitar Agustus 2018 lalu. Tiba-tiba aja jerawat tumbuh di wajah gue terus-terusan, bahkan saat sedang tidak menstruasi. Mati satu, tumbuh lagi. Kadang bisa tiga jerawat sekaligus yang tumbuh. Kadang jerawat bermata, tapi lebih sering jerawat tanpa mata yang kalau nggak sengaja kesentuh sakit sekali rasanya.


    Gue mulai mencari-cari penyebab munculnya jerawat secara terus menerus ini. Apakah karena over exfoliate? Apakah karena tingkat stress gue sedang tinggi-tingginya? Apakah karena makanan? Apakah gue kualat karena sempat berkata bahwa kulit wajah gue kayak kulit badak? Atau ini disebabkan hormon karena usia gue sudah memasuki late 20s? 

    Asli, gue nggak tahu penyebab persisnya sama sekali. Hipotesis gue akhirnya berujung pada dua hal: stress dan over exfoliate karena saat itu gue lagi rajin nyoba produk eksfoliasi.

    Akhirnya, karena permasalahan jerawat ini nggak kunjung usai, langkah pertama yang gue ambil adalah berhenti menggunakan exfoliating toner. Apakah kemudian kulit wajah gue membaik? Oh, tidak semudah itu, Beb.

    Jerawat masih muncul. Gue makin stress.

    Nah, di tengah peperangan gue dengan ‘musuh baru’ ini, tiba-tiba Rara kasih info salah satu brand skincare lokal yang mengeluarkan berbagai produk oil. Namanya Purivera Botanicals. Berdasarkan rekomendasi Rara, akhirnya gue mulai mencari tahu mengenai produk ini.


    Menurut info yang diberikan Purivera Botacinals, Evening Primrose Oil ini mengandung Gamma Linoleic Acid (GLA). Asam gamma-linolenat ini ternyata berfungsi untuk mengatasi masalah peradangan pada kulit. Selain itu, GLA juga mampu mengembalikan keelastisitasan kulit.

    Karena memiliki kandungan ini, makanya Evening Primrose Oil dari Purivera bisa merangsang kolagen, menyeimbangkan kandungan minyak dan sebum di wajah, mengatasi masalah hiperpigmentasi pada kulit, serta mengurangi bengkak dan kemerahan akibat jerawat.

    Pas banget, kan, untuk permasalahan hidup kulit wajah gue?

    Akhirnya, gue pun memutuskan untuk membeli varian Purivera Evening Primrose Oil melalui Shopee. Harganya adalah Rp80.000,- untuk ukuran 30 mL. Termasuk terjangkau, bukan?

    Sejujurnya, gue cukup amazed dengan servis yang diberikan Purivera di Shopee. Begitu gue selesai melakukan pembelian, admin Purivera Botanicals langsung menghubungi gue melalui fitur chat di Shopee. Di sana, admin menjelaskan cara menggunakan oil ini, waktu kedaluwarsa, dan beberapa hal penting yang harus diketahui pengguna. Satu poin plus untuk Purivera Botanicals.

    Beberapa hari kemudian, produk ini tiba dan langsung gue pakai sebelum tidur. Sesuai petunjuk dari admin, gue meneteskan oil di telapak tangan lalu menggosoknya terlebih dahulu, baru meratakannya di wajah. Gue sendiri hanya menggunakan 2-3 tetes saja untuk satu wajah.

    Satu hal yang gue nggak suka dari oil ini adalah baunya nggak enak banget. Serius. Sebenarnya hal ini sudah diinfokan Purivera Botanicals, tapi tetap saja baunya bikin gue sempat malas menggunakannya.


    Untungnya, walaupun baunya kurang menyenangkan, Evening Primrose Serum Oil ini ternyata beneran ampuh untuk mengurangi bengkak akibat jerawat. Sejak pertengahan September 2018 lalu, gue cukup rutin menggunakan produk ini, makanya gue berani bilang kalau Evening Primrose Serum Oil benar-benar bisa menjadi penyelamat hidup gue.

    Biasanya, jerawat tanpa mata itu paling susah kempesnya, bahkan bisa sampe 10 hari bertengger di wajah. Tapi, begitu gue menggunakan Evening Primrose Oil ini, jerawat tanpa mata sudah mulai kempes di hari ketiga. Untuk jerawat tanpa mata yang ukurannya lebih kecil, bahkan bisa kempes total keesokan harinya. Sementara, untuk jerawat yang bermata, oil ini bisa membuatnya lebih cepat matang.

    Tapi, apakah oil ini bisa mencegah datangnya jerawat? Sayangnya, berdasarkan pengalaman gue, jawabannya adalah tidak. Jerawat masih suka datang tiba-tiba. Hanya saja, Evening Primrose Oil ini mampu mengusir jerawat lebih cepat dari wajah gue. Jadi, sekarang gue tidak terlalu stress memikirkan jerawat yang sering mampir di wajah berkat si Evening Primrose Oil ini.

    Setidaknya, kalau si jerawat tiba-tiba datang, gue sudah punya pawangnya.

    Tentunya, selain menjadikan produk ini sebagai tameng, gue juga tetap mencoba cara lain agar si jerawat nggak terlalu sering mampir di wajah gue. Misalnya dengan lebih berhati-hati saat menggunakan skincare atau belajar mengelola stress.

    Ciao!









    Continue Reading
    Selamat tahun baru!

    source
    Gue merasa tahun 2018 berlalu dengan cepat sekali. Cepat dan ganas. Tahun 2018 adalah tahun babak belur gue secara mental. Selama setahun belakangan, gue sempat pesimis karena merasa salah langkah dan berakhir pada jalan buntu. Gue juga merasa bahwa sudah terlambat untuk mewujudkan mimpi-mimpi gue di usia segini. Kadang gue pengen nyerah aja.

    Di tengah kebimbangan tersebut, gue pun memilih untuk lebih banyak berbincang dan bertukar pikiran dengan teman-teman gue. Gue memperbanyak obrolan yang berfaedah. Misalnya, dari Daru gue tau tentang podcast Thirty Days of Lunch yang banyak membahas topik-topik menarik dan membangun. Gue juga mulai membatasi diri gue dari segala macam obrolan yang berbau keluhan, omelan, dan semacamnya.

    Pada akhirnya, perbincangan-perbincangan dengan teman-teman tersebut membawa gue ke titik yang baru. Gue kembali bersemangat dan berpikir positif. Dari sinilah gue sadar bahwa penting sekali memiliki lingkungan yang positif.

    Setelah mendengar podcast Thirty Days of Lunch dan podcast lainnya di Inspigo, menjejali diri dengan pengetahuan baru dari beberapa akun Instagram yang gue ikuti, juga saling menyuntikkan hal-hal positif dengan Daru, perlahan gue menemukan semangat yang sempat padam.

    Gue seperti mendapat aufklärung, alias pencerahan.

    Gue pun mulai membeli dan membaca buku kembali. Gue mulai menyusun mimpi-mimpi dan rencana untuk mewujudkannya. Gue kembali bersemangat sebelum "toxic" resmi menjadi nama tengah gue.

    Setelah melalui tahun 2018 yang cukup berliku, gue akhirnya memutuskan untuk membuat resolusi di tahun 2019 ini. Gue sudah lama sekali tidak membuat resolusi, sepertinya terakhir tahun 2015. Kenapa akhirnya gue memutuskan membuat resolusi? Karena gue mau mencoba memperbaiki kesalahan gue. Gue sadar bahwa gue telat menyia-nyiakan waktu gue di tahun 2018 karena terlalu fokus dengan rasa tidak nyaman gue.

    Akhirnya, gue pun mulai membuat resolusi sespesifik mungkin. Iya, bukan sekadar #2019JadiOrangKaya atau #2019LebihBahagia. Tapi, gue menyusun resolusi yang tolak ukurnya jelas, sehingga gue bisa menimbang langkah apa yang harus gue ambil untuk mewujudkannya.

    Lalu apakah resolusi gue tahun ini? Gue tidak akan menuliskannya sekarang. Mungkin nanti akan gue tulis di sini saat resolusi gue sudah terwujud. Yang jelas, gue tahu bahwa mewujudkan resolusi itu tidak akan mudah,tapi gue akan berusaha sekuat tenaga.

    2018 mungkin adalah tahun yang gelap buat gue. Tapi, bintang yang indah aja baru terlihat di langit yang gelap, bukan? Dengan kata lain, di balik suramnya kehidupan gue kemarin, ternyata terselip pengalaman dan hal menarik yang bisa gue nikmati dan syukuri. Salah satunya adalah menyadari tujuan hidup gue.

    Jadi, selamat bermimpi, teman-teman. Seperti kata Walt Disney, "All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them".






    Continue Reading
    Saat akan traveling, budget sudah pasti jadi hal pertama yang dipikirkan. Benar, nggak? Ada kalanya, budget juga jadi penghalang untuk traveling karena dirasa terlalu mahal. Padahal, budget traveling sebenarnya bisa diutak-atik sedemikian rupa agar lebih hemat dan ramah di kantong para Sobat Misqueenku. :p

    Nah, buat kamu yang ingin traveling ke Thailand, tapi masih maju-mundur karena mikirin budget, gue punya trik hematnya. Berapa, sih, perkiraan budget ke Thailand? Lalu, bagaimana caranya agar traveling ke Thailand bisa lebih murah?

    Berikut ini kisaran biaya yang gue keluarkan selama enam hari lima malam di Thailand, serta cara hemat gue selama trip ke Negeri Gajah Putih tersebut.

    Tiket Pesawat ke Thailand

    Bukan rahasia lagi kalau trik mendapat tiket pesawat murah adalah dengan membelinya dari jauh-jauh hari. Selain itu, kamu juga bisa mengunjungi travel fair. Di sini, kamu bisa membeli tiket pesawat dengan harga lebih murah. Karena harganya murah, maka travel fair itu selalu padat pengunjung. Jadi, bersiaplah!

    Cara lainnya adalah mem-follow akun-akun online travel agent (OTA) di media sosial. Akun-akun ini sering memberikan info dan promo tiket pesawat murah dadakan. Akan tetapi, pastikan kamu mem-follow akun yang benar-benar terpercaya, ya.

    Gue sendiri merencanakan perjalanan ke Thailand hanya dalam waktu tiga bulan. Jadi, agak sulit mendapatkan tiket pesawat yang benar-benar murah. Alhasil, gue membeli tiket pp Thailand seharga Rp1.830.000. Padahal, sebelumnya gue sempat melihat harganya sekitar 1,1 jutaan saja.

    Tapi... kalau kami beli tiket pesawat di situs e-Commerce besar seperti Blibli atau Traveloka, kamu bisa memanfaatkan promo khusus dari mereka, lho. Nah, kalau kamu pengguna Gojek, kamu juga bisa tukar poinmu dengan voucher diskon di beberapa e-Commerce. Lumayan banget, deh, buat ngurang-ngurangin harga tiket pesawat.

    Penginapan di Thailand

    Penginapan murah di Thailand itu ada banyak sekali. Apalagi di daerah-daerah favorit turis, seperti Khaosan Road dan Pratunam. Saat ke Thailand awal November lalu, gue menginap di dua tempat, yaitu MovyLodge Hostel dan Parkview Ratchaprapop.

    MovyLodge Hostel terletak di daerah Pratunam, hanya tiga menit dari BTS Ratchathewi. Di hostel ini, gue menginap selama tiga hari dua malam bersama Kak Echa dan Keke. Kami bertiga memesan kamar tipe kapsul khusus wanita. Jadi, dalam satu ruangan, ada 16 kapsul dan 16 loker. Kamar mandinya sendiri terletak di luar kamar dan digunakan bersama-sama.

    Harga yang harus kami bayar untuk menginap dua malam adalah Rp753.219. Jadi, setiap orang dikenai biaya sekitar Rp125.000 per malam. Dengan harga segitu, kami juga dapat sarapan gratis dari hostel. Lumayan banget, kan?



    Dari MovyLodge, kami pindah penginapan ke Parkview Ratchaprapop yang terletak tak jauh dari BTS Victory Monument. Kali ini kami memesan satu kamar untuk bertiga. Jadi, akan terasa lebih nyaman karena tak harus berbagi space kamar dan toilet.

    Kami menginap di sini selama tiga malam. Total biaya yang harus dikeluarkan adalah sekitar Rp1.220.000,-. Itu berarti, tiap orang harus membayar sekitar Rp135.000,- per malam.

    Nah, bagaimana caranya gue bisa mendapat harga semurah ini untuk memesan private room? Jawabannya adalah dengan menggunakan promo dari Airbnb. Saat memesan penginapan kemarin, kami mendapat potongan harga $32 atau sekitar Rp465.000. Mau dapat promo ini juga? Kalian bisa mendapatkannya di sini.

    Internet di Thailand

    Bagi gue, koneksi internet itu wajib nyala di mana pun gue berada. Bukan, tujuan utamanya bukan biar bisa terus eksis di media sosial. Soalnya, eksis di media sosial itu adalah tujuan kedua gue. Haha.

    Koneksi internet itu sangat membantu saat gue traveling ke Thailand kemarin. Gue bisa dengan mudah mengakses Google Maps ketika ingin pergi ke berbagai destinasi wisata. Jadi, gue dan teman-teman bisa tenang berjalan ke sana kemari tanpa takut nyasar.


    Agar internet tetap nyala, kamu bisa sewa pocket WiFi, aktifkan paket data luar negeri dari provider telepon yang kamu pakai, atau beli kartu SIM lokal Thailand. Gue dan teman-teman pilih cara ketiga.

    Sebelum berangkat ke Thailand, kita beli SIM Card merek dtac melalui Klook karena harganya lebih murah. Untuk kartu SIM dengan paket data 3 GB selama 8 hari, serta pulsa telepon 100 Baht, kami hanya perlu membayar sekitar Rp60.000-an saja.

    Transportasi Selama di Thailand

    Thailand itu sama kayak Jakarta: di mana-mana macet. Beneran, deh, macetnya Thailand itu suka nggak santai banget!


    Makanya, transportasi yang paling nyaman digunakan adalah BTS dan MRT. Saat di Thailand kemarin, gue lebih banyak menggunakan BTS. Harga tiket BTS sekali jalan dimulai dari 16 Baht. Kalau kalian lebih sering menggunakan BTS setiap harinya, gue sarankan untuk membeli tiket One-Day Pass di Klook agar lebih hemat.



    Selain naik BTS, gue juga sering menggunakan Grab Car ke mana-mana. Karena kami bertiga, maka ongkos yang kami keluarkan terkadang lebih murah jika menaiki Grab Car. Apalagi kartu SIM merek dtac juga memberikan potongan harga 100 Baht untuk lima kali perjalanan. Promo ini hanya berlaku untuk pengguna baru Grab saja.

    Taxi, bus, dan tuktuk juga bisa menjadi transportasi alternatif saat di Thailand. Jika kamu ingin menaiki taksi, mintalah pengemudi untuk menyalakan argo. Selain itu, bukalah Google Maps untuk memastikan kalau kamu berada di jalan yang tepat dan tidak diputer-puterin oleh pengemudi taksi.


    Sementara, kalau kamu ingin menaiki tuktuk, maka bersiaplah untuk melakukan tawar menawar dengan pengemudinya. Untuk bus sendiri, pemerintah Thailand telah menyiapkan tempat naik turun bus yang ditandai dengan plang khusus. Jadi, kamu tidak bisa sembarangan naik atau turun bus, ya.


    Makanan Thailand

    Thailand juga terkenal dengan camilan dan makanan yang unik dan enak. Misalnya tomyum, pad thai, mango sticky rice, es krim kelapa, dan masih banyak lagi. Harga camilan biasanya sekitar 50 Baht saja. Namun, untuk makan besar, harganya cukup bervariasi. Jadi, kamu bisa menyesuaikannya dengan budget yang kamu miliki.


    Salah satu tempat makan murah dan enak di Thailand adalah food court Platinum Fashion Mall. Di sini, kamu bisa makan besar mulai dari 50 Baht saja. Yang lebih penting, di sini juga ada penjual makanan dengan logo halal.

    Selain Platinum Fashion Mall, area pasar seperti Chatuchak dan Neon Night Market juga menjual makanan dan camilan dengan harga yang murah.

    Kiri-kanan: es krim kelapa, mango sticky rice, dan roti nutella
    Kiri-kanan: telur goreng dan fried squid egg dengan sambal asam pedas
    Atau, kamu juga bisa sesekali membeli makanan di 7-Eleven untuk lebih berhemat. Di 7-Eleven sendiri kamu bisa menemukan berbagai makanan siap saji, seperti burger, sandwich, dan nasi dengan berbagai pilihan lauk pauk.

    Saat di Thailand kemarin, gue menghabiskan sekitar Rp900.000-an untuk makan berat dan jajan camilan khas Thailand.

    Tiket Wisata Thailand

    Tiket wisata biasanya cukup banyak menghabiskan biaya. Misalnya saja, saat ke Thailand kemarin, salah satu tiket wisata yang harganya lumayan mahal adalah LINE Village. Nah, untungnya, tiket LINE Village ini bisa dibeli dengan harga lebih murah di Klook.


    Harga tiket LINE Village di Klook hanya sekitar Rp400.000-an saja, lebih murah dibanding membeli tiket on the spot. Apalagi, Klook juga suka memberikan promo. Jadi, kamu bisa membeli tiket wisata dengan harga lebih murah lagi.

    Selain tiket LINE Village, kamu juga bisa menemukan tiket wisata Thailand lainnya di Klook. Mulai dari pertunjukan Niam Siramit, Madame Tussauds, SEA LIFE Bangkok Ocean World, dan sebagainya.

    Tapi, ada sejumlah tiket yang harus dibeli langsung di lokasi. Misalnya saja, tiket masuk Wat Arun seharga 50 Baht, tiket Wat Pho seharga 100 Baht, atau tiket Santorini Park seharga 150 Baht.



    Selain enam hal di atas, kamu juga harus menyiapkan budget untuk belanja. Apalagi, Thailand terkenal dengan harga baju yang murah sehingga bisa membuatmu kalap belanja. Untuk penyuka makeup dan skincare, kalian juga harus menyiapkan diri (dan tabungan) karena produk mekap dan skincare di Thailand sungguhlah lucu dan variatif sekali.

    Kalau dijumlahkan, gue dan teman-teman menghabiskan kurang dari lima juta rupiah untuk traveling ke Thailand selama enam hari lima malam. Lebih tepatnya, kami hanya menghabiskan sekitar Rp4,6 jutaan, di luar biaya belanja.

    Biaya ini tentunya masih bisa kamu tekan lagi. Apalagi jika kamu mendapat tiket pesawat lebih murah dan mempersingkat waktu kunjungan.

    Jadi, selamat merancang rencana jalan-jalan ke Thailand, ya!













    Disclaimer: all photos on this post were take by my sister, Keke
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top