Diberdayakan oleh Blogger.

An Owl in A Past Life

    • Beauty Talk
    • Ayo Jalan
    • Personal
    • Jajan Asik
    • Review
    Saat akan traveling, budget sudah pasti jadi hal pertama yang dipikirkan. Benar, nggak? Ada kalanya, budget juga jadi penghalang untuk traveling karena dirasa terlalu mahal. Padahal, budget traveling sebenarnya bisa diutak-atik sedemikian rupa agar lebih hemat dan ramah di kantong para Sobat Misqueenku. :p

    Nah, buat kamu yang ingin traveling ke Thailand, tapi masih maju-mundur karena mikirin budget, gue punya trik hematnya. Berapa, sih, perkiraan budget ke Thailand? Lalu, bagaimana caranya agar traveling ke Thailand bisa lebih murah?

    Berikut ini kisaran biaya yang gue keluarkan selama enam hari lima malam di Thailand, serta cara hemat gue selama trip ke Negeri Gajah Putih tersebut.

    Tiket Pesawat ke Thailand

    Bukan rahasia lagi kalau trik mendapat tiket pesawat murah adalah dengan membelinya dari jauh-jauh hari. Selain itu, kamu juga bisa mengunjungi travel fair. Di sini, kamu bisa membeli tiket pesawat dengan harga lebih murah. Karena harganya murah, maka travel fair itu selalu padat pengunjung. Jadi, bersiaplah!

    Cara lainnya adalah mem-follow akun-akun online travel agent (OTA) di media sosial. Akun-akun ini sering memberikan info dan promo tiket pesawat murah dadakan. Akan tetapi, pastikan kamu mem-follow akun yang benar-benar terpercaya, ya.

    Gue sendiri merencanakan perjalanan ke Thailand hanya dalam waktu tiga bulan. Jadi, agak sulit mendapatkan tiket pesawat yang benar-benar murah. Alhasil, gue membeli tiket pp Thailand seharga Rp1.830.000. Padahal, sebelumnya gue sempat melihat harganya sekitar 1,1 jutaan saja.

    Tapi... kalau kami beli tiket pesawat di situs e-Commerce besar seperti Blibli atau Traveloka, kamu bisa memanfaatkan promo khusus dari mereka, lho. Nah, kalau kamu pengguna Gojek, kamu juga bisa tukar poinmu dengan voucher diskon di beberapa e-Commerce. Lumayan banget, deh, buat ngurang-ngurangin harga tiket pesawat.

    Penginapan di Thailand

    Penginapan murah di Thailand itu ada banyak sekali. Apalagi di daerah-daerah favorit turis, seperti Khaosan Road dan Pratunam. Saat ke Thailand awal November lalu, gue menginap di dua tempat, yaitu MovyLodge Hostel dan Parkview Ratchaprapop.

    MovyLodge Hostel terletak di daerah Pratunam, hanya tiga menit dari BTS Ratchathewi. Di hostel ini, gue menginap selama tiga hari dua malam bersama Kak Echa dan Keke. Kami bertiga memesan kamar tipe kapsul khusus wanita. Jadi, dalam satu ruangan, ada 16 kapsul dan 16 loker. Kamar mandinya sendiri terletak di luar kamar dan digunakan bersama-sama.

    Harga yang harus kami bayar untuk menginap dua malam adalah Rp753.219. Jadi, setiap orang dikenai biaya sekitar Rp125.000 per malam. Dengan harga segitu, kami juga dapat sarapan gratis dari hostel. Lumayan banget, kan?



    Dari MovyLodge, kami pindah penginapan ke Parkview Ratchaprapop yang terletak tak jauh dari BTS Victory Monument. Kali ini kami memesan satu kamar untuk bertiga. Jadi, akan terasa lebih nyaman karena tak harus berbagi space kamar dan toilet.

    Kami menginap di sini selama tiga malam. Total biaya yang harus dikeluarkan adalah sekitar Rp1.220.000,-. Itu berarti, tiap orang harus membayar sekitar Rp135.000,- per malam.

    Nah, bagaimana caranya gue bisa mendapat harga semurah ini untuk memesan private room? Jawabannya adalah dengan menggunakan promo dari Airbnb. Saat memesan penginapan kemarin, kami mendapat potongan harga $32 atau sekitar Rp465.000. Mau dapat promo ini juga? Kalian bisa mendapatkannya di sini.

    Internet di Thailand

    Bagi gue, koneksi internet itu wajib nyala di mana pun gue berada. Bukan, tujuan utamanya bukan biar bisa terus eksis di media sosial. Soalnya, eksis di media sosial itu adalah tujuan kedua gue. Haha.

    Koneksi internet itu sangat membantu saat gue traveling ke Thailand kemarin. Gue bisa dengan mudah mengakses Google Maps ketika ingin pergi ke berbagai destinasi wisata. Jadi, gue dan teman-teman bisa tenang berjalan ke sana kemari tanpa takut nyasar.


    Agar internet tetap nyala, kamu bisa sewa pocket WiFi, aktifkan paket data luar negeri dari provider telepon yang kamu pakai, atau beli kartu SIM lokal Thailand. Gue dan teman-teman pilih cara ketiga.

    Sebelum berangkat ke Thailand, kita beli SIM Card merek dtac melalui Klook karena harganya lebih murah. Untuk kartu SIM dengan paket data 3 GB selama 8 hari, serta pulsa telepon 100 Baht, kami hanya perlu membayar sekitar Rp60.000-an saja.

    Transportasi Selama di Thailand

    Thailand itu sama kayak Jakarta: di mana-mana macet. Beneran, deh, macetnya Thailand itu suka nggak santai banget!


    Makanya, transportasi yang paling nyaman digunakan adalah BTS dan MRT. Saat di Thailand kemarin, gue lebih banyak menggunakan BTS. Harga tiket BTS sekali jalan dimulai dari 16 Baht. Kalau kalian lebih sering menggunakan BTS setiap harinya, gue sarankan untuk membeli tiket One-Day Pass di Klook agar lebih hemat.



    Selain naik BTS, gue juga sering menggunakan Grab Car ke mana-mana. Karena kami bertiga, maka ongkos yang kami keluarkan terkadang lebih murah jika menaiki Grab Car. Apalagi kartu SIM merek dtac juga memberikan potongan harga 100 Baht untuk lima kali perjalanan. Promo ini hanya berlaku untuk pengguna baru Grab saja.

    Taxi, bus, dan tuktuk juga bisa menjadi transportasi alternatif saat di Thailand. Jika kamu ingin menaiki taksi, mintalah pengemudi untuk menyalakan argo. Selain itu, bukalah Google Maps untuk memastikan kalau kamu berada di jalan yang tepat dan tidak diputer-puterin oleh pengemudi taksi.


    Sementara, kalau kamu ingin menaiki tuktuk, maka bersiaplah untuk melakukan tawar menawar dengan pengemudinya. Untuk bus sendiri, pemerintah Thailand telah menyiapkan tempat naik turun bus yang ditandai dengan plang khusus. Jadi, kamu tidak bisa sembarangan naik atau turun bus, ya.


    Makanan Thailand

    Thailand juga terkenal dengan camilan dan makanan yang unik dan enak. Misalnya tomyum, pad thai, mango sticky rice, es krim kelapa, dan masih banyak lagi. Harga camilan biasanya sekitar 50 Baht saja. Namun, untuk makan besar, harganya cukup bervariasi. Jadi, kamu bisa menyesuaikannya dengan budget yang kamu miliki.


    Salah satu tempat makan murah dan enak di Thailand adalah food court Platinum Fashion Mall. Di sini, kamu bisa makan besar mulai dari 50 Baht saja. Yang lebih penting, di sini juga ada penjual makanan dengan logo halal.

    Selain Platinum Fashion Mall, area pasar seperti Chatuchak dan Neon Night Market juga menjual makanan dan camilan dengan harga yang murah.

    Kiri-kanan: es krim kelapa, mango sticky rice, dan roti nutella
    Kiri-kanan: telur goreng dan fried squid egg dengan sambal asam pedas
    Atau, kamu juga bisa sesekali membeli makanan di 7-Eleven untuk lebih berhemat. Di 7-Eleven sendiri kamu bisa menemukan berbagai makanan siap saji, seperti burger, sandwich, dan nasi dengan berbagai pilihan lauk pauk.

    Saat di Thailand kemarin, gue menghabiskan sekitar Rp900.000-an untuk makan berat dan jajan camilan khas Thailand.

    Tiket Wisata Thailand

    Tiket wisata biasanya cukup banyak menghabiskan biaya. Misalnya saja, saat ke Thailand kemarin, salah satu tiket wisata yang harganya lumayan mahal adalah LINE Village. Nah, untungnya, tiket LINE Village ini bisa dibeli dengan harga lebih murah di Klook.


    Harga tiket LINE Village di Klook hanya sekitar Rp400.000-an saja, lebih murah dibanding membeli tiket on the spot. Apalagi, Klook juga suka memberikan promo. Jadi, kamu bisa membeli tiket wisata dengan harga lebih murah lagi.

    Selain tiket LINE Village, kamu juga bisa menemukan tiket wisata Thailand lainnya di Klook. Mulai dari pertunjukan Niam Siramit, Madame Tussauds, SEA LIFE Bangkok Ocean World, dan sebagainya.

    Tapi, ada sejumlah tiket yang harus dibeli langsung di lokasi. Misalnya saja, tiket masuk Wat Arun seharga 50 Baht, tiket Wat Pho seharga 100 Baht, atau tiket Santorini Park seharga 150 Baht.



    Selain enam hal di atas, kamu juga harus menyiapkan budget untuk belanja. Apalagi, Thailand terkenal dengan harga baju yang murah sehingga bisa membuatmu kalap belanja. Untuk penyuka makeup dan skincare, kalian juga harus menyiapkan diri (dan tabungan) karena produk mekap dan skincare di Thailand sungguhlah lucu dan variatif sekali.

    Kalau dijumlahkan, gue dan teman-teman menghabiskan kurang dari lima juta rupiah untuk traveling ke Thailand selama enam hari lima malam. Lebih tepatnya, kami hanya menghabiskan sekitar Rp4,6 jutaan, di luar biaya belanja.

    Biaya ini tentunya masih bisa kamu tekan lagi. Apalagi jika kamu mendapat tiket pesawat lebih murah dan mempersingkat waktu kunjungan.

    Jadi, selamat merancang rencana jalan-jalan ke Thailand, ya!













    Disclaimer: all photos on this post were take by my sister, Keke
    Continue Reading
    Terkadang, hal yang sebenarnya nggak direncanakan, justru terjadi dengan mudahnya. Contohnya seperti jalan-jalan ke Thailand awal November lalu. Traveling ke Thailand memang pernah masuk daftar rencana jalan-jalan gue di tahun 2017. Namun, rencana tersebut gagal dan gue tidak memasukkannya kembali ke dalam daftar rencana traveling di tahun 2018.

    Tapi, sekitar bulan Juli lalu, tiba-tiba saja Ka Echa mengajak gue traveling ke Thailand untuk menghabiskan jatah cutinya. Berhubung masih ada budget untuk traveling, gue langsung mengiyakan dengan cepat. Kemudian, gue pun mengajak Keke, adek gue, untuk ikut liburan ke Thailand dan ternyata dia mau.


    Setelah mencari tanggal baik yang mengacu pada mahal atau murahnya harga tiket (#TravelingAlaSobatMisqueen), kami pun memutuskan untuk mengunjungi Bangkok, Thailand selama enam hari lima malam, mulai tanggal 1 hingga 6 November 2018.

    Terlalu lamakah waktu enam hari untuk mengunjungi Thailand? Tergantung gaya traveling masing-masing orang, sih. Kalau gue, sejujurnya lebih suka berjalan-jalan santai dan tidak terburu-buru waktu. Begitu pun dengan Keke yang sering banget berhenti beberapa saat di tempat-tempat random, seperti jembatan penyebrangan, untuk mengambil foto.

    Kak Echa pun ternyata sama random-nya dengan kami dan suka melihat-lihat tempat yang tidak sengaja dilewati terlebih dahulu. Jadi, pergi jalan-jalan selama enam hari adalah waktu yang cukup ideal buat kami. 

    Lalu, ngapain aja kita di Thailand selama enam hari? Ini dia itinerary kami selama di Bangkok, Thailand.

    HARI PERTAMA

    Kami mengambil penerbangan sore, yaitu sekitar pukul empat sore, dengan menggunakan Air Asia. Kenapa tidak mengambil penerbangan pagi hari? Karena penerbangan pukul empat sore harganya lebih murah. Haha.

    Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta ke bandara Don Mueang, Bangkok sendiri memakan waktu kurang lebih tiga jam tiga puluh menit. Jadi, kami tiba di Bangkok sekitar pukul delapan malam.

    Dari bandara Don Mueang menuju penginapan, kami menggunakan bus A1 sampai halte BTS Mo Chit. Harga yang harus kami bayar adalah 30 Baht. Selanjutnya, kami menaiki BTS menuju stasiun Ratchathewi. Dari BTS Rathcathewi, kami hanya perlu berjalan kaki selama tiga menit menuju MovyLodge Hostel.

    Sesampainya di hotel, kami meletakkan koper di kamar kemudian keluar lagi untuk mencari makan. Kebetulan, di dekat BTS Ratchathewi banyak cafe-cafe kecil. Berhubung sampai Thailand di malam hari, setelah makan kami pun langsung kembali ke hotel untuk beristirahat.

    HARI KEDUA

    Di hari kedua, rencana kami adalah menuju LINE Village Bangkok yang terletak di Siam Square One. Lalu sorenya, kami berencana untuk bersantai di Chocolate Ville.

    Dari hostel, kami cukup berjalan kaki selama 15 menit untuk menuju LINE Village. Inilah enaknya menginap di daerah Ratchathewi. Banyak tempat yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki.



    Setelah tiga jam mengeksplor LINE Village yang super lucu, kami pun mencari makan siang di area Siam Square One. Di area mall ini ternyata juga terdapat bazaar pakaian, lho. Hanya saja harganya bisa lebih mahal 50 Baht bila dibandingkan dengan Platinum Fashion Mall atau Chatuchak Market.

    Selama di Siam Square One, gue juga mengunjungi EVEANDBOY, salah satu store makeup terbesar di Thailand. Memang tujuan gue ke sini nggak hanya untuk jalan-jalan dan belanja baju, tapi juga untuk belanja makeup dan skincare. Untuk makeup dan skincare yang gue beli di Thailand akan gue bahas di post terpisah, ya.

    Sekitar pukul tiga sore, kami pun berangkat menuju Chocolate Ville menggunakan Grab Car. Perjalanan ke Chocolate Ville sendiri memakan waktu 40 menit hingga dua jam, tergantung dari kemacetan kota Bangkok.


    Malamnya, kami mampir sebentar ke Neon Night Market di daerah Pratunam. Pasar ini terletak tak jauh dari Platinum Fashion Mall. Kabarnya, pasar malam ini terbilang baru di Bangkok. Di pasar ini, kalian bisa menemukan berbagai barang, mulai dari baju, pernak pernik, hingga makanan.


    HARI KETIGA

    Hari ini adalah jadwalnya kami pindah penginapan. Jadi, setelah sarapan di MovyLodge Hostel, kami mengurus check out dan menitipkan koper kami di resepsionis. Kami tak langsung pergi ke Parkview, melainkan ke Chatuchak Market terlebih dahulu untuk berbelanja.

    Karena niatnya belanja, maka kami menggunakan baju yang super nyaman. Apalagi, udara Bangkok itu panas luar biasa, ya.

    Untuk menuju Chatuchak Market, kami menaiki BTS dan turun di stasiun Mo Chit. Selanjutnya, kami asal mengikuti arus orang-orang dan tiba-tiba sampailah kami di Chatuchak. Pasar Chatuchak itu luas sekali. Sesuai informasi yang gue baca, kalau sudah menemukan barang yang disuka, langsung saja beli. Soalnya, belum tentu kita menemukan toko tersebut lagi.

    Di Chatuchak, kami belanja banyak barang, mulai dari baju, kaos kaki, souvenir, sampai makanan. Iya, di sini banyak sekali camilan khas Thailand yang sayang kalau nggak dicoba. Saat di Chatuchak, kami mencoba jus jeruk super segar, es krim kelapa, fried squid egg dengan saus asam pedas, mango sticky rice, hingga es goyang khas Thailand.


    Berhubung udara panas sekali, kami rasanya sudah tak sanggup lagi untuk berkeliling Chatuchak. Padahal, sepertinya kami bahkan belum menjelajahi 1/4 area pasar. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk langsung ke Platinum Fashion Mall menggunakan Grab Car.

    Sesampainya di Platinum Fashion Mall, kami langsung mencari food court di lantai enam karena merasa kekurangan energi, alias kelaparan. Di foodcourt Platinum Fashion Mall, kalian bisa menemukan kios makanan dengan logo halal. Harga makanannya pun relatif murah, yaitu sekitar 50 hingga 70 Baht.

    Sehabis makan, barulah kami berkeliling Platinum Mall untuk membeli pakaian. Asli, mall ini luas banget. Rasanya nggak cukup satu hari ke sini. Setelah letih muter-muter mall, kami pun berjalan kaki ke MovyLodge Hostel untuk mengambil koper.

    Selanjutnya, kami menaiki Grab Car menuju penginapan baru. Karena di penginapan ini kami tidak mendapat sarapan, kami pun pergi ke 7-Eleven dan membeli camilan untuk sarapan esok hari. Nah, jika kalian ke Thailand, 7-Eleven adalah tempat yang harus banget dikunjungi. Soalnya, camilan dan barang-barang yang dijual di 7-Eleven Thailand itu lucu dan unik sekali.

    HARI KEEMPAT

    Hari ini adalah hari Minggu dan hari terpadat kami selama di Thailand. Di hari keempat ini, kami berencana mengunjungi pasar apung Damnoen Saduak, Wat Pho, Wat Arun, dan Asiatique.

    Karena jadwal yang padat, maka kami berangkat lebih pagi dari biasanya, yaitu pukul delapan. Biasanya, orang-orang berangkat pukul enam pagi jika ingin mengunjungi pasar apung Damnoen Saduak. Tapi apa daya, kami hanyalah tiga cewe pemalas yang sulit bangun pagi. Haha.


    Karena baru jalan pukul delapan, maka kami sampai di pasar apung Damnoen Saduak pukul 12 kurang sedikit. Untungnya pasar masih ramai. Setelah melihat-lihat, jam dua siang kami memutuskan untuk kembali ke Bangkok.

    Destinasi wisata yang kami kunjungi selanjutnya adalah Wat Pho. Setelahnya, kami menyeberang menggunakan kapal untuk menuju Wat Arun. Candi ini adalah tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam. Tidak hanya pemandangan sunset-nya saja yang cantik, detail ukiran candi ini juga cantik sekali, lho.


    Selesai menikmati pemandangan matahari terbenam di Wat Arun, kami lanjut ke Asiatique menaiki kapal. Di Asiatique sendiri, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Mulai dari menikmati pemandangan sungai Chao Phraya, belanja, hingga menikmati beraneka ragam kuliner yang tersedia.

    Asiatique merupakan destinasi wisata terakhir kami hari ini. Sekitar pukul 11 malam, kami kembali ke penginapan dengan menggunakan Grab Car.



    HARI KELIMA

    Berhubung di hari sebelumnya kami sudah berjalan-jalan seharian sejak pagi, maka kami memutuskan untuk beristirahat lebih panjang hari ini. Kami memilih untuk tidak terlalu memaksakan diri karena setelah kembali dari Thailand kami harus langsung bekerja. Daripada drop, lebih baik sadar diri saja, deh, kalau sudah capek.

    Akhirnya, hari itu kami baru berangkat sekitar pukul setengah sepuluh menuju Santorini Park. Sebelum berangkat, kami membeli sarapan dulu di 7-Eleven. Gue membeli chicken burger dan onigiri, sementara Kak Echa dan Keke membeli nasi dengan lauk ayam.

    Setelahnya, kami pun menaiki minivan ke Santorini Park. Destinasi wisata ini terletak di daerah Cha Am. Jadi, kami harus menempuh perjalanan lebih dari tiga jam untuk menuju ke sana. Kami berkeliling di Santorini sekitar tiga jam, lalu kembali lagi ke Bangkok sekitar pukul lima sore.


    Nah, karena esok hari kami sudah pulang, maka malamnya kami menyempatkan diri dulu membeli oleh-oleh makanan. Untuk membeli makanan khas Thailand, ada satu tempat yang selalu direkomendasikan para pelancong, yaitu Big C.

    Saat melihat di Google Maps, ternyata cabang Big C itu ada banyak. Kami pun memutuskan untuk pergi ke Big C di depan mall Central World. Alasannya? Karena Big C di sini buka sampai jam dua pagi.

    HARI KEENAM

    Apa yang kami lakukan hari ini? Nggak ada. Penerbangan kami saat itu adalah pukul enam sore. Sebenarnya, masih ada waktu untuk berjalan-jalan sebentar ke destinasi wisata lain, misalnya Lumphini Park. Tapi, kami mengurungkan niat tersebut.

    Kami memutuskan nggak pergi ke mana-mana dan memilih untuk membereskan koper. Kami bertiga hanya membawa koper ukuran kabin. Sementara, kami membeli banyak sekali barang. Alhasil, kami harus putar otak biar barang-barang ini muat di koper kami. Dan yang lebih penting, agar barang bawaan kami tidak melebihi kapasitas bagasi.


    Nah, itulah dia itinerary gue dan teman-teman selama enam hari lima malam di Bangkok. Seperti yang sudah gue tulis sebelumnya, kami tidak mengunjungi banyak tempat sekaligus setiap harinya. Bisa dibilang, kami merupakan tipe wisatawan yang lebih senang berjalan-jalan santai.

    Namun, jika kalian lebih suka merapatkan jadwal perjalanan, kalian bisa menyelipkan daerah wisata lain. Sebenarnya ada banyak sekali daerah wisata dan kegiatan yang bisa kalian nikmati di Thailand. Misalnya, mengunjungi Pattaya, menonton Niam Siaramit Show, dan sebagainya.

    Selanjutnya, gue akan mengulas budget yang gue keluarkan selama di Bangkok, serta rincian perjalanan gue ke tiap destinasi wisata. Jadi, tunggu post gue selanjutnya, ya!


    Disclaimer: All photos on this post were taken by my sister, Keke.



    Continue Reading
    Kayaknya, stress lagi jadi musuh bebuyutan gue banget beberapa bulan terakhir ini. Nggak cuma berurusan dengan jerawat yang tiba-tiba nongol beruntun, rambut gue pun tiba-tiba rontoh parah. Gue sampai horor sendiri ngelihat helaian rambut bertebaran di kasur dan lantai kamar. Padahal, biasanya rambut gue jarang rontok.

    Gue sempat mencoba membeli serum untuk rambut rontok namun nggak membuahkan hasil. Lalu, tiba-tiba di Instagram, gue melihat postingan masker wajah Kocostar yang lagi populer karena desainnya yang lucu. Gue pun membuka akun Instagram mereka dan menemukan postingan tentang masker rambut Home Salon Hair Pack.


    Awalnya, gue tertarik karena cara penggunaan serum atau masker rambut Kocostar ini unik banget. Kalau biasanya masker rambut lain berbentuk krim biasa, maka masker rambut Kocostar ini hadir bersama dengan cap atau penutup rambutnya. Kira-kira mirip seperti shower cap.

    Krimnya sendiri sudah diletakkan di dalam cap yang disediakan, jadi kita bisa langsung menggunakan penutup rambut tersebut.

    Sebelum membeli, gue juga mencari tahu lebih dalam tentang kegunaan masker rambut ini. Ternyata, masker ini ditujukan untuk merawat rambut rusak dan menyeimbangkan kadar pH rambut. Klaim ini membuat gue semakin tertarik buat beli masker rambut dari Kocostar ini.

    Kocostar hair pack sendiri hadir dalam tiga varian, yaitu untuk rambut panjang, rambut pendek, dan ponytail. Berhubung rambut gue sebahu, gue pun membeli varian Kocostar Home Salon Hair Pack untuk rambut pendek di Shopee (store Kay Collection) seharga Rp80.000.

    Setelah didiemin berminggu-minggu karena males, akhirnya gue pun mencoba masker Kocostar. Seperti yang gue katakan sebelumnya, cara penggunaan masker ini unik sekali. Nah, kira-kira begini cara menggunakan masker rambut Kocostar:


    • Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencuci rambut. Setelah mencuci rambut, keringkan rambut sebentar.
    • Selanjutnya, bungkus rambut menggunakan cap yang disediakan. Lalu kencangkan cap dengan strip perekat yang tersedia. Krim masker sendiri sudah ada di dalam cap tersebut.
    • Diamkan selama kurang lebih 20 menit. Sesekali pijat rambut juga agar krim meresap.
    • Langkah terakhir adalah membilas rambut dengan air hangat, sesuai petunjuk penggunaan di kemasan.

    Lalu, bagaimana kesan gue setelah menggunakan Kocostar Salon Hair Pack?

    Sejujurnya, gue sempat kebingungan saat menggunakan masker rambut ini. Kalau shower cap biasa, kan, memiliki karet sehingga lebih gampang dipakai. Tapi, penutup kepala untuk masker rambut Kocostar ini nggak menggunakan karet, melainkan strip perekat untuk mengencangkan penutup kepalanya.

    Nah, sewaktu menggunakan masker ini, gue sempat kesulitan mengencangkan penutup kepala dengan strip perekat tersebut. Alhasil, strip perekatnya malah terlepas semua. Akhirnya, gue pun merekatkan asal-asalan. Yang penting kencang. Haha.


    Selain itu, krim masker pun hanya terkumpul di ujung penutup kepala, jadi sebelum menggunakan penutup kepalanya kalian bisa meratakan krim ke semua sisi cap terlebih dahulu. Krim masker yang terdapat di dalam penutup kepala sendiri jumlahnya cukup untuk rambut sebahu gue. 

    Krim tersebut juga memiliki wangi yang cukup enak, namun tidak terlalu kuat. Gue pribadi, sih, sebenarnya lebih suka jika baunya lebih kuat agar rambut jadi lebih wangi.

    Setelah menggunakan masker rambut ini, satu hal yang gue sadari adalah kerontokan rambut gue sedikit berkurang dalam satu kali pemakaian. Terkesan too good to be true, ya? Tapi, ini beneran terjadi di gue.

    Biasanya, gue males nyisir -apalagi dalam kondisi basah- karena sedih melihat banyaknya helaian rambut di sisir. Tapi, masker ini betul-betul membuat kerontokan rambut gue berkurang. Gue sampai coba menyisir berkali-kali saking amazed-nya.

    Selain itu, masker ini juga membuat helaian rambut menjadi lebih halus. Bikin gue jadi pengen kibas-kibasin rambut kayak di iklan sampo. Haha.

    Sayangnya, Kocostar Home Salon Hair Pack nggak terlalu melembabkan di rambut kering gue. Biasanya, setelah keramas, gue menggunakan Lucido-L hair oil yang warna kuning untuk membuat rambut lebih lembab. Namun, kemarin gue sengaja tidak menggunakan hair oil untuk melihat hasil akhir masker rambut ini. Ternyata, rambut gue tetap terasa kering. Nah, jika kalian memiliki rambut kering juga, gue sarankan untuk menggunakan hair oil lagi setelah menggunakan masker ini. 

    Lalu, apakah gue puas dengan hasil yang diberikan masker ini? Cukup puas. Jadi, kalau ditanya harus beli atau nggak? Menurut gue, Kocostar Home Salon Hair Pack ini layak untuk dicoba, walaupun harganya memang lebih mahal dibanding masker rambut sekali pakai pada umumnya.

    Gue sendiri tertarik untuk mencoba lagi buat membuktikan lebih jauh apakah masker ini benar-benar bisa menjadi solusi untuk kerontokan rambut yang sedang gue alami.





    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Hello, There!

    Valine Yarangga

    An introverted night owl who enjoys writing, singing, calm surroundings, and a cup of hot tea in the morning.

    More About Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    personal Ayo Jalan! review beauty talk Jajan Asik cerita di kantor cerpen

    recent posts

    Blog Archive

    • Februari 2023 (1)
    • Oktober 2021 (1)
    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • April 2020 (1)
    • Maret 2020 (2)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Mei 2019 (1)
    • Maret 2019 (1)
    • Februari 2019 (2)
    • Januari 2019 (2)
    • November 2018 (3)
    • Oktober 2018 (2)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (5)
    • Mei 2018 (1)
    • April 2018 (1)
    • Maret 2018 (5)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (1)
    • Desember 2017 (3)
    • November 2017 (2)
    • September 2017 (3)
    • Juli 2017 (1)
    • Mei 2017 (2)
    • April 2017 (2)
    • Maret 2017 (2)
    • Februari 2017 (1)
    • Januari 2017 (2)
    • Agustus 2016 (2)
    • Mei 2016 (2)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2016 (1)
    • Januari 2016 (3)
    • Oktober 2015 (2)
    • September 2015 (1)
    • Juli 2015 (1)
    • Juni 2015 (2)
    • Mei 2015 (2)
    • Maret 2015 (1)
    • Oktober 2014 (2)
    • Juli 2014 (3)

    Statistic

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top